
Perjalanan pulang Jean terasa lebih lancar daripada keberangkatan, dia tidak menemukan zombie dengan kemampuan yang terlalu merepotkan, Jean juga merasa perjalanan kali ini bermanfaat karena telah membuatnya banyak bertemu dengan orang-orang baru.
Sekelompok siswa SMA yang berada di belakang mengikuti mobil Jean saat ini sedang berdebat, mereka memperdebatkan ke mana mereka harus pergi setelah berpisah dengan Jean.
"Bisakah kita mengikuti John saja? Aku ingin makan dan tidur sepuasnya tanpa perlu bertarung dengan mayat hidup?" Edwin mengungkapkan keinginannya untuk bermalas-malasan.
"Ya Edwin benar, aku bahkan tidak semangat untuk kembali." Nara menyetujui ucapan Edwin.
"Lalu bisakah kita menghentikan John kembali? Ataukah kita perlu merencanakan sesuatu untuk menahan John?" Ide buruk terlintas di kepala Wenda.
"Apakah kamu ingin mati?" Anthony melototi Wenda yang menyarankan ide yang terdengar jahat.
"Lalu kita harus bagaimana selanjutnya?" Edwin kembali membingungkan mereka.
"Kita tidak bisa bergantung pada John, lagipula apakah John mau membawa kita?" Davin langsung menolak semua ide temannya, keempat temannya langsung merasa kecewa.
"Davin benar, kita harus mandiri dan tidak bergantung pada John," Meskipun terdengar sulit, Anthony menyetujui ucapan Davin.
Jean yang berada di depan tidak menyadari pergolakan batin di sekelompok anak SMA tersebut.
Rombongan mobil off-road berwarna hitam yang berjumlah 5 mobil menyusul dan mendahului mobil Jean sehingga membuat Raes sedikit tersinggung karena dia menganggap pemilik mobil tersebut sengaja memprovokasi mereka.
"Bos apakah perlu kita mengejar mobil tersebut?" Raes bertanya pada Jean.
"Tidak perlu, jika dia ingin mendahului kita maka biarkan saja," Jean sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut, dia memiliki prinsip bahwa dia tidak akan menggangu orang tersebut jika orang itu tidak mengusik dirinya.
Jean tidak tahu bahwa dia akan bertemu kembali dengan rombongan mobil yang mendahului mereka.
"Mayor kita sebentar lagi sampai basis penampungan kota J."
Seorang wanita yang mengenakan seragam tentara membuka matanya, dia adalah Sarah Potter yang merupakan kakak perempuan Lane. Dia berkunjung atas perintah ayahnya untuk membangun aliansi basis penampungan yang secara resmi dipimpin oleh Presiden.
Joe yang sedang menjaga gerbang khusus terkejut ketika melihat mobil yang dikenalnya, para penjaga gerbang khusus termasuk Joe kemudian berbaris rapi dan memberi hormat.
Wanita berambut coklat yang memiliki wajah tegas keluar, matanya menyipit tajam ke arah petugas gerbang khusus dan berkata, "Tampaknya kalian telah mundur terlalu banyak semenjak bencana."
Petugas gerbang gemetar ketika mendengar ucapan Sarah. Sarah tidak hanya terkenal karena merupakan anak dari Jendral Besar tetapi juga terkenal akibat pelatihan yang terlalu ketat pada bawahannya termasuk Kapten Lane yang juga dilatih secara langsung oleh Sarah.
"Joe pertemukan aku dengan Lane," Perintah Sarah yang mengenal Joe sebagai bawahan kepercayaan Lane. Joe membawa rombongan Sarah menuju kantor Lane.
"Kakak??" Lane terkejut ketika Joe datang membawa Sarah.
"Lane bagaimana kabarmu?" Sarah langsung memeluk Lane dan menghilangkan ketegasan yang barusan dia tunjukkan pada bawahan Lane.
"Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu kakak? Apakah ayah dan ibu baik-baik saja?" Lane mempersilakan Sarah duduk di sofa.
"Tentu saja aku dan mereka baik-baik saja, ibu justru semakin tergila-gila dengan penelitiannya semenjak virus menyebar, sedangkan ayah sendiri semakin sibuk mengurus ketersediaan pangan di ibu kota," Suara Sarah terdengar mengeluh.
"Ngomong-ngomong kenapa kakak tiba-tiba mengunjungi ku?"
"Tentu saja aku berkunjung atas perintah ayah, aku sendiri sangat sibuk mengurus salah satu basis yang tidak jauh dari ibu kota jadi tidak mungkin aku kemari hanya sekedar merindukanmu. Ayah meminta basis penampungan milikmu mengikuti aliansi yang berada di bawah komando presiden, kamu tidak bisa menolaknya," Jawab Sarah.
__ADS_1
"Aku tahu ini akan terjadi cepat atau lambat, kalau bisa aku ingin menyerahkan kepemimpinan basis ini pada Adam atau pada orang lain yang lebih memiliki waktu luang," Lane tidak menolak perintah yang diberikan ayahnya.
"Apakah Adam masih hidup? Kupikir dia telah mati karena sempat menolak memasuki akademi militer," Suara Sarah sedikit menyindir Adam.
"Tidak baik mengatakan hal buruk pada seseorang yang masih hidup," Adam memasuki kantor Lane dan bergabung dengan keduanya.
"Bocah keras kepala, sudah aku katakan dari awal bahwa memasuki militer lebih baik daripada mengurus tumpukan kertas dan lihatlah sekarang, uangmu justru dapat menggantikan tisu toilet," Sarah langsung mengomentari Adam.
"Lihatlah aku sekarang, aku masih kaya dengan basis penampungan yang yang menempati hotel milikku, jadi tidak salah jika aku memilih jalur bisnis," Adam sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Sarah.
"Kalau begitu ayo kita bertarung, aku ingin melihat sejauh mana kemampuan bertarung mu mundur," Ajak Sarah pada Adam.
"Kakak, apakah kamu belum membangkitkan kemampuan?" Lane menyela candaan Sarah.
"Apakah maksudmu ini?" Sarah langsung menunjukkan kemampuan miliknya dengan menyalakan api yang berwarna merah keemasan.
"Sangat cocok dengan kepribadian kakak," Komentar Lane.
"Jadi apakah kamu memiliki kemampuan es karena selalu dingin terhadap orang asing?" Sarah awalnya bertanya hanya karena bercanda tetapi dia kemudian terkejut karena Lane mengangguk.
"Tampaknya kemampuan kita terlahir sesuai dengan kepribadian masing-masing, lalu bagaimana denganmu?" Sarah bertanya pada Adam.
"Aku? Aku pikir kemampuan tidak selalu sesuai dengan sifat pemiliknya," Adam juga memamerkan api hitam miliknya di tangan dan membakar separuh kertas yang ada di meja seolah dipotong oleh gunting.
"Aku pikir itu sesuai karena orang lain melihat sifat mu suram dan licik, tetapi kenapa aku merasa kemampuan milikmu lebih baik dariku??" Sarah memandang kertas yang terpotong rapi.
"Tentu saja kontrol kemampuan miliknya lebih baik, lagipula Adam telah menyentuh level 5," Lane menjawab keraguan Sarah.
"Benarkah? Bocah sialan ini berani-beraninya mendahului aku, kalau begitu ayo kita bertarung, aku ingin mengetahui betapa hebatnya kemampuan milikmu."
"Jangan remehkan aku, meskipun aku masih berada di level 4 tetapi aku lebih berpengalaman dalam bertarung jadi ada kemungkinan Adam kalah dalam pertarungan antara aku dan Adam," Ucap Sarah.
Lane menggelengkan kepalanya ketika mendengar ucapan Sarah, dia tidak bisa menghalang keinginan kakaknya bertarung.
Sarah dan Adam kemudian saling berhadapan di sebuah lahan kosong yang sengaja Lane sisa sebagai tempat pelatihan tentara, para pengungsi juga bergegas menonton pertunjukan pertarungan antara Adam dengan seorang wanita yang mereka tidak kenal.
"Hei apakah kalian mengenal wanita yang mengenakan seragam tentara itu? Aku mendengar bahwa wanita itu baru saja tiba setengah jam yang lalu," Seorang pengungsi pria bertanya pada pengungsi yang berada di sebelahnya.
"Aku juga tidak tahu, tetapi dilihat dari lambang yang dia kenakan tampaknya dia memiliki pangkat yang lebih tinggi dibandingkan Kapten Lane," Pengungsi di sebelahnya memberitahu.
"Ah? Jadi apakah ini pertarungan untuk merebut basis penampungan?"
Lane tidak tahu bahwa pertarungan yang diminta Sarah akan membuat para pengungsi khawatir dengan kepindahan posisi pemimpin basis. Lane hanya memerintahkan bawahannya untuk menjaga batas para pengungsi yang ingin menonton pertarungan.
"Lane apakah sesuatu yang buruk terjadi? Emma yang menerobos kerumunan akhirnya berhasil menemui Lane yang berada di pinggiran pembatas lapangan.
"Jangan khawatir wanita itu adalah kakakku Sarah, dia hanya ingin mencoba bertarung dengan Adam, aku akan mengenalkan dirimu nanti dengan kakakku jadi bergabunglah dengan pengungsi lainnya dengan patuh," Lane menjelaskan maksud dari pertarungan yang ia adakan.
"Oh, kupikir kamu tidak memiliki saudara kandung," Emma sedikit terkejut mendengar wanita yang tampak galak tersebut adalah saudara Lane.
Para wanita berteriak menyerukan nama Adam ketika melihat Adam hanya mengenakan kaos putih polos yang menampakkan otot perut miliknya sehingga membuat Adam selalu mengerutkan keningnya ketika mendengar teriakan yang dilontarkan para wanita.
__ADS_1
"Jadi kamu sengaja berpakaian seperti itu untuk membangkitkan semangat?" Sarah memandang Adam dengan tatapan geli ketika melihat perilaku wanita yang terus meneriakkan nama Adam.
"Ayo kita bertarung," Adam tidak menjawab pertanyaan Sarah dan memilih memfokuskan dirinya untuk bertarung.
Jean di sisi lain terkejut melihat basis penampungan yang terlihat sepi dari gerbang, bahkan gerbang khusus saat ini hanya dijaga oleh beberapa bawahan Lane yang ia tidak ia kenal.
"Tuan John," Salah satu bawahan Lane menyapa Jean yang turun dari mobil.
"Apakah terjadi sesuatu di basis? Kenapa terlihat begitu sepi?" Tanya Jean pada tentara itu.
"Itu, saudaranya Lane datang berkunjung dan mengajak Tuan Adam bertarung di lapangan kosong yang ada di bagian dalam," Tentara itu menjawab.
"Oh, aku kira terjadi sesuatu yang membahayakan," Jean merasa lega lalu memberitahu Raes dan yang lainnya untuk masuk melalui gerbang khusus.
"Bos bukankah ini mobil yang mendahului kita tadi?" Raes mengenali salah satu mobil yang diparkir di parkiran khusus.
"Ya, tampaknya itu memang mereka," Jean merasa mereka memang ditakdirkan bertemu kembali dengan sang pemilik mobil.
"Oh ya bisakah aku merepotkan kalian untuk mendaftarkan temanku masuk ke dalam basis? Mereka ingin menetap di sini," Jean meminta bantuan tentara untuk memasukkan Raul, Abby beserta anaknya dan Rollad bersama istrinya ke dalam basis.
"Tuan John, kamu juga ingin memasuki basis," Davin mengungkapkan keinginan sahabatnya.
"Ah aku hampir melupakan kalian, kupikir kalian akan kembali ke tempat kalian semula," Jawab Jean.
"Bagaimana mungkin kami berani, kami tidak memiliki kemampuan sama sekali," Kelima siswa SMA memandang Jean dengan tatapan menyedihkan seolah tidak ingin berpisah dari induknya.
"Kenapa kalian tidak bilang dari awal? Kalau begitu pakai ini untuk membangkitkan kemampuan kalian sekarang," Jean menyerahkan kantong yang berisi inti kristal putih pada kelima anak SMA tersebut.
Jean tidak pelit membagikan inti kristal pada kelima anak SMA itu, bahkan dia sebenarnya sedikit kasihan setelah mengetahui kelima anak SMA tersebut dijadikan budak oleh Olivia.
"Benarkah? Terima kasih tuan John," Edwin yang tidak mengetahui pemikiran Jean dengan cepat mengambil kantong tersebut lalu berkumpul bersama temannya untuk mencoba menyerap inti kristal.
Anthony membangkitkan kemampuan tanah, Nara membangkitkan kemampuan udara, Wenda membangkitkan kemampuan tanaman, dan Davin membangkitkan kemampuan logam, sedangkan Edwin justru kebingungan karena dia tidak dapat memunculkan apa-apa setelah mengambil sisa kristal yang tersisa.
"Kenapa aku tidak mendapatkan kemampuan?" Edwin terlihat kecewa. Jean justru kebingungan karena melihat sekelompok anak SMA tersebut keempatnya mendapatkan kemampuan.
'Tuan inti kristal yang disimpan dalam ruang sistem memiliki kenaikan presentase untuk membangkitkan kemampuan sebanyak 20%' ucap sistem.
'Kenapa tidak memberitahu lebih awal?' Jean terkejut mendengar kenaikan presentase tersebut.
"Kurasa ada bagusnya Edwin tidak memiliki kemampuan, bukankan kah dia terlalu penakut jika bertemu dengan zombie?" Ucap Nara.
"Kamu benar Nara jadi lebih baik Edwin diam saja di rumah," Balas Davin, Edwin pun berhenti kecewa karena dia memang tidak ingin berhadapan dengan zombie.
Halo para reader 👋
setelah sekian lama saya akhirnya update, maaf karena saya mendadak hiatus. Hal ini dikarenakan saya sempat kehilangan motivasi menulis dan mengalami stress akibat tugas akhir kuliah saya.
Saya tidak akan sering melakukan update atau malah cerita ini akan drop karena saya pikir tulisan saya di novel ini masih kurang, saya tidak puas dengan tulisan saya di cerita ini.
Tapi...
__ADS_1
Beberapa penggemar saya di aplikasi oren masih berharap saya melanjutkan cerita ini. Saya pikir saya harus berusaha melanjutkan cerita ini meskipun saya akan jarang update ke depannya.
Jadi saya tidak akan sering melakukan update karena harapan saya terhadap tulisan di novel ini hampir hilang. Mohon pengertiannya 🙏