
Hari ini Nabila pulang ke rumah untuk liburan Idhul Fitri. Libur kali ini termasuk lama karena memang di pondok hanya ada libur untuk hari-hari besar Islam saja dan sekalinya libur itu biasanya lama.
Mobil dan motor sudah banyak yang datang sejak tadi pagi. Perizinan pulang juga sudah di buka sejak jam 7 pagi tadi. Ketika pagi pondok masih ramai dengan orang-orang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Suasana pagi tadi berbanding terbalik dengan siang ini, pondok berubah sepi hampir mirip kuburan. Hanya tinggal beberapa orang saja yang masih di pondok. Kendaraan yang tadinya memenuhi lapangan juga sudah tidak ada.
Nabila
Mbak ku sudah pulang sejak pagi, karena dia tidak langsung pulang. Dia ingin menginap di rumah temannya terlebih dahulu. Sebenarnya bapak dan ibu tidak mengizinkan kami untuk menginap di rumah teman. Namun dengan begitu banyak alasan, sehingga mbak diizinkan oleh ke dua orang tua kami.
Sebenarnya aku ingin pulang bareng temen ku yang searah dengan arah rumah ku. Namun ibu bilang nanti siang Budi yang akan menjemput ku. Jadi ku urungkan niat ku itu.
Aku dan sembilan temanku yang lain masih di pondok. Kami gunakan waktu sebelum pulang ini untuk membersihkan kamar kami. Kami saling bantu membantu untuk membersihkan kamar ini.
Setelah kami selesai membersihkan kamar kami. Ada beberapa temanku yang keluar pondok sekedar mencari hiburan dan memenuhi kebutuhan. Ada juga yang mencuci pakaiannya karena tak mau membawa pulang pakaian kotor. Sedangkan aku dan Dina memilih untuk istirahat sambil menunggu jemputan. Kami berdua bercerita banyak hal sampai kami tertidur.
Pukul 13.00 wib
Saat aku masih berkeliaran di dunia mimpi ku. Tiba-tiba ada yang membangunkan ku dan otomatis bikin aku langsung bangun.
"Bil..... bangun, Bil...... tuh di bawah depan kantor pengurus ada cowok keren banget. Ayolah bangun Bil!" ucap Hasna.
"Nabila bangun, cepet deh tidak pakai lama!" sambung Nurma.
"Ihhhh...kalian berdua kenapa sih?" ucapku kesal karena ulah ke dua temanku.
"Di bawah ada cowok kerennnn banget," sahut Hasna.
"Ganteng lagi," sambung Nurma.
"Terus hubungan nya sama aku apa?"
"Dia tuh nyari kamu," jawab Nurma.
"Eh.... ada apa sih rame banget kalian ini," ucap Dina yang baru terbangun karena ke dua teman ku.
"Tuh di bawah ada cowok kerennnn. Dan dia cari Nabila," jawab Hasna.
"Aku mau turun dulu kalau gitu," ucapku.
__ADS_1
"Di temenin gak, Bil?" tanya Hasna dengan wajah seakan dia berharap bahwa ia akan diajak untuk melihat siapa laki-laki yang mencari Nabila.
"Kalian mau ikut?" tanyaku.
"Gak bil, kamu sendiri aja kita disini," jawab Dina.
Aku mengambil jilbabku dan ku pakai jilbab itu. Setelah memastikan bahwa sudah oke, tidak ada yang kurang. Aku segera turun untuk memastikan siapa laki-laki yang dimaksud oleh ke dua sahabat ku tadi.
"Assalamu'alaikum....... " sapa ku saat sudah ada didekat laki-laki itu.
"Wa'alaikumsalam.... kemana aja sih udah lama banget aku nunggu kamu di sini," protes laki-laki itu, yang tidak lain adalah Budi.
"Emang sejak kapan?" tanyaku yang memang tidak tau berapa lama Budi menunggu ku.
"Sejak aku pulang sekolah, kamu tidak lihat aku masih memakai seragam sekolah," jawabnya sambil menunjukkan baju seragam yang masih ia kenakan.
"Maaf, aku tadi ketiduran," ucapku.
"Ya aku maafin. Pulang sekarang yuk, aku udah capek banget. Pengin segera istirahat,"
"Oke, aku ambil barang dan ganti baju dulu. Kami tunggu di sini dulu,"
"Jangan lama!"
Ku tinggalkan dia untuk menunggu ku lagi. Gak tega sih ninggalin dia di bawah sendirian, tapi gimana lagi. Kalau orang laki-laki tidak boleh masuk kamar santri putri. Walau hanya sekedar ikut naik ke kamar dan menunggu di depan kamar aja tidak boleh.
Ke tiga sahabat ku menghampiri ku ketika aku masuk ke kamar. Dan mereka melontarkan banyak pertanyaan yang bikin aku pusing dengerin pertanyaan mereka. Tak ada yang mau mengalah, mereka bertiga secara bersamaan kasih aku pertanyaan yang beda-beda. Al hasil tak ku hiraukan mereka.
AKu segera ganti baju seragam dan mengambil barang yang telah ku siapkan sejak pagi tadi. Memang sudah jadi peraturan kalau izin baik pulang atau kelur pondok harus pakai seragam. Dan kalau izin pulang harus ada bukti bahwa yang jemput benar-benar keluarga.
Setelah selesai, aku memperhatikan sahabat-sahabatku yang kesal karena aku yang tak kunjung menjawab pertanyaan mereka.
"Udah pertanyaan nya.... tapi dari semua yang kalian tanyakan aku tidak ingat apa aja yang kalian tanyakan tadi. Karena kalian ngomong bareng-bareng dan bikin kepala aku pusing," jawab ku sambil ku tunjukkan ekspresi pusing.
"Sorry...." jawab mereka kompak.
"Aku jelasin, dengar baik-baik dan tidak ada pertanyaan setelah itu,"
"Iya deh" jawab Nurma mewakili mereka.
__ADS_1
"Laki-laki itu sahabat aku sejak kecil, dia seumuran sama kita. Dia kesini mau jemput aku pulang karena di rumah ada acara. Jadi gak ada yang bisa jemput aku. Dan budi menawarkan diri buat jemput aku. Udah ya aku mau pulang, kasihan dia udah nunggu lama,,"
"Kamu hutang cerita sama kita, habis liburan aku tunggu cerita kamu tentang dia," kata Hasna.
"Bener tuh, kalau kamu gak cerita sama kita awas aja!" ancam Nurma.
"Ingat baik-baik Bil," sambung Nurma.
"Iya deh tar habis liburan aku ceritain. Tapi sekarang aku mau pulang duluan. Sebelum pulang aku minta maaf lahir batin ya sama kalian dan selamat berlibur dan selamat hari raya Idhul Fitri,"
"Kita juga ya" jawab Dina.
"Iya, Aku pulang ya. assalamualaikum....."
"Wa'alaikumsalam....." jawab mereka
Setelah berpamitan dengan sahabatku. Aku mengambil tas dan segera turun.
"Yuk balik, kamu bawa kartu kunjung tidak?"
"Iya, bentar gue ambil dulu," jawab Budi sambil mengeluarkan kartu kunjung dari dompet nya dan menyerahkan nya padaku.
"Izin dulu, jangan bilang kalau kamu cuma sahabat aku. Bilang aja kalau kamu kakak aku,"
"Iya, udah buruan kita masuk,"
"Ayok,"
Setiap santri pasti punya kartu kunjung yang di berikan kepada wali mereka. Dan kartu itu harus selalu di bawa ketika menjenguk atau menjemput anaknya. Kalau tidak ada kartu itu maka tidak ada perizinan. Karena kartu itu membuktikan bahwa yang mengajak santri itu benar-benar wali dari santri itu.
Aku sengaja mencantumkan nama Budi dalam kartu kunjung ku. Dalam kartu itu terdapat nama kedua orang tua ku dan Budi yang kutulis sebagai kakakku. Karena aku sudah menganggap dia sebagai kakak ku.
Dan jika kedua orang tua ku tak bisa menjenguk atau menjemput ku Budi bisa mewakili mereka. Seperti saat ini, memang baru kali ini dia datang sendiri. Biasanya dia akan datang bersama ibu dan dia hanya menunggu dimotor. Sedangkan ibu memanggilku dan mbak. Jadi tak heran kalau sahabatku memberikan ku banyak pertanyaan. Entah kebiasaan dari mana, kalau ada sesuatu yang baru dan berbeda pasti akan seperti itu.
Saat izin mbak-mbak keamanan yang berjaga tak percaya bahwa Budi adalah kakak ku. Ku jelaskan baik-baik dan Budi hanya diam karena memang aku yang memintanya diam tadi. Setelah perdebatan panjang akhirnya mereka percaya. Dan aku di izinkan pulang.
"Izin gitu aja ribet banget sih," keluh Budi.
"Maksud mereka juga baik Di, kitakan seumuran jadi mereka pikir kamu tuh pacar aku,"
__ADS_1
"Ya udahlah.... kita pulang sekarang yuk" ajak nya
"Ayok....." jawab ku antusias