
"Nona, aku tadi melihat seorang pria menunjuk ke arahmu saat di restoran" kata Merril.
"Benarkah?" Saat ini Jane duduk di mobil sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit, dia tidak peduli hal-hal lain selain berusaha menghilangkan rasa mual akibat dia yang makan terlalu banyak.
"Ya, bibi rasa salah satu dari mereka tertarik pada nona dan mereka semua berasal dari tentara. Itu mengingatkanku saat muda..." Bibi Merril mulai bercerita tentang cinta masa mudanya pada Jean.
"Tapi aku tidak tertarik untuk menikahi pria tentara, aku tidak tahan jika suamiku harus bekerja dinas." pikir Jean. Lagipula itu mengingatkannya pada protagonis pria yang kebetulan adalah seorang tentara, dia tidak ingin cepat bertemu dengan protagonis pria.
"Jean benar, menikahi seorang tentara berarti harus siap ditinggal untuk pergi dinas." Randalf tiba-tiba ikut berbicara.
"Yah.. Jean benar, aku tidak bisa membayang nona Jean akan kesepian karena ditinggal oleh suaminya" Merril mengangguk setuju. "Adam memang cocok sebagai kandidat suami nona." Lanjut Merril yang membuat Jean tertegun.
"Tidak, aku hanya menganggap Adam sebagai temanku, lagipula aku tidak berniat untuk jatuh cinta sekarang." Kata Jean. Merril hanya terdiam sampai mereka tiba di sebuah pasar, dimana ada banyak arus penjualan sayur dan ternak.
"Nona, kenapa nona selalu pergi ke pasar?" Tanya Randalf yang penasaran.
"Yah.. Paman akan tau nanti" jawab Jean dengan misterius. Randalf tidak bertanya lebih jauh karena percaya pada keputusan Jean.
"Paman, kudengar ayah memiliki rumah di kota N. Apakah itu benar?" Tanya Jean untuk memastikan.
"Itu benar tapi setau paman itu agak jauh dari sini, mungkin sekitar 1 jam karena pada awalnya itu dibuat agar nona dan ayah ibu nona bisa bersantai dan berlibur di kota N tapi.." Randalf tidak melanjutkan karena takut membuat Jean kembali merasa sedih.
"Tidak apa paman, kita akan menginap di sana nanti malam." Jean memutuskan. Jean kembali ingin menyusuri pasar sendirian dan meminta Randalf dan Merril menunggunya di sebuah kafe dekat pasar, namun mereka dengan tegas menolak dan akhirnya mereka bertiga bersama-sama menyusuri pasar. Ketika Jean selesai jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, sudah waktunya untuk pulang dan beristirahat.
"Paman, antarkan semuanya ke alamat rumah ini besok." jean menyerahkan kertas yang berisi alamat rumah ayahnya di kota N pada paman penjual, dia meminta Randalf menulis alamatnya karena dia sendiri tidak tau dimana letak rumah tersebut.
"Paman Randalf, bibi Merril ayo kita kembali." Jean kelelahan dan menyeka keringatnya yang sedari tadi menuruni dahinya.
"Ya, mari kita kembali." kata randalf yang akhirnya mengerti mengapa nyonya kemarin begitu lelah sehabis dari pasar.
__ADS_1
"Nona biarkan aku yang mengusap keringatmu." Jean mengangguk dan membiarkan Merril mengusap keringatnya dengan hati-hati.
Jean tertidur di mobil selama perjalanan dan tetap tidak terbangun ketika mobil sudah berhenti di sebuah rumah. Rumah tersebut memiliki gaya sederhana, namun luas dan secara alami menghadap ke ladang dan ternak milik orang setempat. Tidak lama setelah mobil berhenti di depan rumah, seorang wanita yang tampak sedikit gemuk keluar dan berdiri di samping mobil, tampak begitu gelisah, seperti sedang menunggu seseorang yang penting keluar dari mobil itu.
"Siapa yang ditunggu bibi Linda?" Tanya seorang bocah laki-laki yang tampak berumur belasan tahun yang berdiri tidak jauh dari rumah Jean.
"Heh.. Kau belum tau ya? Kudengar pemilik rumah tersebut merupakan orang kaya dari kota J" kata sahabatnya.
"Apa kau tau siapa yang memiliki rumah tersebut?" Tanya bocah itu lagi.
"Tidak, hanya kepala desa dan bibi Linda yang tau siapa pemilik rumah tersebut. Kita hanyalah orang miskin yang hanya berusaha mencari nafkah di desa ini, jadi mana mungkin aku tau?" Sebenarnya bocah itu sedikit tidak setuju dengan perkataan temannya, Misael. Bocah itu bernama Liam, dia dan temannya Misael adalah seorang yatim piatu yang berasal dari desa terpencil, mereka berada disini untuk mencari pekerjaan dan mendapat pekerjaan di rumah Tuan Gill, bos mereka untuk bekerja di ladang dan ternak.
"Apakah pemilik itu lebih kaya dari Tuan Gill?" Liam bertanya sekali lagi pada Misael.
"Ya, aku bahkan mendengar bahwa pemilik rumah itu adalah orang terkaya di kota J." Misael dengan sabar menjawab pertanyaan Liam yang datang secara berurutan.
"Jika kita meminta pekerjaan pada orang tersebut apakah kita akan diterima?"
"Aku akan memperhatikan terlebih dahulu pemilik rumah itu, jika dia adalah orang yang baik maka aku akan mencoba memohon pada orang tersebut." kata Liam dengan serius.
"Liam jangan nekat, jika kita ketahuan oleh Nyonya Gill maka kita akan.." Misael tidak bisa membayangkan bagaimana Nyonya Gill akan menghukum mereka jika mereka ketahuan.
"Jangan khawatir, aku akan berhati-hati." Misael terdiam, dia hanya berharap Liam tidak ketahuan.
Saat ini Jean masih tertidur dalam mobil tanpa mengetahui bahwa mereka telah sampai, Merril yang tidak tega melihat Linda yang menunggu dengan gelisah di samping mobil akhirnya memutuskan untuk membangunkan Jean.
"Nona kita sudah sampai." kata Merril yang membuat Jean terbangun.
"Apakah ini rumah baru yang ayah dirikan?" Jean memandang rumah yang tampak sederhana namun terlihat nyaman.
__ADS_1
"Ya nona" jawab Randalf. Jean kemudian turun dari mobil dan matanya menangkap seorang wanita yang berdiri di samping mobil.
"Nona selamat datang." wanita itu menyapa Jean dengan canggung, jelas dia tidak terbiasa.
"Bibi siapa?" Tanya Jean.
"Saya.. Saya Linda Grant, saya ditugaskan oleh sekretaris Roland untuk merawat rumah ini." jawab Linda. Ayahnya hanya pernah datang sekali ke sini dan sisanya diurus oleh sekretarisnya Roland, jadi seharusnya Linda belum pernah bertemu langsung dengan pemilik rumah tersebut.
"Tidak usah gugup bibi, anggap saja aku adalah ponakan mu sendiri" kata Jean.
"Ba.. Baik nona" Linda hanyalah orang biasa yang belum pernah melihat orang kaya secara langsung, dia hanya melihatnya melalui film drama televisi, dimana kebanyakan menjelaskan bahwa orang kaya adalah seorang yang sombong dan tidak dapat disinggung, oleh sebab itu dia gugup dengan kedatangan majikannya tapi dia tidak pernah menyangka ternyata nona mudanya adalah orang yang sangat ramah dan tidak tampak seperti orang yang sombong.
"Perkenalkan ini adalah paman Randalf dan bibi Merril, mereka adalah orang yang ikut merawat diriku sedari kecil. Dan aku sendiri dipanggil Jane" Jane memperkenalkan merril, randalf dan dirinya sendiri pada Linda.
"Tidak perlu sopan Linda, kamu mengingatkanku saat aku pertama kali bekerja di keluarga Barker." kata Merril yang tersenyum ramah pada Linda, Linda akhirnya rileks ketika mengetahui bahwa Merril bukanlah Nyonya Barker, Linda belum mengetahui bahwa kedua orang tua Jane telah meninggal.
Randalf dan Merril mengeluarkan koper mereka dan menyeretnya ke dalam rumah, sedangkan Jean duduk bersama Linda di kursi santai yang terletak di taman depan rumahnya, dia menanyakan hal-hal terkait dengan desa ini. Jean kemudian mengetahui bahwa desa ini memang sedikit lebih maju karena tidak terlalu jauh dari kota, dia tidak menyadari bahwa sedari tadi dia telah diawasi oleh seseorang dari kejauhan. Jean kemudian meminta Linda menyiapkan teh dan makanan ringan.
"Siapa itu? Keluarlah" Kata Jean dengan santai, dia baru menyadari bahwa dia ditatap oleh seseorang, jika sistem tidak mengingatkannya, mungkin dia tidak akan tau.
Seorang lelaki yang diperkirakan berumur belasan tahun muncul di hadapan Jean, cahaya matahari terbenam membuat pria itu tampak diselimuti cahaya keemasan.
"Ma.. Maafkan aku" Liam tidak menyangka bahwa dia akan ketahuan, dia merasa persembunyiannya sudah sangat baik, tapi siapa yang menyangka bahwa penglihatan wanita itu sangat tajam.
"Kamu siapa?" Tanya Jean sambil memunculkan senyumnya, dia tahu bahwa pria kecil itu tidak memiliki niat jahat.
Liam sedikit linglung ketika melihat senyuman Jean yang lembut, kemudian kembali sadar. "Aku Liam, aku adalah pekerja yang dikerjakan oleh Tuan Gill yang tinggal di seberang." Liam menunjuk ke arah rumah yang tidak terlalu jauh dari rumah miliknya, rumah itu memang agak terlihat lebih baik dibandingkan rumah-rumah lain di desa ini tapi masih tidak bisa menandingi rumah milik ayahnya.
"Lalu kenapa kamu mengawasi ku?" Tanya Jean. Tapi kemudian Jean dikejutkan dengan Liam yang berlutut di depannya secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Nona, aku mohon bawa aku dan sahabatku Misael untuk bekerja denganmu" Liam memohon, ketika dia melihat Jean berbicara dengan santai pada Linda, dia sudah tau bahwa wanita ini sangat baik.