Wasiat Dari Mama

Wasiat Dari Mama
C-47


__ADS_3

Rumah Baru


Gilang membawa Nabila untuk beristirahat di ku mereka. Kamar mereka berada di lantai dua.


Dilantai dua tersebut tidak hanya kamar Nabila dan juga Gilang saja. Gilang membuat lantai dua sebagai tempat berkumpulnya dia dan keluarganya sehingga dia juga membuat ruang baca, ruang kerja dan beberapa kamar yang nantinya akan di gunakan untuk anak-anaknya dan keluarga nya jika menginap di rumah nya.


Nabila dan Gilang menempati satu kamar yang sama. Mereka sudah mulai terbiasa untuk saling tergantung satu sama lain.


"Istirahat lah, aku akan membawa beberapa barang kita yang masih di mobil."


"Apa kamu tidak lelah, biar aku bantu saja"


"Tidak perlu, kamu istirahat saja"


"Biarkan aku membantu mu"


"Buatkan aku minum dan makanan saja, aku sudah lapar. Biar aku yang memindahkan barang-barang kita."


"Baiklah, dimana dapur nya"


"Mari aku tunjukkan"


Gilang membawa Nabila ke dapur. Sebelum mereka pulang Gilang sudah menyuruh orang untuk membersihkan dan menyiapkan segala kebutuhan rumah nya.


Gilang hanya memperkerjakan orang untuk membersihkan rumah nya dan satpam saja. Satpam tersebut bekerja 24 jam di rumah nya. Sedangkan orang yang membersihkan rumah hanya bekerja di pagi hari saja.


Setelah mengantar Nabila ke dapur Gilang kembali ke depan rumah. Dia bolak-balik untuk membawa memindahkan barang-barang.


Setelah semua barangnya berada di dalam rumah. Gilang menghampiri Nabila ke dapur. Dia memperhatikan Nabila yang asik dengan pekerjaan nya.


Sungguh Gilang merasa dia adalah pria yang beruntung karena bisa menikah Nabila. Meski usainya yang masih muda, tapi dia bisa melakukan pekerjaan rumah tanpa bantuan siapapun.


Sejak di Surabaya Nabila sudah terbiasa untuk melakukan pekerjaan rumah. Meskipun keluarga nya melarang dia akan tetap melakukan itu. Dan itulah salah satu kenapa Gilang tidak memperkerjakan orang untuk mengurus rumah dan sebagainya.


Gilang menghampiri Nabila dan memeluknya dari belakang.


"Ah... kamu itu bisa tidak untuk tidak jahil"


"Aku tidak jahil, kapan aku bisa makan perut ku sudah lapar"


"Sebentar lagi, duduklah biar aku bisa cepat menyelesaikan ini"


"Baiklah, "

__ADS_1


Gilang mencium pipi Nabila dan pergi ke meja makan. Entah sejak kapan dia sangat senang untuk menjahili istri nya itu. Mungkin mulai sekarang menjahili istrinya adalah hobi baru untuk Gilang.


Gilang terus menatap Nabila, kemana Nabila bergerak. Dia akan mengikuti.


Setelah semua sudah selesai, Nabila membawa masakannya ke meja makan. Nabila hanya memasak makanan sederhana. Tapi menurut Gilang apa pun masakan istrinya, semua terlihat sangat enak dan dia ingin segera menghabiskan.


"Ehm.... baunya sangat enak, dari mana kamu belajar memasak"


"Ibu yang mengajariku, katanya lapar makanlah."


"Tentu, kamu juga makan"


"Iya, sini aku ambilkan makanannya."


Nabila mengambilkan makanan untuk suaminya itu. Setelah selesai di berikan piring yang sudah terisi dengan nasi dan lauk pauknya kepada Gilang.


"Selamat makan"


"Selamat makan juga istri ku"


Mereka menyantap makanan mereka dengan canda tawa. Sesekali Gilang menjahili Nabila, hingga Nabila kesal dengan ulah Gilang.


"Sudahlah makan yang benar, jangan menggangguku terus"


"Terserah kamulah, bereskan mejanya kalau sudah selesai. Aku mau istirahat"


"Dek... jangan marah dong, aku hanya bercanda. Habiskan makanan mu, kau dengar aku tidak."


Gilang terus berusaha agar Nabila kembali menemani dia makan. Tapi usahanya sia-sia, Nabila seakan tidak mendengar panggilan dia.


Nabila terus berjalan ke kamar. Sebenarnya dia mendengar panggilan suaminya itu. Tapi dia tidak suka kalau sedang makan dan diganggu.


Meskipun Nabila orang nya jahil. Dia tidak pernah menjahili orang saat makan.


Sampai di kamar, Nabila keluar ke balkon yang ada di dekat kamar nya itu. Dia melihat sekeliling dari atas.


Rumah sakit yang ramai. Taman yang indah. Angin yang berhembus menerpa wajah nya. Membuat hati nya kembali senang.


Nabila sangat senang dengan alam dan tumbuhan. Dari atas dia bisa melihat banyak tumbuhan yang di tanam. Baik itu di taman belakang rumah nya atau rumah sakit.


"Dek... maafkan aku, aku janji tidak akan mengulangi nya lagi"


"Iya, aku sudah memaafkan mu. Awas aja kalau kamu mengulangi nya lagi."

__ADS_1


Gilang yang mendengar bahwa Nabila sudah memaafkan nya, segera mendekati Nabila dan memeluknya dari belakang.


"Kenapa lagi, aku sudah memaafkan mu. Lepaskan lah, tidak enak jika ada yang melihat."


"Tidak ada yang melihat kita. Biarkan seperti ini sebentar saja."


"Kapan mas akan mulai bekerja"


"Besok. Kenapa, Apa kamu mau ikut mas bekerja."


"Tidak, hanya saja aku bingung mau apa sendirian di rumah"


"Ohhhh, kamu mau ada anggota baru di kelurga kita"


"Maksudnya"


"Hayolah.... kamu tidak ingat pesan bunga tadi"


Nabila masih berpikir apa yang di maksud Gilang. Dan bunga tadi berpesan apa padanya.


"Apa kamu benar-benar lupa"


"Memang nya bunga berpesan apa"


Gilang menatap Nabila sejenak. Sebenarnya dia tidak enak jika harus meminta haknya sekarang. Tapi dia juga termasuk pria normal. Bagaimana mungkin dia bisa menahan dirinya terus.


"Tidak apa-apa, coba kamu ingat-ingat lagi. Dan jika sudah ingat sampai kan padaku."


"Baiklah, akan ku coba untuk mengingat nya"


"Kapan kamu mulai mengurus pendaftaran kuliah"


"Belum tau seperti nya masih lama. Mungkin bukan depan, aku juga tidak tahu."


"Nanti malam kita ke rumah bapak sama ibu, apa kamu mau"


"Tentu, bolehkah aku menginap disana."


"Tentu boleh, tapi tidak untuk malam ini."


"Baiklah, terserah kamu saja"


"Kedalam yuk, tadi bilangnya mau istirahat."

__ADS_1


Mereka pun kemudian kembali ke kamar dan beristirahat. Tubuh mereka sama-sama lelah. Jadilah mereka memilih untuk tidur sebentar.


__ADS_2