
Jean turun dari mobil dan diikuti Merril.
"Panggil bibi Lauren dan katakan bahwa aku sudah tiba." kata Jean pada para pelayan terdekat yang sedang membersihkan taman di depan mansion, pelayan tersebut menuju mansion dan kembali dengan seorang wanita paruh baya di depannya.
"Jean sayang, apa kabarmu? Kenapa kamu datang begitu pagi" Lauren tersenyum tapi matanya terlihat kesal ketika melihat Jean yang mengganggu waktu sarapannya, Jean tau itu.
"Yah aku kebetulan ada urusan di pusat kota jadi sekalian saja aku mampir untuk sarapan disini," jawab Jean asal, Lauren tampak kesal dengan jawaban Jean.
"Masuklah, nenek dan kakek mu menunggu di ruang makan" Lauren menahan amarahnya dan berjalan tergesa-gesa, meninggalkan Jean di belakang.
Sesampainya di ruang makan, Jean disambut oleh berbagai jenis makanan yang membuat Jean hampir meneteskan air liurnya.
'Tuan seperti tidak pernah makan selama sebulan.' Sistem sedikit jijik ketika Jean menyeka air liurnya.
'Salah, aku sudah tidak makan makanan yang enak lebih dari 3 tahun. Terakhir kali aku makan makanan enak ketika kelulusanku.'
Sistem : .....
Sistem tidak menyangka tuannya sangatlah miskin di kehidupan sebelumnya.
"Jean cucuku, kemari lah dan duduk di samping nenek," seorang wanita yang sudah memutih rambutnya tersenyum dan menunjukkan kursi kosong yang memang sengaja dipersiapkan untuknya.
"Nenek!" Panggil Jean lalu berpura-pura akrab dengan memeluk wanita tua itu.
"Apakah cucuku sudah melupakanku?" seorang lelaki tua muncul dan duduk di kursi kepala keluarga.
"Kakek, apa kabar?" Jean memeluk kakeknya dengan manja.
"Kakek baik-baik saja." kata kakek Jean sambil mengelus kepala Jean dengan lembut.
"Lihatlah betapa manjanya anak Ivanna, kurasa memang keputusan yang tepat untuk membiarkan Ethan mengurus perusahaan mereka." Komentar Lauren dengan nada yang tidak menyenangkan.
"Lauren!!" Bentak nenek Jean.
"Nenek, tenanglah" Jean berusaha membuat neneknya kembali tenang.
"Bu hentikan, kau membuatku jijik" kata Ethan yang ikut kesal karena ibunya. Ethan adalah anak bibi Lauren, namun sikapnya malah berbanding terbalik dari sifat ibu dan ayahnya.
"Apakah kamu membela anak manja ini juga?!" Lauren tidak senang ketika mendengar ucapan Ethan.
"Kamu berani menyebut cucuku manja?! Lalu apa denganmu? Kamu sendiri hanya berbaring dan menghabiskan uang begitu saja!" Nenek Jean mulai memarahi Lauren. Jean sudah terbiasa melihat pertengkaran jika ia datang ke rumah utama.
Lauren adalah Adik ayahnya Jean, Harris Barker. Lauren sedari kecil sangat akrab dengan Harris, bahkan Lauren sangat dimanja oleh Harris, namun Lauren tiba-tiba berubah ketika Harris mengenalkan Ibunya Jean, yaitu Ivanna. Semenjak itu Lauren mulai memusuhi ibunya Jean.
'Apakah ini seri cerita brocon sebelum cerita kiamat?' Pikir Jean. Mulut Jean berkedut ketika ia mencari kenangan pemilik asli soal Lauren.
"Ada apa Jean? Jangan dengarkan omong kosong Lauren," Nenek Jean sedikit khawatir ketika melihat Jean melamun. Jean kemudian menggelengkan kepalanya lalu mulai berpikir tentang menyerahkan urusan perusahaan pada Ethan.
__ADS_1
Perusahaan ayah Jean Mendominasi Di kota J, Jean mulai berpikir untuk menyerahkan perusahaan tersebut pada Ethan karena dia tidak mau mengurus perusahaan yang tidak lama lagi akan terbengkalai karena akhir zaman yang akan dimulai dalam waktu 28 hari lagi.
"Ethan aku percaya kamu bisa mengelola perusahaan ayahku." kata Jean yang membuat kakek dan neneknya terkejut.
"Jean apa maksudmu? Kau tidak ingin mengelola perusahaan ayahmu sendiri?" Tanya nenek Jean.
"Jean pikirkan baik-baik" kata kakek Jean yang khawatir.
"Tidak apa, kakek dan nenek cukup memberikan aku sedikit saham perusahaan ayah." Jean tidak peduli untuk mengurus perusahaan karena pada akhirnya uang tidak akan berguna pada akhir zaman, lagi pula akan ada kepanikan besar yang nantinya membuat ekonomi bergejolak dan perlahan anjlok, jadi Jean tidak mau terlibat.
"Jean apakah ini baik-baik saja?" Ethan masih tampak ragu, sedangkan Lauren dan suaminya Marvin Dawson tersenyum sedari tadi, nenek Jean yang melihat itu terlihat sangat jelek.
"Baiklah, setelah ini jangan menyesal" kata kakek Jean dengan pasrah.
'Maafkan aku Ethan' Jean menatap Ethan yang tampaknya kebingungan ketika mendengar Jean melepaskan perusahaan ayahnya begitu saja.
'Tuan sangat tidak bertanggungjawab, ingin menjadi kaya tapi tidak ingin bekerja.' Sistem mencibir.
'Lagipula siapa yang ingin mengurus perusahaan yang sebentar lagi tidak berguna?'
"Kakek nenek aku punya permintaan, aku harap kalian tidak menolaknya," kata Jean dengan serius.
"Apa yang ingin cucuku minta pasti aku akan mengabulkannya, selama hal tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil." kata kakek Jean.
"Aku ingin kakek dan nenek tinggal bersamaku." kata Jean yang membuat Lauren kembali tidak senang.
"Hentikan!!" Balas nenek Jean.
"Jean hanya meminta aku dan ayahmu ikut dengannya, bukan berarti meminta perusahaan ayahmu!" lanjut nenek Jean. Nenek Jean cukup senang jika seandainya Jean berusaha mendapatkan perusahaan kakeknya.
"Kamu tidak adil bu pada keluargaku, kamu selalu saja memberi hal-hal yang baik pada kakak!" kata Lauren.
"Bagaimana aku tidak adil?! Aku sudah memberikan perusahaan untuk suamimu kelola tapi apa?! Dia bahkan tidak becus mengelola perusahaan tersebut dan selalu berjudi, menghabiskan uang perusahaan!" Lauren akhirnya terdiam dan tidak bisa membalas, sedangkan suaminya Marvin terlihat malu karena nenek Jean kembali menyebutkan masalah tersebut.
"Ya, aku dan ibumu akan tinggal bersama Jean." Lanjut kakek Jean.
"Lalu bagaimana dengan perusahaan ayah?" Lauren bertanya sambil mengepalkan tangannya dengan erat.
"Itu urusan nanti! Lagipula aku tidak akan mati dalam waktu dekat" Kakek Jean akhirnya kesal dengan Lauren.
"Hmmphh! Kalian semua berkomplot melawanku! Kamu juga Ethan!" Lauren menunjuk ke arah Ethan lalu meninggalkan ruang makan bersama suaminya Marvin yang sedari tadi diam.
"Aku akan pergi sehabis sarapan, kakek dan nenek tunggu aku, aku akan menjemput kalian dalam waktu 2 minggu" Kata Jean yang akhirnya memecahkan suasana canggung akibat bibinya. Jean ingin membawa Ethan bersamanya tapi Lauren tidak mungkin membiarkan Ethan ikut, jadi dia hanya bisa berharap Ethan selamat saat hari itu tiba.
Setelah sarapan di rumah utama, Jean pamit dan berangkat pergi menuju kota N. Sepanjang jalan Jean sering melamun, memikirkan bagaimana dunia akan dipenuhi zombie.
"Nona, apakah nona baik-baik saja? Apakah Lauren menggertak mu lagi?" Tanya Randalf yang sedari tadi melihat Jean yang tampak linglung.
__ADS_1
"Ya, aku tidak apa-apa. Lauren tidak akan pernah mampu menggertak ku," Jean kembali sadar dari lamunannya dan kemudian memutuskan menyelamatkan orang terdekatnya sebisa mungkin. Randalf dan Merril tidak percaya pada ucapan Jean, apalagi mereka juga mendengar perkelahian di rumah utama.
"Nona, jika seseorang menggertak mu katakan saja, kami akan berusaha membantumu." Kata Merril.
"Ya, aku akan."
Jean sampai di kota N ketika matahari tepat berada di atas kepalanya.
"Nona mari kita pergi makan siang di restoran terlebih dahulu." kata Randalf. Jean kemudian makan siang di sebuah restoran mewah dan memesan banyak makanan.
"Nona bukankah ini terlalu banyak?" Pikir Merril.
"Tidak juga" Jean berpikir saat akhir dunia tiba, tidak akan ada makanan semewah ini jadi dia memutuskan untuk makan sepuasnya. Saat Jean makan, rombongan empat orang berseragam tentara datang memesan makanan dan duduk tidak jauh dari Jean.
"Jendral mari kita bersulang!"
"Ya mari kita bersulang!" Mereka berempat serempak bersulang.
"Jendral Lane kudengar kau akan pindah tugas ke kota sebelah, saat di sana carilah seorang istri yang cantik, lihatlah sudah berapa umurmu saat ini," kata seorang pemuda yang tampak ceroboh.
"Aku tidak ingin terburu-buru." kata pria itu dengan suara dalam, wanita mana pun pasti akan merasa bahwa lelaki itu sangat mempesona. Jika Jane melihat pria itu, dia akan menyadari bahwa itu adalah protagonis pria! Orang yang akan membunuhnya di masa depan jika mengikuti plot novel! Sayangnya Jean tidak menyadari protagonis pria berada di di dekatnya dan sibuk menghabiskan makanannya.
"Nona, makanlah perlahan," bibi merlin takut jika Jean tersedak saat makan.
"Bibi dan paman makanlah, jangan sungkan," kata Jean sambil menyeka mulutnya yang berminyak karena makanan. walaupun begitu kecantikan Jean tidak memudar, dengan pipinya yang mengembung justru memberikan kesan imut.
"Tidak, aku sudah kenyang nona." kata Randalf yang sudah menyerah.
"Baiklah, tunggu aku selesai makan." Jean dengan cepat menghabiskan makanannya dan setelah itu bersiap untuk membayar tagihan.
"Brigjen Lane lihat, aku melihat seorang wanita yang cantik." kata pria yang tampak ceroboh tadi, dia menunjuk ke arah Jane yang sedang membayar tagihan.
"Brother Jaden aku juga melihatnya, dia memang sangat cantik tapi dia terlalu kurus, aku takut dia tidak akan mampu mengimbangi Brigjen Lane saat malam pertama." canda pria yang lain, mereka kemudian tertawa mendengarnya kecuali Lane yang sedari tadi makan dengan serius dan mengabaikan sahabat dan bawahannya yang ribut.
"Diam lah, kalian tidak sopan pada seorang wanita, bagaimana jika dia mendengar ucapan kalian dan kemudian tersinggung?" Lane sudah melihat siapa wanita yang ditunjuk oleh sahabatnya, dari pakaian yang dikenakan Jane, Lane sudah tau bahwa wanita itu tidak bisa disinggung.
"Lalu aku akan mengkompensasi dengan memberi restu untuk menikahi Brigjen Lane" kata Jaden.
"Tentu, aku rasa tidak akan ada wanita yang menolak Brigjen Lane" kata mereka sambil tertawa terbahak-bahak. Sayangnya mereka tidak tau bahwa Jane akan mati-matian menolak kehadiran protagonis pria di dekatnya, walaupun pria itu sangat tampan dan memikat karena bagi Jene protagonis pria adalah malaikat maut yang akan mengambil nyawanya kapan saja.
"Hentikan, mari kita lanjut makan. Jangan lupa masih ada banyak tugas yang menunggu" kata Lane mengingatkan mereka.
"Baiklah Brigjen Lane, jangan lupa membawa calon istrimu untuk bertemu kami nanti." kata mereka.
"Ya.. Aku rasa aku harus menambahkan tugas untuk kalian." kata Lane yang tidak terlihat bercanda.
"Brigjen jangan bercanda, tugas kami saja saat ini sudah sangat banyak." Jaden yang memikirkan hukuman tersebut bergidik ngeri.
__ADS_1
"Oke berhenti bercanda atau aku akan benar-benar menambah tugas kalian dan memberi hukuman." Mereka akhirnya makan dengan tenang dan bersiap kembali ke kamp tentara.