
Lane, Emma dan walikota beserta pengawalnya tiba di basis penampungan. Emma akhirnya mengerti mengapa Lane mencari walikota, dia secara sengaja menguping pembicaraan Lane. Dia juga tahu bahwa Lane ternyata adalah anak dari seorang Jendral, yang membuatnya senang karena tidak salah memilih untuk mengikuti Lane.
Selama perjalanan, Emma juga bertindak lemah dan berlindung di pelukan Lane tetapi Emma sedikit tidak puas dengan sikap Lane yang hanya merasa kasihan terhadap dirinya.
"Lane kamu akhirnya pulang." Olivia ingin menyentuh tangan Lane namun Lane menghindar dan memilih menemui Adam. Olivia akhirnya tersadar melihat seorang wanita tambahan yang mengikuti Lane seperti ekor.
"Siapa kamu?" Olivia bertanya dengan nada tidak ramah, instingnya memberitahu bahwa Emma sangat dekat dengan Lane. Lane mengerutkan keningnya ketika mendengar pertanyaan kasar Olivia.
"A-aku Emma, aku diselamatkan oleh Adam." Emma memperkenalkan diri dengan gugup, suaranya tanpa sadar membuat Lane tidak lagi peduli dengan kekasaran Olivia.
Olivia ingin memperjelas status Emma namun ia tahan ketika melihat walikota turun dari mobil bersama pengawalnya. Adam langsung pergi menyambut walikota.
"Aku tidak menyangka kalian berdua menghasilkan ide seperti ini." Walikota memasuki gedung hotel bersama Adam dan Lane, Emma ingin mengikuti Lane namun Lane justru meminta Joe mengantarkan Emma ke kamar.
"Dimana kapten Lane tinggal?" Emma bertanya pada Joe, Joe merasa sedikit aneh dengan Emma dan dia tidak menyangka Emma berani bertanya soal kapten Lane.
"A-aku hanya ingin berterima kasih pada kapten Lane." Emma sedikit gugup melihat Joe yang tidak menjawab pertanyaan Emma.
"Sebaiknya kamu jangan mendekati Lane lagi." Olivia tiba-tiba muncul di hadapan Emma.
"A-aku tidak bermaksud mendekati dia." Emma mundur satu langkah dan tidak berani menatap Olivia.
"Kalian berdua akur lah, mulai sekarang kalian adalah tetangga." Joe merasa sakit kepala ketika melihat Olivia yang tidak menyerah untuk mendekati Lane.
"Joe aku ingin menemui Lane, bisakah kamu memberitahu di mana kamar Lane? Aku ingin menyampaikan sesuatu." Olivia menatap Joe dengan penuh harap.
"Tidak, kapten Lane akan menghukum ku jika aku memberitahu di mana letak kamarnya." Joe ingin segera kabur dari Olivia, namun mengingat tugas dari Lane membuatnya terpaksa menghadapi Olivia.
"Lalu bisakah kamu menyingkirkan wanita ini dari hadapanku?" Olivia menatap Emma dengan tatapan ganas, dia merasakan krisis entah dari mana.
"Maaf tapi ini perintah kapten Lane."
"Apakah dia sengaja ingin membuatku cemburu? Benar bukan?" Joe tidak menjawab karena dia sendiri tidak tahu apa tujuan Lane meletakkan kedua wanita ini di tempat yang sama.
"Nona ini kunci kamarmu, jangan sampai hilang." Joe menyerahkan kunci kamar lalu segera pergi menjauhi kedua wanita itu, Joe tanpa sadar mencap daerah Olivia sebagai zona terlarang di pikirannya.
"Joe apa yang terjadi?" Melihat Joe yang bejalan tergesa-gesa membuat Jean penasaran.
"Ah.. J-john kenapa kamu bisa ada di sini?" Joe merasa lega setelah bebas dari Olivia.
"Aku hanya ingin berkunjung. Aku dengar Lane telah menemukan walikota, apakah itu benar?" Jean sengaja berkunjung untuk melihat secara langsung bagaimana Olivia bereaksi ketika melihat Emma bersama Lane.
"Ya itu benar, mereka mungkin sedang melakukan rapat untuk menentukan siapa pemimpin basis penampungan." Jawab Joe sambil menyeka keringatnya.
"Tapi aku rasa Adam merupakan kandidat yang cocok sebagai pemimpin basis penampungan." Jean tidak menyangka pergantian pemimpin basis akan tetap dilakukan meskipun Adam selamat dari insiden pembunuhan, hal tersebut menunjukkan betapa kuatnya plot novel.
"Ssttt! Kita bicarakan di tempat lain saja." Joe segera memperingatkan Jean untuk diam.
__ADS_1
"Apakah ada sesuatu yang terjadi selama aku pergi?" Jean bertanya ketika Joe membawanya ke kantor Lane.
"Rencana pembunuhan Adam sempat terjadi berapa hari yang lalu tetapi para pejabat pasti akan mencari cara lain untuk mendapat posisi pemimpin, jadi mereka menghasut orang-orang dengan mengatakan bahwa Adam mengambil keuntungan dan memeras rakyat." Joe menjelaskan.
"Kenapa posisi pemimpin basis tidak diserahkan saja pada Lane?"
"Kapten Lane menolak posisi tersebut tetapi jika tidak ada pilihan lain aku rasa kapten Lane akan menerima posisi itu." Jawab Joe sekali lagi.
"Apakah nona ingin meminum sesuatu? Teh atau kopi?"
"Tidak perlu, aku sebenarnya ingin membahas untuk membuka toko penjualan senjata dan bahan bakar di tempat ini dengan Adam." Jean membuat rencana seperti itu karena sistem tidak menjelaskan bahwa dia harus mendapatkan inti kristal dari menjual persediaan.
"Bukankah berbahaya bagi nona untuk mendapatkan hal seperti itu sendirian?" Joe tahu bahwa Jean kuat namun dia tidak menyangka Jean akan mendapat barang yang sangat diinginkan banyak orang.
"Ini masalah sepele." Jawab Jean dengan acuh, walaupun demikian Jean diam-diam merasa bangga di lubuk hatinya.
"Kalau begitu nona tunggu saja di sini hingga rapat selesai, nona dapat berkeliling jika nona bosan menunggu, aku akan menyampaikan masalah ini dengan Tuan Adam." Joe menganggap masalah ini sangat penting sehingga segera keluar untuk melihat kondisi di ruang rapat.
Suasana ruang rapat cukup kooperatif kali ini akibat walikota yang datang untuk menekan beberapa pejabat, namun hal itu tidak mencegah Adam untuk melepaskan posisinya sebagai pemimpin basis penampungan.
"Lane kamu seharusnya menjadi pemimpin basis, dengan ayahmu sebagai pendukung di belakangmu mereka tidak akan berani membantah perintah mu." Walikota menepuk bahu Lane, walikota saat ini tidak cocok untuk memegang posisi pemimpin karena kemampuan yang tidak ia miliki.
Lane sama sekali tidak menunjukkan ekspresi senang setelah menjadi pemimpin basis, justru ia sedikit marah karena lagi-lagi nama ayahnya diperjual seolah ia selalu berlindung di balik punggung ayahnya. Adam hanya terdiam melihat Lane yang tidak berbicara, dia tahu bahwa Lane sangat membenci pengaruh ayahnya.
"Baiklah aku menerima posisi pemimpin basis tetapi Adam harus menerima 30 persen dari biaya masuk basis penampungan." Lane akhirnya berbicara, dia tahu bahwa dia tidak bisa menolak posisi ini.
"Jika kalian menolak maka kalian harus memikirkan ide untuk mencari tempat lain sebagai basis penampungan." Lane menatap tajam sehingga ruang rapat kembali sunyi.
"Jika tidak ada yang lain maka rapat ini telah selesai, aku tidak menerima protes dari orang yang hanya berbicara tetapi tidak memiliki kontribusi bagi basis penampungan." Lanjut Lane.
Lane segera keluar dari ruang rapat, dia tidak memperdulikan beberapa pejabat yang diam-diam mengeluh soal keputusan Lane.
"Aku rasa keputusan walikota ada benarnya, aku tidak sanggup menekan pejabat karena aku sama sekali bukan orang yang pandai berpolitik, Orang-orang akan menganggap ku sebagai kapitalis tidak bermoral." Adam berusaha menghibur Lane.
"Aku rasa kamu benar-benar kapitalis tidak bermoral, kamu bahkan memeras calon istrimu." Lane sedikit terhibur dan mulai menerima posisinya sebagai pemimpin basis.
"Kapten, nona Jean datang ke basis penampungan untuk membahas soal toko senjata." Joe langsung menghampiri Lane saat melihat Adam dan Lane keluar dari ruang rapat.
"Di mana dia sekarang?" Adam segera bertanya.
"Nona Jean telah keluar dari ruang kerja kapten Lane, mungkin dia saat ini sedang mengelilingi basis." Jawab Joe.
Saat ini Jane ditarik oleh Olivia untuk memasuki kamarnya, Jean berpikir keberuntungan miliknya sedikit tidak bagus karena dia langsung ditemukan oleh Olivia.
"John aku akan berpikir bahwa kamu adalah seorang wanita jika suaramu tidak jantan." Ucap Olivia ketika ia menyadari betapa kurusnya lengan Jean saat ia sentuh.
"Yah.. Temanku juga sempat berpikir seperti itu." Jean sedikit waspada ketika Olivia berkata demikian.
__ADS_1
"John aku membutuhkan bantuan mu, bisakah kamu berjanji untuk membantuku? Aku akan sangat berterima kasih jika kamu mau membantuku." Olivia memohon dengan nada centilnya sambil memegang tangan Jean.
'Sistem aku rasa aku tahu apa yang dia minta.' Jean sedikit merinding melihat Olivia bertingkah lembut dihadapan penyamaran nya.
'Berpura-pura lah bertingkah c*bul, dia mungkin akan segera mengusir mu.'
'Apakah kamu berusaha membuat harga diriku runtuh?!' Jean mengerutkan keningnya ketika mendengar saran sistem.
"John.. Kamu mau membantuku bukan?" Melihat Jean yang terdiam membuat Olivia sedikit khawatir. Olivia dulu selalu melakukan trik seperti ini untuk membuat lelaki luluh dan segera mengabulkan permintaannya.
"Jika berkaitan dengan kapten Lane aku tidak bisa." Jean memilih untuk menolak permintaan Olivia secara langsung. Olivia merasa kecewa dengan penolakan Jean.
"Apakah kamu mendengar gosip di luar?" Olivia menatap Jean dengan sedikit permusuhan.
"Tidak, aku tahu kamu mengejar Lane dari awal." Jawab Jean. Olivia merasa lega ketika tahu bahwa Jean bukan tipe orang yang mendengar gosip. Di basis, beberapa orang bergosip mengenai Olivia yang mencoba merayu Lane untuk mendapatkan kamar di gedung, beberapa orang yang tinggal di tenda juga menatap Olivia dengan jijik.
"Kalau begitu aku akan berterus terang bahwa aku ingin menyampaikan permintaan maaf pada Lane..." Olivia menceritakan pengalamannya bertemu dengan Lane pada Olivia hingga alasan kenapa Lane begitu membenci Olivia sampai sekarang.
'Aku tidak menyangka bahwa Olivia sebenarnya memiliki masa lalu seperti ini dengan Lane.' Jean sedikit terkejut melihat berapa menyesalnya Olivia karena telah menipu Lane waktu itu.
'Tentu saja dia memiliki masa lalu yang membuat nya cocok menjadi karakter antagonis, jika tidak bagaimana mungkin Olivia bisa mengejar Lane hingga akhirnya ia memiliki nasib buruk di akhir novel.' Ujar sistem.
"Aku rasa kamu tidak harus mengejarnya, jika tidak Lane akan merasa jijik dengan keberadaan mu dan justru memperburuk hubungan mu dengan Lane." Jean memilih untuk memperingatkan Olivia.
"Tapi aku benar-benar ingin meminta maaf, setidaknya dia tidak lagi membenciku." Olivia menolak untuk menyerah.
"Terserah kamu, kamu akan mengerti suatu saat bahwa pengejaran mu sia-sia." Jean tidak memaksa Olivia untuk menyerah, lambat laun dia mungkin sadar bahwa dia tidak bisa mengembalikan semuanya seperti dulu.
Emma telah memperhatikan kedatangan Jean yang kemudian diseret oleh Olivia, dia sedikit penasaran dengan Jean yang sedang menyamar sebagai pria, melihat katana di punggung Jean membuat Emma tahu bahwa Jean juga merupakan orang penting di basis penampungan yang mungkin terhubung dengan Lane.
Ketika Jean keluar dari kamar Olivia, Emma secara diam-diam mengikuti Jean.
'Tuan, protagonis wanita sedang mengikuti mu.' wajah Jean langsung berubah muram, dia tidak menyangka Emma akan berani mengikuti nya. Jean kemudian berhenti berjalan dan menoleh ke belakang, Emma panik ketika Jean sadar bahwa dia mengikutinya, dia kemudian berusaha berbaur dengan orang-orang di sekitar agar tidak ketahuan.
'Ingin mencoba mengikuti ku?' Jean tersenyum licik dibalik topengnya. Jean memilih untuk keluar dari gedung hotel dan berjalan di sekitar tenda, Emma tanpa sadar mengikuti Jean dan kehilangan jejak di sekitar tempat yang sunyi.
'Tuan kamu sangat buruk.' komentar sistem.
"Ternyata ini adalah kesenangan tersembunyi setelah menjebak protagonis." Perasaan bangga muncul di hati Jean, dia mengabaikan komentar sistem.
Beberapa lelaki kekar dengan penuh luka mengepung Emma.
"Nona cantik apakah kamu tersesat?" Seorang lelaki dengan bekas luka mencolok di wajahnya mendekati Emma.
"Apa mau kalian?" Emma mundur dengan gugup, dalam hatinya dia mengutuk Jean berkali-kali.
"Tenanglah nona, kami hanya ingin bermain-main denganmu sedikit." Keempat lelaki itu mengepung Emma.
__ADS_1