
(✿^‿^) NABILA (◕ᴗ◕✿)
Aku senang bisa menikah dengan mas Gilang. Dia selalu perhatian dengan ku dan bersikap baik. Jika aku meminta bantuan dia akan membantu ku.
Namun tidak dengan hari ini. Di kampus aku mengikuti sebuah organisasi yang bernama kopma. Di organisasi tersebut ada 4 komunitas.
Aku yang akan naik ke semester ke dua. Harus mengikuti kegiatan yang di adakan oleh organisasi yang aku ikuti. Karena setelah mengikuti kegiatan ini. Aku bisa masuk ke komunitas yang ada di kopma tersebut.
Jika aku tidak ikut, maka aku akan di anggap mengundurkan diri dari kopma. Aku tidak mau jika harus keluar dari kopma. Banyak yang aku dapat dari organisasi ini. Dan aku juga ingin ikut bergabung dengan komunitas yang ada di kopma.
Mau tak mau aku harus meyakinkan mas gilang untuk mengizinkan ku. Karena setiap peserta di beri surat edaran untuk izin kepada wali masing-masing. Dan setiap peserta juga harus mendapat izin dari wali. Dengan menyerahkan surat yang telah diberikan panitia dengan tanda tangan wali.
Ku lihat mas Gilang sibuk dengan pekerjaan nya. Karena ini akhir bulan, jadi mas gilang harus melihat laporan bulan ini dan menyerahkannya kepada rumah sakit pusat, lebih tepatnya ke papa.
"Kamu kenapa dek... kok dari tadi lihatin mas terus. Ada yang salah dengan mas, atau kamu ingin sesuatu." tanya mas gilang yang tak mengalihkan pandangannya dari laptop
Aku mendekati mas gilang dan berdoa semoga kali ini berhasil. Aku berdiri di samping mas Gilang.
Karena mas gilang selalu mengerjakan pekerjaan nya di dalam kamar. Maka dari itu dia menyediakan meja untuk dia. Meskipun di rumah ini ada ruang untuk dia bekerja. Tapi dia lebih suka di kamar, sekalian mengawasi ku katanya sih.
"Mas izinin aku ikut kegiatan ini ya..." ucapku dengan nada yang ku buat selembut mungkin
"Jika kamu pergi, siapa yang akan mengurus mas di rumah. Dan siapa yang akan menjaga mu." tanya mas gilang yang masih fokus dengan pekerjaan nya
"Mas kan sudah besar, pasti bisalah mengurus diri sendiri. Dan aku juga bisa jaga diri ku. Aku tidak pergi sendirian, banyak teman-teman yang ikut."
Tiba-tiba mas gilang menarik ku. Ya aku jatuh deh, tapi tenang aku tidak jatuh kelantai. Karena mas gilang menarik ku untuk duduk di pangkuan dia. Isssh modus banget deh, bener gak.
"Isssh kenapa sih tarik-tarik..." ucapku kesal dan berusaha untuk bangkit namun mas Gilang malah memeluk ku dengan erat.
"Jangan banyak gerak, jika tidak mau hal lain terjadi."
"Lepaskan aku... Aku tuh berat"
"Tidak, kenapa kamu ingin sekali meninggalkan mas sendirian" tanya mas gilang dengan nada sedih
"Mas kegiatan ku hanya 3 hari saja, setelah itu aku dan teman-teman akan kembali lagi."
"Tetap saja kamu akan meninggalkan mas sendirian di rumah."
"Kenapa mas jadi seperti ini, dulu mas pernah berkata untuk mengizinkan ku untuk melanjutkan pendidikan ku dan tidak melarang ku untuk mengikuti kegiatan yang ku inginkan." ucap ku dengan nada sedikit kecewa
__ADS_1
Yah aku kecewa dengan mas Gilang. Dulu saat akan menikah dia sendiri yang bilang akan mengizinkan aku untuk tetap melanjutkan pendidikan dan tidak melarang ku untuk melakukan kegiatan yang ku inginkan. Dia juga akan mengizinkan ku untuk menikmati masa muda ku seperti sahabatku.
Tapi sekarang apa, dia tidak menepati ucapannya. Ucapan saja tidak di tepati apalagi janjinya selama ini. Sungguh rasa kecewa, sedih, dan takut jadi satu.
Aku kecewa, karena mas. Gilang tidak bisa menepati ucapannya.
Aku sedih, karena mas gilang aku tidak bisa seperti sahabatku yang lain. Dimana mereka masih bebas memilih apa yang mereka inginkan. Mereka juga bebas main dengan siapa dan pergi ke mana.
Aku takut, karena ucapan saja mas Gilang tidak bisa menepati nya, apalagi janji-janji yang selama ini ia janjikan kepada ku. Bagaimana jika suatu saat janji itu ia ingkari.
Entah mengapa setelah perkataan ku tadi. Keheningan datang menghampiri kami. Perasaan ku yang sudah campur aduk dan mataku yang sebentar lagi akan menjatuhkan air.
Sebelum air itu terjatuh aku segera berusaha untuk lepas dari mas Gilang. Setelah berhasil lepas, aku keluar dan pergi ke kamar lain. Aku tak mau bersama mas Gilang untuk saat ini. Aku ingin sendirian.
Aku masuk ke kamar tamu yang ada di bawah. Memang kamar ini biasa digunakan untuk teman ku atau teman mas Gilang jika menginap. Jadi kamar ini Sely bersih. Ku kunci pintu itu dari dalam.
Aku duduk di ranjang, air mataku sukses turun semua. Sebuah penyesalan dan perasaan yang campur aduk membuat ku seperti ini.
Aku ingin kehidupan ku yang dulu. Aku ingin bisa seperti sahabatku. Aku ingin pergi kemana saja yang aku mau. Aku ingin menikmati masa muda ku.
Awalnya aku berusaha keras untuk menerima pernikahan ini. Ku ikuti semua pesan ibu, bapak, Abah dan juga ummi yang menasehati ku bagaimana kehidupan rumah tangga. Dan apa saja kewajiban ku.
Tapi hari ini, melihat semua teman ku sudah mendapatkan izin. Sedangkan aku dari beberapa hari yang lalu tak kunjung mendapat izin. Berkali-kali aku berusaha untuk menyakinkan mas gilang. Tapi apa, dia tetap dengan pendirian dia.
Beberapa kali mas Gilang mengetuk pintu dan berusaha untuk meminta maaf. Tapi aku tak memperdulikan dia.
"Dek buka pintu nya, kita bicarakan ini baik-baik. Izinkan mas masuk."
"Maaf kan mas, buka lah pintu ini dan mari kita bicarakan dengan baik-baik. "
Dan masih banyak lagi ucap an mas Gilang agar aku mau membuka pintu ini. Tapi aku ingin sendiri, aku pergi ke kamar mandi yang berada di dalam kamar ini. Ku cuci wajah ku, dan ku ambil air wudhu agar diriku lebih tenang.
Setelah dari kamar mandi, aku kembali ke atas ranjang. Ku rebahkan tubuh ku, dan aku berusaha untuk tidur. Dan melupakan apa yang terjadi malam ini.
Sedangkan mas Gilang masih saja berusaha untuk berbicara dengan ku.
Keesokan harinya
Seperti biasa, ku siapkan semua kebutuhan ku dan mas gilang. Setelah semua selesai, aku hendak turun kebawah. Karena sebentar lagi aku harus berangkat ke kampus.
Hari ini aku harus menyerahkan surat izin tersebut. Karena setiap peserta harus mengumpulkan nya kembali.
__ADS_1
Kali ini aku sarapan terlebih dahulu. Aku masih enggan untuk bertemu dengan mas Gilang.
"Pagi... " sapa mas Gilang yang sudah rapi
"..."
"Maafkan mas, jangan diam kan mas seperti ini."
Makanan ku telah habis, aku segera beranjak pergi ke dapur. Ku cuci perlengkapan makan yang tadi aku gunakan.
"Mas aku berangkat dulu." ucapku menghampiri mas gilang dan menyalimi nya
"Duduklah sebentar, kita bicarakan soal ini dulu. Bukan kah surat ini harus kamu kumpulan hari ini."
"Hem..." aku kembali duduk di samping mas Gilang
"Maafkan mas atas sikap mas. Gara-gara mas kamu juga tidak bisa seperti teman-teman mu. Yang mana mereka bisa menikmati masa remaja nya. Namun kamu malah terjebak dengan pernikahan ini. Maafkan mas yang tidak bisa menempati ucapan mas."
"Sudahlah, apa yang telah terjadi biarlah terjadi. Kita tidak bisa mengubah nya. Mana suratnya, aku harus segera berangkat."
Mas gilang mengeluarkan surat dari tas kerja nya.
"Kamu benar-benar ingin ikut kegiatan ini."
"Kembali kan padaku, aku harus segera berangkat."
"Jawab pertanyaan mas dulu, baru mas kembali kan."
"Iya, aku ingin ikut kegiatan itu. Sudah kan mana suratnya."
"Tunggu sebentar"
Mas Gilang mencari sesuatu dalam tasnya ternyata dia mencari pena. Ternyata mas gilang mencari pena untuk menandatangani surat izin tersebut. Aku tak percaya, akhirnya mas Gilang mengizinkan ku.
"Kenapa mas menandatangani nya, bukan kah semalam mas tidak mau aku pergi"
"Ini, berangkatlah nanti kamu telat. Hati-hati di jalan dan jika ada masalah kabari mas. "
"Terimakasih, mas sudah mengizinkan aku ikut acara tersebut." ucap ku sambil memeluk mas Gilang
"Sama-sama, berangkat gih."
__ADS_1
"Iya mas, aku berangkat dulu. Assalamualaikum...." ucapku setelah menyalimi mas Gilang.