Wasiat Dari Mama

Wasiat Dari Mama
C-6


__ADS_3

Hari telah berganti Minggu.


Minggu telah berganti bulan.


Dan bulan telah berganti dengan Tahun.


Waktu terus berjalan, dan tak sedikit pun waktu hendak berbalik arah dan berhenti.


Sudah tiga tahun baik Gilang dan Nabila meninggalkan rumahnya. Meskipun Nabila akan selalu pulang saat libur panjang. Nabila juga hampir setiap minggunya bisa berjumpa dengan keluarganya. Karena memang keluarganya yang menjenguk seminggu sekali.


Berbeda dengan Gilang, karena jarak yang jauh dan kegiatan yang padat. Selama tiga tahun terakhir ini, dia tidak pernah pulang walau hanya sehari saja. Kegiatan di sana sudah menguras banyak waktu nya. Dia ingin segera menyelesaikan kuliahnya dan segera kembali ke keluarga yang selalu ia rindukan.


Mesir


Gilang


Aku merasa diriku yang sekarang berbeda dengan diriku yang dulu. Di sini aku begitu dekat dengan Abah ( pemilik pondok ). Dia tahu bahwa aku tidak seperti santri-santrinya. Aku tidak tahu banyak tentang agama. Dan aku sering absen saat pengajian. Karena tugas dan setiap hari aku selalu pulang sore terkadang sampai Maghrib.


Ini bukan alasan aku tak mau ikut pengajian. Tapi sejak 2 tahun ini aku diminta dosen ku untuk menjadi asisten nya. Awalnya aku berniat untuk menolaknya.


Sebelum memberikan jawaban atas permintaan dosenku itu aku meminta izin terlebih dahulu ke Abah. Karena selama aku di sini Abah lah yang menjadi orang tua ku. Dan aku selalu menuruti perintah nya dan patuh padanya.


F**lashback On**


Ku putuskan untuk segera menghadap Abah untuk membahas soal permintaan dosenku itu. Saat menghadap Abah, aku dipersilahkan untuk menceritakan masalah ku. Abah mendengarkan semua cerita ku dari awal sampai akhir dengan baik. Dan setelah aku selesai bercerita, Abah langsung memberikan aku jawaban.


"Terimalah permintaannya," jawab Abah.


"Bagaimana dengan pengajian ku di sini Bah,"


"Kamu tak perlu khawatir, saya yang akan mengajarimu setiap malam, jika kamu tidak ikut pengajian saat sore,"


"Benarkah bah,"

__ADS_1


"Tentu, sesama manusia sudah seharusnya saling membantu. Dan dosen mu telah mempercayai mu dari pada orang lain jadi buktikan bahwa kamu memang bisa dipercaya"


"Baiklah, saya akan menerima permintaannya, "


Flashback End


Sejak saat itu aku menjadi asisten dosen dan secara tak langsung Abah menganggapku seperti anaknya sendiri. Aku sangat bersyukur karena Abah selalu baik padaku. Dan santri-santri di sini juga sangat baik padaku. Walau hanya ada beberapa yang kuliah dan selebihnya masih Mts atau Ma.


Aku sangat beruntung mendapatkan ibu seperti mama ku yang selalu menyayangi ku. Dia selalu menunjukan jalan yang benar kepada ku. Tak pernah sekalipun mama menjerumuskan ku ke jalan yang salah.


Dulu teman-teman ku banyak menganggapku sebagai anak mama. Aku tak peduli kata mereka toh kenyataan nya aku memang anak kandung mama sama papa. Dan sejak aku ada di dalam perut mama, kedua orang tua ku sudah menjagaku dan menyayangi ku sampai sekarang. Seperti keberadaan ku disini, mama lah yang meminta. Aku tak pernah menyesal untuk menuruti permintaan mama.


Waktu begitu cepat, tak terasa sudah tiga tahun aku di sini. Dan sudah tiga tahun pula aku tak pernah bertemu keluarga ku. Aku pernah berniat untuk pulang tapi mama selalu bilang, "Selesai kan kuliah serta mondok mu dan setelah semua selesai baru kamu bisa pulang."


Beberapa hari ini, aku merasa memiliki firasat buruk. Entah firasat itu berkaitan dengan apa, aku tidak tahu. Aku hanya merasa ada sesuatu yang membuat aku tidak tenang.


Beberapa kali aku coba telpon orang rumah, namun tak ada satu pun yang aku hubungi merespon telpon ku. Sampai-sampai aku hampir berniat untuk pulang dan melihat apa yang terjadi di rumah. Namun saat aku meminta izin ke Abah, Abah tak memberi ku izin karena mama lah yang meminta itu.


"Bah, kapan mama memberi tahu Abah untuk tidak mengizinkan ku pulang?"


"Beliau tak memberi ku secara langsung, dia datang ke mimpiku saat beberapa hari sebelum kamu datang ke sini. Dia menitipkan mu dan melarang Abah untuk mengizinkan mu pulang sebelum kuliah mu selesai dan yang lebih penting sebelum kamu mengerti dan paham tentang agama kita,"


"Tapi perasaan saya tidak tenang dan saya takut terjadi sesuatu terhadap keluarga saya Saya ingin pulang untuk memastikan bahwa firasat saya ini tidak benar,"


"Mintalah pertolongan kepada Allah dan curah kan isi hati mu pada-Nya. Karena Dia-lah yang telah mengatur sekenario kehidupan kita,"


"Baiklah Bah, kalau begitu saya izin kembali ke asrama,"


"Iya, jangan lupa pesan Abah tadi......"


"Saya permisi undur diri dulu Bah, assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam..."

__ADS_1


Aku laksanakan perintah Abah. Sebelum ke asrama, ku sempatkan untuk ke kamar mandi terlebih dahulu untuk berwudhu. Setelah itu aku melaksanakan solat dan mencurahkan seluruh hatiku. Tak lupa aku meminta perlindungan kepada-Nya untuk kesehatan dan keselamatan ku, beserta keluarga ku.


Surabaya


Di Surabaya, keadaan keluarga tidak sepenuhnya baik-baik saja. Mereka masih cemas dengan keadaan sang mama yang sedang jatuh sakit.


Sejak kemarin keluarga Rianto berada di rumah sakit milik mereka dimana Ayu ( mama Gilang ) sedang dirawat. Tak ada yang menyangka bahwa Ayu akan sakit diabetes. Mungkin karena selama ini Ayu selalu memakan makanan yang manis.


"Bagaimana keadaan mama kak?" tanya bunga cemas


"Mama baik-baik saja, kamu tenang lah. Dan jangan menampakkan kesedihanmu di depan nya bila dia sadar nanti. Hiburlah mama supaya hatinya selalu bahagia karena jika dia sedih akan memperburuk keadaan nya,"


"Udah waktu yang solat. Kita gantian ada yang di sini temenin mama dan ada yang solat," ucap papa.


"Biar aku saja yang menunggu di sini. Kakak dan papa pergilah terlebih dahulu," jawab Bunga.


"Baiklah kalau begitu, mari kita pergi ke masjid. Dan Bunga, kalau ada apa-apa segera hubungi kami,"


Papa dan kakak bunga pun meninggalkan ruang rapat Ayu. Mereka bergegas pergi ke masjid di rumah sakit ini.


Sedangkan bunga, ia duduk di samping sang mama. Ia menatap mamanya lama, seakan pandangannya tidak mau lepas dari sana.


Beberapa saat kemudian, papa dan kakak bunga telah kembali. Bertepatan dengan panggilan masuk dari Gilang. Bunga ingin mengabaikan panggilan itu, namun ia juga merasa tak tega karena memang keluarganya beberapa hari ini sudah mengabaikan panggilan dari Gilang. Akhirnya ia pun mencoba memberi tahu papanya, ia berharap sang papa mengizinkannya untuk mengangkat panggilan itu.


"Pa, kak Gilang telpon," ucap bunga.


"Angatlah dan Jangan beritahu keadaan mama. Karena mama tidak mau Gilang tahu kondisinya, mama takut nya jika Gilang tahu kondisi di sini ia akan meminta untuk pulang,"


"Baiklah,"


Setelah mendapat izin, bunga keluar untuk menerima telepon sang kakak. Suara Gilang terdengar cemas dan khawatir. Ia sampaikan keadaan di sini, walau kebohongan yang bunga sampaikan.


Setidaknya kak Gilang tak mencemaskan keadaan kami lagi dan tak berniat untuk pulang. Batin Bunga

__ADS_1


__ADS_2