
Hari ini adalah hari ketiga sebelum dimulainya kiamat. Cuaca mulai berubah menjadi panas secara tidak terkendali. Orang-orang mulai mengeluhkan cuaca yang terasa panas.
"Ada apa dengan cuaca hari ini? Mengapa begitu panas?" Seorang pria berkacamata menyeka keringatnya dengan sapu tangan.
"Noel hari ini aku akan berkunjung ke rumah keluarga barker." Adam melepaskan jasnya dan melonggarkan dasinya.
"bukankah terlalu awal untuk pulang hari ini? " Noel sekretaris Adam melihat jam yang masih menunjukkan pukul 10. Telepon Noel tiba-tiba berdering, Noel kemudian pergi mengangkat telepon tersebut.
"Adam sesuatu tiba-tiba terjadi. Akan ada pertemuan penting dalam 5 menit." Noel kembali dengan wajah serius.
"Baiklah siapkan pertemuannya." Adam tahu dia tidak akan bisa pergi meninggalkan pertemuan tersebut jadi dia segera menelpon Jean.
Jean sedang menonton televisi sambil mengunyah keripik kentangnya. Teleponnya yang selama ini tidak pernah ada yang menghubungi tiba-tiba berdering.
"Adam? Ada apa?" Jean langsung mengangkatnya ketika melihat nama Adam di panggilan tersebut.
"Jean aku rasa aku tidak bisa datang. Situasi pertemuan begitu mendesak jadi aku minta maaf, lain kali aku akan datang." Adam langsung menjelaskannya. Jean baru teringat bahwa sebenarnya infeksi telah menyebar tapi masih belum ada pemberitaan di media negara ini. Hanya perusahaan-perusahaan besar yang memiliki cabang di negara lain yang terlebih dahulu mendapat informasi.
"Aku berjanji akan datang jadi jangan marah, maaf aku harus menutup telepon terlebih dahulu." Adam langsung mematikan ponselnya sebelum Jean berbicara.
"Nona ada apa?" Merril bertanya ketika melihat ekspresi Jean yang khawatir.
"Apakah kakek akan pergi ke perusahaan?" Sebelum Merril menjawab, telepon milik kakek Jean berdering. Kakek Jean mengangkat telepon tersebut dengan serius.
"Jean kakek sepertinya harus pergi ke perusahaan. Terjadi masalah serius yang harus kakek tangani."
"Kakek biarkan aku ikut." Jean merasa sangat khawatir, beberapa orang pasti telah terinfeksi, walaupun masih sedikit tapi Jean tidak berani bertaruh. Adapun Adam, Jean tidak perlu khawatir karena Adam pasti akan aman sebelum hari ke 10 setelah kiamat tiba.
"Nona apakah ini baik-baik saja?" Merril sedikit khawatir.
"Tenang saja, bukankah bibi sudah melihat sendiri kekuatanku?" Kata Jean sambil berbisik. Jean belum memberitahu tentang kiamat pada nenek dan kakeknya.
"Nona berhati-hatilah." Melihat kepercayaan diri Jean, Merril tidak lagi merasa khawatir.
Jean dan kakeknya pergi menuju perusahaan yang jarak tempuhnya sekitar 20 menit. Melihat orang-orang yang masih berkeliaran membuat Jean menggelengkan kepalanya. 20 menit kemudian Jean sampai di sebuah gedung pencakar langit yang sangat tinggi.
"Jean apakah kamu ingin mengikuti rapat?" Kakek Jean bertanya. Jean setuju untuk memasuki ruang rapat, lagipula dia ingin mengetahui informasi apa saja yang telah didapatkan perusahaan kakeknya.
Memasuki ruang rapat, para manajer telah berdiskusi sehingga terlihat sangat kacau. Ruangan kembali sunyi ketika mereka melihat kakek Jean. Kedatangan Jean membuat mereka heran tapi mereka tidak berani bertanya apalagi memprotes.
"Silahkan memulai rapatnya." Kakek Jean duduk dengan tenang.
Salah satu manajer akhirnya berbicara. "Pak baru-baru ini situasi aneh telah terjadi di negara B. Salah satu penyalur bahan baku perusahaan kita berasal dari sana, kami telah menghubungi mereka tetapi kami tidak mendapat tanggapan sama sekali." Kakek Jean mengerutkan keningnya.
"Bagaimana dengan penyalur bahan baku yang lain? Apakah hal serupa terjadi?" Kakek Jean bertanya. Biasanya perusahaan memiliki cadangan penyalur bahan baku lain supaya proses produksi di perusahaan terus berjalan lancar.
"Sayangnya penyalur lain juga tidak memberi tanggapan." Manajer itu tampak sedikit ketakutan.
"Bagaimana hal ini bisa terjadi? Cari penyalur lainnya." Ruang rapat sangat sunyi, tidak ada satu pun yang berani berbicara. Jean menghela nafasnya, dia tahu hal ini akan terjadi.
"Bisakah salah satu dari kalian menceritakan hal aneh apa yang terjadi di negara B?" Jean akhirnya bertanya.
"Egan berbicaralah." Kakek Jean memerintahkan salah satu manajer untuk menjawab pertanyaan Jean.
"Nona, hal aneh yang kami maksud adalah perilaku orang-orang di sana. Kami tidak tahu apa yang terjadi tapi kami mendapat kabar bahwa terjadinya kanibalisme di sana. Orang-orang telah menjadi gila, mereka memakan teman bahkan kerabatnya sendiri." Egan berbicara dengan tidak yakin, seolah berita itu kemungkinan palsu.
"Zombie, itu adalah zombie." Ucap Jean. Para manajer tidak tahu apa yang Jean bicarakan.
"Kakek lebih baik segera bubarkan perusahaan." Para manajer gempar ketika mendengar ucapan Jean.
"Apa yang baru saja kamu katakan?" Salah satu manajer tidak percaya bahwa cucu pemilik perusahaan dengan mudahnya mengatakan untuk membubarkan perusahaan.
"Aku bilang, bubarkan perusahaan." Jean berkata dengan acuh. Dia tidak peduli mereka percaya atau tidak.
__ADS_1
"Tidak mungkin! Bagaimana selanjutnya kita menjelaskan pembubaran perusahaan pada para investor?" Salah satu manajer menganggap Jean tidak masuk akal.
"Kakek aku ingin berbicara secara pribadi." Jean berkata dengan serius. Kakek Jean tidak tahu apa yang ingin Jean bicarakan.
"Rapat ditunda dalam 15 menit." Kakek Jean langsung membawa Jean ke ruang kantor miliknya.
"Jean apa maksudmu membubarkan perusahaan?" Kakek Jean langsung bertanya.
"Kakek dunia ini sebentar lagi tidak aman. Orang gila yang mereka maksud adalah zombie, sebentar lagi virus itu akan menyebar lebih banyak ke negara kita." Jean berusaha meyakinkan kakeknya.
"Tapi tidak mungkin kita bisa membubarkan perusahaan."
"Bagaimana dengan menjual saham? Kakek cukup menjual saham dan tidak perlu lagi menguruskan perusahaan." Jean tahu tidak akan mudah untuk membujuk kakeknya.
"Kakek tidak bermaksud untuk tidak percaya padamu."
"Kakek aku akan menunjukkan sesuatu untuk membuktikan bahwa aku sama sekali tidak berbohong." Jean mengeluarkan tangannya dan sekali lagi menunjukkan kekuatannya seperti yang pernah dia lakukan pada yang lainnya.
3 menit kemudian kakek Jean berhasil menjual saham miliknya pada keluarga Powell.
"Eddie apakah kamu yakin menjual saham milikmu? Dengan begini maka kamu tidak akan mengurus perusahaan ini lagi." Suara pria tua terdengar di telepon milik kakek Jean.
"Tentu saja aku yakin, aku ingin pensiun. Kamu tahu sendiri bahwa di keluargaku tidak ada yang bisa aku warisi. Jean sendiri menolak untuk mengurus perusahaan sedangkan suami Lauren tidak bisa diandalkan, dan Ethan cucuku memilih untuk mengelola perusahaan anakku yang telah meninggal." Kakek Jean berkata dengan sedih, Jean hanya menahan tawanya ketika melihat akting kakeknya.
"Seharusnya kamu pandai mengatur menantu dan cucumu, kamu tidak akan sengsara seperti ini bahkan sampai menjual saham perusahaan mu padaku. Lihatlah cucuku Serena, dia sangat pandai mengelola perusahaan." Dean Powell terus berbicara menyanjung cucunya sendiri dan mulai membandingkan Jean dengan Serena cucunya. Jean dan Serena secara alami tidak akur, hal tersebut dikarenakan kakeknya Dean yang terus menerus mendorong Serena untuk tidak kalah saing dengan keluarga Barker.
"Jika tidak ada lagi yang perlu aku akan menutup telepon." Kakek Jean tidak sabar mematikan telepon miliknya.
"Aku tahu kamu sedih. Jaga dirimu baik-baik. " Suara Dean sama sekali tidak seperti seorang teman yang khawatir tapi justru lebih terdengar senang dengan kekalahan keluarga Barker. Kakek Jean langsung melemparkan telepon miliknya supaya Dean percaya bahwa Kakek Jean tidak terima dengan kekalahannya.
"Kakek kamu benar-benar jenius." Jean memuji kakeknya. Dia tidak menyangka bahwa ada seseorang dengan bodohnya membeli saham sesuka hati tanpa memeriksa terlebih dahulu.
"Tentu saja dia tidak tahu keadaan di luar sana jadi dia langsung membelinya. Lebih baik kita segera pulang, jika tidak nenekmu akan khawatir." Kakek Jean tidak lupa mengambil papan nama di mejanya.
"Aku tidak lagi memegang perusahaan ini. Jadi tolong sekalian buang papan nama ini." Tobias terkejut dan mengambil papan nama itu dengan linglung.
Jean dan kakeknya langsung pulang dengan sedikit terburu-buru. Tetapi dalam perjalanan tanpa sengaja melihat kejadian yang membuat Jean memucat. Jalanan begitu macet dan itu disebabkan oleh seorang turis asing yang menggigit orang-orang sekitar bahkan membunuh salah satu temannya.
"Jean fokuslah menyetir!" Kakek Jean langsung membuat Jean tersadar. Jean kemudian mencari jalan pintas dan membuat pengemudi dibelakangnya marah, tapi Jean tidak peduli. Setelah lolos dari macet Jean langsung menyetir dengan kecepatan penuh.
Sesampainya di rumah Jean masih datang dengan wajahnya yang pucat sedangkan kakeknya tampak melamun.
"Jean apakah sesuatu terjadi di luar sana?" Nenek Jean langsung menghampiri Jean.
"Ada apa nona Jean?" Merril ikut bertanya.
"Suasana di luar sana sudah mulai kacau." Jean akhirnya menjawab dan kulitnya kembali ke rona asalnya.
"Ada apa? Apakah sesuatu terjadi? Suami apa yang sedang terjadi?" Nenek Jean tidak mengerti apa yang Jean katakan. Kakek Jean kemudian menjelaskan secara perlahan-lahan.
"Istri apakah kamu marah?" Tanya kakek Jean. Biasanya dia menanyakan terlebih dahulu pendapat nenek Jean tapi keadaan begitu mendesak sehingga dia langsung saja menjual saham perusahaan.
"Tentu saja tidak, keamanan kalian lebih penting dari apa pun. Aku cukup lega kalian pulang lebih awal." Kata nenek Jean.
"Mulai sekarang tidak ada satu pun dari kalian yang diperbolehkan keluar, aku tidak tau apakah kalian akan terinfeksi atau tidak." Jean langsung membuat peraturan.
"Nona bagaimana dengan kedua orang tuaku? Mereka masih dalam perjalanan." Linda merasa sangat cemas.
"Tunggu saja, infeksi masih belum menyebar terlalu jauh." Jean hanya bisa meyakinkan Linda.
Cuaca pada siang hari semakin panas, Jean bahkan sampai menurunkan AC hingga ke titik 12°C. Jean juga meminta Linda membuatkan puding coklat untuk membuat tenggorokannya segar.
"Kakak apakah cuaca akan terus seperti ini setiap harinya?" Misael bertanya. Dia tidak berani bermain di luar karena cuaca yang sangat panas.
__ADS_1
"Mungkin. Jadi biasakan dirimu mulai sekarang." Jawab Jean. Misael merasa tidak begitu bahagia.
"Kenapa? Apakah kalian takut pingsan karena matahari?" Jean bertanya pada kedua bocah itu, tapi keduanya menggelengkan kepala.
"Aku takut kulitku akan terbakar dan menjadi gelap." Kata Liam dengan sedih.
"Kalian berdua adalah lelaki, jadi mengapa kalian takut kulit kalian menjadi gelap?" Jean semakin yakin bahwa Liam adalah lelaki bengkok.
"Di desa kami, orang berkulit putih itu menandakan bahwa orang tersebut kaya dan tidak perlu bekerja di ladang. Jadi kami takut bahwa kakak akan mengusir kami jika kami berkulit gelap." Misael menjelaskan.
"Jangan dengarkan omong kosong seperti itu. Kakak tidak memilih orang berdasarkan warna kulit, lagipula lelaki dengan kulit gelap terkadang terlihat lebih dapat diandalkan." Kata Jean.
"Benarkah? Kalau begitu aku akan bermain di luar supaya aku bisa melindungi kakak." Misael ingin segera bergegas menghitamkan kulitnya.
"Jangan sekarang, kakak khawatir kamu akan pingsan karena panas jika berjemur di luar. Maksud kakak berkata demikian adalah supaya kamu tidak takut jika memiliki kulit gelap tapi bukan berarti menyuruhmu untuk berkulit gelap." Jean dengan sabar menjelaskan.
Nenek Jean sedang menonton film di chanel televisi favoritnya, tiba-tiba saja film itu digantikan dengan sebuah berita.
"Negara sedang dalam masa kritis, sebuah virus mulai menginfeksi. Manusia yang terinfeksi menjadi tidak waras dan memakan rekan-rekannya. Pemerintah membuat keputusan bahwa mulai saat ini akan diberlakukan larangan keluar rumah sementara hingga vaksin ditemukan..."
"Vaksin tidak mungkin akan ditemukan dalam waktu dekat." Jean berkata dengan pesimis.
"Jean apa yang akan terjadi selanjutnya?" Nenek Jean bertanya, entah kenapa dia percaya bahwa Jean mampu memprediksi hal yang akan terjadi selanjutnya.
"Menurut nenek apa yang akan terjadi?" Jean bertanya balik.
"Situasi mungkin tidak akan terkendali. Bahkan pemerintah mungkin akan menugaskan militer untuk melindungi masyarakat." Jawab kakek Jean dengan spekulasinya.
"Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tidak memiliki persediaan di rumahnya seperti kita?" Merril ikut bertanya.
"Tidak semua orang beruntung bisa diselamatkan. Mungkin beberapa orang akan memberanikan diri mencari persediaan dengan merampasnya dari toko." Jawab Jean.
"Nona bisakah kamu menolongku?" Linda menangis dengan panik sambil memegang telepon miliknya.
"Ada apa? Sesuatu terjadi dengan kedua orang tuamu?" Jean bergegas menghampiri Linda, itu membuktikan betapa pentingnya Linda bagi Jean.
"Kedua orang tuaku terhambat di jalan karena sopir bus melarikan diri setelah mendengar berita di radio. Nona tolong selamatkan kedua orang tuaku!" Linda berlutut memohon pada Linda.
"Sialan! Bibi Linda tenang saja. Ayo kita pergi menjemput kedua orang tuamu." Jean tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini, dia masih tidak ingin menghadapi zombie di luar sana. Merril sangat ketakutan ketika melihat Jean emosional.
"Nona apakah nona yakin?" Merril bertanya dengan hati-hati.
"Jean apakah kamu ingin kakek membantumu?" Kakek Jean juga merasa khawatir jika Jean kehilangan ketenangannya seperti tadi.
"Tidak apa. Lagipula sampai kapan aku harus takut menghadapi zombie? Aku sudah berjanji untuk melindungi kalian." Jean memutuskan untuk berani.
"Nona terimakasih, aku berhutang banyak padamu nona " Linda merasa malu karena dia hanya bisa menyusahkan Jean dan yang lainnya.
"Tidak apa bi, sudah merupakan tugasku untuk melindungi kalian semua. Bibi ikut denganku." Kekesalan Jean lenyap begitu saja ketika dia melihat Linda yang merasa tidak nyaman.
'Jean berjuanglah! Berjuang demi cemilan!' Jean berkali-kali menyemangati dirinya sendiri agar tidak gugup melawan zombie.
'Tuan sebenarnya tidak perlu takut dengan zombie.' Sistem tiba-tiba menginterupsi Jean.
'Apa maksudmu?' Jean bertanya dengan heran.
'Jika tuan berhasil membunuh zombie untuk pertama kalinya maka tuan akan mendapat kalung penenang. Kalung itu akan membuat tuan tidak lagi gemetaran ataupun mual ketika menghadapi zombie.' Jawab sistem.
'Lalu mengapa tidak memberikan benda itu padaku sekarang?'
'Tidak bisa' Jawab sistem dengan datar.
'Bukankah nanti aku pada akhirnya akan membunuh zombie? Berikan padaku sekarang!' Jean mendesak sistem untuk memberikannya kalung tersebut tapi sistem tidak lagi merespon.
__ADS_1
"Bibi ayo kita pergi." Jean telah menyerah dan hanya bisa memilih membunuh zombie tanpa kalung tersebut.