Wear Apocalypse Book

Wear Apocalypse Book
22 Pengakuan


__ADS_3

Lane masih merasa kesal, dia pergi meninggalkan gedung basis dengan wajah muram dan tanpa sadar melihat Emma yang terkepung oleh beberapa pria.


"Apa yang kalian lakukan?" Lane langsung berjalan ke arah empat pria tersebut. Emma langsung menangis ketika melihat Lane datang.


"Kami hanya ingin bersenang-senang dengan wanita ini, apakah kamu ingin menyelamatkan wanita ini dan menjadi pahlawan?" Pria dengan luka di wajahnya berkata dengan nada merendahkan.


"Lepaskan dia, jika tidak kalian akan menanggung akibatnya." Ucap Lane dengan nada mengancam.


"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan?" Keempat pria itu mengepung Lane, namun Lane sama sekali tidak takut. Lane langsung membekukan kaki keempat orang tersebut.


"Kamu!" Pria dengan luka di wajahnya terkejut lalu kemudian mereka tampak ketakutan, mereka tidak menyangka akan memprovokasi seorang pengguna kemampuan dan juga mereka teringat bahwa pengguna kemampuan es adalah seorang kapten yang telah ikut mendirikan basis penampungan.


"Maafkan kami.." Keempat pria itu berkeringat dingin, mereka telah membayangkan nasib apa yang selanjutnya akan terjadi karena telah menyinggung Lane.


"Mulai sekarang kalian keluar dari basis!" Ucap Lane. Segera keempat pria itu melarikan diri setelah Lane mencairkan es di kaki mereka.


"Lane." Emma langsung merosot jatuh ke tanah namun ditopang Lane dengan cepat.


"Apakah kamu baik-baik saja?" Lane sedikit khawatir melihat Emma yang langsung terjatuh.


"A-aku takut." Jawab Emma yang telah menangis sekali lagi.


"Ayo pergi, aku akan mengantarmu." Lane langsung menggendong Emma yang tampak lemah.


"Keberuntungan protagonis memang sangat bagus, aku merasa sedikit iri." Jean memandang semua kejadian dari jauh.


'Tuan apakah aku tidak dianggap keberuntungan mu?'


"Termasuk tetapi aku merasa keberuntungan ku sedikit buruk dari protagonis." Jawab Jean dengan jujur.


'Tidak tahu berterima kasih.' sistem mencibir Jean yang memandang rendah dirinya.


Jean kemudian kembali ke dalam gedung dan berjalan menuju kantor Adam yang terletak di lantai 20.


"Jean dari mana saja kamu? Apakah terjadi sesuatu?" Adam menatap Jean yang terlihat dalam suasana hati yang baik.


"Ya aku menemukan hal menarik di luar tadi." Jean tersenyum sambil mengingat perasaan setelah berhasil mengerjai Emma.


"Dari senyummu aku tahu bahwa kamu melakukan sesuatu yang buruk di luar, katakan apa yang membuatmu senang?" Melihat Jean yang terlihat bahagia membuat semua keluhan yang terjadi di ruang rapat hilang dalam sekejap.


"Mengapa kamu begitu penasaran? Lagipula ini adalah kesenanganku jadi aku tidak wajib memberitahu." Jean menolak memberitahu Adam, lagipula dia tidak tahu apakah Adam akan terpesona dengan protagonis wanita.

__ADS_1


"Baiklah aku tidak akan bertanya lagi."


"Apakah kamu baik-baik saja?" Jean melihat wajah Adam yang tampak tenang tapi hal tersebut tidak menjamin bahwa Adam baik-baik saja.


"Sepertinya kamu sudah mendengar beritanya. Ya seperti yang kamu tahu bahwa aku tidak lagi menjadi pemimpin basis dan mulai sekarang aku bebas, aku tidak keberatan jika posisi pemimpin diambil alih oleh Lane." Jean memperhatikan ekspresi Adam dengan teliti, setelah melihat bahwa Adam benar-benar tidak mempermasalahkan soal posisi pemimpin membuat Jean sedikit lega.


"Ada apa? Apakah kamu khawatir?" Adam langsung menatap mata Jean. Jean entah kenapa merasa sedikit gugup ketika ditatap oleh Adam dan pipinya terasa panas.


"Adam apakah kamu baik-baik saja?" Lane tiba-tiba masuk dan memecah suasana canggung diantara Jean dan Adam.


"Sialan." Adam mengutuk Lane secara tidak sengaja.


"Ada apa denganmu? Apakah kamu marah karena aku merebut posisimu?" Lane tidak menyadari penyebab kekesalan Adam, sedangkan Jean sedikit linglung setelah mendengar kutukan Adam.


"J-john?" Lane akhirnya menyadari keberadaan Jean. Jean pulih dari pikirannya dan melihat Emma yang mengikuti Lane, tatapan Emma dan Jean saling bertemu.


"Oh ya ini adalah Emma, aku tidak sengaja bertemu dengannya ketika menjemput walikota. Emma ini adalah kedua sahabatku, Adam dan John." Lane tampaknya tidak ingin membocorkan penyamaran Jean sehingga Jean merasa lega.


"Salam kenal." Ucap Jean. Emma sedikit terkejut melihat Jean, dia tidak menyangka status Jean akan sama dengan Lane, tetapi mengingat bagaimana Jean menjebaknya tadi membuat kesan Emma terhadap Jean sedikit buruk.


Emma kemudian memperhatikan Adam yang tidak kalah tampan dari Lane, jika Lane memiliki aura gagah seorang prajurit makan Adam memiliki aura serius seorang pengusaha, keduanya sama-sama menarik di mata wanita.


"Salam kenal juga." Balas Emma dengan suara lembutnya dengan sedikit kesan malu-malu. Adam hanya melirik Emma sekilas, dia sama sekali tidak tertarik dengan tipe wanita lemah yang selalu berlindung dibalik punggung pria.


"Ya, aku rasa membuka toko senjata akan sangat menguntungkan di saat-saat seperti ini." Jawab Jean.


"Bukankah berbahaya? Aku rasa itu tidak sepadan dengan resikonya." Adam tidak setuju dengan ide Jean kali ini.


"Kalian tidak perlu membantuku mencari senjata, aku sendiri sudah cukup." Jean tidak ingin mereka mengetahui rahasianya jadi dia tidak mengatakan asal senjata tersebut.


"Aku tetap tidak setuju." Adam menolak, dia tidak ingin Jean mempertaruhkan nyawanya hanya untuk inti kristal.


"Lane aku ingin berbicara dengan Adam." Jean tahu bahwa Adam tidak akan pernah membiarkannya membuka toko jika dia tidak memberitahu rahasianya.


"Baiklah." Lane dan Emma segera meninggalkan kantor Adam.


"Ada apa? Apakah kamu masih ingin membuka toko?" Adam sedikit tidak senang dengan tekad Jean yang ia anggap berbahaya.


"Adam apakah kamu bisa dipercaya?" Sebelumnya Jean menyangkal perasaannya terhadap Adam, namun hari ini dia menyadari bahwa dia ternyata memang menyukai Adam.


"Tentu saja, kenapa bertanya seperti ini?"

__ADS_1


"Bisakah kamu berjanji untuk tidak membongkar rahasiaku?" Jean menatap Adam dengan berani untuk memastikan bahwa Adam tidak berbohong.


"Aku tidak akan pernah membongkar rahasia mu walaupun aku disiksa sampai mati." Jean merasa lega setelah melihat keseriusan Adam. Dia kemudian menceritakan soal sistem pada Adam, namun dia tidak menceritakan bahwa dia sebenarnya berasal dari dunia lain.


"Bisakah kamu tunjukkan padaku?" Jean mengangguk setuju. Jean kemudian mengeluarkan beberapa sayuran dan rempah-rempah, Adam tidak menyangka Jean akan memiliki rahasia sebesar ini.


"Lalu bagaimana dengan senjata?"


"Aku membutuhkan inti kristal, setidaknya 70 inti kristal putih." Adam kemudian mengambil 70 kristal putih dan menyerahkannya pada Jean. Kristal itu menghilang di tangan Jean lalu kemudian pistol semi-otomatis muncul.


"Bagaimana? Apakah kamu percaya sekarang?" Tanya Jean. Adam merasa masih tidak percaya dengan keberadaan sistem tetapi mengingat munculnya kemampuan membuat Adam percaya bahwa dunia ini memungkinkan suatu variabel yang terlihat tidak masuk akal muncul di dunia ini.


"Ya aku percaya sekarang." Adam memperhatikan pistol tersebut dengan teliti.


"Jika aku membuka toko aku mungkin membutuhkan modal yang cukup besar, jadi aku hanya menerima pesanan saat ini." Jean telah memikirkan hal tersebut jauh sebelumnya.


"Aku bersedia mengeluarkan modal untukmu, toko milikmu juga akan dikelola oleh Noel." Tiba-tiba Adam mendapatkan ide untuk mendekati Jean, dia ingin maju selangkah.


"Benarkah? Lalu berapa persen keuntungan yang ingin kamu ambil?" Jean merasa senang dengan proposal Adam, dia tidak akan repot melakukan perjalanan bolak balik dari rumahnya ke basis.


"Tentu, lagipula Noel selama ini telah menganggur. Adapun keuntungan, sebenarnya itu tidak perlu." Adam memutuskan untuk tidak pelit terhadap calon istri nya, dia perlu memperbaiki citranya yang telah buruk.


"Benarkah?" Jean menatap Adam untuk menguji apakah dia berbohong, lagipula Adam terkenal pelit dari masa ketika mereka memasuki sekolah menengah meskipun Adam berasal dari keluarga kaya, dia selalu membeli makanan dan minuman termurah.


Jean masih ingat kejadian dimana dulu Adam berkumpul dengan teman-temannya di salah satu restoran saat ulang tahun Adam dirayakan, Adam pulang dengan wajah yang buruk ketika melihat tagihan restoran dan dia menceritakan kekesalannya dengan Jean.


"Aku tidak pelit." Ucap Adam namun Jean masih tampak tidak percaya, Jean sangat mengenal sifat Adam yang pelit jika menyangkut soal uang.


Wajah Adam tiba-tiba mendekati wajah Jean sehingga membuat Jean terkejut.


"Aku sedang mengejar mu jadi aku tidak akan pelit untukmu." Jean linglung ketika mendengar pengakuan Adam yang jujur.


"Jangan mendekati pria lain selain aku, jika tidak maka aku akan membakar pria itu menjadi abu." Adam mendekatkan bibirnya ke telinga Jean. Merasakan nafas Adam yang hangat di lehernya membuat Jane mundur selangkah.


"Adam kamu menakuti ku." Jean merasa lega ketika Adam tidak lagi mendekatinya.


"Aku serius, aku akan membakar pria mana pun yang ingin merebut mu dariku." Ucap Adam sambil tersenyum. Jean merasa bulu kuduk nya berdiri ketika melihat senyum Adam.


Jean akhirnya bisa keluar dari ruang kantor Adam, Jean merasa tenaganya terkuras habis setelah mendengar ancaman Adam.


"Apakah aku masuk ke sarang iblis barusan?" Jean bertanya-tanya, dia merasa tidak mengenal Adam sama sekali, dia tidak tahu apakah Adam berubah saat mereka berpisah di Universitas ataukah memang Adam telah memiliki sifat tersebut sebelumnya.

__ADS_1


'Tuan aku rasa ancaman Adam benar-benar akan dilakukan jika kamu mendekati pria lain.' kata sistem.


"Bisakah aku menjauh dari Adam?" Jean ingin menangis, kali ini dia benar-benar masuk ke dalam perangkap.


__ADS_2