
Meskipun Abimanyu sudah berjanji ingin menemani Sarah hingga waktu hidupnya yang tersisa, namun Abimanyu juga sangat bingung. Dia juga tidak ingin kalau Laras merasa di bohongi lagi.
Malam harinya, setelah berganti pakaian dan bergiliran menjaga Sarah dengan Rahma. Abimanyu kembali ke rumah sakit untuk menjaga Sarah lagi.
"Ibu, Sarah belum sadar?" tanya Abimanyu ketika melihat Sarah masih saja memejamkan matanya.
Rahma hanya menggeleng.
"Belum, bagaimana dengan Cindy? apa dia baik-baik saja?" tanya Rahma menunjukkan sikap simpati pada cucunya yang sekarang berada di bawah pengawasan Marina, ibu Abimanyu.
"Cindy sedikit rewel Bu, karena itu juga ibuku belum bisa kemari menjenguk Sarah. Karena Cindy terus ingin pulang ke rumah, dan aku belum bisa mengatakan perihal keadaan ibunya ini, dia pasti akan sedih!" ucap Abimanyu yang terlihat sedih dan terus melihat ke arah Sarah.
'Ya, kamu seharusnya memang seperti itu Abimanyu, kamu harus terlihat sangat bersalah dan sedih seperti itu, bagus. Dengan begini sarah tidak mungkin di ceraikan, dan aku akan berusaha membuat wanita pelakor itu yang akan kamu ceraikan Abimanyu!' batin Rahma yang sudah menyiapkan rencana lain agar Abimanyu menceraikan Laras.
"Kalau nak Abi banyak pekerjaan, biar ibu saja yang menjaga Sarah!" ucap Rahma.
"Tidak usah Bu!" sahut Abimanyu sambil menggelengkan kepalanya perlahan.
"Biar aku saja yang menjaga Sarah, aku juga sudah minta sekertaris dan Andri mengurus semuanya, aku yakin perusahaan akan baik-baik saja!" jawab Abimanyu.
'Sekarang saja kamu bilang perusahaan akan baik-baik saja di tangan Andri dan sekertaris mu, dulu setiap Sarah mengajakmu liburan kamu selalu memikirkan perusahaan. Tapi baguslah, sekarang kamu tidak akan tega meninggalkan Sarah, aku bisa tenang memikirkan dan melaksanakan rencana ku pada perempuan kampungan itu!' batin Rahma lagi.
Rahma lalu pergi dari ruang rawat Sarah. Abimanyu meraih ponselnya, dia melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Laras dan juga pesan masuk dari istri keduanya itu. Namun saat Abimanyu akan membalas pesan Laras. Sarah membuka matanya perlahan dan memanggil nama Abimanyu.
"Mas... mas Abi!" ucap Sarah perlahan.
Abimanyu yang mendengar kalau Sarah sudah sadar dan memanggil namanya pun segera menyimpan kembali ponselnya, lalu membantu Sarah yang ingin merubah posisi nya dari berbaring menjadi duduk bersandar.
Abimanyu merubah posisi bantal agar punggung Sarah menjadi nyaman.
"Seharusnya jangan duduk begini dulu, kamu harus banyak istirahat!" ucap Abi terdengar begitu tulus dan penuh perhatian pada Sarah.
__ADS_1
Sarah langsung menunduk, dia berusaha untuk menangis.
'Ya ampun, sulit sekali sih menangis!' keluh Sarah dalam hatinya.
Sarah lalu kembali ingat apa yang dikatakan oleh ibunya. Kalau mau cepat menangis maka pikirkan hal yang paling membuat mu sedih.
'Oh iya, benar kata ibu. Aku harus pikirkan bagaimana kalau kehilangan mas Abi dan semua kartu ku, maka aku tidak akan bisa lagi pergi shopping dan bersenang-senang!' batin Sarah.
Dan setelah memikirkan semua itu, akhirnya air matanya perlahan menetes.
"Mas, jika kamu ingin hidup bersama dengan wanita itu, aku rela mas. Aku tidak akan lagi memintamu menceraikan nya. Tapi aku mohon jangan ceraikan aku, aku tidak mau meninggal dengan menyandang status janda... hiks... hiks...!" lirih Sarah.
Abimanyu terlihat sangat sedih dan begitu merasa bersalah. Abi lalu mengusap lengan Sarah perlahan.
'Aih, ibu benar. Semakin aku terlihat menyedihkan dan terus mengalah, mas Abi akan semakin perhatian padaku!' batin Sarah lagi.
Sementara Abimanyu tidak tahu harus bicara apa, dia masih sangat bingung memikirkan kata-kata yang akan dia sampaikan pada Laras tentang keputusannya tidak Hadi menceraikan Sarah.
"Sarah, sudahlah. Sekarang sebaiknya kamu beristirahat saja, jangan pikirkan semua itu dulu. Aku berjanji padamu, aku tidak akan membawa Laras pada orang tuaku, aku juga tidak akan pernah menceraikan mu...!" ucap Abimanyu.
'Setidaknya hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menebus dia tahun dirimu tersiksa karena penyakit ini Sarah, dan untuk memberikan kenangan terindah untuk mu dan juga Cindy, di sisa umur mu ini Sarah! batin Abimanyu.
Sementara dua orang itu di dalam sedang bicara. Ternyata Rahma di luar ruangan itu sedang merekam apa yang tadi Abimanyu katakan pada Sarah. Rahma terlihat senang dengan apa yang dia dapatkan dan bergegas pergi dari tempat itu.
Sementara itu di kota A. Laras benar-benar dibuat khawatir karena pesan yang dia kirim pada Abimanyu hanya di baca saja dan tidak di balas. Lalu panggilan nya juga tidak di terima. Laras sudah mulai khawatir. Dia pun berjalan keluar rumah, dan tidak ada juga tanda-tanda kalau suaminya itu akan datang.
Indri yang melihat putrinya terus gelisah pun menepuk bahu Laras perlahan dan bertanya pada putrinya itu.
"Ada apa nak? kenapa terlihat sangat gelisah sekali?" tanya Indri pada anaknya.
Tapi belum sempat Laras membuka suaranya, seorang berteriak memanggil mereka berdua.
__ADS_1
Dengan motif matic yang dia kendarai dia bergegas berhenti dan langsung meninggalkan motornya begitu saja lalu berlari menghampiri Indri dan juga Laras.
"Bu Indri, Laras... pabrik...pabrik...!" pria itu bicara dengan ngos-ngosan dan panik. Terlihat dari banyaknya keringat di wajahnya dan baju juga rambutnya juga sudah basah karena keringat.
"Ada apa nak Hendro?" tanya Indri.
"Pabrik kebakaran Bu, pak Udin masih di sana!" lanjutnya.
"Ayah!" teriak Laras dan juga Indriyani secara bersama-sama.
"Ayo ke sana Bu!" ucap Laras sambil berlari menuju pabrik.
"Astagfirullah ayah...!" lirih Indriyani yang bahkan tak kuat melangkah karena kedua kakinya terasa lemas.
Brukk
Indriyani malah pingsan, membuat Laras yang berlari berhenti karena Hendro memanggilnya.
"Laras, ibu Bu Indri pingsan!" teriak Hendro.
Laras langsung berlari ke arah sang ibu.
"Ibu, ibu bangun Bu!" ucap Laras sambil memangku kepala ibunya.
"Mas Hendro, tolong bantu saya angkat ibu ke dalam!" ucap Laras dan Hendro pun menggendong Indriyani masuk ke dalam rumah.
Warga desa sudah berkumpul mendengar teriakan Hendro dan juga Laras. Mereka langsung membantu Laras menjaga Indriyani dan akan segera memanggil dokter.
Laras yang merasa ibunya akan baik-baik saja pun minta Hendro mengantarkannya ke pabrik. Setelah tiba di pabrik, ternyata pabrik penggilingan padi milik Syarifuddin ayah Laras telah habis di lalap si jago merah. Laras merasa hatinya begitu hampa, sekarang sebagian warga desa telah menjadi pengangguran lagi karena kehilangan pekerjaannya.
***
__ADS_1
Bersambung...