
Jean keluar membawa katana di punggungnya, dia tidak khawatir jika pihak lain adalah seorang perampok, dengan levelnya saat ini, dia bisa dengan mudah membunuh orang biasa.
3 orang pria yang mengenakan seragam SMA keluar dari mobil, mereka membawa tongkat baseball dan linggis yang sudah kotor dengan darah, salah satu dari mereka terlihat gugup terutama ketika melihat Jane yang terlihat mencurigakan.
"Kenapa kalian mengikuti mobilku?" Jean langsung bertanya tanpa basa-basi dengan penyamarannya.
"Kami melihatmu pergi ke arah kota N, jadi kami mengikuti mu." Davin berkata dengan jujur.
"Jangan mengikuti, kalian membuat adikku ketakutan." Jean menolak, dia tidak mau melindungi orang lain.
"Saudara, tolonglah. Kami hanya mengikuti dari belakang dan kami sama sekali tidak bermaksud jahat." Anthony memohon, tampaknya pihak Jean sama sekali bukanlah perampok.
"Anthony sudahlah, lagipula orang itu tampak aneh, aku tidak mau mengikutinya." Edwin merasa Jean terlalu mencurigakan sehingga dia sedikit waspada.
"Temanmu benar, aku adalah seorang perampok, jadi kalian jangan mengikuti mobilku lagi." Jean ingin segera menyingkirkan mereka.
Anthony : "..."
Davin : "..."
Sejak kapan perampok mau mengakui bahwa mereka adalah perampok, tampaknya Jean sengaja menakuti mereka.
"Anthony, Davin kalian berdua dengar bukan? Dia adalah perampok, ayo kita pergi dari sini." Edwin langsung ketakutan.
"Saudara jangan bercanda, kami bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi." Anthony terlihat tidak percaya sama sekali.
"Kalian masih mengenakan seragam sekolah jadi kalian adalah anak dibawah umur." Jean sekali lagi menolak. Edwin dan Anthony telah pasrah, mereka berdua tidak bisa melawan Jean.
"Paman, kami hanya mengikuti mobilmu dari belakang, kami tidak akan menyusahkan mu sama sekali." Nara entah kapan juga ikut turun dari mobil.
"Oke, aku setuju. Jika kalian kesulitan, aku tidak membantu." Jean sebenarnya ingin memprotes Nara karena telah memanggilnya paman, tetapi melihat Nara yang terlihat kurus dan menyedihkan membuat Jean merasa kasihan.
Anthony dan Davin merasa lega, jika mereka tahu bahwa Jean akan baik pada seorang wanita maka mereka akan meminta bantuan Nara dan Wenda sedari tadi.
"Tapi dia masih tampak mencurigakan, dia bahkan tidak memperlihatkan wajahnya di depan kita." Edwin masih khawatir.
"Paman bisakah kamu menunjukkan wajahmu?" Nara bertanya dengan nada sopan.
"Kenapa kalian menilai seseorang dari pakaiannya? Kalau begitu aku akan berpikir kalian adalah pemeras yang berpura-pura menggunakan seragam anak SMA." Jean menolak membuka penyamarannya.
"..."
Mereka terdiam, baru kali ini mereka bertemu dengan orang bermulut pedas yang dengan mudahnya membalikkan pertanyaan mereka.
"Satu lagi, jangan panggil aku paman, aku baru berusia 24 tahun." Lanjut Jean.
"Lalu bagaimana kami memanggilmu?" Tanya Davin.
"Panggil aku John. Jika tidak ada yang lain, aku akan pergi." Jawab Jean lalu meninggalkan mereka yang sama sekali belum memperkenalkan diri pada Jean.
"Orang itu menyebalkan." Komentar Edwin dengan marah.
"Ssstt! Jangan keras-keras, dia akan meninggalkan kita lagi nanti." Anthony memperingati Edwin.
"Memangnya apa untungnya kita bersama orang itu? Tidak ada bukan?" Edwin kemudian kembali ke mobil dengan perasaan kesal.
"Sekelompok anak SMA?" Olivia bertanya ketika melihat Jean kembali, dia telah memperhatikan dari dalam mobil.
"Ya. Sekelompok anak SMA yang tak tau sopan santun." Komentar Jean.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" Olivia ingin tahu.
"Mereka menuduhku dengan mengatakan aku adalah seorang perampok, mereka bahkan ingin aku membuka penyamaran." Jean mencibir.
"Tetapi kamu memang terlihat seperti perampok. Lihatlah pakaianmu." Olivia memutar matanya, menurutnya wajar saja jika mereka salah menilai Jean.
"Kalau begitu kenapa kamu percaya denganku waktu itu? Bukannya aku terlihat mencurigakan?" Jean merasa tersinggung.
"I-itu bisa jadi takdir." Olivia bingung harus menjawab seperti apa, dia sendiri bingung kenapa dia mempercayai Jean waktu itu.
"Mungkin kamu benar, takdir sebagai batu sandungan." Jean berbicara samar sehingga Olivia tidak bisa mendengarkan keseluruhan ucapan Jean.
"Apa??" Olivia merasa Jean mengatakan sesuatu yang tidak baik.
"Tidak ada, ayo kita lanjutkan perjalanan."
Jean kembali mengemudi dengan tambahan satu mobil dibelakangnya. Jean banyak mengambil jalan memutar karena jalan dipenuhi dengan mobil kosong akibat ditinggalkan pemiliknya.
"Jika terus begini, kita akan sampai besok pagi." Olivia mengeluh.
"Kakak, apakah kita akan menginap malam ini?" Tanya Liam.
"Ya kita akan menginap." Jawab Jean.
Jean berhenti di sebuah rumah yang menurutnya cukup aman.
"Kenapa berhenti di sini?" Edwin terlihat ingin memprotes.
"Apakah kamu mau menggantikan ku mengemudi sepanjang malam?" Tanya Davin. Dia sendiri sedikit kesal dengan perilaku Edwin yang terus ketakutan tanpa sebab.
"Ayo kita turun." Wenda mengalihkan pembicaraan mereka, dia sengaja agar tidak ada perkelahian diantara mereka.
"Menurutmu?" Jean malas menjawab pertanyaan yang menurutnya sudah pasti tahu jawabannya.
"..." Nara ingin mengeluh bahwa Jean sangat susah di dekati.
Kelima anak SMA itu mengikuti Jean dengan takut, tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengganggu Jean.
"Aku seharusnya membawa Misael juga." Jean mengeluh ketika merasakan perutnya kosong.
"Biarkan saja aku yang masak." Olivia berinisiatif membantu Jean kali ini.
"Tidak, siapa tahu kamu akan meracuniku." Jean menolak, lagipula dia yakin bahwa keahlian memasak Olivia pasti tidak sebagus Merril dan Misael.
"K-kamu! Apakah kamu meremehkan masakan ku?? Meskipun aku begini, aku pernah memasak di restoran kecil." Olivia berkata dengan marah.
"Benarkah?" Jean masih tidak percaya.
"Berikan saja bahan masakannya!" Olivia memaksa, Jean menyerah akibat paksaan Olivia, lagipula tidak ada salahnya mencoba keahlian Olivia.
"Adik, apakah mereka suami istri?" Davin telah mendengar perdebatan Jean dan Olivia, dia sedikit penasaran.
"Tidak, tetapi aku pernah mendengar bahwa kakak menyukai Olivia." Tanpa sepengetahuan Jean, Liam telah membuat kesalahpahaman.
"Pantas saja, saudara John sengaja membuat kesal Olivia." Kata Wenda.
"Aku juga pernah berada di posisi Olivia, lelaki itu terus membuatku kesal dengan menggangguku sepanjang waktu istirahat ketika di sekolah." Nara ikut berbicara.
"Menurutku John tidak menyukai Olivia, dia memang suka membuat orang kesal. Oh- kenapa aku membicarakan orang itu?" Edwin masih memiliki dendam dengan John.
__ADS_1
Olivia memakai dapur di rumah tersebut, dapur itu terlihat berdebu akibat ditinggalkan pemilik rumah, pisau dapur bahkan hanya tertinggal satu, tampaknya pemilik rumah menggunakan pisau dapur sebagai senjata.
Olivia membersihkan dapur terlebih dahulu lalu mulai memasak.
"Bau ini??" Davin mengenal aroma ini dalam sekejap, ini adalah bau daging dan sayuran! Mereka berlima saling memandang dengan mata berbinar.
"Ini bau daging!" Edwin telah lama merindukan daging dan sayuran, mereka telah berkeliaran dengan hanya memakan daging kaleng, roti dan biskuit kering.
"Apakah kalian tidak pernah memakan daging?" Liam merasa heran kenapa mereka tampak seperti orang bodoh ketika mencium bau daging.
"Daging dan sayuran sangat sulit di dapat bahkan mustahil mendapat daging dan sayur segar saat ini." Anthony menjawab.
"Apakah kalian miskin?" Liam bertanya dengan polos.
Mereka berlima : "..."
Mereka tidak tahu harus menjawab seperti apa.
"Apakah kamu memakan daging dan sayuran seperti ini setiap hari?" Nara bertanya untuk memastikan.
"Tentu saja, daging dan sayuran aku memakannya setiap hari, itu bukan hal yang langka." Jawab Liam.
"..." Mereka berlima benar-benar ingin mengatakan bahwa daging dan sayuran adalah hal yang benar-benar langka saat ini.
"Adik kecil, tidak baik untuk berbohong, aku tahu kamu sengaja ingin pamer." Edwin merasa Liam tidak jujur bahkan sengaja ingin membuat mereka terhina.
"Liam berikan ini pada Toto, jika dia masih meminta maka aku akan benar-benar menyembelihnya kali ini." Jean tiba-tiba datang sambil membawa sekeranjang sawi. Liam segera mengambil keranjang sayur itu lalu memberikannya pada Toto.
"..." Mereka akhirnya tahu bahwa Liam sama sekali tidak berbohong, sayuran itu bahkan dijadikan sebagai makanan binatang!! Mereka berlima ingin menangis.
"Saudara, kenapa kamu memberikan sayuran itu pada binatang? Kenapa tidak memberikannya padaku saja?" Edwin menatap rusa itu dengan mata merah, dia benar-benar ingin merebut sayur itu dari seekor rusa.
"Memangnya kalian memakan sayur mentah?" Jean bertanya dengan heran.
"B-bukan seperti itu, kami ingin memasak sayur itu." Edwin menjelaskan.
Mereka heran kenapa Edwin tiba-tiba berubah? Apakah makanan bisa membuat Edwin berubah menjadi penjilat?
"Berikan." Jean mengulurkan tangannya.
"Apa?"
"Berikan aku 10 inti kristal putih jika kamu ingin sayur itu."
"Saudara kamu sedikit tidak adil, kenapa sayur itu diberikan pada binatang, bukankah itu sia-sia?" Davin membantu Edwin.
"Kekuatan kalian bahkan kalah dari rusa ini, jadi kenapa kalian mengatakan itu sia-sia?" Jawab Jean. Rusa itu mendengus arogan seolah merendahkan kelima anak SMA itu.
"Tapi aku tidak melihat hal yang istimewa dengan rusa ini." Anthony memperhatikan rusa itu dengan teliti.
"Apakah kalian ingin menantang Toto?" Mata Liam berbinar seolah menemukan mainan baru.
"Adik, untuk apa kami melakukan tantangan dengan binatang?" Davin merasa tantangan Liam tidak masuk akal.
"Jika kalian menang, kalian boleh mengambil sayuran ini." Liam tidak mempermasalahkan Davin yang merendahkan Toto.
"Oke, aku setuju." Edwin langsung menyetujuinya.
"Edwin apakah kamu yakin?" Wenda memiliki firasat buruk di hatinya tetapi dia tidak tahu cara memberitahu Edwin.
__ADS_1
"Jika kalian kalah, maka kalian berlima akan berjaga saat malam." Jean menambahkan peraturan.