
Setelah makan pagi itu, dokter Nanang mengantarkan Laras ke rumahnya. Dia tidak mampir karena ada pekerjaan penting. Laras pun berjalan dengan cepat masuk ke dalam rumah, karena memang kebiasaan, dokter Nanang tidak akan pergi dengan mobilnya kalau Laras belum masuk ke dalam rumah.
Begitu Laras menutup pintu rumahnya, barulah dokter Nanang pergi. Melihat mobil dokter Nanang menjauh Laras yang mengintip dari jendela dekat pintu pun langsung menghela nafasnya lega lalu duduk di kursi yang ada di ruang tamu.
Hari ini dokter Nanang memang tidak bertugas di puskesmas, setiap hari Jum'at dokter Nanang libur dan menjalankan pekerjaan lain, selain dokter dia juga pemilik sebuah peternakan, jadi setiap hari Jum'at dia mengunjungi peternakan itu. Sudah sering kali dokter Nanang mengajak Laras pergi ke sana, tapi dia sangat enggan dan menolak secara halus dengan berbagai macam alasan.
Ketika Laras duduk, ibunya baru keluar dari ruang tengah.
"Laras, kamu sudah pulang nak? sarapan dulu yuk!" ajak ibunya setelah bertanya pada Laras.
"Laras sudah sarapan Bu!" jawab Laras yang terlihat tidak bersemangat.
Melihat putrinya seperti itu, Indriyani lantas duduk di sebelah Laras lalu memijit lengan putrinya itu pelan.
"Kamu lelah ya?" tanya Indriyani lembut.
Laras langsung menarik pelan tangan ibunya yang memijitnya lalu merangkul ibunya itu.
"Enggak Bu, Laras gak lelah. Tapi Laras mulai tidak nyaman sama perlakuan dokter Nanang pada Laras!" jujur Laras pada ibunya.
"Ada apa dengan dokter Nanang? apa dia berbuat hal tidak padamu?" tanya Indriyani sedikit menunjukkan kecemasan nya.
Laras lantas menarik dirinya dari rangkulan ibunya.
"Bukan begitu Bu, dia justru terlalu baik. Laras cuma gak mau bikin dia kecewa Bu. Laras itu gak mungkin kan buka hati Laras buat pria lain, status Laras ini masih istri orang. Meskipun Laras sudah anggap suami Laras itu gak ada, tapi tetap saja gak mungkin Laras sama pria lain!" jelas Laras mengenai kegundahan nya pada sang ibu.
__ADS_1
Indriyani pun terdiam, memang benar apa yang putrinya itu katakan. Laras memang masih istrinya Abimanyu. Dan sekarang Laras bahkan tengah mengandung anak dari Abimanyu.
Saat suasana kembali sepi, tiba-tiba ponsel Laras berdering. Laras langsung melihat ke layar ponselnya dan tertera nama Hendro di sana. Dengan cepat Laras menggeser icon telepon berwarna hijau ke atas.
"Ya mas Hendro ada a...!"
"Laras, Wulan Laras... Wulan meninggal!" ucap Hendri dengan suara tergagap.
Laras nyaris saja menjatuhkan ponselnya dari tangannya. mendengar Hendro menyelanya lalu mengatakan kalau sahabat terbaiknya di desa dulu telah meninggal. Laras yakin Hendro tidak berbohong, karena Hendro orangnya sangat serius dan tidak pernah bercanda.
"Wulan..!" lirih Laras.
Indriyani yang melihat putrinya begitu syock, bahkan dengan air mata yang sudah mengalir begitu saja di pipinya merasa cemas. Indriyani lantas meraih ponsel yang ada di tangan Laras lalu menghidupkan speaker ponsel Laras.
"Nak Hendro, ini ibu. Ada apa nak? apa yang terjadi pada Wulan?" tanya Indriyani pada Hendro karena tadi dia mendengar Laras menyebut nama Wulan.
Indriyani bahkan menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang di dengarnya dari Hendro.
"Semua ini ulah wanita yang datang ke rumah ibu Yani, saat bapak Udin meninggal Bu. Sehari sebelumnya Wulan ribut dengan wanita itu, dia sempat mengirimkan pesan padaku memintaku memberikan alamat tuan Abimanyu di kota, dia bilang ingin mengatakan kebenaran pada tuan Abimanyu kalau Laras belum meninggal, Wulan juga bilang agar aku dan keluargaku pergi dari desa. Tapi baru aku akan ke rumahnya, rumahnya sudah terbakar. Ada dua jasad di dalam rumah yang kemungkinan adalah orang tua Wulan, lalu pagi harinya Wulan di temukan di gudang dengan kondisi yang sangat mengenaskan Bu!" jelas Hendro dengan terburu-buru.
Sangat jelas dari suaranya Hendro juga ketakutan. Laras sampai mengangkat kedua kakinya ke atas kursi melipatnya dan memeluknya lalu menutup kedua telinganya sambil terisak.
"Bu Yani, aku sudah membawa istri dan anak ku pergi dari desa itu. Kami akan ke kampung halaman istriku. Bu, hati-hati dengan wanita itu. Wulan bilang dia juga sedang mencari keberadaan Laras!" ucap Hendro membuat Indriyani tiba-tiba merasakan perasaan tidak enak, bahkan bulu kuduk seluruh tubuhnya sudah berdiri.
"Bu, uang klaim asuransi masih ada padaku, kapanpun Bu Yani membutuhkan nya, hubungi saja aku. Sekarang aku tutup dulu. Ini sudah mau turun dari kereta!" kata Hendro.
__ADS_1
"Iya nak Hendro, terimakasih!" ucap Indriyani lalu memutuskan panggilan telepon dan meletakkan ponsel Laras di atas meja.
Laras masih terisak.
"Wulan!" lirih Laras mengingat senyuman Wulan ketika mereka masih bersama di desa dulu.
Laras sangat syok, dia tidak bisa membayangkan betapa ketakutan nya Wulan pada saat itu. Betapa kejamnya wanita bernama Rahma itu, hanya karena Wulan tahu sesuatu dan akan mengatakan nya pada Abi. Rahma bahkan melenyapkan Wulan.
Caranya bahkan sangat kejam.
"Aku akan membalasnya Bu, aku akan membalas mereka yang telah menganiaya Wulan dan melenyapkan nya. Aku akan membalas mereka!" teriak Laras dengan deraian air mata yang semakin deras.
Wajahnya dan juga matanya sudah merah, tanda Laras benar-benar sangat marah. Laras sangat emosi, bagaimana tidak? wanita itu telah menyebabkan penyakit jantung ayahnya kambuh dan meninggal, Laras dan ibunya juga sudah pergi dan melepaskan Abimanyu. Tapi kenapa wanita itu masih juga mengusik kehidupan nya, bahkan mencelakai sahabat baiknya seperti itu. Menganiaya dan melenyapkan nya, bukan hanya dia tapi juga membakar rumahnya dan melenyapkan kedua orang tuanya. Itulah yang ada di pikiran Laras.
Karena tersulut emosi, Laras yang biasanya sangat sabar dan mengalah. Menjadi sangat histeris, dia terus memaki Sarah.
"Laras, nak. Sabar nak!" Indriyani coba untuk memenangkan Laras tapi sepertinya percuma.
Di mata wanita berwajah ayu itu terlihat jelas dendamnya pada Rahma dan juga anaknya. Hingga karena teriakan nya, Laras merasakan perutnya sangat sakit dan akhirnya pingsan.
Indriyani yang panik, karena Indra sudah berangkat sekolah pun segera menghubungi dokter Nanang. Karena hanya dokter Nanang yang dipikirkan oleh Indriyani.
Mata Indriyani langsung melebar, dan tangannya gemetar. Ketika melihat dari pakaian perawat berwarna biru telur asin yang Laras pakai, dari roknya itu terlihat bercak merah yang semakin lama bercak itu semakin membesar.
"Laras, ya Tuhan. Laras bangun nak, anakmu... tidak! ya Tuhan!" pekik Indriyani panik.
__ADS_1
***
Bersambung...