
Sebelumnya kenalkan dua sahabat Gilang yang datang di taman.
Pertama: Dilan
Sahabat Gilang sejak Smp. Kemana-mana juga bareng, to dulu. Tau sendiri dulu mamanya gilang larang Gilang buat pacaran.
Kedua: Yuda
Sahabat Gilang sejak SD-SMA tapi beda SMP aja. Kenal sama dilannya juga baru setelah Gilang ngajak mereka main basket bareng. Sejak itu mereka jadi sahabat, Alhamdulillah sampai sekarang.
(segitu aja dulu ya... kenalan sama sahabatnya Gilang. karena untuk sekarang mereka berperan sebagai tokoh pemain aja. INGAT TOKOH UTAMA NOVEL INI. saya harap tidak ada yang mencari tokoh-tokoh yang memang sengaja saya munculkan di beberapa cerita saja.)
Tak lanjut ya ☺️☺️
Mereka bertiga berpencar untuk mencari Nabila. Taman ini cukup besar, jadi kalau mau cari sendiri susah.
Beberapa kali tanya orang, jawabannya tidak tahu. Hampir semua orang yang di tanya jawab seperti itu.
Hampir satu jam mereka berkeliling taman. Tapi satupun dari mereka tidak menemukan. Semua tempat di taman juga udah di cari. Hasilnya nol besar, tidak ada.
Sampai tak sengaja mereka bertiga sudah bertemu lagi.
buat dialog dulu ya....
Gilang: "Bagaimana?"
Dilan: "Gak ada yang tau kap"
Yuda: "Sama, semua udah gue cari tapi gak ada yang tau"
Gilang: "Kemana perginya, perasaan dia tadi masuk kesini. Apa udah keluar ya... ah... tidak mungkin dia tidak tahu daerah sini."
Yuda: "Sabar... pasti ketemu kok"
Gilang: "Aku merasa tidak berguna jadi suami kalau seperti ini. Baru aja ajak dia jalan sekali, malah yang diajak hilang. Ya Allah... kemana perginya Nabila...."
Yuda: "Jangan bilang gitu, lo juga udah berusaha cari."
Dilan: " Kenapa gk coba hubungi dia, ada no hp dia kan"
Gilang: "Astaghfirullah...... aku lupa soal itu. Bodoh memang aku, seharusnya aku kasih dia hp sejak di Madiun. Kok baru inget."
Dilan: "Ini zaman modern, masak iya gak punya hp"
Gilang: "Baru keluar dari pondok langsung sibuk sama urusan resepsi pernikahan, mana sempat mau beli hp. Bayangin aja sendiri gimana pondoknya."
Tidak lama kemudian mereka mendengar suara orang teriak tidak jelas.
Dilan: "suara apaan tuh, kok kayak orang ribut"
Yuda: "iya, samperin yuk siapa tau istri kapten ada di sana"
Dilan: "Bener juga, ayo"
Tanpa menunggu persetujuan gilang, mereka berdua sudah menyeret Gilang. Mau tak mau Gilang ikut.
Nabila ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Aku senang ternyata mas Gilang mengajakku ke taman. Sejak kecil aku suka pergi ke taman dan menanam bunga-bunga bersama ibu. Aku senang melihat pohon tumbuh dengan baik.
Terkadang aku berfikir Allah telah menciptakan ini semua dengan sempurna. Tapi kenapa manusia tidak bersyukur tentang apa yang telah ada pada dirinya. Selalu merasa kurang dan kurang.
Aku terus melangkahkan kakiku dan aku baru sadar. Bahwa ini bukan daerah asal ku. hampir setiap orang yang melihat ku mereka seakan-akan aku ini orang aneh. Mereka berbisik-bisik entah apa.
Ku perhatikan diriku, apa yang salah. Perasaan aku pakai baju tidak mencolok. Apa karena hijab ku kotor, tp setelah ku periksa tidak juga.
Sangking sibuk nyari apa yang salah dari diriku. Tak sadar aku bertabrakan dengan seseorang.
Bruk....
"Kalau punya mata itu di pakai dong. Jalan aja nabrak, tuh jalan masih lebar"
"Maaf mbak aku tidak sengaja, karena saya terlalu sibuk mencari apa yang aneh dari aku. Hampir semua orang melihat ku dengan aneh"
Berkali-kali wanita itu memperlihatkan ku. Dan tak lama tatapan nya tajam. Seakan aku adalah sebuah mangsa. Apa salah ku terhadap dirinya.
__ADS_1
"Lo mau tau apa yang salah dari diri Lo. Tenang gue kasih tau, sini Lo."
Aku berdiri dekat dengan dia, tapi tiba-tiba dia memanggil beberapa orang. Tanpa butuh waktu lama, udah banyak orang yang mengelilingi kita.
Ada apa sebenarnya.
Apapun yang terjadi, aku percaya pada-Mu ya Robb
Karena Engkau lah sutradara terbaik, terhebat dan ter lainnya (yang baik-baik)
saya ambil alih lagi ya
Setelah orang-orang berkumpul. Wanita itu langsung mengeluarkan semua kekesalannya terhadap Nabila. Banyak berita yang tidak benar dia sebarkan begitu saja.
Nabila yang mendengar ucapan-ucapan tersebut hanya bisa mengelus dada dan menunduk. Dia terus mengucapkan kalimat istighfar.
"Kenapa Lo nunduk terus. Beberkan yang gue bilang barusan."
"Jawab... jangan diam aja."
wanita itu langsung menarik kasar dagu Nabila.
"Jawab... punya mulut kan. Kenapa diam aja hah, bisu Lo sekarang"
Wanita itu terus mencengkram dagu Nabila. Semakin lama semakin kencang. Nabila sudah benar-benar kesakitan. Dagunya juga tergores karena terkena kuku wanita tersebut.
Tak lama kemudian, tangan tersebut sudah lepas. Gilang melepas paksa tangan itu dan menarik Nabila ke dekapannya. Di peluk erat pinggang Nabila, seakan tak mau Nabila di sakiti lagi atau hilang dari jangkauan Gilang.
"Apa yang perlu dia jawab, aku yang jawab. Ulangi pertanyaan kamu"
Bener saja, Gilang yang baru datang dan melihat istrinya seperti itu. Dia langsung menolongnya, dan ketika dia berjalan menghampiri suara gaduh tadi dia mendengar beberapa kata jawab.
Gilang yang hanya mendengar itu bertanya lagi.
"Sayang kok kamu belain dia sih. Jangan dekat-dekat sama dong." ucap wanita itu manja sambil berusaha memegay Gilang tapi Gilang selalu bisa menghindar
"Apa... Kamu panggil aku apa tadi." tanya Gilang
"Sayang...." jawab wanita itu
"Sayang tidak usah mendengarkan apa yang dia katakan. Percaya sama saya, hanya kamu wanita yang saya nikahi sekali seumur hidup ku" ucap Gilang kepada Nabila yang sekarang berhadapan dengan nya.
"Baiklah, saya perkenalkan kepada kalian semua yang ada di sini. Saya Ahmad Gilang Saputra adalah suami sahnya Nabila Putri Ardeliana. Kami menikah beberapa bulan yang lalu. Alasan kami menikah bukan karena istri saya hamil di luar nikah atau yang lain. Tapi kami menikah untuk menyempurnakan iman kami dan menjalankan sunah nabi Muhammad Saw . Dan wanita itu, saya tidak tau apa-apa soal dia. Jadi tidak ada hubungan apapun antara saya dengan dia. Saya rasa cukup saya permisi. Assalamualaikum...."
Gilang segera mengajak Nabila pergi. Kedua sahabatnya juga mengikuti. Sampai di depan taman, Gilang berkata untuk berkumpul di kafe biasa.
Mereka pergi ke kafe yang sejak dulu menjadi andalan buat mereka.
Tidak jauh dari taman. Mereka berhenti di depan kafe A dan masuk.
Setelah duduk.
"Dek" panggil Gilang pada nabila
"Iya" jawabnya dengan senyum manisnya yang seperti di tahan
"Lihat mana yang luka, aku obati nanti infeksi lho"
"Tenang aja, beberapa hari lagi juga sembuh kok."
"Kap, nih" ucap dilan yang menyodorkan P3K yang ia pinjam dari kafe
"Terimakasih...."
"Obati gih, buktiin kalau kapten gue udah benar-benar lulusan kedokteran"
"Sini biar aku obati. Tahan ya kalau sakit, bentar aja kok."
Nabila pasrah mendapat perlakuan seperti itu. Dengan telaten Gilang membersihkan luka-luka Nabila. Alhamdulillah hanya luka kecil.
"Udah selesai, kamu tadi kemana aja sih. Aku cari-cari kok gak ketemu"
"Keliling taman"
"Tanpa ngajak aku"
__ADS_1
"...."
"Ha.... Ha... Ha..." tawa dilan dan Yuda yang tak tahan melihat tingkah dua orang di depannya ini
Aneh, biasanya setiap wanita ketemu Gilang pasti nempel aja. Pas waktu sekolah dulu juga, setiap hari ada aja yang ngasih kado. Gilang tidak pernah menolak, karena dia akan memberikan kado-kado itu ke teman-teman nya yang mau.
"Anggap tidak ada orang di sini. Abaikan mereka" ucap Gilang
"Maaf... soalnya saya paling suka kalau di ajak ke tempat-tempat alam yang banyak tumbuhan nya. Jangan marah ya.."
"Wah sejoli brooo... ternyata kapten kita dapat yang sehati juga. Ya nggak" ucap dilan
"Bener banget...."
"Diem dulu kenapa sih. Tar ada waktu nya kalian buat ikut ngobrol. Tutup telinga rapat-rapat dan jangan mendengar pembicaraan kami." ucap Gilang kepada sahabat nya
"Siap kapten" jawab mereka sambil menutup kuping
"Ok soal kamu main masuk aja di taman aku maafin. Tapi soal yang di jalan tadi tidak sebelum kamu jelasin."
"Di jalan, aku salah apa."
"Tau kenapa aku diemin tadi"
"Oh soal itu... ha... ha.... ha...." tawa Nabila yang membuat ketiga pria itu menatap nya
Kenapa tiba-tiba tertawa sendiri gak ajak-ajak juga. Apa yang lucu dengan pertanyaan Gilang. Mereka bertiga bingung dengan tingkah Nabila.
Nabila yang sadar ditatap dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa lihat aku semua, ada yang salah"
"Ada," jawab dilan
"Ketawa tidak mengajak kita" imbuh Yuda
"Ok.... aku jelasin, tapi mas yakin mau aku jelaskan sekarang."
"Iya cepat jelasin"
"Janji tidak akan marah lagi"
"Tergantung"
"Gak jadi deh"
"Jelasin sekarang apa susahnya sih"
"Baiklah, karena mas maksa terus aku jelaskan. Awas kalau marah atau apapun, aku bakal diemin mas."
"Cepatlah"
"Iya... iya... yang sabar dong mas. Yang aku maksud pria paling tampan dan aku cinta adalah..."
"Lo punya cowok lain" ucap dilan
"Wah... harusnya Lo bersyukur dapet suami seperti kapten kita. Dia itu gak pernah mau kenal ataupun peduli sama cewek satupun gak ada, kecuali keluarganya sih." ucap yuda
"Aku belum selesai loh, jangan sela dong"
"Diem kalian berdua, aku bilang tutup telinga dan jangan menguping percakapan kami"
"Sini tak bisikin aja,....( anggap aja beneran Nabila berbisik dengan Gilang)"
"Astaghfirullah.... dek jangan bikin mas salah paham. Kita baru aja nikah, mas gak mau rumah tangga kita berakhir dengan perceraian. Dari awal mas udah bilang jangan main rahasia-rahasiaan."
"Aku gak kok, ingat aku yang katakan tadi kan. Kalau di langgar berarti terakhir aku bicara sama kamu"
"Iya, aku minta maaf sudah salah paham. Lain kali yang bicara setengah-setengah biar gak salah paham lagi."
"Tidak bisa janji kalau itu, karena sifat jahil ku muncul. Bisa aja aku gak sadar seperti tadi. Mas belum tau banyak soal aku, tar kalau udah tahu juga paham sendiri."
"Kasih tau dong, biar mas tau"
"Iya, tapi tidak untuk sekarang nanti aja kalau udah pulang. Kasihan sahabatnya mas tu, pasti mereka juga ingin ikut ngobrol juga"
__ADS_1
"Janji"
"Iya"