Wear Apocalypse Book

Wear Apocalypse Book
30. Normal?


__ADS_3

Jean, Liam dan kelima siswa SMA berkumpul di jalan sambil membersihkan beberapa zombie yang berada di sekitar, hingga aman untuk melakukan tantangan.


"Ternyata saudara John sangat keren, bahkan aku pikir teman kita agak terlihat seperti pecundang." Nara memuji bagaimana cara Jean yang membunuh zombie dengan cepat. Davin dan Anthony terengah-engah setelah membunuh zombie di sekitar, sedangkan Edwin hanya bisa meringkuk ketakutan.


"Oke, ayo kita mulai tantangannya." Ucap Jean saat melihat mereka telah selesai membersihkan area sekitar.


"Toto maju." Liam memerintahkan Toto untuk berdiri di tengah jalan.


"Edwin, kau saja yang menantang kali ini." Kata Davin sambil mengusap keringatnya.


"A-aku?" Edwin terkejut.


"Tentu saja, apakah kamu ingin Nara dan Wenda yang menantang?" Tanya Davin.


"Baiklah." Edwin hanya bisa pasrah dan pergi berdiri di samping Toto.


"Dengarkan aba-abaku!" Kali ini Jean menjadi wasit. Toto dan Edwin terlihat serius, sedangkan Liam, Nara dan Wenda menyemangati mereka.


"Bersedia! Siap! Mulai!!!"


Sebelum Edwin menyelesaikan langkah pertamanya, Toto terlebih dahulu berlari dengan kecepatan penuhnya sehingga meninggalkan debu untuk Edwin.


"Apa-apa'an?" Edwin terkejut dan berhenti berlari, Nara dan Wenda berhenti bersorak, begitu juga Anthony dan Davin yang melotot ke arah rusa yang berlari seperti kecepatan mobil sport.


"Ayo Toto!!" Liam masih bersorak dan tidak memperdulikan Edwin yang masih terdiam karena terkejut.


1 menit kemudian Toto berhasil kembali dan berhenti di depan Edwin yang terduduk di jalan seolah sedang mengejek. Nara, dan teman-temannya hanya bisa kecewa, mereka lagi-lagi dikalahkan.


"Malam ini kalian yang berjaga." Ucap Jean seolah tidak memperhatikan kekecewaan di wajah mereka, dia kemudian kembali ke rumah terlebih dahulu. Kelima siswa SMA itu kembali dengan wajah lesu.


"Kalian berdua benar-benar buruk, menggertak orang yang baru kalian kenal." Olivia melihat kelima siswa SMA itu dengan tatapan menyedihkan.


Nara dan yang lainnya merasa Jean dan Liam adalah orang yang tidak normal, sedangkan Olivia, mereka masih memiliki kesan yang baik.


"Aku sama sekali tidak menggertak." Jean menyangkal, dia bahkan tidak tahu bagian mana dia menggertak mereka.


"Aku juga tidak." Liam ikut menyangkal, dan diikuti Toto yang menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah, ayo kita makan." Olivia tidak mau berdebat karena dia tahu dia akan dikalahkan oleh Jean.


Olivia membuat hidangan sup ayam, beef Wellington, dan beberapa sandwich. Edwin tanpa sadar meneteskan air liurnya dan tersadar setelah Olivia memandangnya dengan jijik. Mereka kemudian duduk mengelilingi meja makan dan mengambil porsi masing-masing.


Jean mengambil makanan terlebih dahulu, lalu pergi menuju kamarnya. Dia tidak bisa mengekspos wajahnya di depan orang yang baru ia kenal, itu juga untuk mencegah plot novel yang mengancam nyawanya.


Edwin ingin menambah porsi makannya tetapi melihat sandwich yang hanya cukup untuk satu keping per orang membuatnya sadar dan menahan diri untuk tidak meminta lebih.


"Sudah lama aku tidak memakan makanan seenak ini." Anthony mendesah dengan nyaman sambil menepuk perutnya yang sedikit membuncit. Ada ekspresi yang sama pada keempat temannya, kecuali tiga orang yang sama sekali terlihat biasa-biasa saja.


"Saudara di mana kamu mendapatkan hal baik seperti ini?" Davin bertanya.


"Dari hutan." Jawab Jean dengan singkat.


"..." Davin sama sekali tidak percaya, dia telah melihat banyak tanaman terlihat aneh seolah bermutasi terutama hewan-hewan. Karena pihak lain enggan menjawab jujur, Davin tidak lagi mengejar.


"Kalian harus menepati janji kalian, aku akan pergi tidur." Jean langsung pergi menuju kamar setelah menyimpan piring kotor.


"Saudara John benar-benar menakutkan." Anthony berbicara.


"Kak Olivia, kenapa kamu bisa tahan dengan orang seperti itu?" Nara memberanikan diri untuk mendekati Olivia yang sedang mencuci piring, menurutnya mendekati Olivia berarti selangkah lebih dekat dengan makanan. Ketiga pria itu segera melarikan diri untuk berjaga malam, mereka tidak tertarik dengan gosip wanita.

__ADS_1


"Aku juga terpaksa, aku akui dengan dia aku merasa aman dan sejahtera." Olivia menjawab dengan jujur.


"Kakak, a-apakah kamu menyukai saudara John?" Wenda bertanya dengan hati-hati.


"Kenapa kalian bisa mengambil kesimpulan seperti itu?" Olivia mengernyitkan keningnya.


"Adik laki-laki sempat berkata bahwa saudara John menyukai kakak." Jawab Nara.


"Sialan! Aku masih normal!" Olivia segera bangkit dengan marah untuk mencari penjelasan pada Jean.


Nara dan Wenda : "..."


Apakah mereka barusan salah dengar? Apa maksudnya dengan kata normal?


Nara dan Wenda saling memandang seolah mereka telah mengerti sesuatu, mereka kemudian berlari ketakutan dan segera mencari ketiga sahabat mereka.


"Ada apa dengan kalian?" Anthony heran mengapa kedua wanita ini ketakutan dan tampak pucat. Nara dan Wenda menceritakan apa yang terjadi barusan.


"Maksud kalian Olivia ternyata penyuka sesama jenis?" Davin langsung menangkap apa yang mereka takutkan.


"Aku seharusnya sadar bahwa tidak satupun diantara mereka bertiga yang merupakan orang normal." Kata Anthony.


"Menurutku mereka lebih menyeramkan dari seorang perampok. Yang satunya bermulut pedas, yang satunya lagi seorang pamer yang alami dan terakhir adalah penyuka sesama jenis. " Komentar Edwin. Kali ini mereka semua setuju dengan Edwin.


"Lalu kita harus bagaimana?" Tanya Nara.


"Tapi aku akui, terlalu berat meninggalkan mereka." Ucap Anthony. Mereka berlima mengingat makanan yang dihidangkan oleh Olivia dengan perasaan nostalgia.


"Nara dan Wenda jauhi Olivia, sedangkan kami bertiga tidak sama sekali masalah asalkan tidak mengganggu John, terutama Edwin." Davin langsung memberi perintah, tak satupun di antara mereka yang memprotes.


Keesokan paginya, Nara dan Wenda memiliki kantung mata hitam yang menghiasi wajah mereka karena mereka tidak berani tertidur di rumah.


"Ada apa dengan kalian berdua?" Olivia memperhatikan Nara dan Wenda yang sedikit kuyu. Mereka berdua tidak menjawab bahkan menatap Olivia, mereka juga menjauhi Olivia seolah tidak mendengar pertanyaan Olivia.


Jean juga memperhatikan kelima anak SMA yang hari ini terlihat pendiam, tidak seperti kemarin tetapi dia tidak berniat bertanya.


'Tuan kamu menakut-nakuti mereka.' sistem memberitahu.


'Kapan aku menakut-nakuti mereka?' Jean merasa heran, dia sama sekali tidak pernah memarahi sekelompok anak SMA ini. Sistem tidak menjawab, menurutnya Jean tidak akan pernah sadar dengan perilakunya.


Setelah sarapan dengan kaya akan daging dan sayuran, mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju kota N.


Linda tidak berani kembali ke kota J, dia tidak ingin menemui Jean karena merasa malu, dia kemudian memutuskan untuk kembali ke kota N, tempat di mana dia bekerja sebelumnya.


Rasa bersalah terus muncul di lubuk hati Linda dan dia ingin menjaga warisan ayah Jean, setidaknya hal tersebut dapat mengurangi rasa bersalahnya, itu juga merupakan alasan kenapa Linda ingin kembali ke kota N.


"Linda kenapa kita tidak bergabung dengan basis penampungan?" Seorang wanita yang duduk di bagian depan kursi mobil bertanya, wanita itu bernama Shani, dia diselamatkan oleh Linda dalam perjalanan bersama dengan suaminya Jimmi.


"Setelah kalian mengantarkan aku, kalian boleh pergi, aku tidak memaksa keinginan kalian untuk bersamaku." Linda tidak menjelaskan alasannya pada Shani dan Jimmi.


"Memangnya apa yang istimewa dari desa itu?" Linda tidak lagi menjawab pertanyaan Shani. Shani hanya bisa duduk dengan wajah muram, sedangkan suaminya Jimmi menggelengkan kepala, dia tahu istrinya telah ketergantungan dengan perasaan aman yang Linda berikan pada mereka.


"Hentikan mobilnya di sini, aku akan berjalan kaki selanjutnya." Ujar Linda.


"Linda, aku ingin mengikuti mu. Bisakah?" Shani membuat keputusan yang bahkan belum ia bicarakan dengan suaminya.


"Shani-" Jimmi ingin menegur istrinya.


"Baiklah kalian boleh ikut." Jawab Linda. Shani merasa senang, dengan begini dia tidak lagi harus bersembunyi ataupun terancam bahaya.

__ADS_1


Ketika mereka memasuki desa, suasana begitu sunyi bahkan zombie tidak terlihat, Linda tidak tahu apakah ini hal yang baik atau bukan.


Suara motor terdengar keras dan semakin mendekat, mereka kemudian melihat sekelompok orang dengan wajah sangar dengan tatto di sekujur tubuh, orang tersebut menghalangi jalan mereka.


Jimmi segera menghentikan mobilnya, dia sedikit takut melihatnya. Linda turun dari mobil dan berdiri di depan mobil.


"Jika kalian ingin masuk, segera lepaskan senjata, transportasi dan juga persediaan yang kalian miliki." Salah satu pria memerintah.


"Kalian bukan dari daerah ini, kalian tidak berhak untuk memeras kami. " Linda sama sekali tidak takut, kejadian sebelumnya telah mengubah mentalitas Linda seutuhnya menjadi seorang yang pemberani.


"Aku berubah pikiran sekarang, bagaimana jika kamu bermain sebentar dengan kami, setelah itu kami akan memperbolehkan kalian masuk." Pria itu memandang Linda dari atas hingga ke bawah dengan tatapan c*bul. Semenjak kemampuan Linda bangkit, tubuh Linda ikut berubah, lemak ditubuhnya telah hilang dan menampilkan kecantikan yang tidak disadari oleh Linda.


"Jangan salahkan aku jika aku melakukan kekerasan." Linda memberi peringatan, namun sekelompok pria itu justru tertawa dan tidak menganggap serius ancaman Linda.


"Kalian bertiga segera menangkap mereka." Perintah pemimpin kelompok gangster tersebut.


Ketiga orang itu membawa senjata di tangan mereka dan berjalan mendekati Linda, namun senjata mereka tiba-tiba terlempar tanpa sebab.


"A-apa yang terjadi??" Mereka terkejut dan merasa takut.


"K-kamu apakah itu barusan kamu yang membuang senjata kami?!" Pemimpin kelompok terlihat marah.


"Ya itu aku, cepat menyingkir!" Linda langsung mengakuinya.


"Awalnya aku sengaja menyimpan rahasia ini untuk mengejutkan orang tetapi sepertinya sekarang tidak perlu." Pemimpin gangster maju dan membuka jaket untuk memamerkan otot-ototnya yang membengkak.


Shani dan Jimmi melihat kejadian itu dengan ketakutan, mereka yakin bahwa pemimpin kelompok tersebut juga memiliki kemampuan. Linda terlihat serius kali ini, dia sudah tahu bahwa cepat atau lambat dia akan menghadapi sesama pengguna kemampuan lainnya.


"Jimmi a-aku takut, bisakah kita kabur saja?" Shani terlihat pucat.


"Apa maksudmu? Apakah kamu ingin meninggalkan Linda?! Apakah kamu tidak percaya dengan kemampuan Linda?!" Jimmi terlihat dingin, dia tidak menyangka istrinya begitu egois.


"Jimmi kamu lihat sendiri, pemimpin itu tidak takut dengan kemampuan Linda, kamu seharusnya sudah tahu." Shani berusaha meyakinkan suaminya.


"Tidak! Dengarkan aku Shani, kita tidak bisa egois, kamu seharusnya berterima kasih pada Linda karena telah menyelamatkan kita, jika Linda tidak menyelamatkan kita, kita sudah lama mati membusuk!" Kali ini Jimmi benar-benar marah.


"Jadi kamu ingin istrimu disentuh oleh mereka?!" Shani menangis.


"A-aku t-tidak bermaksud begitu, kamu harus percaya pada Linda." Suara Jimmi melemah, dia tidak ingin membuat istrinya menangis.


"Kalau begitu ayo kita pergi jika kamu masih mencintaiku!"


"Shani-" Jimmi merasa sakit kepala, dia tidak tahu harus bagaimana lagi.


"Jika kamu masih menolak aku akan bunuh diri di depanmu." Shani entah dari mana mendapatkan pisau dan mengarahkan pisau ke lehernya.


"Shani apa yang kamu lakukan? Letakkan pisau itu." Jimmi sangat panik.


"Jimmi, aku ingin pergi."


"Oke, Oke, kita akan pergi sekarang, letakkan pisau itu." Jimmi tidak memiliki pilihan lain.


"Tidak! aku ingin kamu menghidupkan mobil lalu pergi dari sini."


"Y-ya kita akan pergi." Jimmi segera menghidupkan mobilnya dan memegang kendali setir dengan erat, diam-diam dia merasa sangat bersalah pada Linda tapi dia benar-benar tidak memiliki pilihan lain.


"Lihatlah temanmu, mereka bahkan meninggalkanmu sendiri jadi menyerah lah sekarang juga." Pemimpin gangster tersebut mengejek Linda.


Linda hanya menoleh sekilas ke belakang, tidak ada kekecewaan sama sekali yang tampak di wajahnya, dia sudah mengalami kejadian serupa sebelumnya jadi dia tidak terlalu peduli.

__ADS_1


Melihat Linda yang masih tidak takut membuat wajah pemimpin gangster itu jelek. Pemimpin gangster kemudian mengeluarkan kemampuan miliknya yaitu kemampuan yang terletak pada kekuatan otot.


"Sangat disayangkan, aku harus menghancurkan tubuhmu yang bagus." Pemimpin gangster tersenyum dengan bangga sekaligus meremehkan Linda.


__ADS_2