
Linda dan kedua orang tuanya telah melintasi banyak tempat, keadaan Linda sendiri tidak baik, dia berulang kali dijadikan pelampiasan emosi ibunya sedangkan ayahnya hanya menatapnya dengan tidak peduli apakah dia mati atau tidak. Sekarang persediaan Linda yang telah diberikan oleh Jean telah habis dimakan, hal tersebut membuat mereka ketakutan.
Linda juga berusaha menghindari zombie yang berkeliaran di jalan. Terkadang Linda dipaksa untuk berjaga sepanjang malam sendirian, tubuhnya telah mencapai batasnya, dia juga bertanya-tanya apakah ini adalah pilihan yang tepat? Tetapi dia berusaha untuk tetap sabar.
"Linda apa yang kamu lakukan?! Apakah kamu ingin kita mati di sini?" Suara nyonya Grant terdengar keras, Linda kemudian terbangun.
"Bu jangan bersuara keras, aku takut zombie akan mendengar suara ibu dan kita akan dikepung oleh zombie." Ucap Linda dengan suara pelan.
"Apakah kamu ingin melawan?! Kurasa aku benar bahwa kamu pembawa sial, seharusnya aku meninggalkanmu saja, dasar binatang sapu!!" Wajah Linda langsung memucat ketika mendengar kutukan ibunya, dia pikir dia telah berusaha keras tetapi nyatanya usahanya sama sekali tidak pernah dihargai.
"Glenda aku mendengar suara mobil yang tidak jauh dari sini, aku rasa kita bisa meminta tolong pada mereka." Tuan Grant terlihat senang sehingga berjalan terburu-buru.
"Huh.. Kurasa kita harus pergi dari sini, aku sudah tidak tahan dan ingin segera mandi untuk merawat tubuhku, jika tidak aku akan mati cepat atau lambat." Nyonya Grant mendengus.
"Kalau begitu ayo kita pergi." Tuan Grant tidak sabar untuk mengejar mobil tersebut.
"Ibu ayah tunggu sebentar, kakiku sakit. Bisakah kita berjalan perlahan?" Linda merasakan nyeri yang hebat di kakinya, tangannya memegang baju ibunya agar tidak ketinggalan
"Apakah kamu ingin membuat kedua orang tuamu mati bersamamu?!!" Nyonya Grant membentak Linda.
"Tinggalkan saja, dia sudah tidak berguna." Tuan Grant tidak peduli, dia ingin segera diselamatkan.
"Ayah." Linda menatap ayahnya dengan terkejut, dia tidak percaya mereka akan membuangnya begitu mudah setelah berulang kali ia bantu.
"Seharusnya kamu beruntung karena telah menghisap tubuhku selama aku hamil jadi jangan harap kamu bisa memeras ku sekali lagi!" Nyonya Grant menendang tubuh Linda dengan sangat keras.
"Ayo kita pergi." Kedua orang tua Linda langsung meninggalkan Linda.
"Bu-" Linda hanya bisa meratapi kepergian kedua orang tuanya, kesadarannya mulai hilang akibat kepalanya yang tidak sengaja terbentur oleh batu.
Ketika pingsan, Linda merasakan panas ditubuhnya seolah sedang dipanggang oleh api, dia ingin segera bangun tetapi dia tidak sanggup karena dia merasakan ketidakberdayaan dan hampa di lautan kesadarannya.
Area di sekitar Linda terasa aneh, batu dan benda lainnya mulai mengambang, zombie yang ingin memakan tubuh Linda juga mengambang ke atas. Kesadaran Linda kembali pulih, matanya tiba-tiba terbuka dan memperhatikan keadaan sekitar.
"Ini?? Apa yang terjadi?" Linda terbangun melihat benda yang melayang di sekitarnya. Jika Jean berada di tempat itu maka dia akan mengatakan bahwa Linda sangat beruntung! Dia memperoleh kemampuan unik, Telekinesis.
Melihat zombie yang ikut mengambang membuat Linda berteriak ketakutan sehingga benda yang melayang terjatuh ke tanah, zombie yang telah mendapatkan kebebasannya segera berlari ke arah Linda yang terduduk diam di tanah.
"Jangan makan aku!" Linda tanpa sadar menutup matanya, zombie itu kembali melayang ke atas sambil meraung marah. Setelah beberapa saat Linda merasa aneh karena tidak merasakan sakit sama sekali, Linda memberanikan dirinya untuk membuka mata dan melihat Zombie yang kembali melayang di atas.
"Pergi!!" Teriak Linda sambil melambaikan tangannya, dalam sekejap Zombie itu terlempar jauh dan menghantam sebuah rumah yang tidak jauh. Linda menganga kaget, dia tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Apakah ini kemampuan seperti yang nona Jean katakan?" Linda melihat kedua tangannya dengan gemetar, ia kemudian mencari-cari sesuatu di saku celananya dan tidak mendapati apa yang ia cari.
"Terimakasih nona, terimakasih!" Linda menangis dengan perasaan syukur, dia tidak menyangka inti kristal pemberian Jean akan menyelamatkan nyawanya, dia sekali lagi berhutang pada Jean.
__ADS_1
Di rumah saat ini Jean sedang dalam suasana hati yang buruk, dia ragu apakah dia bisa menolak Adam atau tidak, jika dia menolak apakah Adam akan membunuhnya?
"Kakak baru-baru ini kamu sering makan, apakah terjadi sesuatu?" Misael bertanya sambil mengisi kembali toples di hadapan Jean yang sudah dikosongkan dengan kue yang ia buat.
"Kakakmu sedang dalam masa depresi, aku tidak tahu apakah aku akan mati." Jawab Jean sambil mengunyah kripik kentang.
"Kakak kamu tidak mungkin mati, kakak sangat kuat aku tahu itu." Misael tidak percaya ada orang yang bisa mengalahkan kakaknya.
"Bisakah kamu memanggil bibi Merril kemari?" Jean tiba-tiba mendapatkan ide untuk berdiskusi dengan Merril. Misael kemudian pergi meminta Merril untuk menemui Jean.
"Nona apakah ada sesuatu?"
"Bibi aku ingin mendiskusikan sesuatu." Merril terkejut melihat keseriusan Jean
"Apakah ada masalah?" Merril jarang mendengar Jean mengajaknya berdiskusi, jadi ia mengira Jean sedang dalam masalah serius.
"Bibi, apakah kamu tahu cara menolak seorang pria?" Tanya Jean.
"Nona kenapa kamu menolak pria? Apakah pria itu tidak baik?" Merril terlihat kaget ketika mendengar pertanyaan Jean.
"Bukan, bukan seperti itu." Menurut Jean Adam sangat baik, hanya saja Jean masih merasa bersalah karena menyukai pria yang juga disukai mantan pemilik tubuh ini.
"Lalu kenapa? Usia nona saat ini tidak lagi muda jadi wajar saja untuk jatuh cinta lalu menikah." Merril menatap Jean dengan khawatir.
"Memangnya siapa pria itu? Apakah dia lebih kaya dari keluarga Barker?" Tetapi Merril berpikir bahwa saat ini kekayaan uang tidak lagi berguna saat ini jadi dia sangat skeptis.
"Ugh.. Bisakah bibi menjaga rahasia? Jangan sampai nenek dan kakek tahu." Jean sedikit ragu untuk memberitahu soal Adam.
"Nona bisa yakin."
"Pria itu adalah Adam." Ucap Jean, Merril terlihat kaget sekaligus senang.
"Nona kenapa kamu ingin menolak Adam? Dia sangat baik dan juga memenuhi syarat untuk menjadi menantu keluarga Barker, dia juga menghormati aku dan Randalf meskipun dia tahu bahwa kami hanya pekerja rumah tangga di keluarga Barker." Merril sangat panik melihat Jean yang ingin menolak Adam, lagipula di mana lagi keluarga Barker dapat menemukan menantu yang baik seperti Adam. Jean terdiam, dia merasa Merril mendukung Adam dan tidak ingin Jean menolak Adam.
"Bibi aku dan Adam tidak akan menikah, aku bahkan belum menyandang status sebagai kekasih Adam tetapi bibi sudah mengatakan bahwa dia menantu yang baik." Jean merasa sedikit menyesal karena telah memberitahu Merril.
"Kalau begitu menikahlah, kalian tidak perlu berpacaran karena kalian telah saling mengenal sekolah menengah." Ucap Merril. Jean merasa takut dengan pemikiran Merril, dia sekarang yakin bahwa dia telah salah mendiskusikan soal Adam dengan Merril.
"Bibi, aku akan memikirkannya jadi bisakah beri aku waktu sebentar." Jean ingin mengusir Merril.
"Baiklah nona." Merril merasa pahit, dia sedikit kasihan dengan Adam. Merril tiba-tiba mendapat ide untuk memberitahu Nyonya Barker agar dapat meyakinkan Jean, dia bahkan lupa dengan janjinya dengan Jean barusan.
"Sistem selamatkan aku, tidak bisakah aku mendapat kemampuan tersembunyi untuk mengalahkan Adam?" Jean ingin menangis.
'Tuan maaf aku tidak bisa membantu, tuan bisa mendapatkan kemampuan jika memiliki banyak inti kristal.' jawab Sistem.
__ADS_1
"Tidak adakah opsi untuk membayar secara kredit?"
"Tidak ada." Jawab sistem. Jean hanya bisa merasa kecewa dengan jawaban sistem.
Setelah Merril keluar dari ruang kamar Jean, ia langsung pergi menemui Nyonya Barker dan menceritakan semuanya.
"Benarkah?" Nyonya Barker terkejut, Merril mengangguk.
"Sungguh, kenapa cucuku sangat bodoh menolak anak dari keluarga Brown? Aku dan Eddie akan berusaha meyakinkan Jean, jangan sampai dia menolak calon menantuku yang baik." Nenek Jean juga sedikit khawatir. Jean yang sedang berada di kamar tidak tahu bahwa Merril telah menceritakan masalah Adam dengan kakek neneknya.
Malam telah tiba, kebanyakan orang tidak tenang dan tidak berani menghidupkan listrik dengan generator, namun berbeda dengan rumah Jean yang secara terang-terangan menghidupkan generator dan memancing zombie untuk mendatangi rumahnya.
Seperti biasa Jean turun untuk makan malam bersama tetapi Jean tiba-tiba mendapat firasat buruk ketika melihat tatapan nenek dan kakeknya.
"Jean kemari lah." Jean ingin mundur tetapi dia terlambat, jika benar maka Merril telah memberitahu soal Adam.
"Nenek, tiba-tiba aku merasa tidak enak badan jadi bisakah ak- aku makan di kamar saja?" Jean ingin segera melarikan diri.
"Jean." Nenek Jean menatap Jean dengan tajam.
"Nenek.. " Jean tidak berani menolak, ia dengan patuh duduk di samping neneknya.
"Kenapa kamu ingin menolak Adam? Nenek ingin mendengar alasannya." Tanya nenek Jean secara langsung tanpa berbasa-basi.
"Nenek, aku merasa tidak pantas dengan Adam dan juga saat seperti ini agak sulit menjalin hubungan." Jawab Jean.
"Jean kamu sangat pantas bersama Adam lagipula bukankah kamu dari dulu memang menyukai Adam?" Jean terkejut mendengar bahwa Nyonya Barker tahu soal perasaan mantan pemilik tubuh ini terhadap Adam.
"Ada apa? Sebenarnya nenek tahu kamu telah menyukai Adam saat kamu masih berada di sekolah menengah, nenek membaca diary milikmu." Wajah Jean langsung memerah, dia tidak menyangka bahwa pemilik asli tubuh ini sangat ceroboh.
"Lihatlah wajahmu, mulutmu berkata lain tetapi tubuhmu tidak bisa membohongi kami." Ucap kakek Jean. Jean menyentuh pipinya yang terasa panas dan merasa bodoh untuk sesaat.
"Jika kamu tidak mau menerima Adam maka nenek dan kakek mu yang akan turun tangan menemui keluarga Brown." Melihat keraguan Jean membuat nenek Jean ingin pergi menemui keluarga Brown untuk membahas pernikahan mereka.
"Nenek jangan, aku tidak ingin terburu-buru menikah dan juga Adam hanya bermaksud untuk mengejar ku, dia juga pasti ingin hubungan kami berjalan secara perlahan." Jean menjelaskan semuanya dengan panik.
"Baiklah kalau begitu, jika kalian tidak menikah dalam kurun waktu satu tahun maka nenekmu akan berbicara dengan nyonya Brown secara langsung." Nenek Jean terlihat senang karena telah berhasil meyakinkan Jean.
"Iya nenek." Jean hanya bisa pasrah dengan pengaturan neneknya, setidaknya dia diberi waktu satu tahun untuk mengenal Adam.
"Nenek, apakah nenek membicarakan kakak ipar barusan?" Misael yang sedari tadi diam akhirnya bertanya.
"Ya, Adam adalah kakak ipar kalian berdua di masa depan, nenek akan meminta Jean untuk membawa Adam kemari supaya kalian saling berkenalan." Jawab nenek Jean dengan lembut kepada Misael dan Liam. Melihat betapa perhatiannya nenek Jean terhadap mereka membuat Jean sedikit iri.
"Kamu tidak perlu lagi membutuhkan kasih sayang nenekmu, kamu sudah besar jadi harusnya kamu belajar untuk mendapatkan kasih sayang Adam." Kakek Jean memperhatikan Jean yang menatap Misael dengan iri. Jean tersedak ketika mendengar ucapan kakeknya.
__ADS_1