
Adam merasa sedikit lelah menenangkan pengungsi yang telah bergantung dengan kenyamanan basis.
"Kami tidak terima jika pejabat yang tidak berkontribusi juga digaji oleh basis!!!" Salah satu suruhan Lane akhirnya berbicara di tengah kerumunan.
"Ya itu benar!!"
"Kalian menggratiskan pejabat yang tidak berkontribusi tetapi kami ditelantarkan!!!"
Lane memandang semuanya dengan puas, propaganda miliknya berhasil membuat pengungsi merasa pejabat kota J terlalu rakus.
"Kalian!!!" Gordon menatap pengungsi dengan marah, dia merasa sedikit terancam dengan posisinya sebagai pejabat.
"Pejabat rakus!!" Pengungsi melemparkan batu ke arah kelompok Gordon, pengguna kemampuan yang disewa Gordon dengan cepat melindungi Gordon dan pejabat lainnya.
Suasana kembali kacau, pengungsi terus melemparkan benda ke arah Gordon meskipun tahu bahwa itu tidak berguna.
"Kenapa kalian berdua tidak berbicara untuk memenangkan kerumunan massa?!!" Gordon menatap Lane dan Adam yang masih terlihat tenang.
"Memangnya kami harus bagaimana? Kami tidak memiliki alasan untuk membantah mereka." Lane tersenyum ke arah Gordon.
"I-ini rencana kalian berdua!?" Gordon marah, dia akhirnya tahu ini adalah kesempatan yang disiapkan untuk menyingkirkan pengaruh mereka di basis.
Lane tidak lagi membalas Gordon, dia sibuk menangani pengungsi.
Emma bermaksud untuk mencari Lane dan Adam tetapi dia justru terjebak di tengah kerumunan massa yang sedang marah, Emma terpaksa berdesakan dan harus menembus kerumunan yang tampak mustahil ditembus.
"Bukankah ini kekasihnya pemimpin?" Salah satu pengungsi mengenali Emma.
Mata pengungsi tiba-tiba teralihkan ke arah Emma yang berdiri di tengah kerumunan, Emma ketakutan ketika melihat banyaknya pandangan kebencian yang mengarah padanya.
Salah satu pengungsi mengeluarkan pisau dapur dan berlari ke arah Emma, pengungsi lainnya membuka jalan dan tidak berniat menyelamatkan Emma sama sekali.
Melihat hal tersebut membuat Emma panik dan berusaha mencari jalan keluar, tetapi dia telah dikepung karena pengungsi sengaja menutupi jalan keluar.
Emma akhirnya ditangkap dengan pisau yang mengarah ke lehernya.
"Jika kalian tidak mau memberi kami pasokan makanan maka kami akan membunuh wanita ini!!" Pria itu mengancam.
"Coba saja." Adam masih tenang, dia tidak takut dengan ancaman pria itu.
"Tolong aku." Emma berusaha meminta pertolongan Adam, adapun Lane dia telah sibuk di tempat lain sehingga tidak menyaksikan Emma yang hampir terancam dibunuh.
"Ka-kamu!" Pria itu menatap Adam dengan tidak percaya.
"Biar aku saja yang membunuh wanita ini!!" Salah satu perempuan merebut pisau dengan paksa lalu mengarahkannya pada tubuh Emma.
Sebelum wanita itu berhasil menusukkan pisau, Adam terlebih dahulu menendang tubuh wanita itu tanpa ampun.
Emma bersiap untuk dibunuh tetapi ternyata Adam menyelamatkan dirinya, dia pikir Adam tidak akan peduli dengannya tetapi dia salah.
Melihat gagahnya Adam membuat Emma terlena dan melupakan kejadian sebelumnya, tetapi dia kemudian sadar dan memikirkan cara untuk menggoda Adam.
Emma segera berlari ketakutan ke arah Adam dan bermaksud untuk jatuh pingsan, sehingga Adam akan datang menyambut tubuhnya.
Emma menutup matanya dan menjatuhkan tubuhnya dengan pura-pura, tetapi dia justru menghantam tanah.
Adam segera menjauhkan dirinya dari Emma, dia tidak peduli dengan keadaan Emma.
__ADS_1
Emma merasakan sakit di tubuhnya dan memiliki keinginan untuk memarahi Adam, dia sedikit ragu untuk membuka matanya, jadi dia hanya bisa menggertak giginya dan bertahan dalam posisi terbaring di tanah.
"Emma!!" Lane melihat Emma terbaring tidak sadar di tanah, dia sangat khawatir setelah Joe berlari tergesa-gesa ke posisinya karena melihat Emma diancam oleh pengungsi.
Lane dengan cepat menggendong tubuh Emma yang sedang berpura-pura pingsan, lalu membawa Emma kembali ke dalam gedung.
Adam menangani kerumunan massa sendirian, melihat pengungsi yang enggan berdamai membuat Adam sakit kepala dan terpaksa menggunakan kekerasan.
Adam menyulutkan apinya ke sekeliling gedung untuk menghindari massa yang berusaha merusak properti gedung miliknya, beberapa pengungsi yang tidak tahu api itu berbahaya mati terbakar menjadi abu dalam sekejap mata.
Gordon dan pejabat lainnya berada di luar gedung dalam posisi terancam, pengguna kemampuan yang mereka sewa hampir kehabisan energi untuk melindungi mereka.
"Si*l!!!" Gordon benar-benar marah, dia tidak bisa kembali ke dalam gedung akibat Adam yang menggunakan kemampuan untuk melindungi gedung.
"Apakah kita akan diam di sini?" Pejabat lain bertanya pada Gordon.
"Kita akan pergi dari sini, kita mungkin kalah kali ini tetapi kita akan kembali membalas nanti! Lihat saja!" Gordon menatap ke arah gedung dengan benci.
Gordon kemudian memutuskan untuk pergi bersama pejabat lainnya ke basis penampungan lain.
Adam dan Lane kelelahan dan merasa lega setelah melihat massa yang akhirnya bisa mereka tangani, hampir semua tentara juga jatuh akibat kelelahan melindungi luar maupun dalam basis.
"Aku akan mundur lain kali jika kamu melibatkan aku sekali lagi." Adam merasa jera sekaligus merasa buruk dengan pengalaman menangani para pendemo.
"Tidak akan lagi terjadi hal serupa ke depannya." Lane terduduk lemas ke tanah.
Nyatanya hanya sepertiga pengungsi yang tidak terima dengan aturan baru, dan kebanyakan mereka adalah orang tanpa kemampuan sehingga mereka seharusnya bisa menangani masalah ini dengan mudah, tetapi tentara setengahnya telah dibagi untuk menjaga bagian luar basis agar basis tidak diserang oleh zombie ketika mereka melancarkan rencana mereka.
Adam dan Lane sedang merokok, menyaksikan satu per satu tentara menangkap orang-orang yang berpotensi memicu kericuhan, kebanyakan mereka adalah orang yang terlalu putus asa dan preman yang berkembang di dalam basis, jadi mereka termasuk membunuh dua burung dengan satu batu.
"Ada apa? Apakah kamu merindukannya?" Lane juga terkejut ketika mendengar Adam menyebut nama Jean.
"Aku berharap dia baik-baik saja."
"Dia akan baik-baik saja, aku baru pertama kali merasakan pukulan seorang wanita selain saudara perempuanku, dia wanita yang tangguh." Lane merasakan nostalgia terhadap saudara perempuannya dan merasa Jean memiliki karakter yang serupa dengan kakaknya.
"Kenapa? Kamu merindukan Sarah?" Adam juga mengenal Sarah yang tiga tahun lebih tua dari Lane.
"Dia pasti sangat sibuk di ibukota untuk membantu ayahku di sana, jadi aku tidak berharap dapat bertemu dengannya dalam waktu dekat."
"Aku tahu kamu sebenarnya takut dipukuli Sarah, kamu pasti senang karena dia tidak ada di sini." Adam mengolok Lane.
"Mana mungkin." Lane enggan mengakuinya, tetapi dia sebenarnya memang takut dengan kepribadian Sarah yang meledak-ledak, dia tidak bisa membayangkan jika Sarah dipertemukan dengan Emma.
"Kapten, Emma sudah sadar." Barnett melapor pada Lane.
"Aku akan pergi dulu." Lane menepuk bahu Adam lalu bangkit pergi menemui Emma.
Senyuman di wajah Adam memudar setelah Lane pergi, dia benar-benar tidak menyangka bahwa Emma akan berani memiliki pemikiran tentang dirinya, dia tiba-tiba merindukan sosok Jean.
Di sisi lain, Jean kembali ke rumah Roswell tanpa gangguan dengan tubuh Lexie yang berada di punggungnya.
"Lexie???" Roswell terkejut ketika melihat Lexie yang terlihat pucat dan tidak sadarkan diri di punggung Jean. Jean segera menurunkan tubuh Lexie ke sofa dari punggungnya.
"Lexie?!" Abby terkejut melihat Lexie yang telah terbaring di sofa, Raul juga berlari ke arah Lexie dan memeriksa suhu tubuh di dahi.
"Roswell kita butuh obat lainnya, Lexie hampir tidak bisa bertahan jika aku tidak menemukannya malam ini."
__ADS_1
"Oke aku akan mengambil obatnya segera." Roswell kemudian pergi mencari sisa obat yang diminum oleh Finn.
"Kenapa bisa seperti ini? Di mana kamu menemukannya??" Raul menatap anaknya dengan khawatir, dia tidak bisa membayangkan jika Jean tidak menemukan Lexie.
"Ini mungkin akan membuat marah kalian berdua, tetapi inilah kenyataan yang aku dapat..." Jean menjelaskan bagaimana dia bisa menemukan Lexie dan konspirasi dibaliknya.
"Sudah kukatakan mereka pasti sengaja membuat anak kita sakit!! Seharusnya aku sudah curiga dari awal!" Wajah Raul memerah akibat emosinya yang meluap.
"Lalu bagaimana dengan yang lainnya? Apakah kamu tidak menolong mereka?" Abby terlihat pucat, dia ketakutan ketika mendengar gambaran yang Jean berikan tentang bagaimana anak-anak dijadikan makanan oleh pemimpin basis.
"Aku akan menolong mereka nanti, mungkin malam ini akan sedikit kacau dan aku merencanakan kepindahan kalian ke kota J bersamaku."
Setelah selesai mengembalikan Lexie, Jean bergegas menuju ke rumah sewa miliknya dan mengumpulkan kelompoknya.
"Bos ada apa? Apakah terjadi sesuatu?" Raes merasa heran mengapa Jean mengumpulkan mereka.
"Ya aku menemukan masalah yang serius, kita mungkin akan kembali ke kota J besok."
Melihat Jean yang membawa suasana suram membuat mereka sedikit takut, hal apa yang bisa membuat Jean begitu marah?
"Apakah kamu menemukan istriku?" Rolland bertanya dengan penuh harap.
"Tidak." Jean menunduk, dia sebenarnya tidak berani menceritakan kebenaran yang ia dapat pada Rolland.
"Lalu di mana dia??" Rolland terlihat panik, adapun Jean dia telah terdiam dan tidak menanggapi pertanyaan Rolland.
"Lalu apa rencana kita?" Olivia bertanya, dia tahu bahwa ini bukanlah hal baik yang bisa diterima Rolland.
"Aku akan menghancurkan basis ini!" Suara Jean terdengar tegas sehingga membuat mereka semua membelalak kaget, apakah mereka salah dengar barusan??
"Bos, bukannya aku ingin menghalangi mu tetapi jumlah pengguna kemampuan di sini lebih dari selusin orang, ditambah Arthur yang merupakan kemampuan terkuat, aku khawatir kita akan dikuburkan di sini malam ini." Nielsen ingin Jean berpikir jernih.
"Aku tidak bermaksud agar kalian membantuku, aku bisa menyelesaikan semuanya sendirian, adapun Arthur, aku akan mencoba bernegosiasi dengannya."
"Tidak mungkin dia mau membantu! dia telah memihak basis ini sejak awal! Aku tidak tahu apa yang diberikan basis ini sehingga dia bahkan tidak mau menyelamatkan istriku!" Rolland merasa Jean membuat lelucon dengan membawa Arthur ke dalam rencana mereka.
"Kami hanya anak-anak jadi jangan ikut berdebat." Edwin berbisik pada kelompoknya.
Liam yang mendengar bisikan tersebut menatap Edwin dengan jijik.
Edwin: "..."
Apakah dia salah barusan?
"Tidak ada salahnya mencoba berdiskusi dengan Arthur, aku yakin dia tidak terlibat dalam masalah basis ini." Jean merasa sakit kepala, dia sudah berspekulasi bahwa Rolland tidak akan setuju dengan mudah.
"Terserah kalian, aku tidak membantu jika Arthur juga terlibat, lagipula dari awal aku bukan siapa-siapa di kelompok ini." Rolland pergi dengan marah, kebenciannya pada Arthur sama besarnya dengan kebenciannya pada basis ini.
Suasana di ruang tamu menjadi canggung setelah Rolland pergi, sedangkan Jean mengetuk meja dengan jarinya memikirkan rencana untuk menggulingkan pemimpin basis.
"Bos kami berdua akan membantumu." Jeff berinisiatif memecah kesunyian di ruang tamu. Jeff dan Nielsen merasa mereka harusnya berterima kasih pada Jean karena tidak membunuh mereka.
"Terserah kalian." Jean mengangguk setuju, dia juga membutuhkan tenaga lain untuk membantu dirinya.
Andai saja Adam ada di sini, dia mungkin bisa membakar basis ini dengan mudah menjadi abu.
Jean kembali sadar dengan menggelengkan kepalanya, dia sepertinya terlalu berharap Adam dapat membantunya.
__ADS_1