
Selesai solat subuh. Nabila turun ke bawah, dia ingin memasak. Seperti ketika di rumah, dia selalu membantu ibu nya memasak.
Dengan di temani salah seorang pegawai di rumah itu. Namun dia hanya sebentar saja, karena Nabila yakin bahwa dia bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Nabila memasak makanan yang dia inginkan. Karena dia tak tahu apa makanan kesukaan suaminya dan juga keluarga barunya itu.
Ketika hampir selesai, bunga datang ke dapur.
"Kok, kak Nabila yang masak. Memang para pegawai kemana?" tanya bunga
"Tadi sih ada, tapi aku suruh ngerjain yang lain. Biar cepat selesai gitu."
"Ohhh, tapi lain kali gak usah gitu kak. Sudah menjadi tugas mereka ini."
"Gak papa dek, lagian aku juga sudah terbiasa kok"
"Terserah deh, aku bantuin boleh"
"Boleh, goreng ini bisa" tanya Nabila sambil memberikan ayam yang sudah siap untuk di goreng
"Bisa, sini biar aku aja"
"Nih"
Hening, mereka larut dengan pekerjaan masing-masing. Nabila yang menyiapkan beberapa makanan yang sudah siap. Dan bunga yang sibuk dengan penggorengannya.
Ketika sudah siap semua. Nabila kembali ke kamar untuk membersihkan badannya. Sebelum pergi dia menyuruh pegawai untuk menata makanan tersebut di meja makan.
"Dari mana" tanya Gilang saat Nabila baru saja membuka pintu
"Dari dapur, Kenapa"
__ADS_1
"Enggak cuma tanya aja. Mandi gih, terus siap-siap"
"Emang nya kita mau pergi kemana"
"Adalah, nanti juga tau sendiri kok. Aku tunggu di bawah ya"
"Ya"
Gilang pun keluar dari kamar, dia segera turun ke bawah. Sampai di meja makan, dia melihat beberapa makanan yang terlihat enak. Baunya juga sangat harum. Ingin rasanya dia makan duluan. Tapi tak jadi, mengingat semua keluarga dia belum berkumpul.
Gilang memilih untuk duduk dan menunggu mereka. Dia mencoba mencari hp yang bisa dia taroh di saku.
"Ah, kenapa pakai acara ketinggalan. Harus naik lagi deh."
Karena bosen kalau hanya duduk. Gilang kembali ke kamar untuk mengambil hp nya.
Sedangkan di dalam kamar tersebut. Nabila baru saja selesai memakai pakaiannya. Dan hendak memakai jilbab. Namun ketika dia melihat kaca.
Nabila sadar bahwa suaminya sedang memperhatikan dia. Tapi sejak kapan. Kenapa dia tidak sadar.
Mereka saling diam cukup lama. Hingga akhirnya Nabila segera menyelesaikan apa yang hendak ia kerjakan. Dia abaikan Gilang, toh dia adalah suaminya. Bukan orang lain lagi.
Ketika Nabila sudah selesai.
"Mas...." sapa Gilang
"Ah... iya... maaf... a.. ya kau tadi mau ngambil ini. Aku turun dulu ya, kalau sudah selesai segera turun." jawab Gilang yang baru sadar
Gilang segera kembali ke meja makan setelah apa yang dia butuhkan telah terpenuhi.
__ADS_1
Ternyata papa sudah berada di meja makan.
"Pagi pa" sapa Gilang
"Pagi, mana istrimu"
"Masih di kamar, bisalah pa cewek kalo dandan lama"
"Ohh, kalian mau pergi kemana hari ini."
"Aku mau ngajak Nabila ketemu sama temen-temen ku pa."
"Dijagain istrinya, awas kalau kenapa-napa. Kamu yang papa marahin."
"Wah, anak papa aku Lo bukan dia"
"Sekarang dia lebih penting dari pada kamu"
"Papa......." belum selesai bicara sudah di dahului
"Pagi" ucap bunga dan nabila
"Pagi juga anak papa yang cantik-cantik" jawab papa
"Duduk gih, kita sarapan dulu" ucap Gilang
Mereka segera memulai memakan masakan Nabila. Walau makanan sederhana tapi rasanya sangat enak.
Selesai makan papa pergi ke rumah sakit. Sedangkan bunga pergi ke kampus. Dan Nabila sudah pergi bersama Gilang. Tanpa tau tujuannya, Nabila tetap ikut saja. Toh gak mungkin juga suaminya itu bakal menyelakainya.
__ADS_1