
Dipa tidak terkejut dengan apa yang bisa di lakukan oleh ibu mertuanya itu. Tapi dia tidak menyangka kalau Abimanyu bisa melalukan hal seperti itu. Setahu Dipa, Abimanyu bahkan lebih terlihat seperti suami yang setiap pada istrinya. Di hadapan semua orang, Abimanyu dan Sarah benar-benar terlihat sangat serasi dan romantis.
Dipa cukup kaget mendengar kalau dia sudah menikah dengan Laras selama satu tahun dan itu baru diketahui oleh ibu mertuanya. Sementara dia sangat paham betul bagaimana keluarga Wijaya.
Pandangan mata Dipa lalu tertuju pada Laras yang sedang belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius yang digunakan kepadanya saat pengambilan tindakan medis tadi. Ada rasa kasihan dalam hati Dipa.
Laras masih sangat muda, tapi karena menikah dengan Abimanyu. Dalam usia semuda itu dia sudah mengalami banyak hal yang menyakitkan. Kehilangan ayah, sahabatnya sejak kecil, dan juga calon anaknya karena ulah wanita bernama Rahmalia Wijaya itu.
Dipa mengusap wajahnya kasar. Hal yang sama juga terlihat saat dia memandang wajah tua Indriyani. Wanita paruh baya yang terlihat lelah di depannya itu. Dipa tahu pasti sangat berat bagi ibu Indriyani untuk melupakan apa yang sudah di lakukan Rahma padanya. Di saat dia kehilangan suaminya, dia harus menjaga kedua anaknya dan menjauh dari rumahnya sendiri. Tanpa tabungan, tanpa pekerjaan. Itu pasti hal yang sulit baginya.
"Bu, sebaiknya ibu istirahat dulu. Biar aku yang menunggu dan menjaga Laras!" ucap Dipa karena memang ibu Indriyani terlihat sangat lelah.
Indriyani sedikit terkejut mendengar tawaran bantuan dari Dipa. Masalahnya dia baru mengenal pria itu hari ini. Tapi dia kenapa begitu baik sekali pada Laras dan keluarganya.
"Ibu jangan khawatir, aku tidak akan macam-macam. Laras sudah seminggu merawat ku di sini. Anggap saja aku sedang membalas semua kebaikan nya. Apa di sini bisa pesan taksi atau semacamnya?" tanya Dipa yang tidak ingin Indriyani kesulitan saat pulang dari puskesmas.
"Tidak usah nak Dipa. Ibu bisa naik ojek saja nanti di depan puskesmas ada pangkalan ojek!" jawab Indriyani yang secara tidak langsung sudah memberi jawaban pada Dipa kalau dirinya mengijinkan Dipa untuk menjaga Laras.
Indriyani merasa kalau Dipa bisa di percaya. Kesan ini sama seperti yang dirasakan oleh Indriyani saat pertama kali bertemu dengan Abimanyu. Tidak ada khawatir atau cemas berlebihan saat membiarkan Laras di jaga olehnya. Masalahnya tadi dia juga pergi terburu-buru. Tidak ada tetangga yang melihatnya pergi, dia takut saat Indra kembali dari sekolah. Anak bungsunya itu panik mencarinya.
Dipa pun tersenyum lalu mengikuti langkah Indriyani yang mendekat ke arah ranjang pasien Laras.
"Laras, ibu pulang dulu ya nak. Nanti malam ibu akan kemari lagi dan menjagamu...!"
Tapi sebelum Indriyani menyelesaikan apa yang ingin dia katakan. Dipa menyelanya.
__ADS_1
"Bu Yani, biar aku saja yang menjaga Laras. Kasihan adik Laras kalau ibu meninggalkan nya di rumah sendiri. Selain aku juga akan petugas lain. Ibu jangan khawatir!" kata Dipa menyela.
Sebenarnya maksud Dipa baik. Lagipula dia juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan di tempat ini karena dia sudah sembuh sebenarnya.
"Baiklah, terimakasih nak Dipa!" ucap Indriyani.
Dipa lantas mengantarkan Indriyani keluar menuju ke arah pangkalan ojek. Di sepanjang koridor puskesmas. Semua petugas perempuan dan perawat perempuan langsung tebar pesona begitu melihat Dipa berjalan keluar ruangan Laras.
Ada yang dengan sengaja menjatuhkan barang yang mereka bawa. Ada yang sengaja bersenandung, agar Dipa mendengarkan suara emas mereka, ada juga yang sangat berani sampai mengedipkan matanya pada Dipa.
"Ternyata pas sudah sembuh dan gak ada luka lagi di wajahnya, dia ganteng banget ya!" kata salah seorang perawat yang sedang berjalan bersama temannya ketika melihat Dipa yang lewat.
Ada juga beberapa pengunjung atau orang yang akan memeriksakan diri mereka. Yang malah tidak fokus dan hanya bengong saat ditanya oleh petugas sangking terpesona nya pada Dipa.
"Mbak, namanya siapa tadi?" tanya petugas administrasi.
"Loh, mbak kan perempuan masak namanya ganteng?" tanya petugas administrasi yang tidak ngeh kalau calon pasien yang di tanya itu sedang melihat Dipa dan memuji ketampanan nya.
Sosok Dipa yang sudah tidak lagi memakai pakaian pasien memang sangat mencuri perhatian. Di tambah kepalanya sudah tidak memakai perban dan lebam lebam di wajah dan seluruh tubuhnya sudah hilang membuat Dipa bisa berjalan dengan gagah. Tidak seperti kemarin-kemarin dia berjalan agak terseok-seok dan harus di papah.
Sampai di pangkalan ojek. Dipa langsung mengeluarkan satu lembar uang tunai pecahan lima puluh ribuan pada tukang ojek yang di tumpangi Indriyani.
"Wah akang, belum ada kembaliannya. Ibu ini baru penumpang saya yang kedua akang!" kata si tukang ojek.
"Ambil saja kembaliannya, tapi pastikan ibu Yani sampai di rumahnya dengan aman!" sahut Dipa.
__ADS_1
Tukang ojek yang di ajak bicara Dipa langsung tersenyum sumringah. Dengan tangan kanan di angkat mendekati pelipis seperti sikap hormat saat pengibaran bendera, tukang ojek itu berseru.
"Siap akang, di jamin pokok na mah, ibu akang mah sampai tujuan dengan aman!"
Indriyani hanya mengangguk saat mereka, Indriyani dan tukang ojek akan meninggalkan Dipa. Pria itu juga baru pergi ke dalam puskesmas ketika dia sudah tidak melihat tukang ojek dan Indriyani lagi.
***
Sementara itu, dokter Nanang sudah tiba di peternakan miliknya. Pengurus peternakan langsung berlari kerahnya saat mengetahui mobil dokter Nanang masuk ke dalam pintu gerbang.
"Dokter!" sapa pengurus Toni.
"Ada apa pak Toni. Kenapa banyak sekali pickup di sini?" tanya dokter Nanang yang melihat ada beberapa truk di peternakan nya.
"Maaf tuan, saya sudah menghubungi dokter sejak tadi. Banyak Sapi yang mati mendadak dokter. Dan anehnya lagi, semua langsung menebarkan bau yang tidak sedap. Kami sudah membawa 3 sapi yang berbau menyengat untuk di kuburkan. Di tanah lapang milik dokter. Sisanya ada 5 lagi dokter. Maksud kami akan membawa sapi itu dengan pick up ini. Karena begitu mencium baunya kami rasa sapi yang lain yang masih sehat juga jadi gelisah dan terus mengeluarkan suara seperti tidak nyaman. Dokter hewan kita saja bingung, dia sedang memanggil temannya kemari!" jawab pak Toni panjang lebar.
Dokter Nanang langsung memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. 8 ekor sapi kualitas terbaik sudah cukup untuk membuatnya harus menguras tabungannya.
"Mari kita lihat pak Toni!" ajak dokter Nanang yang langsung menuju kandang.
Setelah sampai di kandang, ternyata benar. Bau menyengat dari sapi itu bahkan langsung tercium, hingga dokter Nanang langsung menutup hidungnya dengan sapu tangan yang dia raih dari saku celananya nya.
"Ya Tuhan! sebenarnya ada apa ini?" tanya dokter Nanang bingung.
***
__ADS_1
Bersambung...