Wear Apocalypse Book

Wear Apocalypse Book
Bertemu Olivia


__ADS_3


Bertemu Olivia



'Sistem apakah kamu yakin Adam bisa selamat dari bencana 3 hari lagi?' Jean telah selesai membantu Nyonya Brown mendekorasi kamar hotelnya, sebenarnya itu lebih cocok dikatakan sebuah apartemen mewah dibandingkan kamar karena ruangannya sangat luas.


'Tentu saja. Apakah kamu meragukan ku? Sistem sedikit kesal karena Jean sangat tidak mempercayainya.


'Oke aku percaya.' Jean akhirnya berhenti khawatir dengan jaminan sistem.


"Jean? Kenapa kamu ada disini?" Kakeknya Adam muncul dengan bawahan Lane yang mendorong kursi roda di belakang.


"Kakek aku telah berada di sini sejak lama. Kemana saja kamu? Aku tidak melihat kakek sedari tadi." Jean mengeluh.


"kakek sedang berkeliling melihat basis penampungan." Nampak bahwa bawahan Lane terlihat lelah karena terus mendorong kakek Adam berkeliling.


"Apakah ada yang menarik?" Tanya Jean.


"Tentu saja ada tetapi bagi kalian kaum muda itu akan terlihat membosankan." Bawahan Lane merasa sedikit tersindir dengan ucapan kakek Adam.


"Sangat disayangkan aku akan pulang sebentar lagi untuk makan siang, jadi aku tidak bisa tinggal lebih lama." Jean berpura-pura melihat jam tangan.


"Kenapa tidak makan siang bersama kami?" Tanya Nyonya Brown.


"Kakek dan nenek di rumah akan khawatir jika aku tidak pulang makan siang karena aku telah berjanji akan pulang sebelum jam makan siang." Sebenarnya itu hanyalah alasan Jean untuk menghindar dari kakek Adam. Kakek Adam sering memaksa seseorang bermain catur bersamanya, dia tidak akan berhenti bermain catur sampai dia menang.


"Lain kali bawa kakekmu kemari juga, aku telah lama tidak menantangnya bermain catur. Kali ini aku pasti akan menang melawannya." Ucap kakek Adam dengan bangga. Mulut Jean berkedut melihat kepercayaan diri kakek Adam yang terlalu berlebihan, dia telah mengatakan hal yang sama selama bertahun-tahun tapi ia tidak pernah menang kecuali orang tersebut sengaja kalah darinya.


"Oke aku akan membawanya kemari lain kali." Jean kemudian pamit dan mengenakan penyamarannya lagi ketika keluar.


Jean ditatap aneh oleh para pengungsi dan ia bahkan mendengar beberapa bisikan.


"Hei kudengar lelaki itu adalah tamu khusus, jika mendekati dia kita pasti akan memperoleh manfaat." Bisik salah satu pengungsi.


"Ssssttt! Diamlah bagaimana jika dia mendengar ucapanmu?" Jean tidak lagi memperdulikan orang-orang yang mengawasinya dan terus berjalan menuju lahan parkir tamu khusus.


"Tuan tolong jangan pergi dulu." Seorang wanita berpakaian mini mendatangi Jean yang bersiap memasuki mobil.


"Apa mau mu?" Jane memandangi wanita itu. Wanita itu mengenakan make up tebal namun bajunya terlihat kotor akibat tidak mandi beberapa hari, air kini telah menjadi komoditas langka.


"Tuan aku bisa melayani mu jadi bawa aku bersamamu." Jean sangat terkejut, dia mengerti apa yang dimaksud wanita itu.


' sepertinya tuan membutuhkan benda palsu yang dipasangkan di bagian bawah.' sistem menertawakan Jean.


"Pergilah!!" Jean terlihat kesal karena telah diejek oleh sistem.


"Ta-tapi." Tanpa menunggu wanita itu melanjutkan, Jean langsung masuk ke mobil dan memberi makan debu pada wanita itu.


'Tuan betapa kejamnya dirimu, kamu mempermalukan wanita itu di depan orang ramai.'


"Biarkan saja, memangnya aku seorang l*sbian?" Jean keluar dari pangkalan. Dia bermaksud untuk meningkatkan pengalaman bertarungnya.


Dua mobil menyamai kecepatan mobil Jean dan memaksa mobil Jean berhenti.


"Apa mau kalian?" Jean turun dari mobil dan mengeluarkan katana miliknya, keahlian pedangnya telah berada di level 4 jadi dia dapat dengan mudah membunuh.


"Serahkan persediaan milikmu!!" Seorang lelaki kekar dengan tato di sekujur tubuhnya keluar dari mobil bersama pria lain yang merupakan bawahannya.

__ADS_1


"Apakah kalian ingin mati?" Jean bertanya dengan nada mengancam, tetapi mereka justru tertawa.


"Dengan tubuh kurus mu aku khawatir kamu yang akan mati duluan." Ucap pemimpin geng itu dengan nada meremehkan.


"Apakah kalian bodoh? Kalian sangat meremehkan lelaki kurus, kalau begitu maju satu persatu." Cibir Jean.


"Storm majulah, beri lelaki itu pelajaran." Pemimpin geng menunjuk lelaki yang tampak garang.


Storm maju sambil memamerkan otot lengannya dan memainkan pedang ditangannya.


"Menyerah saja maka aku akan mengampuni mu, jika kamu melawan dengan tubuh kurus mu aku khawatir kamu akan cepat mati di tanganku." Storm menatap Jean dengan tatapan menghina. Jean tidak marah sama sekali, dia justru mengeluarkan katana miliknya dari sarung.


"Oh.. Jadi kamu tidak menyerah? Jadi bersiap-siaplah untuk mati! " Melihat Jean yang tidak berbicara membuat Storm agak jengkel.


Jean dan Storm sama-sama bergerak maju dan mengayunkan senjata hingga bertabrakan. Storm tersenyum licik ketika melihat mata Jean bertemu dengannya, dia berencana mendorong mundur Jean dan mempermalukannya, tapi apa daya dia tidak mampu mendorong mundur.


"Brother Storm dorong dia hingga jatuh!" Rekan Storm bersorak ketika melihat kesempatan Storm untuk mengalahkan Jean dengan kekuatan ototnya.


Wajah Storm terlihat pucat, dia tidak percaya bahwa dia tidak bisa mendorong mundur Jean sama sekali.


"Sekarang giliran ku." Jean tersenyum, nampak bahwa dia sama sekali tidak terpengaruh dengan kekuatan dorongan Storm.


"Apa yang ter- terjadi?" Mereka terkejut melihat Storm dipaksa mundur.


"Storm apa yang kamu lakukan? Jangan bermain-main!!" Pemimpin geng itu tampak marah tetapi Storm tidak mampu menahan kekuatan dorongan Jean. Jean kemudian menendang dada Storm hingga terjatuh ke tanah, lalu mendorong katana ke lehernya.


"Kamu telah kalah." Ucap Jean sambil menginjak tubuh Storm dengan kaki kirinya.


"Apakah ada lagi yang berani menantang ku?" Jean bertanya dengan sombong. Mereka terdiam, tidak ada yang berani meremehkan Jean karena Storm merupakan orang yang paling terkuat kedua setelah pemimpin mereka.


"Jika kalian berani sekali lagi menghalangi jalanku, maka aku tidak akan segan-segan membunuh kalian semua!" Ancam Jean. Wajah pemimpin geng tampak jelek, dia tidak berani melawan Jean karena dia sendiri kesulitan memukul mundur Storm.


"Mati!!!" Storm berlari mendekati Jean. Sebelum dia sempat mengayunkan pedangnya, Jean telah terlebih dahulu menyambar Storm dengan kekuatan petir nya tanpa perlu repot melihat ke belakang.


"Peng- pengguna kemampuan?!?!" Mereka terlihat takut ketika melihat petir yang mengelilingi tubuh Jean.


"Cepat kabur!!" Mereka membubarkan diri dan segera meninggalkan tempat kejadian, bahkan mayat Storm tidak diperdulikan sama sekali.


"Sepertinya mereka sudah tahu pengguna kemampuan." Jean menyaksikan mereka pergi membawa mobil dengan kecepatan penuh.


'Tentu saja, lagipula mereka telah mengikuti mu dari basis penampungan.' sistem memberitahu Jean.


"Pantas saja. Lalu kenapa tidak memberitahu aku sebelumnya?"


'Aku tidak memberitahu karena yakin tuan mampu melawan mereka.'


"Lain kali beritahu aku terlebih dahulu." Jean tidak suka membunuh sesama manusia karena jumlah manusia akan menyusut.


Jean kemudian melanjutkan perjalanannya dan membunuh zombie level 3 ke bawah untuk memperkuat dirinya.


"Tunggu!!" Olivia berlari terengah-engah mengejar Jean yang hampir segera pergi.


'Bukankah itu Olivia? Kenapa aku bertemu dengannya lagi?' Jean bergidik ngeri ketika melihat Olivia mendatanginya.


"Apa mau mu?" Jean berusaha santai.


"Bisakah kamu memberi tumpangan? Aku ingin pergi ke basis penampungan tapi aku tidak pandai mengemudi." Olivia merasa lega karena Jean tidak segera pergi.


"Maaf tapi aku tidak pergi ke arah sana." Jean langsung menolak.

__ADS_1


"Kumohon.. Aku lelah berlari menghindari para kanibal dan lelaki c*bul yang berulang kali ingin membunuh dan menyentuhku." Olivia memohon sambil menangis, tampaknya dia telah putus asa.


'Untungnya tuan telah mengganti plat mobil. Jika dia melihat plat mobilmu sama dengan yang sebelumnya, aku khawatir tuan akan dicekik olehnya.' Jean semakin waspada.


'Jika aku tidak mengantarnya, apakah dia akan dendam lagi?' Jean khawatir dia akan berurusan dengan Olivia.


'Mungkin saja, Olivia sangat membenci orang-orang yang menolaknya.' Jawab sistem.


"Oke aku akan mengantarmu." Jean pasrah dan dengan enggan membukakan pintu mobil untuk Olivia.


"Terimakasih." Olivia tersenyum sambil menghapus air mata palsunya.


"Siapa namamu?" Olivia tiba-tiba bertanya.


"Panggil saja aku John." Jawab Jean dengan singkat, dia tidak berencana untuk berbicara banyak dengan Olivia.


"Oke John. Apakah kamu tidak tinggal di basis penampungan?" Olivia sekali lagi bertanya sehingga membuat Jean heran.


"Tidak, aku seorang berjiwa bebas dan aku bisa melindungi diriku sendiri, jadi aku tidak membutuhkan perlindungan dari militer." Olivia baru menyadari Jean membawa katana yang dia pikir sangat mirip dengan seseorang.


"Ada apa?" Jean merasakan tatapan Olivia.


"Apakah pedang ini milikmu?" Mendengar pertanyaan Olivia membuat Jean sedikit gugup, takut bahwa Olivia mengenalinya sekilas.


"Tentu saja, aku tidak sengaja menemukannya di jalan." Jawab Jean yang berusaha tenang. Olivia tidak lagi meragukan Jean dan memilih untuk menutup matanya dengan tenang karena selama ini dia kurang tidur.


'Wanita ini mengerikan, dia sangat kasar pada wanita tapi pada lelaki dia berpura-pura menyedihkan.' Keluh Jean pada sistem.


'Apakah tuan ingin menyerahkannya pada Lane?'


'Tentu saja, aku tidak mau mengurus wanita ini.' Sistem hanya bisa bersimpati pada Lane.


Tentara yang menjaga pintu untuk tamu khusus terkejut ketika melihat mobil Jane kembali lagi ke basis penampungan.


"Apakah Kapten Lane masih ada di basis?" Tanya Jane pada salah satu tentara.


"Ya, Kapten Lane berada di tenda bagian barat." Jawab tentara itu. Olivia terbangun ketika mendengar Jane menyebut nama Lane.


"John kamu mengenali Kapten Lane?" Olivia menatap Jean, dia tidak menyangka takdir akan mempertemukannya dengan Lane melalui Jean.


"Ya, aku sempat membantunya membersihkan tempat ini dari zombie sebelum didirikannya basis penampungan." Jawab Jean. Olivia telah menduga Jean akan sangat kuat, jika tidak mana mungkin dia bisa mengenali Lane.


"Bisakah kamu membawaku pada Kapten Lane? Aku ingin bertemu dengannya." Olivia berharap mendapat kamar yang baik jika ia bertemu dengan Lane, lagipula tidak ada yang bisa ia andalkan selain Lane.


"Oke, mari kita turun." Jean kemudian turun dari mobil dan mencari Lane bersama Olivia.


"Kapten Lane." Jean memanggil Lane yang tampaknya sedang berbicara dengan bawahannya.


"John kenapa kamu kem-" Lane terlihat terkejut melihat Olivia yang berada di samping Jean.


"Olivia?" Lane tidak menyangka akan bertemu Olivia setelah mereka berpisah begitu lama.


"Lane, kamu masih mengenaliku?" Olivia berlari dan memegang tangan Lane, seolah sedang bertemu dengan penyelamat hidupnya. Lane tidak menjawab pertanyaan Olivia.


'Pantas saja kesan pemeran utama pria pada cahaya bulan putih runtuh.' komentar Jane setelah melihat betapa agresifnya perilaku Olivia yang jelas-jelas sudah menyandang status sebagai mantan kekasih Lane.


"Jika tidak ada yang lain aku akan pergi." Melihat tatapan rumit Lane pada Olivia membuat Jean tidak ingin berlama-lama berada di sana, Jean tahu plot novel sebentar lagi akan dimulai.


Jean langsung pergi dan segera ingin pulang, siapa yang tahu dia akan dipertemukan lagi dengan salah satu tokoh novel yang mengancam nyawanya.

__ADS_1


__ADS_2