Wasiat Dari Mama

Wasiat Dari Mama
C-28


__ADS_3

Nabila



Ketika ku dengar adzan subuh berkumandang. Aku segera bangun, tapi kenapa aku merasa susah untuk bangkit. Ku sibakkan selimutku dan betapa terkejutnya aku. Ternyata ada tangan yang melingkar pada pinggang ku. Rasanya aku tidak bisa bergerak. Ku melirik ke belakang. Dan ternyata dokter gilang.



Sumpah rasanya aku pengen cepat lepas dari pelukannya. Tapi aku tak tega untuk membangunkannya. Beberapa saat kemudian pelukan itu melonggar dan aku segera bangkit.



"Eh... kenapa gue ada disini" tanyanya


"Mana saya tahu" jawab ku singkat dan meninggalkan nya



Ku ambil air wudhu. Dan keluar dari kamar mandi. Kupikir dia sudah keluar, tapi nyata nya. Dia masih duduk dia atas kasur.



"Tunggu saya, jangan solat dulu" ucapnya seraya meninggalkan ku


"Sejak kapan ada sajadah disini." ucapku setelah Dok.Gilang pergi



Ku gunakan mukena ku dan kutunggu dok.gilang. Beberapa saat kemudian dia keluar dari kamar mandi. Kami pun melaksanakan solat subuh berjamaah.



Setelah selesai solat.

__ADS_1



"Eh kamu mau kemana"


"Saya mau ke bawah. "


"Duduklah sebentar, aku ingin berbicara dengan mu"


"Ok, emang dokter mau bicara apa"


"Jangan panggil aku seperti itu, kamu bukan pasien ku dan aku tidak lagi bekerja."


"Lalu saya panggil apa, andakan memang dokter"


"Panggil apa kek, yang penting selain itu. Dan gak usah pakai bahasa kayak gitu. Pakai aku kamu aja."


"Oh... ok, masih ada yang ingin di bicarakan"


"Aku minta maaf, soal pernikahan ini. Aku tahu kalau kamu belum siap jadi seorang istri. Karena aku sendiri juga belum siap sebenarnya. Tapi jangan karena belum siap terus kita berhenti sampai disini. Mau kah kamu menemaniku, kita mulai semuanya bersama-sama"


"Iya, aku mau."



Diapun memeluk ku dan terlihat sangat senang dengan jawaban ku. Setelah lama kami berpelukan, dia kembali ke kamar nya. Dan akupun tidak jadi kebawah. Ku bersihkan diriku, ya karena gak mungkin juga udah pagi gini dan aku belum mandi.



Selesai mandi dan berdandan seperti biasanya. Aku turun kebawah. Semua orang sudah berkumpul di meja makan. Saat hendak menuruni tangga.



"Eh....." ucapku ketika tanganku di genggaman oleh seseorang, yang ternyata dokter Gilang.

__ADS_1


"Tak apakan aku pegang tangan mu. Kita kan sudah menikah" ucapku


"Em... tapi gak usah di pegang juga. Aku bisa jalan sendiri."


"Baiklah" ucap nya dan wajahnya merasa kecewa



Dan dia berjalan mendahului ku. Aku segera mengikuti dia. Sampai di meja makan. Kami duduk bersampingan. Sarapan pun di mulai, tidak ada yang bersuara. Semua fokus dengan makan masing-masing. Dan setelah selesai.



"Pak. Terimakasih atas semua ini. Dan saya beserta bapaknya Nabila mohon pamit. Kami akan pulang hari ini, karena masih banyak urusan di rumah." ucap Abah kepada papa


"Lah, kok cuma sama bapak bah. Saya juga ikut pulang." ucapku


"Tidak Nabila. Kamu tetap di sini, temani suamimu."


"Tapi bah, sekolah saya gimana"


"Tenang saja, soal sekolah. Abah sudah memberi tahu pihak sekolah dan mereka sudah memberikan mu izin."


"Iya nak, semalam bapak dan Abah sudah membicarakan ini. Dan ini kesepakatan kami."


"Baiklah pak, maafkan saya telah merepotkan kalian" ucap papa


"Kami tidak merasa di repot kan. Kami malah senang bisa berkunjung kemari. Semoga kami bisa berkunjung kemari dan bertatap muka lagi. " jawab abah


" Nak Gilang, Saya titip anak saya Nabila. "


"Iya Pak. Saya akan menjaganya dengan baik"


"Kalau begitu kami permisi."

__ADS_1



Dan benar saja mereka meninggal kan saya di Surabaya. Bapak dan Abah di antarkan pulang oleh sopir. Sedangkan aku entah sampai kapan aku akan disini.


__ADS_2