Wear Apocalypse Book

Wear Apocalypse Book
09


__ADS_3

Pada malam harinya Merril dan Randalf akhirnya kembali dengan membawa barang yang sangat banyak.


"Apa yang kalian bawa?" Tanya Jean sambil mengunyah biji matahari.


"Nona ini adalah persediaan yang telah kami beli, dengan ini setidaknya kita mampu bertahan selama 3 bulan." Jean tidak melarang mereka membeli persediaan sendiri jadi dia tidak menolak persediaan yang telah Merril dan Randalf beli.


"Merril kenapa tidak membawaku juga?" Linda merasa tidak enak karena tidak ikut membeli persediaan.


"Tidak usah, lagipula ini sudah lebih dari cukup. Kamu cukup membeli persediaan untuk orang tuamu." Merril tidak ingin Linda ikut menghabiskan uang untuk mereka, lagipula Linda masih memiliki orang tua yang akan dia rawat nanti.


"Ya. Merril dan Linda juga sedang berkencan jadi tidak mungkin bibi Linda mengacaukan kencan mereka." Merril dan Randalf tersipu karena ucapan Liam. Linda akhirnya tidak terlalu tertekan ketika mendengar itu juga merupakan kencan Merril dan Randalf.


"Apa saja yang bibi Merril beli?" Tanya Misael dengan penasaran, dia tidak berani membuka barang yang tersimpan dalam kotak kardus.


"Bibi membeli beberapa makanan kaleng, dan juga ada beberapa mainan untuk kalian berdua. Kemari dan lihatlah" Liam dan Misael merasa senang, mereka kemudian membuka kotak kardus dengan terburu-buru seolah mainan itu akan hilang jika mereka berkedip sedetik saja.


"Linda bagaimana dengan orang tuamu? Apakah mereka mau pindah kemari?" Jean masih cemas jika Linda memilih untuk pulang ke kampung halamannya.


"Aku rasa mereka tidak akan menolak, apalagi jika mereka tau aku tinggal di rumah mewah." Linda tersenyum pahit.


"Apakah bibi Linda tidak senang jika aku menyewa rumah untukmu?" Jean bertanya-tanya ketika melihat ekspresi Linda yang tampak tertekan.


"Tentu saja tidak nyonya, hanya saja.. " Linda menghela nafas dengan keras. Linda yakin kedua orang tuanya pasti tidak akan akur dengan Jean, oleh sebab itu dia sedikit khawatir.


"Tenang saja, aku akan membantu bibi sebisa mungkin." Linda hanya terdiam, dia takut Jean akan kecewa dengannya.


Keesokan paginya Jean berpakaian sedikit rapi memakai kemeja putih polos dengan celana denim, walaupun polos tapi orang akan kaget dengan berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk sepotong pakaiannya.


"Bibi Linda ayo kita pergi." Walaupun hanya perlu berjalan 30 detik saja Jean masih berpakaian rapi agar penyewa yakin dengan kemampuan Jean untuk mengelola rumah yang akan disewa.


Seorang pria gemuk dengan kemeja hitam yang tampak tidak cocok dengan tubuh gemuknya sedang menunggu di halaman.


"Selamat siang nona Barker." Pria itu menyapa dengan sopan, lagipula siapa yang tidak tau dengan keluarga Barker di kota J? Ditambah dengan pembahasan hangat netizen tentang tembok besi keluarga Barker semakin terkenal.


"Selamat siang tuan..?"


"Panggil saja dengan tuan Dave." Pria itu menjawab dengan canggung.


"Baiklah selamat siang tuan Dave." Awalnya Jean menilai bahwa lelaki gemuk tersebut pasti adalah lelaki bajingan tapi kemudian berubah pikiran ketika lelaki itu menjawab dengan canggung. 'Dia mungkin seorang penjilat', pikir Jean. Tapi setidaknya bukan lelaki mata keranjang. Sistem meragukan penilaian Jean, sebegitu mudahnya kah Jean berspekulasi buruk hanya dengan sekali melihat?


"Apakah nona ingin melihat-lihat terlebih dahulu?" Jean mengangguk setuju, Dave kemudian menjelaskan dengan rinci setiap ruangan yang terdapat di dalam rumah.


"Bagaimana nona? Apakah nona tertarik?" Dave tidak lagi canggung dengan Barker.


"Linda apakah menurutmu ini bagus?" Jean melempar pertanyaan itu pada Linda.


"Nona ini sudah sangat bagus, jadi aku akan tinggal dimana pun nona memilihnya." Jean sudah menduga Linda akan menjawab demikian.


"Baiklah aku akan menyewa rumah ini." Kata Jean. Kemudian suara ponsel berdering dengan nyaring.


"Maaf nona tunggu sebentar." Dave sebenarnya hendak mematikan ponselnya yang berdering tapi ketika melihat siapa yang menelpon, ia langsung pergi mengangkat telepon tersebut.


"Nona, pemilik rumah memiliki satu kondisi." Dave berbalik setelah mengangkat telepon yang ternyata dari pemilik rumah ini.


"Apa itu?"


"Tapi sebelumnya saya tidak bermaksud menyinggung nona jadi tolong jangan marah." Dave tampak gugup.


"Bicara saja, aku tidak akan marah kecuali tuan Dave menghina keluargaku." Kata Jean dengan jujur.


"Itu... Apakah nona akan memasang tembok besi di rumah ini? Jika iya, mohon maaf karena pemilik rumah tidak akan memberi nona izin." Dave tampak hati-hati seolah Jean seorang ratu.

__ADS_1


"Ah ternyata itu. Tentu saja tidak, tapi bisakah aku memasang kawat berduri dan besi tajam di atas pagar?" Tidak mungkin bagi Jean memasang hal serupa di rumah sewa milik Linda, apalagi ternyata benteng anti-nuklir tersebut memiliki harga 1000 kristal merah.


"Biar saya bertanya terlebih dahulu." Dave kembali menelpon pemilik rumah.


"Nona, pemilik rumah setuju tapi biaya sewa minimal untuk 3 bulan." Kata Dave.


"Baiklah, aku akan mentransfer biaya sewanya." Dave kemudian memberikan nomor rekening pemilik dan Jean langsung membayar.


"Terimakasih nona Jean, kalau begitu saya akan pamit pergi." Dave kemudian pergi meninggalkan kunci rumah yang sudah dipegang oleh Jean.


"Nona aku akan berusaha mengembalikan uang sewa yang telah nona bayar." Linda tidak tahan ketika mendengar biaya sewa yang keluarkan Jean dengan murah hati.


"Tidak perlu, cukup bekerja saja sebagai koki seumur hidup maka aku akan senang." Jean masih menolak tawaran Linda yang ingin membayar.


"Tapi.. " Linda masih ragu bahwa menjadi koki seumur hidup cukup untuk melunasi hutan budi pada Jean.


"Tidak ada kata tapi, keluarkan saja uangmu untuk mendekorasi rumah ini. Lihatlah bertapa polosnya rumah ini tanpa perabotan, jangan lupa membeli persediaan untuk kedua orang tuamu nanti." Jean memperhatikan rumah yang telah ia sewa, memang tidak berdebu tapi rumahnya tidak memiliki perabotan sama sekali. Ia ingin membeli perabotan tapi ia takut Linda justru semakin tertekan.


"Baiklah nona." Linda sudah menyerah untuk membayar uang yang telah dikeluarkan Jean.


"Jika bibi tidak ingin keluar maka pesan saja perabotan dan persediaan secara online. Minta Randalf mengajarkanmu menggunakan ponsel." Jika bukan karena tembok anti-nuklir, Jean mungkin tidak akan memilih mencari persediaan secara pribadi. Ia juga ingin melihat keadaan sekitar sebelum dunia ini berubah. Jika saja dia bisa menemukan sumber virus tersebut, maka dia tidak perlu melihat dunia ini dalam kehancuran.


'Sistem bisakah aku mengubahnya?' Jean bertanya pada sistem.


'Tidak mungkin. Lagipula virus ini bukan karena kebocoran laboratorium.' Jean sudah tau sistem berkata demikian tapi dia tidak menyangka bahwa virus tersebut ternyata bukan karena kebocoran laboratorium!


'Lalu karena apa?' dalam novel tidak dijelaskan penyebab kiamat tiba, hanya saja penulis menjelaskan bahwa sebagian besar orang menyalahkan laboratorium dan membenci para peniliti. Jadi Jean mengira bahwa bencana tersebut akibat kebocoran laboratorium seperti dikisahkan pada novel novel lainnya.


'Virus ini merupakan virus kuno yang berasal miliyaran tahun lalu dan dibawa oleh meteor yang menghantam bumi. Virus ini sebelumnya tidak mengancam karena membeku di antartika.' Sistem memutuskan untuk memberitahu Jean rahasia yang bahkan penulisnya tidak tahu. Jean sangat terkejut dengan penjelasan sistem.


"Jean apakah kamu baik-baik saja?" Jean tersadar akibat pertanyaan Linda.


"Tidak apa, hanya saja aku sepertinya melupakan sesuatu yang penting." Bohong Jean.


"Tentu saja. Aku akan kembali ke sebelah, bibi tinggal meminta Randalf untuk mengatur rumah ini." Jean ingin segera pulang dan menginterogasi sistem.


"Tidak perlu nona, aku bisa mengaturnya sendiri." Linda menolak, lagipula bantuan Jean sudah cukup banyak.


"Tidak perlu sungkan bi. Aku akan memanggil Randalf untuk membantumu." Jean langsung pergi tanpa menunggu Linda yang ingin menolak sekali lagi.


Sesampainya di rumah Jean langsung meminta Randalf menangani rumah Linda, lalu langsung pergi ke kamarnya dan mengunci pintu. Setelah itu Jean memasuki ruangannya dengan gelisah seolah dia akan mencekik sistem.


"Sistem apakah itu benar yang kamu katakan sebelumnya?"


"Tentu saja. Aku tidak akan berbohong." Sistem menjawab dengan sabar.


"Jika begitu bukankah ini di luar kendali sang penulis? Apa yang akan terjadi di masa depan?" Jean bertanya sambil berjalan mondar-mandir.


"Tuan tenang saja. Manusia adalah ciptaan yang unik, mereka akan mampu menyelesaikan masalah jika mereka disudutkan ke situasi yang mendesak." Sistem menjawab dengan santai. Jean akhirnya santai, setidaknya dia mendapat kepastian dari sistem.


"Bisakah kamu memberitahuku apa yang akan terjadi setelah penulis menyelesaikan novelnya?" Di dalam novel hanya berputar mengisahkan tokoh utama dan tidak membahas bagaimana manusia menangani virus tersebut.


"Tidak Itu di luar otoritas ku!" Sistem menolak dengan tegas.


"Bukankah tadi kamu telah memberitahu yang berada di luar pengetahuan dalam novel?" Sistem hanya diam dan tidak menjawab.


"Sistem yang sama sekali tidak konsisten!" Jean mengutuk sistem tetapi ruang masih sunyi seolah-olah hanya Jean yang berada di sana. Jean kemudian keluar dari ruang miliknya dan kembali mengunyah camilan.


"Kakak bukankah boneka beruang ini cantik?" Liam datang dan menunjukkan boneka beruang berwarna pink.


"Apakah bibi Merril ingin mengubah mu menjadi lelaki cantik?" Jean memutuskan untuk mengganggu Liam.

__ADS_1


"Kakak lelaki cantik itu apa?" Liam bertanya dengan polos.


"Lelaki cantik adalah... " Jean ingin mengatakan bahwa lelaki cantik adalah lelaki gay tapi dia tidak berani mengatakannya.


"Kakak?"


"Tidak lupakan saja! Jika ada yang mengejek mu abaikan saja." Jean memutuskan untuk tidak memberitahu Liam, biarkan saja dia memainkan boneka. Dia tidak bisa membayangkan bahwa suatu hari nanti Liam berada di bawah lelaki.


'Tuan hentikan pikiran tidak senonoh mu' sistem menegur Jean.


"Aku tidak sengaja. Salahkan Liam yang memainkan boneka itu." Jean membantah. Jean kembali mengunyah camilannya. Jean juga memutuskan untuk menikmati kehidupan santainya sekarang.


...


Hari dimana Jean menjemput nenek dan kakeknya kemudian tiba. Jean memilih membawa Misael dan Randalf untuk pergi bersama dengannya.


"Nenek apakah semua barang mu tidaka ada yang ketinggalan?" Ketika Jean datang, ia telah disambut beberapa koper yang tergeletak di depan mansion.


"Tidak ada, aku sudah mengecek semuanya. Jean siapa ini?" Nenek Jean bertanya ketika melihat seorang anak laki-laki yang berada di samping Jean.


"Nenek perkenalkan bocah ini bernama Misael, aku mengadopsinya atas nama ibu dan ayah. Misael panggil nenek." Jean memperkenalkan Misael pada neneknya.


"Nenek." Misael menyapa nenek Jean dengan sopan.


"Selamat datang Misael ke keluarga Barker." Nenek Jean tidak menentang Jean untuk mengadopsi, lagipula dia tahu bahwa Jean merasa kesepian.


Kemudian kakek Jean keluar bersama dengan Lauren.


"Siapa ini?" Kakek Jean juga bertanya. Jean kemudian menjelaskan sekali lagi pada kakeknya.


"Ayah bukankah nanti warisan mu semakin sedikit karena cucu adopsi ini?" Lauren bertanya dengan tidak senang.


"Lauren bersikap sopan lah! Bagaimana pun Misael adalah cucuku juga." Kakek Jean tidak menerima keluhan Lauren.


"Kalian memang pilih kasih terhadapku!" Lauren kemudian pergi.


"Misael jangan dimasukkan ke dalam hati, bibi mu memang seperti itu." Nenek Jean menjelaskan, Misael hanya mengangguk dengan patuh.


"Jika tidak ada yang lain maka mari kita berangkat." Randalf mengemasi barang bawaan dengan cepat ke bagasi sehingga tidak lama Jean kemudian berangkat kembali ke rumahnya.


"Jean mengapa kamu memasang tembok itu?" Kakek Jean bertanya ketika melihat benteng anti-nuklir. Sebenarnya dia sudah lama tahu tapi dia memutuskan untuk menanyakan pada Jean secara langsung.


"Kakek baru-baru ini aku entah kenapa aku merasa sangat gelisah, jadi aku memasang tembok besi ini." Kakek Jean merasa penjelasan Jean tidak masuk akal, tapi dia tidak bertanya lebih jauh.


Sesampainya di rumah, Kakek dan Nenek Jean disambut oleh Merril, Liam dan Linda. Linda tampak sangat canggung sedangkan Merril dan Liam santai seperti biasa.


"Kakek, nenek, ini adalah Liam. Sebenarnya aku mengadopsi dua anak tapi aku tidak mau menjelaskannya di depan Lauren." Jean memperkenalkan Liam. Sebenarnya dia sedikit malu memperkenalkan Liam karena Liam enggan melepaskan boneka beruang itu.


"Tidak apa selama kamu bahagia Jean" Kakek dan Nenek Jean tidak keberatan dengan bertambahnya anggota keluarga.


"Mulai sekarang selipkan nama keluarga Barker pada nama mereka." Ujar kakek Jean. Dengan begitu Liam dan Misael secara resmi bergabung ke dalam keluarga Barker.


Siang harinya suasana di rumah Jean terasa begitu hidup. Liam dan Misael sedang bermain, Kakek dan Randalf membicarakan hal-hal yang hanya dipahami oleh lelaki tua, sedangkan Merril, Linda dan Neneknya sedang memasak di dapur sekaligus membicarakan resep masakan.


"Dengan begini aku tidak akan kesepian." Pikir Jean.


"Sistem apakah kiamat benar-benar akan terjadi? Aku merasa tidak nyaman." Mood Jean semakin memburuk baru-baru ini, bahkan dia enggan terlalu sering keluar dari rumah.


"Tuan sudah menanyakan hal serupa berkali-kali." Sistem memilih untuk tidak menjawab pertanyaan.


"Apakah akan ada yang terinfeksi di rumahku?" Jean bertanya lagi.

__ADS_1


"Tidak ada. Walaupun di atas benteng tidak ada sama sekali tembok tetapi terdapat dinding transparan yang mencegah infeksi melalui udara dan air masuk ke dalamnya." Sistem menjelaskan. Jean kemudian naik ke lantai tiga dan mengambil teropong untuk mengawasi keadaan di luar.


"Sangat disayangkan bahwa ini akan segera berakhir." Kata Jean sambil mengawasi orang-orang yang lewat dan mengobrol di sekitar Komplek perumahannya.


__ADS_2