
"Tokoh utama pria memang bodoh, dia dengan mudahnya merasa kasihan dengan wanita yang baru pertama kali dia kenal." Komentar Jean setelah mendengar laporan dari sistem.
'Sulit bagi Lane untuk lepas dari lingkaran cahaya protagonis wanita.' jelas sistem.
"Mengapa Lane tidak membunuh William? Jika aku yang ada di posisi William, Lane dipastikan akan segera memenggal kepalaku." Jean tanpa sadar menyentuh lehernya, seingatnya Jean mati dipenggal oleh Lane.
'Tentu saja itu karena kamu adalah umpan meriam. William sendiri pada awalnya tidak ditakdirkan untuk bertemu dengan Emma.' Jawab sistem.
"Penulis novel itu pasti sangat dendam terhadapku! Jika tidak, bagaimana bisa dia selalu mengincar nyawaku?"
'mungkin saja, tuan pernah menyinggungnya.' sistem ikut berspekulasi.
"Lalu kenapa tidak ada adegan ranjang? Bukankah sebelumnya di dalam novel adegan tersebut ada? Apakah Lane berubah menjadi impot*n?" Jean kebingungan dengan perubahan tersebut.
'Dalam novel diceritakan bahwa Emma terserang demam, jadi dia mencari obat tetapi dia justru tidak sengaja meminum afrosidak karena mengira bahwa itu adalah obat penurun panas.'
"Apakah dia bodoh? Seharusnya orang tuanya telah mengajar bahwa obat untuk demam adalah Paracetamol dan Ibuprofen." Jean semakin heran, dia ingin tahu berapa IQ yang dimiliki Emma.
'aku tidak tahu, mungkin saja penulisnya yang memiliki IQ rendah.' Jean setuju dengan pendapat sistem kali ini.
'Tuan sepertinya kabar tentang dirimu yang menjual bahan baku segar telah tersebar.' Kata sistem setelah mendengar suara notifikasi remote benteng.
"Bukankah itu bagus? dengan begini aku tidak lagi perlu berburu." Jean merenggangkan tubuhnya dengan malas.
'tuan kamu sangat pemalas.' ejek sistem.
"Kapan lagi aku bisa bersantai seperti ini? Ngomong-ngomong sebenarnya hidup di hari kiamat sangat menyenangkan, aku tidak lagi perlu bekerja." Setelah setengah bulan merasakan kiamat, Jean mulai merasa kiamat adalah hal yang bagus untuknya.
Jean bersiap menyamar sekali lagi, dia tidak berani membongkar identitasnya sedikit pun.
"Apakah tempat ini benar-benar menjual persediaan?" Beberapa orang menunggu dengan cemas.
"Kenapa begitu lama?" Pria itu menekan bel berkali-kali.
"Berhenti menekan bel, aku tidak tuli!" Teriak Jean dengan suara samarannya.
'tuan pelayanan mu sangat buruk, kamu bahkan berani memarahi calon pelanggan mu' kritik sistem.
'tidak ada pesaing lain, jadi terserah mereka jika mereka tidak mau membelinya disini.' ucap Jean dengan percaya diri.
"Pak apakah kamu menjual persediaan di sini?" Seorang pria maju menuju lobang persegi panjang. Jean menyerahkan daftar harga pada mereka.
"Pak, aku memesan 2kg beras, 2 ons sawi dan 3 ons ikan." Lelaki itu dengan cepat memesan.
"Serahkan inti kristal." Jean menyodorkan tangannya.
"Lebih baik serahkan barang terlebih dahulu sebelum membayar, aku takut kamu menipuku." Kata pria itu dengan ragu.
"Jika kamu tidak percaya maka pergi saja!" Jean berkata dengan nada tidak senang.
"Julio orang ini sangat kasar, lebih baik kita pergi saja." Seorang wanita ikut berbicara.
"Tapi dimana kita akan menemukan makanan lagi? Supermarket telah banyak dikosongkan, rekan kita juga telah banyak meninggal." Pria itu terdengar putus asa.
__ADS_1
"Ta- tapi." Julio langsung menyerahkan inti kristal pada Jean sebelum dihentikan rekannya, dia tidak peduli jika Jean menipunya.
"Aku menggunakan prinsip jujur, jika ada yang meragukan ku maka pergi saja." Jean menyerahkan barang yang di pesan Julio.
Julio dan wanita itu tampak malu karena Jean tidak menipu mereka sama sekali.
"Kami minta maaf." Mereka kemudian pergi.
"Pak, inti kristal milikku agak berbeda. Apakah kamu bisa menerima inti kristal berwarna kuning?" Seorang wanita berbicara, dia telah melihat sekilas harga barang yang menggunakan kristal putih jadi dia ragu bahwa penjual akan menerima kristalnya yang berwarna kuning.
"Tentu saja aku menerima. Kualitas kristal mu lebih baik daripada yang berwarna putih, jadi inti kristal kuning seharga 10 inti kristal putih." Jean menjelaskan pada wanita itu tentang beragam jenis warna kristal dan harganya. Orang lain yang berada di belakang wanita itu terkejut ketika mengetahui bahwa inti kristal berwarna lain lebih baik dari inti kristal putih.
"Aku sarankan kalian untuk saat ini tidak mencari inti kristal kuning dan diatasnya kecuali kalian seorang pengguna kemampuan." Lelaki di belakang wanita itu tampak agak kecewa karena tidak satupun dari mereka adalah pengguna kemampuan.
"Nona kamu pasti seorang pengguna kemampuan." Kata Jean.
"Ya, aku pengguna kemampuan tanah." Wanita itu menjawab dengan jujur.
"Silahkan pesan."
"Melelahkan, sepertinya aku harus mendirikan atap disini." Jean menyeka keringatnya, dia berdiri sambil berjemur karena melayani orang.
Jean berhasil menjual pada 5 orang, dan dia kini telah memegang 130 inti kristal putih dan 1 kristal kuning. Adapun kenapa mereka tahu, itu dikarenakan selebaran iklan yang Jean lempar ke sembarang tempat di kota J. Masih banyak yang tidak percaya dengan iklan yang Jean sebar, karena penulisan iklan yang sangat sombong bahkan tulisan tangan Jean sangat jelek sehingga banyak yang tidak bisa membacanya.
"Kakak kapan kamu akan mengajakku menangkap hewan? Kamu terus membohongi ku." Liam datang dengan wajah kesal.
"Oke sehabis ini kita akan pergi menangkap hewan mutan." Jean merasa seperti sedang mengajar anak burung terbang.
"Tentu saja, hewan apa yang ingin kamu tangkap?"
"Aku ingin menangkap simpanse!" Jawab Liam dengan mata berbinar.
"Kenapa simpanse? hewan itu sangat jelek." Jean tidak habis pikir dengan pilihan Liam.
"Kata nenek, simpanse adalah hewan yang pintar jadi aku tidak ingin memelihara hewan yang bodoh."
"Bagaimana dengan Luna? Bukankah dia bodoh? Lalu kenapa kamu masih menyimpannya?" Jean akhirnya menemukan kesempatan untuk membuang boneka Liam.
"Tidak, Luna adalah temanku bukan peliharaan." Liam menolak membuang bonekanya. Melihat tatapan Jean yang selalu tertuju pada Luna, membuat Liam waspada dan menyembunyikan Luna di dari pandangan Jean.
"Baiklah." Jean membuang ide untuk membuang boneka Liam secara diam-diam, Liam mungkin tidak akan pernah melepaskan boneka itu.
Jean bersama Liam kemudian berangkat menuju sebuah kebun binatang yang terbengkalai di pusat kota J. Jean menghentikan mobilnya agak jauh dari kebun binatang agar tidak menarik perhatian hewan mutan berbahaya.
"Sebenarnya ini cukup berbahaya, kita tidak tahu berapa banyak hewan yang bermutasi di dalam." Jean memandang kebun binatang yang terlihat sunyi, dia tidak berani lengah sedikit pun.
"Kakak aku rasa kita harusnya mencari di tempat lain saja." Liam merasa takut dengan suasana sunyi kebun binatang yang aneh, ditambah dia merasakan beberapa pasang mata yang menatap mereka dari kejauhan, itu juga merupakan insting bawaan Liam sebagai penakluk hewan.
"Apakah kamu yakin?" Sejujurnya Jean sendiri tidak yakin memasuki kebun binatang, hewan berbeda dengan zombie karena mereka pada awalnya memang memiliki kemampuan bertahan hidup lebih baik daripada manusia.
"Ya kakak, aku tidak ingin kakak mati." Liam menyerah dengan idenya untuk menjinakkan simpanse.
Jean membawa Liam mundur dari kebun binatang. Satu ekor singa jantan dan tiga ekor singa betina di persembunyian memandang ke arah Jean pergi, Jean menghela nafas dengan lega setelah insting berbahaya yang ia dapatkan di kebun binatang hilang ketika mereka mundur.
__ADS_1
'Kalian beruntung tidak memasuki kebun binatang itu, tempat itu telah dikuasi oleh sekelompok singa yang lepas dari kebun binatang.' Sistem memberitahu Jean.
"Kenapa memberitahu padaku sekarang?" Jean bertanya dengan nada tidak puas, dia mulai menganggap bahwa sistem tampak tidak begitu peduli dengan nyawanya.
'Tuan tidak bertanya terlebih dahulu' Jean merasa tercekik mendengar jawaban sistem.
"Kakak, aku melihat seekor binatang yang lucu." Liam menarik baju Jean sambil menunjuk ke arah seekor rusa yang sedang memakan rumput.
"Apakah kamu ingin rusa itu?" Jean merasa tidak optimis dengan seekor rusa, tapi untuk menyenangkan Liam dia harus menangkap rusa itu.
"Ya, aku menginginkan rusa itu." Jawab Liam.
"Baiklah tunggu di mobil, kakak akan segera menangkapnya." Liam dengan patuh duduk di mobil menyaksikan Jean yang berjalan perlahan menuju seekor rusa. Rusa itu berhenti memakan rumput ketika merasa bahaya, ketika ia melihat Jean yang berlari ke arahnya, ia langsung melarikan diri dengan kecepatan penuh.
"Rusa macam apa itu?!" Jean tercengang melihat rusa itu berlari.
'Tuan itu bukan rusa sembarangan tetapi itu rusa thompson yang termasuk dari 10 hewan tercepat di dunia.' sistem menjelaskan.
"Lalu bagaimana aku bisa menangkapnya?" Jean kemudian menoleh ke arah Liam yang hampir menangis.
'Tuan bisa menggunakan petir untuk melumpuhkan rusa itu.' sistem menyarankan.
"Bukankah itu akan membunuh rusa tersebut?" Jean tidak yakin dengan metode sistem.
'Menyambar rusa itu dengan satu petir tidak akan membunuhnya, tuan lupa bahwa rusa itu adalah hewan mutan.' Jean akhirnya tidak meragukan sistem lalu memasuki mobil untuk mengejar rusa tersebut.
"Kakak bagaimana dengan rusa itu?" Liam menatap Jean dengan tatapan kecewa.
"Tunggu saja kakak akan menangkapnya, pasang sabuk pengaman mu dengan erat."
Liam mematuhi perintah Jean, Jean kemudian mengemudi dengan kecepatan penuh untuk menyusul rusa tersebut.
Setengah jam kemudian Jean berhasil membuat rusa itu tidak sadarkan diri dengan petir nya. Baru kali ini Jean merasa sangat lelah, dia bersumpah bahwa dia tidak akan pernah menangkap hewan dengan kemampuan kecepatan lagi.
"Kakak apakah kamu membunuhnya?" Liam menangis menyaksikan rusa tergeletak di tanah.
"Tidak, dia hanya pingsan. Cepatlah gunakan kekuatan spiritual milik mu untuk menjinakkannya." Jean menahan emosinya, dia tidak bisa membayangkan jika rusa tersebut berhasil kabur sebelum Liam menjinakkannya.
'Tuan kamu memang baik.' sistem tidak berani berdebat dengan Jean kali ini, Jean mengabaikan sistem dan menutup matanya untuk menghilangkan emosinya yang meluap.
"Kakak aku sudah berhasil!" Ucap Liam dengan kegirangan, Jean kemudian melihat rusa tersebut yang telah sadar dan menjilati tangan Liam.
"Ayo kita pulang." Jean tidak sabar untuk merendam tubuhnya di bak mandi untuk merilekskan pikirannya.
"Bagaimana dengan Toto? Apakah kita akan meninggalkannya di sini?" Liam langsung menamai rusa itu.
"Biarkan dia mengikuti kita, lagipula kamu melihat sendiri bagaimana Toto mampu berlari dengan cepat." Liam ingin membantah tetapi tidak jadi ketika ia melihat Jean yang tampak lelah. Sesampainya di rumah, Jean langsung pergi ke berendam di bak mandi.
"Sistem apakah Lane sudah menemukan walikota?" Jean bertanya dengan mata terpejam.
'Ya tuan, mungkin mereka akan sampai besok siang di basis penampungan.'
Jean terlalu malas untuk berurusan dengan protagonis tetapi dia tidak bisa menghindari plot novel, jadi dia hanya bisa pasrah dan berusaha menghindar, agar nyawanya selamat.
__ADS_1