Wear Apocalypse Book

Wear Apocalypse Book
28. Menuju kota N


__ADS_3

Sesuai dengan perkiraan Jean, pada pukul 12 malam hujan mengguyur kota J dengan deras, Jean tidak tahu apakah para pengungsi yang tidak memiliki kemampuan menyentuh air hujan atau tidak tetapi Jean tidak bermaksud membantu sekali lagi, dia percaya Adam dan Lane mampu mengatasi masalah sepele seperti itu.


Dunia dan kota J perlahan-lahan menjadi semakin aneh, udara di sekitar terlihat semakin berbahaya dan pohon-pohon terlihat hidup, memakan setiap jenis kehidupan yang lewat di depannya, baik manusia, zombie maupun hewan mutan.


Jean masih berjemur dengan tenang di depan rumahnya, kemampuannya telah melompat 2 level sehingga levelnya saat ini berada di level 6 berkat inti kristal ungu yang diberikan oleh Adam.


"Sangat nyaman hidup seperti ini, aku harap bukan mimpi." Jean bergumam sambil memejamkan matanya dengan nyaman.


'Tuan, belasan orang di pangkalan terinfeksi virus akibat hujan.' Sistem dengan rajin melaporkan kejadian dalam pangkalan.


"Apakah mereka kesulitan?"


"Tidak, mereka memisahkan orang-orang yang terserang demam dan juga mereka mendapat lebih dari 20 pengguna kemampuan yang baru akibat hujan, jadi tidak bisa dibilang mengalami kerugian." Jean merasa lega.


"Siapa wanita itu? Sejak kapan ada wanita cantik selain diriku di sini?" Jean memperhatikan Olivia yang sedang membantu Merril menyirami tanaman di depan rumah.


'Tuan dia adalah Olivia.' Sistem menjawab.


"Benarkah? Tetapi setahuku Olivia tidak secantik ini, jadi dia selama ini menutupi wajahnya dengan lumpur?" Jean terlihat bingung, dia bahkan berpikir bahwa Olivia lebih cantik dari Emma sang protagonis.


'Idiom macam apa itu? Olivia menutupi wajahnya dengan make up tebal agar Lane mengenalinya, dia telah melakukan ini semenjak di sekolah menengah.' Sistem menjelaskan alasannya.


"Oh- anak-anak sekolah saat ini semakin berani memakai make up." Komentar Jean. Jean ingat masa sekolahnya yang biasa-biasa saja, di mana dia selalu menjadi orang yang transparan, bahkan dia tidak pernah mendapat surat pengakuan dari pria selama masa sekolahnya.


Sebenarnya para lelaki di sekolahnya ketakutan dengan Jean karena Jean berapa kali mengalahkan pengganggu di sekolah, lelaki yang berada di sekitar Jean merasa rendah diri dan takut memprovokasi Jean.


"Nona, apakah kamu pernah mendapat kabar dari Raul dan Abby?" Randalf tiba-tiba bertanya. Jean baru teringat bahwa dia sempat meninggalkan alamat rumahnya pada Abby, namun hingga sekarang Abby tidak pernah terlihat. Apakah terjadi sesuatu dengan mereka?


"Aku tidak pernah mendengar kabar mereka." Jean menggelengkan kepalanya. Jean teringat bahwa situasi di kota N jauh lebih buruk dari kota J, pangkalan di kota N dikelola oleh para gangster setempat dan pangkalan tersebut sangat kecil sehingga hanya bisa menampung kurang dari 500 orang saja.


"Apakah perlu aku menjemput mereka?" Jean berpikir.


"Nona kamu tidak perlu membahayakan dirimu, aku yakin mereka akan baik-baik saja berkat pengingat darimu." Merril ikut berbicara.


"Mereka siapa?" Tanya Olivia dengan penasaran. Kali ini dia menghapus make up yang selalu ia pakai, wajahnya terlihat pucat namun memperlihatkan kecantikannya yang polos, awalnya dia merasa ada yang kurang di wajahnya tetapi kemudian Olivia merasa lega seolah telah melepaskan beban di pundaknya.


"Mereka adalah kenalan kami di kota N, mereka juga sempat membantu kami ketika ada masalah saat itu." Jawab Merril sambil mengingat kejadian Liam dan Misael.


"Apakah kamu akan pergi ke kota N?" Olivia bertanya pada Jean.


"Baiklah aku akan pergi, aku juga ingin tahu seperti apa kondisi kota N." Jean bangun dengan malas sambil merenggangkan tubuhnya.


"Bisakah aku ikut? Aku memiliki beberapa kenalan di kota N." Olivia berinisiatif pergi bersama Jean.


"Terlalu berbahaya, kamu bahkan tidak memiliki kemampuan untuk melindungi diri sendiri dan aku tidak ingin membawa beban." Jean menolak dan memberikan alasannya dengan jujur.

__ADS_1


"K-kamu meremehkan ku!" Olivia tidak terima ketika dirinya disebut beban oleh Jean.


"tapi itu benar bukan?" Olivia terdiam, dia tidak bisa membantah ucapan Jean.


"Kalau begitu aku akan membangkitkan kemampuanku hari ini!" Olivia kemudian pergi dengan marah.


"Wanita arogan." Komentar Jean.


"Tetapi menurutku Olivia orang yang baik, dia bersikeras membantu walaupun aku telah melarangnya." Merril berusaha mengubah pandangan Jean tentang Olivia.


"Itu karena dia merasa berhutang padaku." Jean tidak mau mengalah.


"Sudahlah biarkan saja, dengan Olivia rumah kita akan menjadi ramai, berselisih adalah hal yang biasa." Ujar Randalf.


Olivia sama sekali tidak bercanda, dia benar-benar membangkitkan kemampuannya dengan inti kristal pemberian Jean saat berada di pangkalan, harga dirinya terluka karena Jean.


"Kakak bisakah aku ikut pergi bersamamu? A-aku janji tidak akan nakal." Liam merasa bosan berada di rumah sepanjang hari.


"Tidak bisa, aku tidak bisa membawa beban lainnya." Jean terus menyinggung kata beban di depan Olivia.


"Aku sudah memiliki kemampuan!" Olivia berkata dengan marah.


"Oh- benarkah?" Jean menatap Olivia seolah tidak percaya.


"Lihatlah." Olivia mengeluarkan api di tangannya sambil memandang Jean dengan rasa bangga yang terlihat di matanya.


'Tetapi dia tidak lagi menjadi saingan Emma, kamu telah mengubah jalan cerita begitu banyak.' kata sistem.


"Ada apa? Kemampuan ini keren bukan?" Olivia senang melihat Jean yang tertegun, dia memamerkan kemampuannya dengan bangga.


"Masih jauh kuat dari kemampuanku." Jean menatap Olivia dengan jijik.


"Kakak, bisakah aku ikut? Aku bahkan lebih hebat dari dia, level milikku sudah berada di level 3." Kata Liam.


"Lihatlah, kamu bahkan kalah dari anak kecil." Jean melihat Liam dengan tatapan puas.


Olivia : "..."


Baru kali ini dia bertemu dengan orang yang mampu menyaingi kesombongannya.


"Kalian bertiga pergi saja bersama, apa gunanya kemampuan kalian jika kalian bermalas-malasan di rumah? Bantu orang di luar sebisa mungkin." Nenek Jean tidak tahan dengan keributan yang mereka buat.


"Dengarkan kata nenek, nenek bahkan setuju jika aku pergi bersamamu." Olivia mencibir.


"Sejak kapan nenekku menjadi nenekmu??"

__ADS_1


Olivia dan Jean terus berdebat hingga akhirnya mereka diusir dari rumah oleh nenek Jean.


"Liam apakah aku benar-benar ingin ikut? Di luar terlalu berbahaya." Nenek Jean sebenarnya enggan membiarkan Liam ikut bersama Jean.


"Nenek tenang saja, jika aku terluka makan nenek harus menyalahkan kakak karena tidak becus menjagaku." Liam berusaha meyakinkan nenek Jean.


"Benar. Jean kamu harus menjaga Liam dengan benar, jika dia sampai terluka parah maka aku akan mengusir mu dan meminta Adam segera menikahkan mu." Ucap nenek Jean dengan nada mengancam.


Jean : "..."


Sebenarnya siapa yang merupakan cucu biologis?


Jean, Olivia dan Liam segera berangkat meninggalkan rumah, sedangkan Toto mengikuti mobil dari belakang, kecepatan Toto tidak kalah dengan kecepatan mobil semenjak Liam meningkatkan level, bahkan mungkin mampu mengejar kecepatan mobil sport. Liam terus menatap ke arah luar dengan penasaran.


"Tidakkah kamu takut zombie?" Olivia bertanya dengan iseng pada Liam.


"Tentu saja tidak, untuk apa aku takut? Aku akan membunuh mereka sebelum mereka menangkap ku." Jawab Liam dengan berani.


"Apakah kamu mengajar Liam untuk membunuh?" Olivia merasa terkesan dengan keberanian Liam.


"Tidak, aku tidak pernah membawanya untuk membunuh zombie di luar." Jean sendiri merasa heran mengapa Liam sama sekali tidak takut dengan zombie.


"Lalu bagaimana bisa dia setenang ini?"


"Aku menyukai film-film horor terutama film yang bertema kiamat." Jawab Liam.


"Pantas saja. kamu menemukan orang yang pemberani." Olivia berkata jujur, banyak orang yang masih takut untuk keluar, beberapa bahkan mengalami gangguan jiwa akibat tidak bisa menerima keadaan saat ini.


Jean merasa tersindir, dia juga awalnya adalah seorang penakut tetapi berkat sistem, dia bisa membunuh zombie seperti membunuh binatang.


"Kakak, sepertinya mobil di belakang mengikuti kita sedari tadi." Liam melaporkan.


Jean kemudian melihat kaca mobil yang ternyata benar memperlihatkan mobil berwarna silver mengikuti mobil mereka dari kejauhan.


"Apa tujuan mereka? Apakah mereka ingin merampok?" Olivia sedikit ketakutan.


"Kalian tunggu di sini, jangan keluar." Jean menghentikan mobil dan mengenakan penyamarannya, lalu keluar dari mobil.


"Sepertinya mereka sudah tahu kita mengikuti mereka." Pria bernama Edwin terlihat gugup.


"Ada apa denganmu? Kenapa kamu begitu gugup? Kita tidak bermaksud merampok mereka dan hanya ingin mengikuti mereka." Wenda menegur Edwin. Mereka adalah sekelompok anak SMA yang terdiri dari 3 orang pria dan 2 wanita.


"Bagaimana jika kita ternyata mengikuti mobil perampok? Itu berbahaya." Edwin masih takut, baru-baru ini dia sangat penakut dan tidak tidur nyenyak karena mengkhawatirkan banyak hal.


"Aku akan turun bersamamu, bawa juga tongkat baseball untuk berjaga-jaga." Davin mengajukan dirinya untuk turun bersama Edwin.

__ADS_1


"Aku juga akan ikut agar kita tidak kalah jumlah, kalian berdua jangan kemana-mana." Anton juga tidak mau kalah.


"Kalian berhati-hatilah." Ucap Nara dengan nada khawatir, jika tidak ada ketiga lelaki itu, mereka akan kesulitan melalui masa-masa sulit seperti ini.


__ADS_2