
Nabila
Perasaan ku semakin lama semakin kacau. Aku merasa akan terjadi pada diriku. Tapi aku tidak tahu apa.
Sepulang nya aku dari dalem. Aku bergegas ke asrama, dan ke kamar. Segera ku bereskan beberapa pakaian ku. Sedangkan sahabatku yang lagi tidur-tiduran sambil bercerita memandang ku aneh.
"Bil, Lo mau kemana kok baju Lo masukin tas sih." tanya dina
"Iya bil, Lo mau pulang ya. Emang ya boleh, ikut dong." tanya Hasna
"Aku juga mau ikut" sahut Nurma
"Gue gak pulang, tapi mau ke Surabaya." jawab ku sambil berkemas
"Surabaya...... Ngapain....." jawab mereka kompak dan sambil terik yang membuat beberapa teman ku menoleh dan beberapa ada yang mendekati ku
"Gak tau juga, Abah yang ngajak. Eh iya, Lo tadi mau ikutkan. Ayok, "
"Serius lo" tanya Nurma
"Iya lah, kalau gak gitu Lo aja yang ikut kesurabaya. Gimana mau gak"
"Bil, di suruh cepat sama Abah. Dah di tunggu di depan dalem." kata temenku yang baru masuk kamar
"Oh ya, gue duluan ya. Titip absen ya, gue pamit. Assalamualaikum....." ucapku sambil bergegas keluar
"Wangalaikumsalam..... " jawab mereka
Abah dan dok.Gilang sudah menunggu di depan dalem. Ketika melihat ku, mereka bergegas menuju mobil dan mengajakku masuk. Barang yang aku bawa tidaklah banyak, sehingga aku tetap membawa nya. Tidak ku taruh di bagasi.
Selama perjalanan aku hanya diam. Sedangkan Abah dan dok.Gilang berbincang-bincang yang tak aku hiraukan. Karena aku masih bingung dengan keadaan ini. Kenapa juga tiba-tiba gue di ajak.
__ADS_1
Setelah masuk kab. Madiun dok.gilang bertanya tentang arah rumah ku. Ku tunjukkan arah rumah ku.
Dan Sesampainya kami di rumah. Ternyata bapak dan ibu sudah menunggu kami. Sedangkan mbakku tidak ada, ku pikir dia masih kuliah. Kami juga hanya bertukar kabar sebentar. Lalu kami pamit ke ibu. Sedangkan bapak ikut dengan kami.
Dan setelah ada bapak, aku merasa cukup tenang. Setidaknya aku gak harus memikirkan bagaimana nanti aku disana. Karena tidak ada satu pun yang ku kenal. Walau Abah bersama ku, tapi aku juga tidak mungkin akan merepotkan Abah.
Setelah perjalanan yang panjang akhirnya sampai juga. Tapi kita tidak langsung kerumah sakit. Kami singgah di sebuah rumah yang cukup besar dan terlihat mewah. Kami di persilahkan masuk oleh dok.gilang.
Rumah ini cukup besar dan terdapat banyak kamar. Akupun mendapatkan satu kamar yang lumayan besar menurut ku. Ku letakkan barang ku di meja. Karena sudah sore dan badan ku terasa lengket. ku bersihkan diriku di kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut.
Setelah solat isya kami diajak kerumah sakit. Kami berangkat berlima, karena seluruh keluarganya dok.gilang berada di rumah sakit. Kami mengendarai mobil yang di kemudikan oleh supir. Butuh waktu satu jam sampai di rumah sakit.
"Assalamualaikum...." ucap kami
"Wangalaikumsalam...." jawab mereka
"Alhamdulillah nak akhirnya kamu kemari juga" jawab seorang laki-laki, ya dia adalah papanya dok.gilang
"Bagaimana keadaan mama pa" tanya dokter.gilang
"Gi...... La...... Ng........." suara seseorang orang yang terbaring di atas ranjang
Tanpa menunggu perintah, dok.gilang mendekatinya
"Iya ma, ini Gilang" ucap dok.gilang
Seakan dunia milik berdua, anak dan ibu itu berbicara tanpa memperhatikan bahwa ada banyak orang di ruang tersebut. Kami pun hanya mencuri dengar dan memperhatikan mereka. Beberapa saat kemudian, dok.gilang memanggil ku untuk mendekati mamanya.
__ADS_1
"Bisakah kamu temui mama saya" tanya nya
"Iya" jawab ku dan mendekati mereka
Saat aku sudah ada di dekatnya. Tiba-tiba tanganku di pegang oleh mamanya. Dan dia juga meraih tangan anaknya. Kemudian dia menyatukan tangan kami. Dan berkata
"Menikah lah kalian. Sebelum mama pergi, mama ingin melihat kalian menikah" walau berkata sangat lirih dan terbata-bata. Namun aku cukup jelas mendengar permintaan itu. Dan jujur saja aku ingin menolak. Tapi entah kemana tenagaku, aku tidak bisa berkata apa-apa.
Setelah mama melepaskan tangan kami. Dok.Gilang mendekati bapak, dia meminta izin pada bapak untuk menikahi ku. Aku yakin bahwa bapak tidak akan setuju. Karena aku saja baru selesai ujian hari ini dan aku belum menerima ijazah. Mbakku juga belum nikah.
Namun pemikiran ku salah. Bapak menyetujui nya. Bagai di sambar petir aku mendengar jawaban bapak. Bahkan aku merasa tak sanggup untuk berdiri. Dengan segenap kekuatan ku, aku meninggalkan ruangan itu. Aku berlari tapi tak tahu tujuan.
Setelah lelah berlari, aku baru sadar bahwa aku sudah berada di taman rumah sakit. Ku mencari tempat duduk, dan duduk disana. Air mata ku ikut aku berlari. Mereka keluar dari mata.
Tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sampingku. Tapi aku tetap dengan posisi ku dan tak menghiraukan nya. Cukup lama kami terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Maafkan saya nak" ucap seseorang di sebelah ku
Akupun menoleh, dan melihat bapak di samping ku. Aku hanya diam tak ingin menjawab ucapan nya.
"Saya tahu kamu tidak ingin menikah saat ini. Tapi bapak yakin bahwa laki-laki itu bisa menjagamu. Abah juga setuju saat laki-laki itu minta restu padanya. "
"Tapi pak...."
"Saya mohon terimalah lamaran saya. Saya janji akan membahagiakan mu dan menjaga mu." ucap seseorang yang berada di depan kami.
Mereka pun berusaha meyakinkan ku. Abah juga ikut di pihak mereka. Setelah mendengar beberapa pernyataan dari dok.gilang. Akhirnya aku setuju untuk menikahi nya.
__ADS_1