
**Mesir
Gilang**
Alhamdulillah.....
Sudah 3 tahun lebih aku di Mesir, aku merindukan keluarga ku. Tapi mama dan Abah tak mengizinkan ku untuk pulang. Hari-hari di sini kulewati begitu saja dan aku berharap semoga aku bisa menyelesaikan dengan cepat.
Pagi ini di kampus akan diumumkan terkait mahasiswa yang lulus untuk bisa mengikuti praktek. Aku sangat bersyukur, namaku ada di antara nama-nama mahasiswa yang lulus. Dengan lulusnya aku dalam tahap ini, maka peluang ku untuk segera menyelesaikan pendidikan ku juga semakin besar.
Setelah kegiatan ku di kampus selesai, aku segera pulang kembali ke pondok. Sore ini di pondok ku juga adalah pengumuman kelulusan sekolah keagamaan untuk santri-santri yang berkuliah. Selain itu, Abah juga akan mengumumkan siapa-siapa yang akan menjadi guru di sini.
Memang sekolah keagamaan untuk santri-santri yang masih sekolah berbeda dengan santri-santri yang berkuliah. Dimana santri yang sambil sekolah harus menempuh sekolah ini selama 6 tahun. Dan untuk santri yang berkuliah hanya 3 tahun.
Tujuan abah, Supaya ada yang membantu nya untuk mengajar. Karena di sini banyak sekali santrinya. Dan gurunya baru sedikit, maka tak heran jika satu guru harus menguasai beberapa mata pelajaran. Guru di sini juga tak sembarang. Tidak ada yang berani melamar untuk menjadi guru disini. Karena Abah sendiri yang akan menentukan siapa yang pantas untuk menjadi guru disini. Dan hanya santri-santri yang berpengetahuan luas dan cerdas serta berpegang pada agamalah yang dipilih Abah.
Sehabis solat isya kami para santri mahasiswa yang biasanya akan mengaji bersama Abah. Kali ini Abah akan mengumumkan siapa yang akan mengajar disini.
Semua santri mahasiswa telah berkumpul di aula. Sambil menunggu kehadiran Abah, kami saling bertukar cerita dan pengetahuan baik itu terkait pondok maupun kuliah kami. Meski demikian kami juga berusaha untuk tidak membuat kegaduhan.
Tidak berapa lama Abah datang. Abah langsung mengambil alih perhatian kami. Setelah sambutan beliau mengumumkan siapa saja yang menjadi guru.
Dan aku kembali terkejut setelah tadi pagi, dan sekarang Abah menunjukku untuk menjadi guru. Apa aku akan bisa mengatur waktuku nanti.
Sebelum acara ini di tutup Abah meminta kami yang tadi ditunjuk Abah untuk menjadi guru. Beliau memerintahkan kami untuk tinggal di aula terlebih dahulu. Sementara yang lain boleh kembali ke asrama.
Setelah sebagian kembali.
Abah memberi petuah-petuah untuk kami sebagai guru yang baru akan di tugaskan.
__ADS_1
"Abah berharap banyak pada kalian. Dan Abah yakin bahwa kalian bisa Abah percaya. Tak usah bingung untuk membagi waktu. Serahkan jadwal kuliah kalian pada Abah besok. Dan lusa kalian akan memulai mengajar. Ada yang keberatan dengan keputusan Abah. Abah akan mengati nya dengan yang mau. Abah tidak mau ada yang terpaksa. Jika memang kalian tidak sanggup bilang lah dari sekarang sebelum terlambat," ucap Abah mencoba membaca raut wajah kami.
Yah memang di aula ini banyak raut wajah yang menggambarkan perasaan kami masing-masing. Ada yang masih terkejut, pasrah, senang, dan lain sebagainya.
"............" kami hanya diam, tak ada yang berani menjawab.
"Tak ada yang keberatan, baiklah. Ingatlah anak-anak ku bahwa kemajuan pondok ini juga ada di tangan kalian. Bukan hanya pondok ini, tapi juga bangsa, negara dan yang paling utama adalah agama kita. Dan kalian harus banyak bersyukur jangan mengeluh. Jika kalian mengalami kesulitan dalam hal apapun silahkan cari Abah. Abah akan membuntu kalian dengan senang hati. Hari telah larut, Abah pamit dulu. Dan kalian segara istirahatlah. Assalamualaikum......"
"Wa'alaikumsalam....." jawab kami secara bersamaan.
Setelah itu, kami juga membubarkan diri. Ada juga beberapa santri yang masih di aula. Termasuk diriku, aku masih merenung memikirkan bagaimana aku harus menjalani ini semua kedepannya.
Aku tak tahu harus bersyukur atau mengeluh. Kenapa ketika kuliahku semakin sulit sekarang aku juga harus mengajar. Bagaimana caranya aku untuk membagi waktu ku nanti. Aku merasa tak pantas jika harus mengajar. Karena aku baru beberapa tahun terakhir ini memperdalam ilmu agama. Ya Allah, semoga saya bisa menjalankan sekenario yang telah Engkau buat ini.
Keesokan harinya, aku berkunjung ke rumah Abah. Rumah Abahmasih dalam lingkup pondok. Jadi cukup dengan jalan kaki aku sudah sampai di depan rumahnya. Kebetulan sekali saat aku tiba, Abah berada di teras rumah. Segera aku menyapa beliau.
"Assalamualaikum........." kataku.
"Iya Bah,"
Ku ikuti Abah masuk ke rumah. Sampai di dalam, Abah segera mempersilahkan aku untuk duduk. Setelah merasa mendapat posisi yang nyaman untuk mengobrol, Abah memulai bertanya apa tujuan aku berkunjung.
"Ada apa nak?"
"Begini Bah, saya kesini selain bersilaturahmi saya juga ingin memberikan jadwal kuliah saya." ucapku.
"Coba Abah lihat,"
Aku segera menyerahkan kertas yang berisi jadwal kuliah ku itu. Abahmengambil kertas ku dan begitu serius memperhatikan jadwal itu. Hening beberapa saat, Abah begitu serius memperhatikan jadwal ku.
__ADS_1
"Bukannya kamu harus nya semester 7, kenapa ini sudah kelas praktek?" tanya Abah.
"Iya bah, beberapa hari yang lalu saya mengikuti tes. Dan ternyata saya lulus jadi saya bisa langsung bisa ikut kelas praktek, tanpa harus semester 7 dan 8."
"Apa kamu masih sanggup untuk mengajar?"
"Saya akan meluangkan waktu saya untuk mengajar,"
"Tapi jam praktek mu masih berubah-ubah,"
"Iya Bah, karena memang saya baru jadi saya masih mendapat jadwal yang berubah-ubah. Untuk itu, saya membutuhkan pendapat Abah terkait ini."
"Karena kamu mau memiliki niat yang baik yaitu mengajar disini, maka saya akan tetap mempertahankan kamu untuk menjadi guru disini. Kamu tenang saya, nanti saya akan memberikan keringanan untuk kamu. Sehingga jadwal kamu tidak bertubrukan."
"Alhamdulillah......"
"Jadwal mengajar mu akan saya berikan nanti malam setelah selesai pengajian. Sekarang silahkan kamu lanjutkan kegiatan mu,"
"Baiklah Bah. Hati ini adalah hari pertama saya memulai praktek, untuk itu saya mau meminta izin untuk hal tersebut."
"Iya nak, selama hal itu baik Abah akan selalu mengizinkan. Semoga kamu menjadi orang yang sukses dan impian mu segera terwujud. "
"Amin......, Kalau begitu saya mau mohon undur diri Bah."
"Silahkan nak, jika kamu butuh teman untuk curhat kemarilah nak. Pintu rumah ini selalu terbuka untuk dirimu. Dan Abah sudah menganggap mu seperti anak Abah sendiri."
"Baik Bah, saya pamit bah assalamualaikum......."
"Wa'alaikumsalam....."
__ADS_1
Aku pun langsung bergegas ke rumah sakit tempat ku memulai praktek. Semoga saja aku tidak terlambat.