
Ponorogo
Nabila sekarang sudah lulus Mts. Dia akan melanjutkan MA di tempat yang sama dengan Mtsnya. Memang di pondok itu di khususkan untuk anak Mts sampai kuliah. Selama Mts dia aktif di organisasi sekolah, sehingga tak heran kalau dia terkenal di pondok. Bahkan namanya sampai tetangga alias pondok putra. Jarak pondok putra dan putri hanya terbatas oleh rumah Abah serta keluarga nya.
Nabila juga termasuk siswa berprestasi baik pelajaran agama atau umum. Hati selalu memberontak untuk membantah ke inginan kedua orang tuanya yang ingin Nabila tetap di pondok itu. Karena Nabila ingin melanjutkan sekolah ke SMK farmasi di Madiun. Namun dia tak pernah berani melakukannya karena dia takut menyakiti hati orang tuanya. Jadilah dia tetap bertahan di sana.
Selama Nabila di pondok, ia punya banyak teman. Ada yang baik dan ada juga yang acuh padanya. Ketika ia pulang, banyak santri putra yang mencaht aku lewat FB. Namun, ia tidak pernah menanggapi mereka kalau bukan karena ada urusan organisasi atau pondok.
Mungkin karena Nabila jadi sekertaris OSIS Pi selama Mts dan sering mendapatkan prestasi. Sehingga banyak yang mengenalnya. Dan mungkin itu merupakan salah satu resiko kalau jadi anak organisasi, pasti akan di kenal banyak orang tak terkecuali santri putra. Karena kami yang notabene nya masih satu lembaga walau beda tempat. Tetap saja anak organisasi pasti akan sering bertemu.
Di pondok itu Nabila mempunyai dua sahabat yang biasa ia panggil Dina dan Hasna. Mereka bertiga sudah dekat sejak pertama hari pertama mereka datang ke pondok. Mungkin karena almari mereka yang berdampingan dan mereka yang sama-sama belum punya kenalan di sana, sehingga mereka menjadi sahabat sampai sekarang.
Mereka selalu berbagi dalam hal apapun. Hubungan mereka juga layaknya seperti saudara kandung. Saling bergantung satu sama lain.
Mereka juga pernah bertengkar, tapi itu tidak lama. Karena memang mereka yang tidak bisa jika harus mendiamkan satu sama lain.
Nabila
Aku tak pernah berpikir akan terus di tempat ini. Banyak teman yang baik tapi aku tak bisa mendapatkan pelajaran kesukaan ku. Di sini tak ada pelajaran farmasi. Padahal aku ingin menjadi apoteker. Tapi orang tua ku bilang, tetaplah disini nanti kalo waktu nya kuliah kamu bisa ambil farmasi. Aku pun pasrah dan menerima keputusan mereka.
Saat ini aku sedang berkumpul dengan teman-teman ku. Kami mengobrol sambil menikmati jajanan kantin yang baru saja kami beli. Kami duduk di aula pondok, karena memang letak madrasah dan asrama hanya terbatas oleh lapangan.
"Bil, kamu mau boyong atau tetep disini?" tanya Dina.
"Di sini," jawab ku lesu dan tak bersemangat.
__ADS_1
"Kok jawab nya tidak ikhlas gitu, kamu kepingin boyong ya?" tebak Hasna.
"Iya, tapi tidak boleh sama orang tua ku," jawab ku dengan nada sedih.
"Maksud orang tuamu bagus, Bil. Jangan sedih, mungkin setelah dari sini kamu bisa mewujudkan mimpimu yang tertunda itu," saran Dina.
"Mimpi ku banyak Din. Dan entahlah mungkin mimpi-mimpi itu hanya akan jadi angan-angan," jawab ku seakan tahu akan mimpi ku selama ini hanya akan berakhir sebagai angan-angan.
Hasna mencoba untuk mengalihkan pembicaraan kami. Karena ia mendengar jawaban ku dari tadi yang seakan-akan jika di teruskan akan membuat kesedihan pada ku.
"Ya udah tidak usah sedih lagi. Kita jalani aja, eh.... kamu dengar tidak kalau Abah mau punya anak lagi," hibur Hasna.
"Tidak, emang kau tau dari mana?" ucap Dina. Dina memang orang yang paling kepo diantara kami.
"Udah banyak yang ngomong lho, masak sih kalian tidak tau?" jawab Hasna.
"Karena kamu terlalu sibuk dengan pikiran mu sendiri akibat nya kamu tidak tau gimana kabar yang beredar sekarang," sela ku yang melihat respon Dina seakan ia belum percaya dengan kabar yang beredar.
"Oh iya, apa kalian akan tetap disini atau pindah sekolah?" tanyaku lagi pada mereka, karena mereka yang belum membicarakan akan ke mana mereka melanjutkan sekolahnya nanti.
"Aku adalah sahabat kamu yang terbaik, jadi aku akan tetap di sini. Selain itu aku suka di sini. Karena disini aku punya banyak saudara, dan di sini selalu ramai. Kalau aku boyong, mungkin aku tidak akan tinggal di rumah. Kemungkinan aku akan cari pondok lagi. Namun, karena aku sudah nyaman di sini dan mendapatkan sahabat seperti kalian. Jadi, aku akan tetap di sini," jelas Dina dengan wajah bahagia.
"Aku jadi terhibur dan senang karena sahabat ku juga masih sekolah di sini. Kalau kamu bagaimana, Na?" tanyaku pada Hasna.
"Aku juga demikian, ke dua orang tua ku menyuruh ku untuk tetap di sini. Dan berhubung aku sendiri juga belum ada niat untuk pindah dari sini, jadi aku akan lanjut sekolah di sini," jelas Hasna.
__ADS_1
"Baiklah, jadi kita akan tetap sekolah di sini sampai lulus nanti dan kita akan tetap menjadi sahabat selamanya," ucap Dina dengan semangat dan senyum yang lebar.
Kring.....
Kring....
Kring....
"Sudah bel tuh, kita kembali ke kelas yuk!" ajak Hasna.
"Ayo..." jawabku dan Dina bersamaan.
Karena bel masuk telah berbunyi, kami segera membubarkan diri dan kembali ke kelas kami. Aku dan Dina bersama-sama menuju ke kelas kami. Sedangkan Hasna, ia berjalan menuju kelasnya sendiri.
Aku memang satu kelas dengan Dina sejak dua tahun terakhir ini. Namun, tidak dengan Hasna.
Dulu waktu kelas satu, kami pernah satu kelas yang sama. Di tahun ajaran berikutnya, kami harus berpisah karena memang di setiap tahunnya ada peralihan kelas. Sehingga, kita terkadang masih satu kelas dengan teman lama dan terkadang kita tidak satu kelas dengan satu teman pun dari kelas lama.
######
**Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar kalian.
Maaf jika mungkin cerita saya membuat kalian pusing.
Harap maklum karena ini adalah novel pertama saya.
__ADS_1
Terimakasih karena telah mampir ke novel saya☺️**