
"Nona terima kasih karena telah menyelamatkan Misael," Liam meneteskan air matanya, dia tidak menyangka bahwa Jean akan membantunya sebanyak ini.
"Sama-sama. Ada baiknya kamu merawat dirimu dan sahabatmu terlebih dahulu. Bibi Merril dan bibi Linda tolong rawat kedua bocah ini." Jean meminta keduanya untuk merawat luka Liam dan Misael yang terlihat parah.
Misael tanpa sadar merintih kesakitan ketika Merril memberi Alkohol untuk membersihkan luka di punggungnya. Sedangkan Liam terdiam, hanya wajahnya yang sesekali mengerut memperlihatkan rasa sakit.
Jean melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 7 malam, sudah waktunya makan pikir Jean. "Apakah sudah selesai?" Merril dan Linda mengangguk.
"Baiklah kalau begitu mari kita makan, Liam kamu ikut kami untuk makan malam." Jean telah menahan rasa laparnya sedari tadi, itu juga merupakan alasan dibalik Jean yang tidak mau berdebat banyak dengan Nyonya Gill.
"Lalu bagaimana dengan Misael?" Liam merasa khawatir dengan sahabatnya yang masih pingsan akibat luka yang diberikan Nyonya Gill.
"Jika dia sudah sadar nanti, kami akan menyiapkan makanan untuknya," kata Merril.
"Terima kasih," Liam kembali tersentuh dengan perawatan yang diberikan oleh Jean.
"Kalau begitu mari kita makan, aku sudah kelaparan sedari tadi," Jean mengeluh pada Merril, sedangkan Randalf hanya tertawa mendengar nona mereka yang tampaknya memiliki nafsu makan yang besar.
"Aku khawatir nona akan menjadi gemuk setelah ini" Kata Merril yang ikut tertawa.
"Tidak, itu tidak benar! Aku tidak akan gemuk hanya karena makan begitu banyak." Kata Jean dengan suara manjanya, Liam dan Linda kemudian ikut tertawa. Liam merasa hatinya hangat hari ini, dia seperti kembali merasakan keceriaan yang mirip dengan rumahnya di kampung halaman.
Di sisi lain, Nyonya Gill terburu-buru menuju bank yang terletak di kota yang tidak terlalu jauh dari desa, dia menguangkan cek tersebut dan mendapati bahwa cek itu memang tidaklah palsu.
"Ternyata wanita itu memang memiliki banyak uang. Siapa wanita itu? Kenapa aku tidak pernah melihatnya di desa sebelumnya?" Nyonya Gill kemudian melupakan pemikirannya soal Jean, dan kembali menghitung uang yang ia dapatkan lalu membeli perhiasan baru dari uang tersebut.
Nyonya Gill kembali ke rumah sambil memamerkan perhiasan barunya. "Bu darimana? Kenapa aku baru pulang sekarang?" Tina anak bungsu Nyonya Gill bertanya-tanya ketika melihat ibunya baru pulang ketika jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.
"Lihat, bagaimana dengan perhiasan baru ini? Bagus bukan?" Nyonya Gill menunjukkan kalung emas yang baru ia beli di kota.
"Darimana kamu mendapat uang tersebut? Apakah kamu mencuri uangku lagi?!?!" Tuan Gill marah ketika mendengar bahwa istrinya membeli perhiasan baru lagi.
"Ayah.. Jangan marah, tidak ada salahnya jika ibu membeli perhiasan" Tina membela ibunya, dia berpikir bahwa ayahnya terlalu keras.
"Jika ibumu terus menerus membeli perhiasan menurutmu apa yang akan terjadi? Bagaimana aku akan membayar uang sekolahmu dan membayar biaya hidup kita?!" Tuan Gill melampiaskan kemarahannya dengan membentak Tina.
"A..ay..ayah" Tina sedikit takut dengan kemarahan ayahnya. Melihat itu, Tuan Gill kembali tenang dan meredakan emosinya.
"Suamiku, aku tidak mencuri kali ini. Aku mendapat uang dari menjual kedua anak yang bernama Liam dan Misael" Kata nyonya Gill.
"Kemana kamu menjual mereka?" Tuan Gill menyipitkan matanya dan menatap Nyonya Gill dengan curiga. Dia tidak takut jika Nyonya Gill menyiksa kedua anak itu, tapi dia takut jika Nyonya Gill terlibat dengan perdagangan manusia.
__ADS_1
"Tenang saja, aku menjual kedua bocah itu pada seorang wanita bodoh. Wanita itu tampaknya mengenal kepala desa dengan baik," Tuan Gill lega mendengarnya.
"Mereka menggangguku saat aku menyiksa kedua bocah itu di gudang. Mereka bertindak seolah mereka lebih mampu daripada kita. Aku mendengar bahwa wanita itu bernama Jean, yang baru saja tiba di desa ini," Lanjut Nyonya Gill yang membuat Tuan Gill kembali gelisah.
"Siapa nama wanita itu? Katakan!" Nyonya Gill terkejut dengan reaksi suaminya.
"A...ada apa?" Tiba-tiba Tuan Gill maju dan menarik kerah baju milik Nyonya Gill.
"Apakah kamu menyinggung wanita itu?! Katakan!!" Tuan Gill melototi Nyonya Gill seolah ingin memakannya hidup-hidup.
"Ayah!!" Tina berteriak dan berusaha menarik tangan ayahnya, Tuan Gill kemudian sadar dan melepas kerah baju milik Nyonya Gill.
"Besok kalian harus ikut denganku! Kamu sudah menyinggung keluarga Barker!" Tuan Gill kemudian pergi menyisakan Nyonya Gill yang tampak ketakutan dan Tina yang berusaha menenangkan ibunya.
Keesokan harinya, Tuan Gill berpakaian rapi dan banyak menyemprotkan parfum ke kemeja miliknya. Tina melihat ayahnya dengan heran, kemudian mencari ibunya yang tidur di kamar tamu semalaman.
"Bu, bangun" Tina menggoncang kan tubuh ibunya agak kasar karena merasa khawatir dengan tindakan ayahnya yang aneh pagi ini.
"Berisik!!" Nyonya Gill membentak dan menghempaskan tangan Tina dengan kasar.
"Bu ayah selingkuh!!" Kata Tina yang tidak tahan melihat ibunya kembali tidur. Nyonya Gill langsung tersadar ketika mendengarnya.
"Apa yang kamu barusan katakan?" Nyonya Gill tampak kaget ketika mendengar suaminya berselingkuh.
"Pantas saja kamu kasar padaku semalam! Ternyata kamu punya selingkuh! Katakan siapa wanita itu?!" Tuan Gill tercengang dengan apa yang istrinya tuduh, tapi tak lama ekspresinya berubah suram.
"Aku tidak berselingkuh! Aku berpakaian rapi agar keluarga Barker memiliki kesan baik padaku! Ini semua salahmu!" Tuan Gill melotot marah. Dia berpakaian rapi untuk memberikan kesan baik pada keluarga Barker, tapi istrinya justru menuduhnya berselingkuh.
"Ada baiknya kamu segera bersiap atau aku akan menyeret mu" Tuan Gill pergi meninggalkan istrinya sendirian. Nyonya Gill akhirnya menyadari bahwa dirinya telah salah paham.
....
Di sisi lain, Misael Akhirnya tersadar dan melihat ruangan asing yang tampak mewah "Apakah aku sudah mati? Apakah ini surga."
"Misael apakah kamu sedang bercanda?" Misael menolah ke arah suara tersebut dan menemukan Liam yang berpakaian putih.
"Liam apakah kamu mati juga?" Misael terkejut melihat Liam yang duduk di sampingnya.
"Bodoh! Apakah kamu mengutukku agar mati? Kita masih hidup!" Liam menjentikkan jarinya ke dahi Misael yang membuat Misael merintih kesakitan.
"Liam jangan mengganggu Misael, dia masih belum pulih," Kata Linda yang meletakkan mangkuk berisi bubur di meja samping tempat tidur.
__ADS_1
"Ini bukan mimpi? Lalu dimana kita?" Mata Misael berair sehingga tampak sangat menyedihkan ketika melihat Liam yang tampak baik-baik saja, dia takut Liam akan disiksa oleh Nyonya Gill.
"Aku berhasil membujuk Nona Jean agar kita bisa bebas dari rumah Gill," Liam menceritakan semua yang ia alami semalam pada Misael.
"Lalu dimana Nona Jean berada? Aku ingin berterimakasih pada Nona Jean," Misael berusaha bangkit, namun luka di punggungnya membuat Misael kembali merasakan sakit.
"Misael istirahat saja, berterima kasihlah ketika kamu sudah sembuh," Kata Liam.
"Liam benar, Nona saat ini sedang sarapan, jadi tunggu saja hingga kamu pulih atau saat Nona melihatmu nanti." Linda setuju dengan ucapan Liam. Linda kemudian pergi menyisakan Liam dan Misael di ruang.
"Liam kita harus berterimakasih pada Nona Jean, jika dia tidak ada maka aku tidak akan tau bagaimana nasib kita kedepannya," Misael merasa lega sekaligus senang karena mereka akhirnya bebas dari keluarga Gill.
"Aku tau, makanlah terlebih dahulu." Liam mengambil bubur yang telah disiapkan Linda lalu menyuapi Misael dengan pelan.
Sementara itu, Tuan Gill dan Nyonya Gill telah sampai di depan rumah Jean. Tuan Gill kemudian melihat Linda yang menyapu halaman, lalu mendekatinya.
"Linda, apakah keluarga Barker ada di rumah?" Linda kaget ketika melihat Tuan Gill dan Nyonya Gill yang mendatanginya.
"Apakah maksud Nona Jean yang dimaksud tuan?" Linda sedikit gelisah ketika melihat Tuan Gill, dia takut jika Tuan Gill mempersulit Nona Jean.
"Ya, ada yang ingin aku sampaikan pada Nona Jean," Kata Tuan Gill dengan ramah.
"Cepat panggil Nona mu!" Nyonya Gill melototi Linda dengan marah dan terdengar tidak sabar.
"Jaga sikapmu!" Tuan Gill menegur. Linda kemudian terburu-buru masuk dan mencari Jean yang sedang duduk mengunyah camilannya di halaman belakang.
"Nona, Gawat! Tuan Gill mencari Nona!" Kata Linda dengan panik.
"Kenapa orang-orang suka mengganggu ketenangan ku?!" Jean mendengus marah, dia di kehidupan sebelumnya adalah orang suka bersantai dan tidak suka terlibat dalam masalah. Kehidupan orang kaya memang merepotkan! Pikir Jean.
"La... Lalu bagaimana dengan Tuan Gill? Apakah nona akan mengusirnya?" Linda sedikit ketakutan melihat Jean marah.
"Suruh mereka masuk ke ruang tamu." Linda bergegas keluar menuju Tuan Gill yang masih menunggu di pintu depan.
"Tuan Gill silahkan masuk, Nona menunggu di ruang tamu." Kata Linda dengan sopan, Tuan dan Nyonya Gill pun mengikuti Linda. Mata Tuan Gill terlihat cerah ketika melihat vas dan lukisan antik yang berada di ruang tamu.
"Ada apa?" Tanya Jean langsung tanpa berbasa-basi. Jean mengerutkan keningnya ketika mencium aroma parfum yang menyengat dan Tuan Gill tanpa sadar menatap Jean dengan rakus, dia memikirkan bagaimana memperkenalkan Jean dengan anak tertuanya.
"Siapa yang memakai parfum? Baunya sangat tidak enak." Kata Jean sambil mengipasi wajahnya dan berharap aroma itu akan hilang. Wajah tuan Gill tampak sangat malu, tapi Jean berpura-pura tidak tahu.
"Nona Barker, aku di sini ingin meminta maaf atas kekasaran istriku kemarin, istriku telah lancang pada nona." Ujar Tuan Gill yang menghilangkan kecanggungan.
__ADS_1
"Ya aku sudah memaafkannya, lagi pula aku tidak terlalu peduli," Tuan Gill merasa lega, "Tapi.. Aku ingin istrimu berlutut meminta maaf pada Liam dan Misael." Lanjut Jean yang membuat senyum di wajah Tuan Gill menegang.
"Apa maksudmu?! Aku tidak akan merendahkan diriku pada seorang budak! Suami lihatlah dia, dia bahkan berusaha mempermalukan ku!" Nyonya Gill berteriak dan mengeluh pada suaminya.