Wear Apocalypse Book

Wear Apocalypse Book
18. Masa lalu Lane


__ADS_3

Sesuai dengan plot asli pada hari ke-10, Adam dan keluarganya diburu oleh musuhnya yang memiliki kemampuan kecepatan, tapi kali ini dia tidak terbunuh.


"Adam apakah kamu baik-baik saja?" Nyonya Brown gemetar ketakutan melihat mayat pembunuh yang setengah tubuhnya telah dibakar oleh api hitam.


"Bu tenang, aku baik-baik saja." Kemarahan Adam menghilang ketika melihat ibunya terlihat takut. Dia tidak menyangka para pejabat itu bahkan berani menunjukkan taring pada keluarganya demi mendapatkan posisi pemimpin basis.


"Lebih baik kamu segera menghubungi Lane, dia akan memberi pelajaran pada pejabat keji itu." Kakek Adam memandang mayat yang kini sepenuhnya berubah menjadi abu.


Tengah malam itu, semua pejabat kota J kembali dikumpulkan di ruang rapat. Seorang pejabat tampak marah ketika mendengar pembunuh itu tidak berhasil menyingkirkan keluarga Brown.


"Apakah kalian tahu mengapa kalian dikumpulkan disini?!" Lane bertanya dengan marah. Matanya mengunci kepada salah pejabat yang dicurigai sebagai dalang dibalik rencana pembunuhan malam ini. Para pejabat lain menundukkan kepala tidak berani menatap Lane.


"Sangat tidak sopan membangunkan tidur kami hanya untuk masalah sepele!" Pejabat yang ditatap Lane terlihat marah seolah rencana pembunuhan itu tidak berkaitan dengannya.


"Jika kalian ketahuan ingin membunuh keluarga Brown maka aku tidak akan segan-segan membunuh kalian semua!" Lane membekukan meja rapat dan membuat balok es runcing yang mengarah ke leher semua pejabat kota J. Pejabat itu tampak ketakutan melihat seberapa dekatnya balok es itu di leher mereka.


Semenjak itu para pejabat memilih untuk menuruti pengaturan Lane, namun mereka masih enggan mematuhi Adam dan salah satu dari mereka masih diam-diam menunggu kesempatan saat Lane lengah.


"Kenapa Lane tidak membunuh para pejabat itu? Dengan begitu tidak akan ada lagi ancaman tersembunyi di basis penampungan?" Jean mendengar sistem yang memberitahu keadaan di pangkalan.


'tidak semudah itu. Para pejabat juga telah menyiapkan cara untuk membuat masyarakat tidak percaya sepenuhnya pada Adam, jika Lane menyingkirkan pejabat maka masyarakat yang tertipu oleh provokator para pejabat akan tidak tinggal diam.' sistem menjelaskan.


"Dunia politik memang menyebalkan. Bahkan di hari kiamat pun mereka masih memperebutkan kekuasaan." Jean tidak terlalu menyukai dunia politik, menurutnya lebih baik menjadi orang biasa tanpa harus menjadi pejabat yang selalu bermain intrik.


'Tidak semua pejabat seperti itu, Lane berencana pergi menjemput Walikota ke pangkalan untuk menekan pejabat licik.'


"Kapan?"


'Dia berencana pergi 3 hari kemudian. Itu juga merupakan pertemuan pertamanya dengan tokoh utama wanita.'


"Bagaimana keadaan Emma sekarang? Apakah dia baik-baik saja?" Jean telah lama tidak melihat Emma, dia tidak tahu apakah Emma akan menderita di luar sana.


'Bisa dibilang dia sangat beruntung, dia diselamatkan oleh sekelompok pria dari universitas A.' jawab sistem.


"Sangat disayangkan dia tidak sengsara, padahal aku ingin melihatnya dalam keadaan menyedihkan. Lalu apakah dia akan menggoda pria-pria itu?" Jean memikirkan bagaimana Emma menggoda pria itu.


'aku tidak bisa memberitahu padamu apa yang akan terjadi selanjutnya.' sistem menolak memberitahu dengan rinci apa yang akan terjadi nanti.


"Ini tidak bisa dikatakan spoiler, kamu memberiku jawaban setengah-setengah."


"Kakak, kamu berbicara dengan siapa?" Liam tiba-tiba masuk ke dalam kamar Jean.


"Kenapa kamu masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu?" Jean melihat Liam yang berdiri di pintu.


"Aku ingin bertanya kapan kakak akan menepati janji." Sebelum Jean menjawab, tiba-tiba suara bell terdengar.


'Tuan, Aria datang dan menunggu di depan.' Sistem memberitahu Jean.


Aria datang dengan perasaan cemas, dia tidak tahu apakah ini benar-benar rumah yang Jean maksud, ataukah Jean menipunya? Suara derit terdengar, dan perlahan-lahan sebuah lobang berbentuk persegi panjang terlihat.


"Aria apakah kamu yakin?" Seorang wanita di belakang Aria bertanya.

__ADS_1


"Kita bisa coba terlebih dahulu." Aria maju mendatangi lobang itu.


"Apakah kamu ingin membeli sesuatu?" Suara seorang pria terdengar.


"Ya, bisakah kamu memberitahu dulu apa yang kamu jual?" Aria tidak bisa melihat wajah orang yang sedang berbicara. Jean kemudian menyerahkan daftar harga barang pada Aria melalui lobang.


"Ini.." Aria tidak menyangka harga barang akan sangat mahal, dia dan teman-temannya hanya memiliki 20 kristal.


"Bisakah kamu menurunkan harganya?" Aria sekali lagi bertanya. Kristal yang ia miliki tidak cukup untuk membeli persediaan selama sebulan.


"Karena kalian adalah konsumen pertamaku jadi aku memberi potongan 50 persen." Jean tidak berharap Aria tidak memiliki banyak kristal putih.


Aria kemudian menghitung kristalnya.


1kg beras seharga 5 kristal setelah dipotong dengan diskon, sedangkan ikan menjadi 3 kristal per ons, dan sayur sawi menjadi 2 kristal.


"Kalau begitu aku memesan 1kg beras, 2 ons ikan, 2 ons sawi, dan 1 ons bawang bombai." Aria memesan setelah berpikir panjang, dia kemudian menyerahkan 17 inti kristal putih pada Jean.


"Tunggu sebentar." Jean kemudian berpura-pura mengambil barang lalu menyerahkannya pada Aria. Aria memeriksa barang dalam kantong plastik, dia merasa lega karena Jean tidak menipunya.


"Terima kasih." Aria kemudian pergi bersama temannya.


"Sepertinya Aria telah memberanikan dirinya." Komentar Jean ketika melihat Aria berjalan menjauh dari benteng.


...


"Aria apakah kamu yakin dengan barang ini? Kamu tidak takut terinfeksi?" Teman Aria, Marry tidak berani membeli karena dia tidak percaya.


"Aku yakin kakak Jean tidak akan menipuku." Aria tidak memaksa Marry untuk langsung percaya, lagipula dia telah bosan memakan daging kaleng terus menerus.


"Tentu saja, lagipula tidak aman membawa barang seperti ini." Aria dan Merry kemudian sampai di rumah dengan selamat.


"Aria darimana saja kamu?" Naomi bertanya ketika melihat Aria yang baru saja muncul setelah 3 jam pergi.


"Bu aku mendapat ini." Aria menyerahkan barang yang ia beli.


"Dari mana kamu mendapatkannya?" Tanya Naomi ketika melihat daging dan sayuran segar seperti baru dipetik. Naomi dan Aria telah berkeliling mencari persediaan, namun mereka sama sekali tidak menemukan sayuran hijau yang tidak bermutasi dan terpaksa terus memakan daging kaleng.


"Sebenarnya aku diberitahu kakak Jean waktu itu, dia berkata jika aku kesulitan menemukan persediaan, aku bisa membelinya di sebuah rumah dengan inti kristal sebagai alat pertukaran." Jawab Aria.


"Baguslah, dengan begini kamu terhindar terkepung dari zombie saat mencari persediaan di supermarket." Naomi tidak menyangka Jean akan membantunya sebanyak itu.


"Ayo masuk, ibu akan memasak ikan ini untuk makan siang." Marry tampak ragu untuk masuk bersama Aria.


"Marry kenapa kamu tidak masuk?" Aria bertanya ketika melihat Marry yang masih berada di luar.


"Apakah tidak apa-apa?"


"Tidak mungkin aku pelit padamu, lagipula kamu telah menemaniku berburu tadi pagi."


"Ta- tapi aku tidak membantumu sama sekali."

__ADS_1


"Tanpa kamu, aku mungkin tidak memiliki nyali membunuh zombie." Aria tersenyum melihat Marry yang masih ragu untuk masuk. Marry merasa bersalah karena iri pada Aria, padahal Aria sudah sangat kesulitan memberi makan keluarganya.


"Oke." Marry akhirnya masuk dan membantu Naomi memasak di dapur, dia merasa tidak nyaman hanya duduk diam dan tidak membantu sama sekali.


.....


"Joe kamu jaga basis penampungan selama aku pergi, awasi para pejabat itu dan jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi." Lane bersiap-siap untuk pergi mencari keberadaan walikota.


"Kapten kenapa kamu pergi sendiri? Setidaknya bawa saja satu orang lagi untuk menemanimu." Joe merasa Lane terlalu nekat untuk melakukan pencarian sendiri.


"Tidak perlu, lagipula aku memiliki kemampuan jadi jika kalian ikut kalian hanya akan menjadi beban." Lane memiliki kepercayaan diri terhadap kemampuannya walaupun masih berada di level kedua.


"Hati-hati kapten." Joe tidak lagi memaksa Lane membawa mereka.


"Lane cepatlah pulang, aku tidak ingin berurusan dengan pejabat itu terlalu lama." Kata Adam pada Lane.


"Tenang saja aku akan pergi selama seminggu." Canda Lane


"Lane apakah kamu ingin melihat temanmu tewas di tangan mereka?" Adam berpura-pura menatap Lane dengan tatapan ganas.


"Aku khawatir mereka yang akan tewas terlebih dahulu dengan kemampuanmu." Ucap Lane sambil mengemasi barang keperluannya di tas.


"Lane?? Kemana kamu pergi?" Olivia tiba-tiba muncul.


"Bukan urusanmu." Jawab Lane dengan dingin, dia tidak berniat memaafkan Olivia.


"Lane aku sudah meminta maaf." Olivia menatap Lane dengan sedih.


"Tetapi aku tidak akan pernah memaafkanmu." Lane menatap Olivia dengan tatapan marah dan kecewa.


"Kenapa?" Olivia menangis ketika melihat Lane masih belum memaafkan dirinya.


"Ini hukuman mu karena telah membohongiku." Lane kemudian pergi mengabaikan Olivia yang masih menangis.


Adam dan Joe tidak tahu harus bagaimana bereaksi, jadi mereka hanya diam melihat Olivia menangis di depan mereka.


Olivia dan Lane bersama saat mereka masih di sekolah menengah. Saat itu Lane masih berpenampilan culun dan tubuh kurusnya sering dijadikan karung tinju oleh siswa yang nakal. Lane semakin sering dipukuli ketika Olivia yang dikenal sebagai dewi sekolah berpacaran dengannya.


"Olivia kenapa kamu mau bersama dengan lelaki cupu itu?" Salah satu siswa di sekolah bertanya dengan nada jijik.


"Apakah kalian tidak malu dengan kelakuan kalian?!" Mendengar bagaimana Olivia membela dirinya membuat Lane merasa senang, setidaknya ada satu orang di dunia ini yang peduli dengannya. Tetapi hal tersebut tidak bertahan lama hingga ia mendengar percakapan Olivia diam-diam dengan teman sekelasnya.


"Aku sudah berhasil bukan menaklukkan si cupu itu dan berpacaran dengannya selama 3 bulan? Nah sekarang aku ingin kalian memberiku uang taruhan sebelumnya." Kata Olivia dengan nada sombong.


"Kamu memang pantas disebut dewi sekolah, bahkan si cupu itu jatuh cinta padamu." Mereka memuji kelicikan Olivia.


Lane tanpa sadar menggenggam tangkai mawar yang berduri dengan erat, tangannya telah mati rasa karena hatinya lah yang merasakan sakit. Lane segera pergi menjatuhkan mawar dengan tetesan darah yang telah mengering di lantai porselen.


Pada awalnya Olivia memang sedikit jijik ketika mendekati Lane, tetapi setelah sering bergaul dengan Lane, dia kemudian menyadari ada perasaan asing yang tumbuh di hatinya. Dia akui bahwa dia egois karena pada awalnya dia berpacaran dengan Lane hanya karena taruhan konyolnya dengan teman sekelas. Jadi dia bermaksud untuk menjelaskan semuanya pada Lane setelah taruhan itu selesai, namun dia menemukan setangkai mawar yang terletak di depan pintu dengan darah yang telah mengering. Olivia berubah pucat karena Lane telah mengetahuinya!


Olivia bergegas berlari mencari Lane namun dia tidak menemukannya bahkan di bawah pohon tempat favoritnya, dia mencoba menghubungi nomor telepon Lane namun nomor itu tidak dapat dihubungi lagi. Olivia memilih untuk menunggu Lane datang di hari berikutnya, tetapi dia mendapat kabar bahwa Lane telah berpindah sekolah. Dia hanya bisa menangis karena dia telah menyia-nyiakan perasaan Lane.

__ADS_1


Semenjak saat itu Olivia telah berubah sepenuhnya, dia tidak lagi menjadi gadis yang sombong bahkan dia enggan jika seseorang menyebutnya dewi sekolah. Banyak lelaki yang ingin menjadi kekasihnya tetapi dia terus menolak dan dia kemudian mengembangkan karakter keras kepala.


Lane sendiri juga berubah, dia menjadi lelaki dengan karakter yang dingin terhadap wanita bahkan dengan ibunya. Dia bekerja keras memasuki tentara untuk mengikuti jejak ayahnya, dia tidak sepenuhnya membenci lelaki itu karena telah memberinya uang setiap bulan.


__ADS_2