Wear Apocalypse Book

Wear Apocalypse Book
24. Rubah licik


__ADS_3

Emma baru-baru ini merasa sedikit kesal, dia berulang kali diganggu oleh Olivia. Olivia juga merasa kehadiran Emma membuatnya tidak tenang, dia ingin segera menyingkirkan Emma dari hadapan Lane.


"Kapten, Emma dan Olivia sering berselisih baru-baru ini. Apakah kapten tidak memisahkan mereka saja?" Ekspresi Joe terlihat pahit, dia telah diminta oleh Lane untuk memperhatikan Emma dan Olivia.


"Ada apa? Apakah Olivia masih menanyai soal keberadaan ku?" Lane hanya menatap Joe sejenak lalu kembali membaca tumpukan surat di atas meja kerjanya, dia juga sangat sibuk dan tidak memiliki waktu untuk mengurus kedua wanita itu.


"Iya kapten." Melihat ketidakpedulian Lane membuat Joe menyerah atas gagasannya untuk berhenti memantau Emma dan Olivia.


Lane mengerutkan keningnya, dia masih ingat bagaimana Olivia berpura-pura jatuh cinta dengannya tetapi dibelakangnya Olivia menjelekkan namanya. Tangan Lane tanpa sadar mengepal dan mematahkan pulpen, Joe bergidik ngeri ketika melihat kemarahan Lane yang tanpa sebab, dia tidak berani bertanya soal hubungan kapten Lane dengan Olivia.


"Kamu kembali memantau mereka, jangan sampai Emma terluka." Perintah Lane. Joe tidak berani membantah, dia segera pergi lagi dengan menunjukkan ekspresi pahitnya.


"Joe tugasmu sangat penting, jangan sampai kamu ceroboh." Barnett menepuk bahu Joe.


"Apakah kamu mengolok?" Joe sedikit tersinggung mendengar ucapan Barnett.


"Tentu saja tidak." Jawab Barnett namun wajah Barnett tampak mengolok.


"Lain kali aku akan merekomendasikan mu untu menggantikan aku mengawasi mereka." Joe menyeringai.


"J- Joe apakah kamu bercanda?? Joe tunggu aku!" Joe pergi sebelum Barnett selesai berbicara, Barnett kemudian mengejar Joe.


Jean memasuki ruang miliknya yang kini dipenuhi oleh banyak tumbuhan, dia memanen sayuran lalu membawanya ke luar.


"Bibi ini untuk dijual hari ini, jika bibi merasa lelah suruh saja Liam dan Misael." Jean telah mengeluarkan berapa puluh kilo beras yang telah diproses oleh sistem dan sayuran serta daging.


"Bagaimana aku bisa memperkerjakan mereka, bukankah itu sama saja seperti Nyonya Gill?" Merril menolak.


"Bibi itu tidak benar, kami akan membantumu lagipula ini tidak seberapa." Ucap Misael.


"Ya itu benar bibi, saat di rumah Nyonya Gill kami bahkan mampu mengangkat beban hingga 20 kilo." Lanjut Misael.


"Kalian-" Merril merasa terharu sekaligus sedih ketika mengingat perlakuan Nyonya Giil terhadap Misael dan Liam.


"Itu benar, lagipula aku tidak meminta mereka bekerja hingga lelah. Jika mereka sampai lelah, aku akan dimarahi oleh nenek." Ucap Jean.


"Apakah nona akan pergi ke basis penampungan lagi?" Tanya Merril saat melihat Jean yang mengemasi banyak persediaan di mobil pick up.


"Tentu saja, aku diminta untuk membawa persediaan ini ke basis oleh Adam." Jawab Jean.


"Nona tunggu sebentar." Merril kemudian masuk ke dalam rumah lalu datang dengan membawa kotak bekal.


"Ini? Untuk Adam?" Jean merasa heran.


"Tentu saja, nona harus segera bersama Adam jadi ini adalah niat baikku dan anggap saja ini hadiah persetujuan ku." Merril memberi kotak bekal itu ke tangan Jean. Sudut mulut Jean berkedut, dia tidak membutuhkan persetujuan karena mereka bahkan belum berpacaran.


"Oke." Jean tidak membantah, dia tidak ingin berdebat dengan Merril.


"Liam perhatikan rusa milikmu, jangan sampai dia menghabiskan sayuran lagi seperti terakhir kali." Perintah Jean. Rusa itu hendak memakan sayuran tetapi mendengar perintah Jean membuatnya mendengus sebagai protes.


"Apakah rusa ini manusia?" Melihat rusa itu tampak memprotes membuat garis hitam di dahi Jean.


"Kakak jangan terlalu keras dengan Toto, dia hanya memakan sedikit." Liam membela rusa tersebut.

__ADS_1


"Sedikit??" Jean menghitam ketika kembali mengingat kejadian kemarin di mana semua sayuran yang lebih dari 15 kilo dimakan habis oleh rusa tersebut dan hanya menyisakan kotoran rusa.


"Kakak.. " Liam sedikit takut.


"Jean jangan terlalu keras dengan Liam." Nenek Jean menyela.


"Nenek, aku bahkan belum memarahi Liam." Ekspresi Jean terlihat pahit, dia merasa bahwa dia telah dianiaya.


"Berikan saja sayuran itu pada Toto, keluarkan yang lain." Perintah nenek Jean. Jean hanya bisa menggertak kan giginya lalu mengeluarkan lebih banyak sayuran.


Rusa itu mendengus seolah bangga karena telah berhasil mengalahkan Jean. Jean hanya bisa menatap tajam rusa tersebut, lain kali dia akan membunuh rusa itu.


Merasakan ancaman dari tatapan Jean, rusa tersebut segera ketakutan dan berlindung di balik tubuh Liam.


"Apakah ini balas dendam?" Jean diam-diam bertanya dalam hati, Jean merasa atribut umpan meriam di tubuh ini telah membawa banyak masalah untuknya.


Jean kemudian segera berangkat menuju pangkalan, dalam perjalanannya Jean telah menarik perhatian zombie yang berkeliaran, dia dengan cepat membunuh zombie-zombie tersebut dan segera memasuki tahap puncak level empat.


Kedatangan Jean di basis membuat orang-orang menatap ke arah persediaan yang berada di mobil Jean, mata para pengungsi berbinar ketika melihat betapa banyaknya bahan makanan segar yang diturunkan oleh tentara dari mobil Jean.


"Dari mana pria itu mendapat banyak makanan segar?" Seorang pengungsi bertanya.


"Aku tidak tahu, tetapi aku mendengar rumor bahwa ada tempat di mana seseorang yang misterius menjual bahan makanan segar di kota kita, aku rasa pria itu mendapatkannya dari tempat tersebut." Para pengungsi mulai bergosip.


Jean sangat puas ketika mendengar percakapan para pengungsi, dengan begini toko persediaan miliknya tidak lama lagi akan terkenal.


"John kamu sudah tiba." Adam datang menghampiri Jean, dia sebenarnya sedikit aneh dengan nama samaran Jean tetapi dia kemudian membiasakan dirinya agar calon istrinya tidak direbut lelaki lain.


"Ya, ini dari bibi Merril." Jean menyerahkan kotak bekal pada Adam. Adam tersenyum, dia berspekulasi bahwa Jean meminta Merril untuk membuatkan bekal untuknya.


"Ayo kita berbicara di tempat lain, di sini sedikit tidak nyaman." Adam kemudian membawa Jean ke ruang kantornya dan mendapati Noel yang sudah menunggu.


"Nona Jean." Noel menyapa Jean. Jean mengangguk, dia tidak berani dekat dengan Noel mengingat ancaman Adam.


"Ini pembayaran untuk bahan makanan." Adam menyerahkan ratusan inti kristal pada Jean, mata Jean berbinar melihat ribuan inti kristal putih dan kuning di depan matanya.


"Dan ini adalah modal untuk membuka toko senjata." Adam menyerahkan inti kristal putih sebanyak 1000 biji.


"Apakah kamu yakin tidak mengambil keuntungan sepeserpun?" Jean masih meragukan Adam.


"Itu benar, lagipula bukankah kita sudah membahas masalah sebelumnya?" Adam menatap Jean dengan tatapan penuh arti. Jean merasa kedinginan oleh tatapan Adam, sedangkan Noel hanya diam dan tidak menyadari atmosfer aneh di sekitarnya.


"It- itu aku sebenarnya tidak setuju, setidaknya kamu harus mendapat 10% dari keuntungan toko." Jean sangat gugup, dia merasa tidak tahan berada di ruang yang sama dengan Adam saat ini. Adapun 10℅ dari keuntungan, itu sebenarnya agar Jean tidak memiliki hutang apapun dengan Adam.


"Baiklah aku setuju." Jawab Adam sambil terkekeh, melihat Jean yang gugup di depannya membuat Adam merasa Jean semakin menarik.


"Lalu dimana tempat kita akan memulai bisnis?" Tanya Jean.


"Aku sudah memerintahkan beberapa tentara untuk mengosongkan sebagian ruang restoran di lantai satu, jadi toko milik kita berdampingan dengan restoran yang juga akan dibuka hari ini. Adapun soal masalah pengelola toko, Noel sendiri akan menjadi manajer dan bawahannya sudah aku pilih dengan cermat." Adam menjelaskan semuanya dengan teliti pada Jean. Mendengar penjelasan Adam membuat Jean merasa sangat puas.


"Apakah Lane sudah menyetujui soal ini?" Jean merasa semuanya sangat mulus, jadi dia sangat penasaran dengan reaksi para pejabat.


"Aku sudah menanganinya, para pejabat awalnya bersikeras untuk menetapkan pajak tetapi ketika mereka tahu bahwa modal toko tersebut berasal dariku, mereka kembali terdiam, jadi jangan khawatir."

__ADS_1


"Lalu bisakah aku melihat toko?" Jean merasa dia harus melihat di mana dia akan memperoleh bisnisnya yang lain.


"Oke, ayo ikut aku." Adam, Jean dan Noel turun ke lantai pertama melalui lift ekslusif yang di sediakan hanya untuk Adam dan para tamu penting.


Jean kemudian melihat toko yang sudah bersih dan tepat berada di samping restoran, Jean juga bertemu dengan Joe dan Lane.


"John, apakah kamu juga sedang mempersiapkan rencana bisnis kalian?" Tanya Lane.


"Ya, apakah ini bisnis yang kamu jalankan?" Jean penasaran dan mengintip ke arah restoran yang saat ini sudah terbuka.


"Ini bisa dibilang bisnis milik militer karena aku menggunakan uang dari biaya masuk pengungsi untuk membuka restoran ini. Adam sudah membayar biaya bahan bakunya bukan?" Jawab Lane.


"Apakah kamu meragukan ku Lane?" Tanya Adam dengan berpura-pura marah.


"Tidak, tidak sama sekali." Jawab Lane sambil terkekeh.


Saat ini Emma sedang membantu para chef untuk mengantarkan makanan ke meja tamu restoran, dia meminta Lane untuk memberikan pekerjaan ini meskipun sebenarnya dia tidak menyukai pekerjaan sebagai pengantar makanan. Olivia juga tidak mau mengalah jadi dia memaksa Joe untuk memberikan pekerjaan serupa.


Olivia menatap Emma dengan penuh kebencian, menurutnya Emma adalah seekor rubah karena dia telah menemukan banyak kenalan yang mirip dengan tingkah laku Emma, jadi dia langsung mengenali kepribadian Emma yang licik dan iri hati.


Keduanya berjalan bersama-sama untuk mengantar makanan di meja yang sama. Entah karena kesengajaan atau memang kecerobohan, Emma terjatuh tepat di depan Olivia.


"Kamu! Kamu menjatuhkan makanan milikku!!" Kebetulan bahwa tamu restoran tersebut adalah seorang pejabat, pejabat itu langsung memarahi Emma sehingga keributan langsung terjadi.


Lane terganggu saat sedang berbicara dengan Jane dan Adam, sehingga Lane langsung mengalihkan pandangannya ke arah sumber keributan.


"Apa yang terjadi?" Lane langsung berjalan untuk menengahi keributan.


"Kapten Lane, salah satu pegawai restoran menumpahkan makananku, aku sudah membayar mahal untuk makanan ini, pegawai ini bahkan menodai bajuku." Pejabat itu langsung menjelaskan kejadian tersebut dengan Lane.


"Emma? Bisakah kamu menjelaskan kenapa kamu menumpahkan makanan ini?" Lane curiga dengan Olivia tetapi dia tidak berani memarahi Olivia jika Emma memang ceroboh.


"Ak- Aku tidak tahu, saat aku berjalan tiba-tiba saja ada yang menyenggol kakiku, ta- tapi aku tidak bermaksud menuduh Olivia, aku yakin dia bukan pelakunya." Emma menjelaskan.


"Apa maksudmu?! Kamu menuduhku?!! Dasar perempuan Licik!!!" Olivia sangat marah, dia segera mengangkat tangannya untuk menampar wajah Emma namun tangannya langsung ditahan Oleh Lane.


"Aku pikir aku sudah sangat baik untukmu dengan menyediakan kamar di hotel dan aku bahkan menanggung biaya makananmu. Kesabaran ku sudah habis!!" Kali ini Lane benar-benar marah.


"Bukan aku yang melakukannya, dia menuduhku Lane!! Kenapa kamu sangat mempercayai wanita busuk ini?!!" Olivia tidak terima dengan tuduhan Emma dan Lane.


"Kamu sudah menghancurkan kepercayaan ku terlebih dahulu!!" Balas Lane. Wajah Olivia langsung memucat ketika mendengar ucapan Lane.


"Lane jangan salahkan Olivia, aku yakin-"


"Mulai sekarang kamu tinggal di tenda,aku tidak akan mengakomodasi dirimu lagi. " Lane langsung mengambil keputusan sebelum Emma melanjutkan ucapannya. Olivia hanya terdiam, dia tidak lagi membantah. Lane mengganti rugi inti kristal pejabat itu lalu membawa Emma bersamanya keluar dari restoran.


"Dia bahkan tidak mau mendengarkan ucapan Olivia." Jean merasa kecewa dengan Lane.


"Sebaiknya kamu tidak terlalu ikut campur dengan masalah mereka." Adam memperingatkan Jean.


"Jika aku ada di posisi Olivia, maukah kamu membantuku?" Jane menatap mata Adam.


"Kenapa? Kamu mengujiku?" Melihat Adam yang tidak bermaksud menjawab pertanyaannya membuat Jaen terdiam. Jean kemudian kembali ke tokonya dan mengabaikan Adam.

__ADS_1


"Noel apakah aku salah barusan?" Adam tidak mengerti mengapa Jane tiba-tiba mengabaikannya, Noel yang juga tidak pernah mengalami perasaan jatuh cinta menggelengkan kepalanya.


__ADS_2