Wanita Lain Itu... Aku

Wanita Lain Itu... Aku
WLIA 15


__ADS_3

Mata Laras lalu tertuju pada kerumunan orang yang berada di bawah pohon mangga. Laras lalu mendekati kerumunan itu dan melihat sang ayah yang duduk lemas bersandar pada batang pohon mangga dan terlihat air matanya sudah berlinangan bercampur dengan keringat.


"Ayah!" lirih Laras yang menghampiri ayahnya lalu memeluknya.


"Ayah tidak apa-apa kan?" tanya Laras terdengar begitu sedih.


Dan sang ayah pun menggelengkan kepalanya perlahan.


"Tidak nak, tapi pabrik habis nak. Bagaimana ini? bagaimana menjelaskannya pada nak Abi?" tanya Syarifuddin yang begitu sedih karena takut menantunya itu akan salah paham padanya.


"Ayah, ayah tenang ya. Mas Abi sudah memberikan nya pada ayah. Dia juga pasti mengerti kalau semua ini adalah musibah!" ucap Laras mencoba menenangkan ayahnya meski hatinya sendiri saat ini merasa sangat tidak tenang.


Kejadian ini membuat Syarifuddin kehilangan salah satu mata pencaharian nya, begitu pula warga desa. Tapi semua kejadian ini sudah di laporkan pada pihak berwajib. Mereka akan menyelidiki penyebab kebakaran yang terjadi di pabrik penggilingan padi milik Syarifuddin.


Laras pun mengajak ayahnya pulang, karena memang sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan di bekas pabrik penggilingan padi milik Syarifudin yang terbakar tersebut. Semuanya sudah habis dan hangus menjadi abu tidak ada sama sekali satupun barang yang bisa diselamatkan.


Masih beruntung karena tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, karena kalau sampai itu terjadi maka Syarifudin sebagai pemilik pabrik tersebutlah yang akan harus bertanggung jawab pada hukum dan pada keluarga korban.


Ketika semuanya sudah tenang, Laras terus berusaha untuk menghubungi suaminya Abimanyu, namun sebanyak apapun Laras menghubungi suaminya itu tidak pernah sekalipun Abimanyu mengangkat telepon darinya. Laras masih terus berusaha untuk mengirimkan pesan pemberitahu kabar kalau pabrik yang mereka miliki telah kebakaran tapi, pesan yang dia kirimkan selalu tidak dibaca karena centang dua itu tidak pernah berubah menjadi biru.


Laras pemilik ponselnya karena hanya itu satu-satunya cara dia bisa menghubungi Abimanyu. Suaminya itu tidak pernah memberitahukan tentang alamat rumahnya di kota B dan juga perusahaan yang berada di kota B. Laras hanya tahu rumah Abi di kota ini, dan kemarin Laras juga sudah pergi ke sana dan rumahnya kosong tidak ada siapapun di sana. Laras juga berusaha menghubungi beberapa anak buah Abimanyu yang bekerja di perusahaan yang ada di kota ini, tapi tidak satupun dari mereka yang tahu keberadaan Abimanyu atau alamat Abimanyu di kota B.

__ADS_1


"Mas kamu dimana sih? kenapa kamu tidak menjawab telepon dariku dan tidak membalas pesan-pesan ku?" tanyalah sambil bergumam juga sambil bolak-balik ke sana kemari karena dia sangat gelisah.


Laras kembali ke dalam rumah. Saat Laras baru saja masuk ke dalam rumah sang ayah langsung bertanya padanya.


"Laras, bagaimana? apa kata nak Abi?" tanya ayahnya yang terlihat begitu cemas dan dari merawat wajah tua itu juga tersirat rasa bersalah yang amat sangat karena tidak bisa menjaga apa yang sudah kami berikan kepadanya dengan baik dan malah membuat pabrik penghilangan itu terbakar habis tak menyisakan satu barang pun.


Laras yang melihat wajah ayahnya itu tentu saja tidak tega kalau harus mengatakan bahwa dirinya tidak bisa menghubungi suaminya itu.


"Mas Abi sedang sibuk ayah, dan dia bilang Ayah tidak perlu memikirkan semua itu. Yang penting ayah dan semua pekerja di sana selamat, begitu kata mas Abi!" jawab Laras yang sudah pasti adalah sebuah kebohongan karena jangankan bicara dengan Abi teleponnya saja tidak diangkat oleh suaminya itu.


Mendengar jawaban dari sang anak Syarifudin pun menghalau nafas lega.


'Ayah, tolong maafkan aku. Aku sungguh tidak berniat untuk membohongimu tapi kalau aku mengatakan mas Abi tidak menjawab teleponku pasti ayah akan semakin sedih, aku tidak mau ayah sedih karena kesehatan Ayah juga baru saja pulih, maafkan aku atas semua kebohongan ku ini ayah!' batin Laras yang merasa sangat bersalah telah mengatakan sesuatu yang tidak benar pada sang ayah tapi dia benar-benar terpaksa melakukan semua itu.


Laras lalu mendekati ayahnya dan duduk sambil memeluk dengan ayahnya itu Dan meletakkan kepalanya di lengan sang ayah sambil mengusap dengan ayahnya itu perlahan.


"Ayah, mas Abi sedang sibuk saat ini. Nanti kalau semua pekerjaannya di luar kota sudah beres dia pasti akan segera kemari. Ayah juga jangan pikirkan lagi masalah pabrik yang terbakar itu ya, kan pabrik itu sudah diasuransikan oleh Mas Abi. Jadi meskipun tidak banyak tapi setidaknya kita masih bisa membangun pabrik lagi dan mempekerjakan kembali warga desa yang tidak memiliki pekerjaan sekarang!" jelas Laras panjang lebar membuat Sarifuddin sedikit tenang.


Sementara itu di kota B. Di rumah sakit tempat Sarah di rawat, Abi sedang melihat ke arah Sarah yang menjatuhkan ponselnya ke lantai.


Abi berusaha untuk tetap tenang dan tidak marah pada istrinya itu karena Sarah sedang sakit. Tapi begitu melihat kerusakan parah yang ada pada ponselnya mata Abi pun langsung berubah menjadi merah.

__ADS_1


'Tidak mungkin kan kalau hanya jatuh akan rusak separah ini?' pikir Abimanyu yang melihat kondisi ponselnya yang remuk.


Di tambah lagi setelah terjatuh tadi habis sempat melihat Sarah menumpahkan air di atas ponselnya itu sehingga ponselnya itu benar-benar hancur, sudah pecah dan terbukti sana-sini ditambah penuh dengan air sungguh tidak bisa tertolong lagi.


Melihat mata dan wajah Abimanyu yang memerah, Sarah menyadari kalau suaminya itu sangat marah dan kesal sekali padanya saat ini. Tapi dengan cepat Sarah langsung merubah ekspresinya menjadi sangat sedih dan matanya pun sudah mengeluarkan air mata dengan sangat cepat sepertinya dia sudah banyak belajar untuk menangis dengan cepat.


"Mas, maaf aku tadi mau ambil minum tapi tidak sengaja menyenggol ponselmu hingga jatuh dan karena aku takut akhirnya gelas yang aku pegang jatuh dan airnya tumpah membasahi ponselmu, apa kamu marah?" tanya Sarah dengan nada suara yang terdengar gemetaran.


"Hiks... maafkan aku mas... aku yang tidak berguna. Sudah mau mati saja, masih terus membuatmu susah, hiks hiks...!" tangis Sarah benar-benar terdengar sangat memilukan.


Abimanyu yang awalnya sudah mulai emosi pun kembali menghela nafasnya.


"Sudahlah, tidak apa-apa aku akan membawa ponsel ini ke tukang service!" ucap Abimanyu.


Sarah pun menyela air matanya dan mengangguk.


'Membawanya ke tukang servis, tukang servis mana yang bisa memperbaiki ponsel dengan kerusakan parah seperti itu, aku yakin kerusakannya tidak akan bisa di perbaiki. Dan ibu pasti sudah melaksanakan rencananya. Ha ha ha, wanita kampung itu jangan harap bisa menyingkirkan aku dari sisi mas Abi!' batin Sarah.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2