
Setelah menghabiskan waktu di kota N selama 6 hari, akhirnya Jean dan yang lain berkemas untuk kembali ke kota J. Jean tidak tau seperti apa benteng anti-nuklir yang sangat dibanggakan oleh sistem.
"Akhirnya kita akan pulang." Jean memperhatikan barang-barang yang akan ia bawa ke kota J. Jean sengaja meninggalkan beberapa barang untuk dibawa pulang, supaya yang lain tidak curiga dimana Jean menyimpan barang yang ia beli sejauh ini.
"Linda apakah kamu sudah mengemasi barang bawaan mu semua? Mungkin kita tidak akan kembali dalam waktu dekat"
"Tentu saja nona, aku sudah mengosongkan semua pakaianku di lemari." Jawab Linda sambil menyeret barang bawaannya ke dalam mobil. Abby kemudian datang membantu mengemasi barang-barang ke dalam mobil.
"Tidak terasa kalian sudah mau pergi saja. Maafkan suamiku karena tidak datang, dia sangat sibuk." Kata Abby yang tampak menyayangkan kepergian Jean.
"Kak Abby ingat untuk datang ke kota J nanti, aku akan menunggu kedatangan kalian." Jean sekali lagi memberitahu Abby.
"Baiklah, aku akan."
"Kak titip salam juga untuk Lexie dan Finn." Kata Misael
"Kalau begitu, kami berangkat kak. Sampai jumpa." Jean mengucapkan salam perpisahan lalu kemudian berangkat pulang menuju kota J. Jean tidak tau bahwa benteng anti-nuklirnya telah menjadi perbincangan hangat di kota J.
"Apa-apaan tembok besi itu? Apakah negara kita sedang terancam perang?" Seorang netizen memposting sebuah foto dimana sebuah rumah besar dikelilingi oleh tembok besi yang tampak sangat tebal.
"Mungkin foto ini tidak nyata, bagaimana mungkin ada seseorang yang mau mengelilingi rumahnya dengan besi setebal itu!" Komentar salah satu netizen.
"Foto ini nyata! Aku melihatnya sendiri! Datang saja ke kota J, alamatnya terletak di xxx." Salah satu netizen membenarkan foto tersebut lalu diikuti oleh netizen lain yang juga menyaksikan secara langsung tembok besi tersebut.
"Setahuku rumah tersebut adalah milik keluarga Barker. Aku rasa pemilik rumahnya sudah gila karena mengelilingi rumahnya dengan tembok besi LOL. " Ungkap salah satu netizen.
"Atau mungkin dia sengaja membuat tembok besi supaya rumah miliknya menjadi ikon kota J? Hahahaha" Netizen lain mulai ikut berspekulasi.
Jean tidak tau bahwa rumahnya telah menjadi bahan lelucon di internet, walaupun ia tahu dia mungkin mengabaikan lelucon itu.
Mobil tiba-tiba berhenti yang membuat Jean terbangun dari tidurnya. "Ada apa paman Randalf? Apakah kita menabrak seekor kucing?" Tanya Jean yang masih mengigau.
"Nona, apakah kita salah jalan?" Tanya paman randalf yang melihat tembok baja tebal yang tampak sangat mencolok. Jean kemudian tersadar dan tampak kaget ketika melihat benteng pertahanan anti-nuklir yang menjulang tinggi.
'Sistem apakah ini bentengnya?'
'Ya tuan, tuan silahkan mengambil remote kontrol di dalam penyimpanan.' Jean kemudian mengeluarkan remote secara diam-diam.
"Paman ini memang rumah kita." Jawab Jean yang membuat Randalf dan yang lainnya kaget.
"Lalu kenapa bisa seperti ini?" Tanya Merril yang merasa sangat aneh.
"Tunggu saja di rumah, aku akan menjelaskan secara perlahan-lahan pada kalian semua." Jean berencana tidak akan memberi tahu mereka soal kiamat dan kemampuannya, tapi tembok itu membuat rencananya gagal. Jean kemudian menekan tombol pada remote dan membuat tembok itu mengeluarkan suara berderit yang menampakkan bagian dalam.
Sesampainya di dalam rumah Jean ingin secara langsung menjelaskan alasan dibalik keanehan yang sudah lama Merril dan Randalf rasakan.
"Sebelum aku bercerita, aku ingin kalian berjanji untuk tidak mengungkapkan ataupun menyebarkan apa yang selanjutnya akan aku katakan." Kata Jean yang menatap serius.
"Mungkin beberapa dari kalian tidak akan percaya apa yang akan aku katakan atau kalian akan menganggap aku gila, tapi kalian harus siap secara mental karena... " Jean masih tidak siap untuk memberitahu mereka tentang kiamat.
"Karena kiamat akan datang tidak lama lagi. " Lanjut Jean.
"Benarkah? Lalu apa yang akan terjadi? Apakah meteor akan menghantam bumi ataukah air laut naik hingga daratan hilang?" Ekspresi Merril tampak kompleks, begitu juga dengan Randalf dan yang lainnya.
"Tidak, kiamat yang aku maksud mungkin berkaitan dengan kebocoran sebuah laboratorium." Kata Jean yang menggeleng kepalanya.
"Apakah itu zombie?" Tanya Liam yang teringat dengan sebuah film yang mengkisahkan hal serupa.
"Ya itu benar." Kata Jean yang tampak tertekan. Wajah Liam kemudian tampak pucat.
"Lalu.. Apakah kita akan terpaksa bertarung dan membunuh zombie?" Tanya Liam sekali lagi.
"Mungkin iya atau mungkin tidak, kalian melihat sendiri bahwa aku telah memasang sebuah benteng yang mengelilingi rumahku jadi ada kemungkinan bahwa kita tidak perlu bertarung." Liam kemudian merasa aman.
"Liam apa itu zombie?" Linda tidak mengetahui sama sekali apa itu zombie, begitu juga Randalf, Merril dan Misael.
"Itu... Aku tahu zombie karena anak perempuan Tuan Gill pernah menonton sebuah film, jadi aku pernah menontonnya secara tidak sengaja." Liam kemudian menceritakan film tersebut yang ia ketahui. Linda juga tampak pucat setelah mengetahui apa itu zombie.
"Nona jika ini terjadi apakah manusia akan punah?" Tanya Merril yang tampak khawatir.
"Kalian tenang saja, manusia sendiri juga akan berevolusi. Lihatlah tanganku." Jean kemudian menunjukkan kekuatan petir nya yang terkumpul di telapak tangan.
"Apakah nona menjadi super hero?" Linda tampak kaget ketika melihat kilatan petir mini yang muncul di tangan Jean. Liam dan Misael tampak terkejut tapi kemudian mata mereka berbinar seolah mereka bertemu dengan idola mereka.
"Tidak juga karena akan banyak manusia yang akan memiliki kekuatan serupa seperti aku." Jawab Jean sambil tersenyum.
"Jadi bisakah aku nanti memiliki kekuatan yang serupa?" Tanya Misael yang tampak sangat menginginkan kekuatan.
"Sayangnya tidak semua manusia memiliki peluang seperti ini, kebanyakkan kekuatan dipicu secara tiba-tiba dan sangat jarang yang muncul karena keinginan." Misael kembali kecewa.
"Tapi tenang saja, aku akan berusaha melindungi kalian semua jadi jangan khawatir." Lanjut Jean yang membuat mereka tersentuh.
"Kakak bisakah kita terbang?" Tanya Liam yang merasa penasaran.
"Hei aku bukan burung! Jadi mana mungkin aku bisa terbang." Liam kemudian ikut kecewa, tapi matanya kembali bersinar.
"Jangan menatapku seperti itu Liam, kamu membuatku merinding." Jean merasa takut dengan khayalan Liam.
"Lalu apakah itu sebabnya nona meminta Tuan dan Nyonya Barker tinggal bersama kita?" Tanya Merril
"Ya, sebenarnya aku bukan orang yang suci jadi aku tidak membawa semua org untuk tinggal bersama kita, aku hanya membawa orang yang benar-benar dapat aku percaya. Tahukah kalian apa yang paling mengerikan ketika hari kiamat tiba?" Mereka menggelengkan kepala.
"Hal yang paling mengerikan adalah manusia itu sendiri. Pada hari kiamat semua aturan yang dibuat pemerintah tidak akan berlaku lagi, kalian tau bukan apa yang akan terjadi?" Mereka kemudian mengerti apa yang Jean maksud. Linda merasa sedikit tidak nyaman ketika dia ingin membawa orang tuanya tinggal bersamanya disini.
Tampaknya Jean menangkap emosi gelisah dari Linda, lalu berkata "aku tidak melarang kalian membawa orang yang kalian sayangi untuk berlindung di tempat ini juga, tapi ada satu hal yang akan aku tekankan. Aku tidak ingin suatu saat ada serigala bermata putih di rumahku."
Linda merasa kecewa untuk sesaat. Orang tuanya merupakan masyarakat tradisional yang masih menganut pemahaman bahwa wanita memiliki derajat lebih rendah dari laki-laki, walaupun demikian Linda masih tidak bisa mengabaikan orang tuanya. Linda tampak sedang berpikir keras.
"Aku akan memberi kalian kesempatan untuk memilih bersamaku atau kalian mencari cara untuk melindungi orang yang kalian sayangi. Aku tidak memaksa kalian untuk tinggal bersamaku." Jean merasa sedikit kesal ketika ia melihat ekspresi bimbang Linda. Jika Linda pergi maka dia tidak akan pernah memakan cemilan ringan buatan Linda lagi.
"Kakak tenang saja, aku akan tinggal bersama kakak Jean." Kata Liam
__ADS_1
"Aku juga! Lagipula kami berdua adalah yatim-piatu jadi tidak ada masalah." Lanjut Misael, Jean sudah tau bahwa Liam dan Misael pasti akan tinggal bersamanya.
"Aku dan Randalf sudah pasti menemanimu nona, lagipula sejak dirimu lahir kami sudah berjanji untuk menjagamu pada Tuan Dan Nyonya Barker." Jean merasa lega karena setidaknya Merril tidak akan pergi. Linda merasa sedikit bersalah ketika mendengar mereka memilih untuk tinggal.
"Linda bagaimana denganmu?" Jean berinisiatif bertanya pada Linda walaupun dia akhirnya tau Linda akan memilih untuk pergi.
"Maaf nona Jean. A.. Aku tidak bisa tinggal bersamamu." Linda merasa malu.
"Tidak apa. Lalu apa rencana mu selanjutnya?" Jean bertanya dengan hati-hati, tapi diam-diam dia merasa seperti telah membuang seratus kilogram berlian ke dasar laut.
"Mungkin aku akan tinggal bersama orang tuaku sampai hari itu tiba. Setidaknya aku tidak akan menyesal nanti" Linda pasrah terhadap nasibnya.
"Jika kamu merasa tidak mampu bertahan di sana maka datang saja kemari, kami akan menerimamu disini." Kata Jean yang membuat hati Linda terasa masam dan matanya berkabut karena terharu dengan kebaikan Jean.
"Baiklah." Linda menjawab dengan bergetar.
"Jaga dirimu baik-baik." Merril menepuk pundak Linda lalu memeluknya.
"Sebenarnya aku ada ide yang lebih baik, tapi aku tidak tau apakah Linda akan menerima ide ku." Kata Jean yang membuat Linda berhenti bersedih.
"Aku mengusulkan linda untuk menyewa rumah di sekitar sini selama sebulan." Lanjut Jean.
"Tapi perumahan disekitar sini sangat mahal biaya sewanya." Kata Merril yang membuat Linda kembali merasa putus asa. Perumahan di area sekitar, merupakan rumah kelas atas yang biaya sewanya per bulan mungkin setara dengan gaji Linda selama setahun.
"Aku bisa meminjamkan uang sementara untuk Linda. Lagipula nanti orang-orang akan meninggalkan barang-barang mereka termasuk rumah dan juga pada akhir zaman nanti uang ataupun logam berharga tidak akan ada nilainya nanti." Jean menjelaskan hal tersebut supaya Linda tidak merasa tertekan dengan uang yang akan Jean keluarkan hanya untuk dirinya.
"Lalu bagaimana aku akan membayar kebaikan nona nanti? Aku merasa tidak nyaman." Linda masih merasa tertekan dan untuk pertama kalinya dia merasa dirinya adalah orang yang tidak tahu berterimakasih.
"Tentu saja membayarnya dengan membuatkan ku cemilan setiap hari!" Kata Jean dengan nada bercanda.
"Apakah itu cukup?" Linda sedikit tidak yakin.
"Kalau begitu aku akan memintamu membuatkan ku cemilan setiap hari seumur hidup." Setelah itu Linda bertekad untuk membuat dan mencari cemilan yang sesuai dengan selera Jean.
Jean sedang duduk bersantai dan mulai merasa bosan, dia kemudian berencana mengganggu sistem yang pendiam, dia sedikit tidak tahan ketika melihat sistem yang kaku seperti robot.
"Sistem apakah sekarang aku hanya tinggal menunggu dunia ini runtuh?" Jean bertanya dengan nada kesal.
'Tuan, dunia ini tidak akan runtuh' sistem mengingatkan Jean.
"Lalu kiamat yang akan datang akan disebut apa? Pemusnahan massal?" Jean bertanya dengan geram.
'Tidak, bisa dikatakan itu adalah awal dari proses evolusi manusia. Manusia yang lemah secara bertahap akan hilang dan digantikan oleh generasi manusia yang kuat. '
"Itu sangat kejam!" Jean mencibir.
'Aku rasa ini masih sedikit manusiawi dibandingkan bumi dihantam oleh meteor untuk membuat bumi berevolusi secara perlahan' Bantah sistem.
"Bisakah kita menyingkirkan plot novel yang tidak masuk akal ini?" Jean masih merasa tidak aman.
'Pada akhirnya Tuan hanya memikirkan diri sendiri' Kata sistem yang membuat Jean tersedak biskuit karena marah.
"Aku baik-baik saja, beri aku air" Jean ingin mengambil air di meja tapi gelas tersebut telah kosong.
"Biar aku saja." Kata Liam yang tiba-tiba muncul.
"Tidak! Aku saja yang mengambil air!" Misael menolak untuk mengalah, mereka kemudian berdebat secara terus menerus dan lupa bahwa Jean masih tersedak.
"Cepatlah! Apakah kalian ingin melihat kakakmu mati, uhuk..." Jean berteriak, mereka kemudian sadar lalu berlarian menuju dapur untuk berlomba siapa yang mendapatkan air terlebih dahulu. Sebelum mereka berkelahi lagi, Jean langsung merebut kedua gelas dari tangan Misael dan Liam.
"Apakah terlambat untuk menyesal?" Tanya Jean pada dirinya sendiri.
Sistem: ........
"Kakak apakah airnya sudah kurang jika ia maka... " Sebelum Misael melanjutkan Jean langsung memotong "tidak! Tidak! Kakak sudah baikan." Jean sakit kepala ketika Misael dan Liam berulah.
"Nona, aku sudah mendapatkan informasi mengenai rumah yang akan disewa." Randalf tiba-tiba datang dan berbicara.
"Paman kamu memang penyelamat ku!" Jean langsung bergegas pergi meninggalkan Liam dan Misael.
"Jadi bagaimana?" Tanya Jean
"Linda cukup beruntung karena rumah yang terletak di sebelah kiri akan disewakan oleh pemiliknya." Kata Randalf lalu kemudian menjelaskan persyaratan sewa.
"Baiklah sewa saja rumah itu, soal biaya aku tidak terlalu memikirkannya." Dengan begini Jean tidak akan khawatir kehilangan koki favoritnya, lagipula Linda telah bersedia menjadi koki seumur hidup jadi Jean merasa tidak terlalu rugi.
"Besok kita akan bertemu dengan pemilik rumah sebelah, sekalian untuk melihat kondisi rumah tersebut." Kata Randalf lalu kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Kakak! Kenapa kamu meninggalkan kami?" Tanya Liam dan Misael secara serentak.
"Berhenti! Jika kalian terus menggangguku maka kalian tidak diperbolehkan memanggilku kakak lagi." Ancam Jean yang membuat keduanya terdiam.
"Jean jangan terlalu keras pada mereka, mereka masih anak-anak." Kata Merril yang menasehati Jean.
"Tapi.. " Jean ingin menjelaskan namun Merril memotong terlebih dahulu.
"Tidak baik bertengkar dengan anak yang masih di bawah umur." Merril merasa kasihan dengan Liam dan Misael, dia harus mengajari Jean bagaimana merawat anak-anak jika tidak, maka pernikahannya hanya seumur jagung.
Mulut Jean berkedut ketika melihat wajah Liam dan Misael yang berakting seperti telah dianiaya olehnya.
"Ugh.. Baiklah. " Jean hanya bisa menyerah.
'Sistem lihatlah bagaimana liciknya kedua rubah itu' Jean diam-diam mengeluh pada sistem.
'Terima saja nasibmu, lagipula aku melihat mereka memang tidak bersalah.'
'Apakah kamu buta? Lihat bagaimana mereka menggertak aku!' Jean semakin kesal dengan sistem.
'Siapa yang meminta mereka memanggilmu kakak?'
'Aku' Jawab Jean dengan jujur.
__ADS_1
'Jadi mereka tidak salah' Sistem membuat kesimpulan.
'Dimana otakmu! Lihatlah mereka jelas salah!' Jean semakin tidak mengerti dengan sistem.
'Aku tidak memiliki otak' Kata sistem dengan datar.
Jean: .......
Jean kemudian berhenti berdebat dengan sistem kemudian lanjut mengunyah camilan favoritnya. Merril tiba-tiba memikirkan persediaan yang dibeli oleh Jean terlalu sedikit, ia kemudian mendatangi Jean.
"Nona tidakkah persediaan kita terlalu sedikit?" Jean kemudian menoleh dan melihat Merril yang tampaknya agak panik.
"Tenang saja bibi Merril aku sudah mempersiapkan semuanya." Kata Jean yang masih menguyah dengan santai.
"Jika kiamat tiba apakah masih ada pakaian dan kebutuhan lainnya?" Tanya Merril yang sedikit tertekan melihat perilaku Jean yang masih santai.
"Tunggu aku akan mengeceknya." Jean teringat bahwa dia belum memeriksa harga kebutuhan yang belum dijual sistem, ia kemudian kembali ke kamar dan mengunci pintu lalu memasuki ruang. Meskipun dia telah memberitahu tentang kiamat tapi dia tidak memberitahu mengenai kemampuan kedua miliknya karena dia telah diperingati untuk tidak membocorkan rahasia ruang sampai kiamat tiba.
"Sistem tunjukkan toko, aku akan memeriksa harga." Sistem kemudian menampilkan layar dimana setiap barang dengan rapi dikategorikan.
"Apakah kamu merampokku! Kenapa harga kemampuan sangat mahal!" Jean terkejut ketika memeriksa harga untuk membeli dan menaikkan level kemampuan. Untuk menaikkan level pertama Jean membutuhkan kristal putih sebanyak 10 tapi untuk menaikkan level selanjutnya angka 0 akan bertambah setidaknya satu.
Level 1 \= 10 kristal putih
Level 2 \= 100 kristal putih
Level 3 \= 1000 kristal putih
Level 4 \= 10 kristal kuning
Level 5 \= 100 kristal kuning
Level 6 \= 10 kristal hijau
Level 7 \= 100 kristal hijau
Level 8 \= 1000 kristal hijau
Level 9 \= 10 kristal merah
Level 10 \= 100 kristal merah
....
"Aku rasa aku sudah sangat bermurah hati, lagipula tugasmu sangat mudah. Tidak perlu membunuh zombie, hanya menjual persediaan maka kamu sudah mendapat kristal. Apakah itu kurang murah hati?"
"Tapi butuh berapa lama untuk mengumpulkan inti kristal hanya untuk menaikkan 1 kemampuan saja." Jean masih memprotes.
"Jika ingin cepat mendapatkan kristal tinggal membunuh dan membantai zombie saja. " Kata sistem yang tidak menerima keluhan Jean.
"Lihatlah harga untuk satu bola lampu saja 50 kristal putih. Dimana hati nurani mu!" Jean kembali mengeluh, dia kemudian dikeluarkan paksa oleh sistem yang tidak tahan dengan keluhan Jean.
"Hei! Apakah begini kamu memperlakukan tuan mu!" Sistem seolah tuli dan tidak menjawab Jean. Jean keluar dari kamar dan kembali mengunyah cemilannya dengan wajah kesal.
"Nona apakah persediaannya tidak banyak?" Merril bertanya lagi.
"Tenang saja, persediaan kita akan cukup bahkan sampai aku mati." Jean menjawab dengan mood yang buruk sehingga Merril dengan gelisah menemui Randalf.
"Randalf, aku khawatir jika persediaan kita tidak akan cukup." Kata Merril.
"Berapa banyak tabunganmu?" Randalf bertanya.
"Mungkin sekitar 10.000 dolar. Apakah kamu ingin membeli persediaan juga? Jika iya aku akan memberi semua tabungan milikku."
"Aku memiliki sekitar 20.000 dolar, apakah ini masih cukup?" Randalf mengeluarkan buku tabungan miliknya.
"Aku rasa ini sudah cukup, mari kita beli persediaan." Randalf dan Merril bersiap untuk pergi, Jean kemudian menghampiri Merril.
"Apakah kalian berdua akan kencan?" Tanya Jean.
"Nona kami tidak berkencan tapi kami ingin pergi membeli persediaan." Kata Merril dengan wajah memerah.
"Ah.. Aku tau, aku tau, pergilah dan hati-hati di jalan." Jean masih berpikir bahwa Randalf dan Merril sedang berkencan karena keduanya sama-sama lajang dan belum menikah sama sekali, dan seingat Jean dalam novel disebutkan bahwa Randalf mengaku bahwa dia menyukai Merril tepat sebelum kematian mereka.
"Kakak kemana paman Randalf dan bibi Merril pergi?" Liam bertanya.
"Mereka ingin berkencan." Jawab Jean.
"Bisakah aku ikut?" Tanya Liam sekali lagi.
"Tidak mungkin! Apakah kamu ingin mengganggu kencan mereka? Biarkan saja mereka berduaan terlebih dahulu." Jean langsung menolak.
"Memangnya apa itu kencan?" Liam masih tidak mengerti apa itu kencan.
"Kencan adalah dimana kamu sedang menghabiskan waktu bersama kekasihmu. Apakah kamu mengerti?" Jean menjelaskan.
"Aku mengerti, aku pernah melihat anak paman Gill berkencan. Apakah mereka akan melakukan itu diam-diam?" Tanya Lima sekali lagi.
"Melakukan apa?" Jean merasa tidak jelas dengan pertanyaan Liam.
"Melakukan itu.. " Suara Liam tampak ambigu sehingga pikiran Jean berkeliaran.
"Dasar kau bocah c*bul!" Jean sekali lagi mengoceh dan mulai menjelaskan apa yang seharusnya boleh dikatakan dan apa yang tidak oleh anak-anak.
"Kakak maksudku apakah mereka makan malam bersama. Lihatlah siapa yang c*bul sebenarnya?" Liam menjelaskan. Matanya tampak polos sehingga Jean tidak mengetahui pikiran licik Liam yang sebenarnya sedang mengerjai dia.
"Baiklah.. Pergi bermain sana!" Jean merasa kesal dengan Liam.
"aku merasa seperti sedang dibodohi oleh seorang bocah'' Keluh Jean.
'Kau memang dibodohi' Sistem ingin berkata demikian tapi dia tetap diam agar tidak berdebat dengan Jean lagi.
__ADS_1