Wasiat Dari Mama

Wasiat Dari Mama
C-9


__ADS_3

Hari ini Budi menjemput ku. Saat di jalan kita hanya saling diam. Dan setibanya kita di rumah ku dia menurunkan ku dan langsung pamit pulang. Aku merasa ada yang berbeda dengan dia. Dia seperti dulu saat kita lulus mi. Apa mungkin dia dipaksa sekolah di tempat yang tidak ia ingin kan.



*****************



Kenapa Budi tak kerumah. Biasanya saat aku pulang dia pasti main. Apa dia banyak tugas ya, tapi bukan nya dia baru masuk. Masak iya udah dapet tugas banyak. Apa aku ke rumah nya aja ya.



"Mau kemana dek, udah malam kok mau keluar"


"Emmmm..... eh.... anu.... pak aku mau kerumah Budi bentar aja"


"Besok aja. Gak enak dilihat orang, mungkin Budi juga udah tidur"


"...... Ya udah, besok aja kesana. Eh Pak, sekarang Budi sekolah dimana"


"SMAN 1 Bahrul ulum"


"Apa dia di suruh ke sana, atau kemauan nya sendiri"


"Bapak juga gak tau. Akhir-akhir ini dia jarang kerumah. Bahkan di rumah juga jarang. Bapak juga gak tau dia kenapa. Dia gak mau cerita sama bapak. Coba besok kamu tanya sendiri, sekarang balik ke kamar. "


"Iya, aku kekamar dulu. Selamat malam...."



Bapak tak mengizinkan ku untuk keluar malam. Apa ku coba telpon dia.



Kenapa gak bisa, apa dia udah tidur. Dia kenapa sih kok berubah jadi kayak gini. Pokoknya besok harus ketemu sama dia.



******************



Saat semua urusan rumah selesai aku minta izin buat ke rumah Budi.



"Assalamualaikum.... Lo udah mau berangkat ya"


"Wangalaikumsalam...... ikut gue yuk"


"Enggak ah, gue balik aja. Lo juga harus sekolah, sekolah yang bener. Jangan cuma main doang"


"Nggak mau. Lo harus ikut gue, tidak menerima penolakan"

__ADS_1


Masak iya gue ikut dia sekolah. Kalau dia masuk kelas terus gue harus ikut gitu.



"Kita di taman sekolah aja, " sambil menggandeng tangan Nabila


"Eh.... Lo gak masuk kelas"


"Enggak, hari ini guru-guru dan sebagian anak-anak mempersiapkan penutupan pondok romadhon, buat entar malam."


" Terus Lo gak bantu mereka"


"Enggak lah, jelas gue sama elo."


"Gue balik aja Lo bantu mereka" sambil beranjak pergi, namun tangan ku sudah ditarik sama Budi dan dia menyuruh ku untuk duduk lagi.


"Emang Lo mau naik apa"


"Naik...... naik apa ya... Lo sih tadi maksa gue buat ikut. Terus gue pulang nya gimana coba. Mana gue gak bawa apa-apa" jawab ku sebel


"Dasar cewek perebut pacar orang" tiba-tiba dorong gue, untung ada Budi yang nolong coba kalau gak mungkin udah jatuh.


"Maaf mbak ini ngomong apa ya"


"Lo jauhin pacar gue. Minggir Lo jauh-jauh sana" Sambil mendorong Nabila agar pergi


"Lo apa-apa sih" sentak Budi ke cewek tadi


"Sayang kok kamu bentak aku. Dia kan udah berusaha merebut kamu dari aku"


"Di, Lo jangan ngomong kasar dong sama cewek" selaku


"Kok Lo jadi belain dia sih bil. Dia udah jahat sama Lo" jawab budi, namun dengan nada lembut


"Nah ngomong kayak gini kan enak didengar"


"Lo tuh sama aja. Gak berubah, " ucap Budi sambil ngelus-ngelus kepala Nabila


"Sayang, kok belain dia" keluh cewek itu lagi


"Kita cari tempat lain bil, yuk " ajak Budi dan mengandeng tangan ku



"Kita balik aja ya, males gue di sini"


"Kok gitu, Lo aja belum masuk kelas. Tar kalau ada pengumuman gimana coba."


"Gampang, udah ayuk"



Kita pun meninggalkan sekolah Budi. Namun Budi tak mengajak ku langsung pulang. Dia membawaku ke taman.

__ADS_1



"Katanya mau pulang. Kok malah kesini"


"Gue capek bil, kalau terus kayak gini. Gue bukan boneka yang bisa buat diapain aja. " budi mengacak-acak rambut nya tampak frustasi


"Maksud Lo apa, emang siapa yang buat Lo jadi kayak boneka"


"Orang tua gue"


"Ha..... Lo becanda ya, "


"Enggak lah, ngapain gue bohong sama Lo. Gue pengen kayak Lo, bisa belajar agama bukan cuma pelajaran umum terus. Gue pengen sekolah sama Lo. Lo tuh enak gak ada yang gangguin nah aku. Gak di SMP, gak di sma sama aja. Banyak banget cewek yang ngajak gue pacaran. Lo tau kan kita punya prinsip, nah kalau gini terus bisa-bisa prinsip gue berubah"


"Jangan dong, dari kecil Lo udah punya niat baik. Sekarang Lo juga harus terusin niat baik Lo. Gue yakin suatu saat Lo bakal nerima kebaikan yang udah Lo buat selama ini"


"Tapi gue gk bisa bil"


"Lo bisa Di. Lo mau belajar agama kan, gue bantu. Kalau gue pulang Lo gue ajarin dan Lo boleh pelajari kitab-kitab gue. "


"Dari dulu juga gitu bil. Kalau Lo dirumah gue bisa tanya kalau gue gak paham. Tapi kalau Lo udah balik ke pondok siapa yang mau ngajarin gue. Belum lagi di SMA itu pergaulan ya beda dari sekolah Lo. Lo gak pernah di ganggu sama cowok. Nah gue, tiap hari ada aja. Bosen gue ngadepin mereka"


"Lo pakai pelet apa sih, kok bisa bikin cewek-cewek kayak gitu"


"Gak mungkin lah gue pakai pelet. "


"Ya... bilang aja kalau Lo udah punya pacar"


"Kalau mereka tanya siapa pacar gue gimana coba"


"Bilang aja gak usah ikut campur urusan orang lain. Mending urus diri sendiri."


"Ahhhh..... tau deh, kapan-kapan gue coba ide Lo itu. Tapi kalau mereka maksa, gue sebutin Lo boleh ya"


"Kenapa gue, temen cewek Lo kan banyak"


"Gak ada yang bisa gue percaya selain Lo. Lagian kalau gue bilang Lo pacar gue. Gue yakin mereka gak bakal ngejar gue atau ngerjain Lo"


"Terserah Lo aja deh"


"Gitu dong, Lo emang sahabat terbaik gue"


"Balik yuk"


"Yuk"



***********************



Selama perjalanan pulang Budi menceritakan semua masalahnya kepada ku. Aku hanya menanggapi nya dan memberikan saran. Setidaknya dia udah lebih baik dari kemarin, yang seakan acuh dan tak peduli.

__ADS_1




__ADS_2