Wear Apocalypse Book

Wear Apocalypse Book
11


__ADS_3

Jean mengendarai mobil off road yang telah ia modifikasi, juga tidak lupa mengeluarkan katana miliknya dan meletakkannya di punggung. Linda duduk di sampingnya dengan gugup.


"Linda tunjukkan jalannya." Jean sebenarnya juga sangat gugup tapi berusaha menenangkan pikirannya. Jalanan dipenuhi dengan orang-orang yang berlari dengan tergesa-gesa, beberapa toko tampak dibuka paksa dari luar dan orang-orang saling merampas memperebutkan barang.


"Nona belok ke kiri." Linda menunjukkan jalan yang mengarah ke luar kota. Jean membelokkan mobilnya ke arah tersebut, Jalan itu tampak sepi dan hanya meninggalkan mobil yang mengantri tanpa pemiliknya. Jean terpaksa mengemudi di luar jalur aspal.


"Tolong!"


"Tolong!" Suara wanita meminta tolong terdengar dari depan, hal itu membuat tangan Jean berkeringat dingin.


'Tuan di depan sekitar 200 meter terdapat satu zombie yang masih level 1, ini kesempatan yang bagus.' Sistem memberitahu Jean.


'Bisakah kamu memberi kalung itu sekarang? aku sangat gugup.' Jean kembali mendesak sistem, tapi sistem hanya diam. Jean hanya bisa mengutuk sistem.


Jean kemudian melihat seorang wanita yang berlarian ke arah mobil miliknya dengan putus asa dan di belakangnya mayat pria berjalan mengejarnya. Ketika wanita itu melihat Jean matanya bersinar seolah menemukan penyelamatnya.


"Tolong aku! Kumohon!" Wanita itu berteriak dan berlari dengan kekuatan penuhnya ke arah Jean.


"Linda tunggu di dalam mobil, jangan kemana-mana." Jean keluar dan menghentikan mobilnya. Wanita itu sangat terkejut ketika melihat Jean keluar dari mobilnya.


"Apakah kamu bodoh!? Kenapa kamu keluar dari mobil?" Wanita itu berlari sekaligus berteriak memarahi Jean. Jean mengabaikan kemarahan wanita tersebut dan mengambil katana miliknya.


Wanita itu semakin dekat dengan Jean, Jean kemudian mengambil posisi kuda-kuda dan mengingat setiap gerakan yang telah ditransmisikan oleh sistem.


'Jangan gugup Jean, anggap saja sedang membunuh ayam. Itu adalah ayam bukan zombie' Jean mencoba membayangkan bahwa zombie itu adalah ayam.


'Sudah jelas itu adalah zombie tapi kamu bersikeras itu adalah ayam.' Sistem tiba-tiba mengganggu Jean.


'Diam! Jangan mengacau!' Jean memarahi sistem.


Wanita itu semakin dekat dengan Jean dan kemudian melewati Jean. Ketika ia melihat Jean masih di posisi yang sama dan tidak ikut berlari, ia berhenti.


"Gadis bodoh cepatlah melarikan diri!" Wanita itu berteriak tapi Jean masih tidak bergeming.


"Jangan salahkan aku jika kamu mati!" Wanita itu meninggalkan Jean dengan ekspresi pahit.


'5... 4...' Jean menghitung mundur dan menggenggam erat katana miliknya ketika melihat zombie bergegas ke arahnya.


'3... 2... 1...' Jean maju beberapa langkah lalu menebas kepala zombie tersebut dengan sekali tebas. Darah berceceran di tanah, meninggalkan jejak zombie yang tergeletak di tanah dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya.


'Ayam.. Ini adalah ayam..' Jean masih di posisi yang sama dan mencoba tenang tapi kemudian dia tidak tahan karena semua makanan yang telah ia cerna hari ini naik ke tenggorokan, Jean kemudian memuntahkan semuanya.


'Selamat kepada tuan karena telah membunuh zombie pertama kalinya. Silahkan untuk mengambil kalung penenang di kotak penyimpanan sistem.' Suara notifikasi sistem terdengar.


Linda telah melihat semuanya dari dalam mobil, ketika ia melihat Jean muntah, ia langsung bergegas keluar dari mobil dan menghampiri Jean.


"Nona apakah nona baik-baik saja?" Linda tidak memperdulikan mayat zombie yang tergeletak di depannya.


"Ugh.. aku baik-baik saja, aku mencoba untuk beradaptasi." Jean mencoba menghilangkan rasa mual lalu diam-diam mengambil kalung dari sistem dan langsung memakainya. Sensasi hangat keluar dari kalung itu dan membuat wajah Jean yang mengkerut perlahan-lahan rileks.


Jean kemudian kembali melihat mayat zombie yang tergeletak di tanah. Tidak ada lagi rasa mual yang menghantamnya seperti tadi, seolah dia hanya sedang melihat binatang yang terbunuh. Ia kemudian mengayunkan katana nya sekali lagi dan membelah kepala zombie manjadi 2 bagian.


"Nona?" Linda tercengang ketika melihat betapa mudahnya Jean beradaptasi. Jean kemudian mencoba mencari inti kristal di otak zombie dengan tangan kosong. Siapa pun yang pertama kali melihatnya akan berpikir bahwa Jean terlalu biadab.

__ADS_1


"Ini sangat menjijikkan!" Jean berhasil mengeluarkan inti kristal yang terlihat bening dengan noda darah yang mengotori kristal tersebut. Linda telah mengalihkan matanya sedari tadi dan tidak berani melihat apa yang Jean lakukan. Jean kemudian menyeka tangannya dan kristal yang kotor akibat darah zombie dengan kain yang terletak di dalam mobil.


"Nona apa benda itu?" Linda bertanya dengan penasaran ketika ia melihat kristal yang telah dibersihkan oleh Jean.


"Ini adalah kristal yang terletak di otak zombie. Ini bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan dan juga akan menjadi mata uang yang akan sering digunakan nanti." Jawab Jean.


"Nona darimana nona tahu hal-hal seperti ini?" Linda merasa heran, seolah-olah Jean sudah tahu apa yang akan terjadi di masa depan.


"Anggap saja aku bisa meramal masa depan." Jawab Jean dengan samar. Dia tidak bisa memberitahu bahwa dia bukan dari dunia ini, jika tidak maka ia mungkin akan berakhir di laboratorium.


"Nona apakah nona tidak akan mengganti baju?" Linda memperhatikan pakaian Jean yang ternoda darah.


"Biarkan saja, lagipula aku tidak memiliki baju cadangan." Kata Jean, ada nada yang sedikit terdengar bangga dalam ucapan Jean.


'Jika mereka tahu kamu gemetaran dan membayangkan sedang membunuh ayam saat pertama kali membunuh zombie level pertama, mereka akan menertawakan mu' Suara sistem terdengar meremehkan.


'Biarkan saja, lagipula mereka tidak akan tahu.' Jean sedang dalam suasana hati yang baik jadi dia tidak berniat berdebat dengan sistem. Jean dan Linda bersiap melanjutkan perjalanan.


"Tunggu!!" Wanita yang dikejar zombie tadi menghentikan mereka. Jean hanya menatapnya sekilas dan bersiap memasuki mobil.


"Kubilang tunggu! Apakah kamu tuli?!" Wanita itu menahan pintu mobil Jean.


"Apa yang kamu mau? Aku tidak kenal denganmu." Jean tidak menyukai wanita ini dari pertama kali ia melihatnya.


"Bawa aku ikut bersamaku!" Wanita itu berteriak seolah sedang memerintah Jean. Jean mengerutkan keningnya dengan tidak senang.


"Begini kah caramu meminta bantuan? Tapi maaf aku tidak menyambut dirimu." Jean langsung menutup pintu tanpa memperdulikan wanita itu yang terus memarahi Jean.


'Tuan, wanita itu adalah tokoh antagonis yang sebenarnya.' sistem memberitahu Jean.


Seingat Jean nama tokoh wanita antagonis tersebut adalah Olivia Holland. Jika Jean adalah umpan meriam yang tidak bersalah maka Olivia adalah penjahat yang sebenarnya. Olivia sendiri adalah cahaya bulan putih tokoh utama protagonis pria, dia merasa iri dengan Emma yang mendapat perlindungan dari Lane. Olivia berulang kali menjebak Emma sehingga ia juga memiliki akhir yang sangat menyedihkan. Jean tidak merasa kasihan sama sekali sebagai sesama umpan meriam, Olivia memang ditakdirkan lahir dengan sikap arogan, dia juga tidak ingin menjadi pahlawan kesiangan.


"Nona kenapa nona menyelamatkannya tetapi tidak membawa wanita itu?" Tanya Linda yang menyela pikiran Jean, ia sedikit bingung.


"Bibi Linda di saat seperti ini jangan mudah merasa kasihan terhadap seseorang, kita tidak tahu apakah mereka akan menusuk kita dari belakang atau tidak. Lagipula wanita itu terlalu arogan." Linda terdiam dan tidak lagi berkomentar. Jean menghela nafasnya, dia merasa Linda terlalu lembut.


Di sepanjang jalan, Jean kembali membunuh 2 zombie dan telah mengumpulkan 3 kristal. Jean tidak kecewa karena kiamat belum benar-benar datang dan karena itulah jumlah zombie belum meningkat pesat.


"Linda bagaimana kabar orang tuamu? Apakah mereka masih bisa dihubungi?" Jean masih belum menemukan bus yang ditumpangi kedua orang tua Linda.


"Belum. Terakhir mereka bilang bahwa mereka menunggu dalam bus lalu ponsel mereka mati, sepertinya ponsel ibuku kehabisan daya baterai." Linda memegang ponselnya dengan erat.


Setelah lebih dari setengah jam mengemudi, Jean dan Linda akhirnya menemukan bus yang sesuai dengan deskripsi bus yang ditumpangi orang tua Linda. Linda keluar mobil dan berjalan menuju bus yang tampak kosong dengan sedikit cemas, dia takut kedua orang tuanya telah pergi.


"Ibu? Ayah? Apakah kalian ada di dalam?" Linda berteriak, dia tidak berani memasuki bus secara langsung. Jean hanya duduk menunggu di dalam mobil, dia sudah tahu bahwa di dalam bus memang ada beberapa orang yang bersembunyi di dalamnya.


"Linda?" Seorang wanita tua mengintip dari dalam untuk memastikan.


"Ibu, aku disini untuk menyelamatkanmu." Kedua orang tua Linda keluar bersama tiga orang dewasa lainnya.


"Dasar binatang sapu!" Wanita tua itu bergegas menampar pipi Linda. Linda merasa terkejut ketika wajahnya telah panas akibat tamparan ibunya.


"Apa yang kamu lakukan?" Jean melototi ibu Linda.

__ADS_1


"Siapa kamu? Kamu tidak berhak ikut campur urusan kami!" Terlihat jelas bahwa ibu Linda sering melecehkan Linda, sehingga dia tidak merasa bersalah sama sekali.


"Ibu hentikan, Dia adalah majikan ku." Linda berkata dengan perasaan campur aduk, antara kecewa dan malu.


"Benarkah?" Ibu Linda melembutkan suaranya ketika dia tahu Jean adalah majikan Linda. Dia tahu bahwa Linda sedang bekerja di keluarga yang mendominasi di kota J, dan dia tidak menyangka bahwa majikan Linda akan turun tangan langsung menjemput mereka.


"Ya bu, ini adalah majikan ku Jean Barker."


"Nona barker saya minta maaf, saya tidak tahu nona adalah majikannya Linda." Ibu Linda mengubah suaranya seperti seorang penjilat. Jean hanya menatapnya dengan acuh, tidak menghiraukan permintaan maaf ibu Linda.


"Hanya ada 4 kursi dalam mobil, jadi hanya 2 yang tersisa." Jean mengisyaratkan bahwa dari kelima orang tersebut hanya dua orang yang bisa ikut bersamanya. Jean kembali ke dalam mobil dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Nyonya Grant anakku sedang sakit parah, bisakah nyonya membiarkan aku untuk pergi terlebih dahulu?" Seorang wanita memohon dengan cemas.


"Tidak bisa, kamu lihat sendiri bahwa yang menjemput ku adalah Linda anakku. Kamu cari saja orang lain." Ibu Linda langsung menolak.


"Bu, ayah. ayo kita pergi." Linda membawa koper ibu dan ayahnya.


"Nyonya Grant aku mohon, aku akan membayar kebaikanmu." Wanita itu menangis sambil berlutut.


"Bagaimana kamu akan membayar kebaikanku?" Ibu Linda bertanya dengan arogan seolah wanita itu tidak mampu.


"Ak-u aku akan memberikan perhiasan dan uangku, jadi kumohon." Wanita itu terburu-buru mengeluarkan perhiasan emas dan uang miliknya. Mata ayah dan ibu Linda berbinar ketika melihat perhiasan emas itu.


"Humph! Baiklah aku memberikan kursi penumpang untukmu." Ibu Linda berbicara arogan seolah dia tidak memperhatikan emas tersebut.


"Berikan emasnya padaku." Perintah ayah Jean, wanita itu pun menyerahkan emas miliknya dengan tergesa-gesa seolah dia takut ibu Linda berubah pikiran.


"Ayah??" Linda tidak percaya kedua orang tuanya akan seperti ini.


"Apa?! Kamu mau melawan? Lagipula kita tidak perlu ikut dengan majikan mu, ayah telah mendapat kunci mobil di depan jadi tidak perlu ikut majikan mu yang tidak tahu sopan santun!"


"Ayah dia masih majikan ku." Linda menangis ketika orang tuanya menghina Jean.


"Lihatlah keadaan saat ini, cepat atau lambat majikan mu akan jatuh miskin!" Ayah Linda berkata dengan nada menghina, lagipula dia bukan orang yang buta huruf, dia sudah tau bahwa kekacauan ini akan membuat kejatuhan perusahaan-perusahaan besar.


Jean yang mendengar dari jauh hanya bisa mencibir dalam hatinya.


'Apakah orang itu sedang mengutukku jatuh miskin? Kita lihat saja nanti siapa yang akan merangkak memohon belas kasihan.'


'Apakah kamu tidak ingin membantu Linda?' Sistem  bertanya.


'Aku tidak bisa. Dia sudah membuat keputusan dari awal bahwa dia akan mengikuti orang tuanya.' Suasana hati Jean sangat buruk, dia merasa seperti ingin mencekik seseorang.


Linda menunduk kepalanya, dia tidak berani menghadapi Jean.


"Suami ayo kita segera pergi." Nyonya Grant menarik tangan Linda dan memasuki mobil lain yang terletak tidak jauh dari bus.


"Nona bisakah kami menumpang mobilmu?" Wanita itu menghampiri Jean, walaupun dia telah membayar tapi dia tahu jika sang pemilik mobil tidak mau memberi tumpangan maka dia tidak akan bisa berbuat banyak.


"Naiklah." Melihat wanita itu membuat Jean merasa sedikit kasihan jadi dia segera melupakan masalah Linda.


"Siapa namamu? Dan mereka adalah?" Jean memperhatikan satu orang anak berusia sekitar 7 tahun dan satu remaja berusia sekitar 12 tahun yang tampaknya sedari tadi diam.

__ADS_1


"Namaku Naomi Warren, keduanya adalah putraku bernama Jacob Warren dan yang satunya bernama Colin Warren. "Colin bisu jadi maaf jika Colin tidak bisa menyapa nona Jean." Naomi memperkenalkan kedua putranya pada Jean.


"Tidak apa-apa." Jean tersenyum ramah pada kedua putra Naomi. Jean kemudian menyalakan mobilnya dan melanjutkan perjalanan.


__ADS_2