Wasiat Dari Mama

Wasiat Dari Mama
C-11


__ADS_3

Ponorogo


Libur hari raya telah selesai. Kini saatnya para santri buat kembali ke pondok. Begitu juga dengan Nabila. Dia senang karena bisa berkumpul lagi dengan sahabat-sahabatnya yang sudah lama tak tatap muka dengan nya.


Dan yang paling ia tunggu adalah keramaian, rasa persaudaraan, dan saling berbagi dalam hal apapun.


Memang dulu dia tidak suka di pondok. Tapi setelah memiliki sahabat ia merasa ingin terus bersama mereka.


Kemarin adalah jadwal kedatangan para santri. Baik itu santri lama maupun santri baru. Yang membedakan hanya, kemarin adalah jadwal kedatangan santri putri dan kemarinnya lagi adalah jadwal kedatangan santri putra.


Biasanya kalau baru masuk sekolah akan ada MOS. Di pondok juga ada, namanya ORSPON (Orientasi Pondok). Kegiatan ini dikhususkan untuk santri baru, baik santri Mts maupun MA. Namun bedanya, kegiatan ini tidak diperuntukkan bagi santri yang Mtsnya di Mts pondok ini. Jadi, kegiatan ini hanya satu kali diikuti setiap santri.


Karena Nabila sudah di pondok sejak Mts, jadi dia dan sahabat-sahabatnya tidak mengikuti acara tersebut. Mereka semua santri baik Mts maupun Ma yang sudah lama di pondok akan ikut PBB. Dimana mereka akan dilatih langsung oleh para polisi dan TNI. Khusus untuk anak Ma kelas 10 saat masa pengenalan Ma mereka mengikuti acara ORSPON.


Pagi ini kegiatan ORSPON dan pelatihan PBB dimulai. Para santri juga sudah mulai bersiap untuk mengikuti kegiatan masing-masing. Selesai sarapan semua santri lama berkumpul di lapangan pondok yang sangat luas. Sehingga dapat menampung santri-santri tersebut baik putra maupun putri. Walau satu lapangan meraka tetap di pisah. Sedangkan santri baru, mereka sudah berada di tempat yang disediakan panitia.


Di lapangan pondok, para santri di beri waktu untuk beristirahat sejenak. Mereka segera mencari tempat yang teduh untuk beristirahat.


"Kita duduk bawah pohon itu yuk!" ajak Hasna sambil menunjuk pohon.


Nabila dan sahabat-sahabatnya mengikuti Hasna yang sudah berjalan terlebih dahulu. Sampai di tempat yang ditunjuk tadi, mereka segera duduk.

__ADS_1


"Bil, kamu masih punya hutang sama kita bertiga!" ucap Dina.


"Iya bener tuh. Kapan kamu mau cerita? kita pendengar setia lho...." sahut Nurma dengan cengengesan.


"Emang hutang apa?" jawab Nabila dengan wajah polos.


"Kamu tidak usah sok pikun. Tar pikun benar baru tahu rasa kamu." ledek Nurma.


"Serius aku. Aku tidak ingat kalau pernah punya hutang sama kalian. Emang aku pernah janjin apa?" jawab Nabila yang merasa tak pernah hutang sama sahabat-sahabatnya.


"Itu loh Bil. Waktu pulang liburan kemarin. Kamu kan di jemput laki-laki yang kayaknya seumuran sama kita." jelas Hasna.


"Oh......"


"Iya deh, iya nih aku cerita. Dia tuh namanya Budi, sahabat aku sejak kecil dan sampai kapan pun. Dan kemarin orang tua aku lagi sibuk. Jadilah Budi yang jemput aku berhubungan rumah kita juga bersebelahan. Dan orang tua aku udah percaya sepenuhnya sama budi."


"Terus" minta Nurma.


"Apa nya yang terus?" tanya Nabila.


"Ceritain tentang dia lagi dong!" minta Hasna.

__ADS_1


"Kalian kenapa pada kepoin dia? Oh..... aku tahu pasti kalian semua pasti naksir dia kan. Iya kan...." tebak Nabila sambil menunjuk sahabat-sahabatnya secara bergantian.


"Enggak...." jawab mereka kompak.


"Kalau tidam, itu udah cukup. Karena aku gak mau promosiin dia. Toh dia sama aku tuh sama. Jadi kalau kalian pengen tahu soal dia, cukup kalian tahu aku orangnya gimana."


"Kok gitu sih bil, " jawab Hasna yang tak terima.


"Iya nih, gak seru deh kamu." sahut Nurma dengan wajah kesal.


"Udah ih gak usah pada ngambek. Kita tuh harus fokus sama pendidikan dulu. Soal jodoh, serahin aja sama Allah." ucap Nabila mencoba menasehati.


"Iya bener banget tuh, udah gak usah di bahas lagi soal dia." sambung Dina.


"Ya udah kita balik ke lapangan lagi yuk. Tuh udah panggilan suruh kumpul" ajak Nurma yang sudah menerima keputusan Nabila.


Mereka segera kembali ke barisan, karena memang sudah habis waktu istirahat nya. Para santri yang lain juga demikian. Dalam waktu singkat, barisan itu sudah rapi dan siap untuk mengikuti pelatihan lagi.


...............


Hari- hari berlalu dengan memberikan kenangan. Mereka sangat menikmati hari-hari bebas mereka sebelum aktif pelajaran. Walau mereka sering bersama dan banyak yang mengatakan bahwa mereka kalau berteman pilih-pilih. Namun sebenarnya mereka tidaklah seperti itu. Mereka bersama bukan berarti mereka sengaja bikin geng atau sejenisnya. Mereka sudah terlalu nyaman satu dengan yang lain. Dan sudah saling percaya.

__ADS_1


Padahal mereka selalu bersikap baik dan ramah pada siapa pun. Tanpa terkecuali. Apapun yang dikatakan teman-temannya hanya dianggap sebagai kritik yang harus diterima. Dan mereka harus merubah sikap mereka. Agar tak ada yang menganggap remeh terhadap mereka.


__ADS_2