Wear Apocalypse Book

Wear Apocalypse Book
19. Bertemu Emma


__ADS_3

Lane pergi dengan perasaan campur aduk, dia masih memikirkan Olivia namun dia tidak ingin dibohongi untuk yang kedua kalinya. Lane mengemudi sambil melamun dan tidak melihat Emma yang sedang berdiri di tengah jalan, Lane tersadar ketika dia hampir menabrak Emma.


"Apa yang kamu lakukan? Apakah kamu tidak memiliki mata?!" Seorang pria datang dan meraih Emma yang hampir ditabrak.


"Maaf aku sedang tidak fokus mengemudi." Lane turun dari mobil, dia merasa lega karena wanita itu tidak terluka sama sekali.


"Bagaimana kamu akan mengkompensasi bayangan psikologis yang telah diterima Emma?" Lelaki itu menggenggam tangan Emma dan memandang Lane dengan tatapan tidak suka. Lane mengerutkan keningnya ketika mendengar lelaki itu meminta kompensasi, dia berpikir mereka sengaja menyuruh seorang wanita di tengah jalan untuk meminta kompensasi.


"Ak- aku tidak apa-apa William, jangan meminta kompensasi." Emma berkata dengan suara yang lembut sehingga Lane tanpa sadar menoleh ke arah Emma.


Emma mengenakan gaun berwarna putih bersih yang kontras dengan keadaan kiamat, wajahnya terlihat lembut dan matanya terlihat murni seolah kiamat tidak mempengaruhi dirinya sama sekali.


"Ta- tapi dia hampir membunuhmu." Lelaki bernama William juga luluh melihat betapa lembutnya Emma.


"Tidak perlu, ini juga salahku karena berdiri di tengah jalan." Emma menggeleng kepalanya dengan lemah.


"Will apa yang terjadi?" Beberapa lelaki datang menghampiri William.


"Emma hampir ditabrak lelaki ini tadi." William menunjuk ke arah Lane dengan berani tanpa memperdulikan Lane yang memakai seragam tentara.


"Aku sudah minta maaf." Lane siap bertarung jika mereka tidak ingin berdamai.


"Will lepaskan saja, lagipula dia telah meminta maaf."


"Allan.." William masih tidak terima Allan melepaskan Lane begitu saja.


"Kenapa kalian tidak bergabung dengan basis penampungan?" Lane berinisiatif bertanya.


"Kami tidak memiliki persediaan yang cukup untuk membayar biaya masuk ke dalam basis penampungan." Allan menjawab.


"Begini saja, sebagai kompensasi kalian diperbolehkan masuk ke dalam basis penampungan tanpa perlu membayar." Ucap Lane.


"Allan lihatlah dia ingin menipu kita." William tidak percaya dengan apa yang dijanjikan Lane.


"Benarkah? Apakah kamu pengurus basis penampungan?" Allan juga sedikit meragukan perkataan Lane.


"Jika kalian tidak percaya kalian bisa mengikutiku menjemput Walikota, setelah itu kita akan bersama-sama pergi menuju basis penampungan."


Emma merasa Lane menatap dirinya sedari tadi, dia berpikir ini adalah waktunya untuk segera pergi menjauhi William dan mendekati Lane yang tampaknya lebih mampu melindunginya.


"Tapi hari sebentar lagi akan gelap, zombie sangat aktif di malam hari." Mendengar ucapan Allan membuat Lane memutuskan untuk menginap malam ini di tempat persembunyian Allan.


"Kalau boleh tahu namamu siapa?" Tanya Allan.


"Namaku Lane Potter, panggil saja aku Lane."


"Perkenalkan aku Allan, ini Dale, Tommy, Trevor, William dan Emma." Allan memperkenalkan semua temannya pada Lane. William mendengus marah ketika diperkenalkan oleh Allan.


"Ngomong-ngomong apa posisimu di tentara?" Allan berpikir bahwa Lane pasti bukan tentara biasa sehingga dia bisa menggratiskan biaya masuk ke dalam basis penampungan.


"Aku saat ini berada di posisi kapten." Jawab Lane dengan jujur, mereka tidak menyadari mata Emma yang bersinar ketika mendengar posisi Lane dalam tentara.


"Kamu masih sangat muda, pasti sangat hebat dalam bertarung." Allan tidak menyangka Lane ternyata seorang kapten.


"Biasa saja, dia terlihat luar biasa jika dia seorang Jenderal." Ucap William dengan nada sinis. Lane tidak terlalu mengambil hati perkataan William, dia masih duduk dengan sikap acuhnya.


"Allan kenapa kita tidak minum anggur yang baru saja kita dapat di supermarket?" Dale teman Allan mengungkit masalah anggur.


"Lane apakah kamu mau ikut minum bersama kami?" Allan mengeluarkan tiga botol anggur yang berhasil mereka dapat.


"Allan itu hasil kerja keras kita, mengapa kamu membagikannya pada orang asing?" William tidak terima jika Lane meminum hasil jerih payah mereka.


"Will!!" Allan membentak William.


"Aku tidak minum, aku akan berjaga-jaga jika terjadi sesuatu." Lane langsung pergi dan berdiri di balkon. Sinar bulan menampakkan ekspresi wajahnya yang acuh, tidak ada yang tahu bagaimana perasaan Lane saat ini.


"Kapten Lane aku minta maaf, karena aku kamu dibenci oleh William." Emma berdiri di belakang Lane, dia masih mengenakan gaun putihnya seolah itu gaun itu memang dibuat untuk dirinya.

__ADS_1


Lane berbalik dan menatap Emma tanpa ekspresi, namun secara diam-diam Lane mengagumi sifat baik Emma.


"Kamu tidak perlu meminta maaf untukku." Emma merasa ketakutan ketika mendengar suara William dibelakangnya.


"Will." Emma menatap William yang berada dalam kegelapan, dia tidak tahu apakah William marah atau tidak.


"Kamu ikut aku, jangan mendekatinya." William menarik paksa tangan Emma. William tidak menyadari Emma tersenyum licik dibelakangnya.


"Darimana saja kalian?" Allan melihat William yang tampak marah sambil menggenggam tangan Emma. William tidak menjawab, dia hanya meminta Emma duduk di sampingnya.


Allan menggelengkan kepalanya lalu menyerahkan satu botol anggur pada William. Karena marah, William menghabiskan satu botol anggur sendirian dan kini dia telah mabuk sepenuhnya.


"Will apakah kamu mabuk?" Emma bertanya walaupun dia sudah tahu.


"Antarkan aku ke kamar, aku ingin segera tertidur." Ucap William yang setengah sadar. Emma bersukacita ketika melihat kesempatan untuk menyingkirkan William.


"Biar aku saja." Kata Allan ketika melihat Emma yang membantu William.


"Allan kamu juga mabuk jadi biar aku saja yang mengantar William ke kamarnya." Allan menyerah karena dia sendiri merasa pusing dan memilih tertidur di sofa bersama yang lainnya. Emma membopong tubuh William dengan susah payah ke kamar.


"Will, apakah kamu masih sadar?" William bergumam dan menandakan dia masih belum tertidur. Emma menuangkan air dan memberi serbuk yang berasal dari sakunya, lalu mencampurkannya ke dalam air.


"Will minum segelas air dulu." William berusaha bangun dan meminum air hingga habis.


"Will apakah kamu masih marah?" Emma bertanya.


"Tentu saja, bagaimana mungkin aku tidak marah ketika melihatmu menatap pria itu?" William berkata dengan jujur.


"Apakah kamu menyukainya?" William menarik tubuh Emma dan memaksa Emma berada di bawahnya.


"Aku-"


"Cepat katakan!" Rasa panas menjalar ke seluruh tubuh William membuatnya tanpa sadar kehilangan kendali.


"Will lepaskan aku!" Emma berusaha mendorong William.


"Will.." Emma menangis, dia menatap mata William yang memerah.


"Emma.." detak jantung William meningkat ketika melihat Emma yang terbaring lemah di bawahnya, bibir merah Emma seolah sedang menggodanya.


"Will lepaskan aku!!" Emma sekali lagi memberontak.


"Emma jangan menolakku oke? Aku akan menjagamu dengan nyawaku." William merasa tidak tahan untuk tidak menyentuh Emma, dia kemudian dengan paksa merobek gaun putih Emma.


"Tolong!! Tolong aku!!" Emma berteriak meminta tolong hingga pintu didobrak paksa dari luar.


"Apa yang kamu lakukan?!!" Lane menarik tubuh William dan melemparkannya ke dinding. Allan dan yang lainnya terkejut mendengar keributan dan segera berlari ke arah kamar William.


"Apa yang terjadi?" Allan melihat kondisi William yang telah pingsan dan Emma yang sedang menangis di kasur.


"Tanyakan saja pada temanmu itu." Jawab Lane.


"Emma apakah dia melakukan sesuatu padamu?" Ekspresi Allan terlihat pahit melihat beberapa tanda ambigu yang terlihat di leher Emma.


"Aku kotor! Dia telah menyentuhku! Aku sangat kotor!!" Emma menangis dengan tubuhnya yang tidak henti bergemetar.


"Kalian semua keluar!" Lane mengusir mereka. Allan tidak berani tinggal lama, dia kemudian menyeret tubuh William yang tidak sadarkan diri.


"Emma.. Emma kamu tidak kotor sama sekali." Suara Lane terdengar lembut. Emma mengingatkan dirinya saat dia tersingkir dan dijadikan karung tinju, dia terlihat polos dan naif.


"Ta- tapi aku telah disentuh oleh lelaki bajingan itu." Lane langsung memeluk tubuh Emma.


"Kamu tidak kotor tetapi William lah yang kotor." Lane membujuk dan mengelus rambut Emma. Dia tidak menyadari senyuman Emma yang penuh kemenangan. Emma sebenarnya belum disentuh sama sekali oleh William, dan tanda merah di sekujur tubuhnya dibuat oleh dirinya sendiri.


Keesokan harinya, Allan dan yang lainnya mendapati kantung mata hitam karena tidak bisa tertidur sama sekali, sedangkan sang pelaku justru tertidur nyenyak dengan suara dengkuran yang keras.


"Allan bagaimana kita akan mengatasi masalah ini? Kita akan kehilangan kesempatan untuk memasuki basis penampungan, bahkan kita mungkin akan diblokir."

__ADS_1


"Apa kita tinggalkan saja bocah bodoh ini?" Dale menendang kaki William.


"Seharusnya aku tidak tertidur semalam sehingga insiden semalam tidak terjadi." Allan berkata dengan wajah menyesal.


"Bos kamu tidak perlu menyalahkan diri, aku akan menghajar William jika dia telah sadar nanti." Ucap Tommy.


William terbangun dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya.


"Allan? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Tanya William dengan kebingungan.


"Mengapa kamu menyentuh Emma semalam? Sejak kapan kamu belajar menjadi seorang baj*ngan?" Tommy langsung memarahi William.


"Apa yang kalian maksud?" William sama sekali tidak mengingat kejadian semalam.


"Will apakah kamu benar-benar tidak ingat?" Tanya Allan dengan sabar. Allan adalah satu-satunya lelaki dengan pemikiran matang di antara mereka, jadi sebagian besar keputusan ada di tangannya.


"Ak- aku." William mengingat mimpi semalam di mana dia mencoba menyentuh paksa Emma tapi kemudian dia tidak lagi mengingat mimpi selanjutnya. William berubah pucat.


"Di mana Emma?" William berusaha bangkit.


"Kamu masih berani bertanya tentang dia?!" Tommy melototi William.


"Sebaiknya kamu tidak perlu menemuinya lagi." Kata Allan.


"A- apakah aku benar-benar menyentuhnya?" William semakin pucat, dia sendiri tidak menyangka akan melakukan hal yang tidak bermoral pada Emma. Tommy dan Dale melototi William dan tidak membalas pertanyaan William.


"Mau kemana kamu?" Allan melihat William yang dengan susah payah berdiri.


"Aku akan meminta maaf pada Emma."


"Will, Emma tidak akan sudi melihatmu, dia sangat ketakutan semalam. Jika Lane tidak datang semalam menyelamatkan Emma, aku khawatir Emma pasti di bawa pergi secepatnya oleh Lane."


"Kalian membiarkan Lane bersama Emma?!" Emosi William tersulut ketika mendengar nama Lane. Tommy langsung memukul wajah William dengan tangannya.


"Sadarlah! Kamu yang seharusnya menjauhi Emma!!" Tommy membentak William dengan keras.


"Aku akan bertanggungjawab atas perbuatanku semalam."


"Will, Emma sangat ketakutan semalam. Dia tidak akan mau kamu muncul di hadapannya." Allan sekali lagi menjelaskan pada William.


"Tidak! Aku akan menemui Emma." William langsung berlari mencari Emma, dia mendapati Emma yang sedang berjalan di samping Lane.


"Emma aku minta maaf atas kejadian semalam." Emma langsung bersembunyi di balik tubuh tegap Lane, dia berpura-pura ketakutan.


"Emma?" William tidak menyangka Emma akan mengabaikannya.


"Menjauh lah dari Emma!!" Suara dingin Lane terdengar, dia menatap William dengan tajam.


"Aku sedang berbicara dengan Emma, bukan kamu!" William sama sekali tidak takut dengan Lane, dia berjalan dan ingin menangkap tangan Emma.


"Will apa yang kamu lakukan?!" Dale langsung menarik kembali William.


"Lepaskan aku!!" William berusaha melepaskan diri, namun dia tidak mampu karena Tommy ikut menahannya.


"Will tenangkan dirimu." Ucap Allan


"Tidak! Emma tidak boleh bersama dengan orang asing itu! Aku mencintainya!" William masih memberontak.


"Will jika kamu masih tidak bisa tenang maka aku terpaksa akan membungkam mulutmu sementara." Allan mengambil suntik yang berisi cairan bius, dia tidak sengaja mendapatnya di apotek. Dia pikir ini akan berguna tapi dia tidak menyangka harus menggunakan obat bius ini pada temannya sendiri.


"Allan jika kamu membiusku, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" William mengancam.


"Maaf Will tapi aku harus." Allan kemudian menyuntikkan cairan tersebut ke lengan William. Tidak lama pandangan William semakin buram tetapi dia justru tidak sengaja melihat senyuman Emma yang terlihat sedang mengejeknya.


"Kapten Lane aku minta maaf atas masalah ini, aku tidak mengira bahwa William akan sangat membenci mu." Allan meminta maaf dengan tulus.


"Tidak apa, aku dan Emma akan segera berangkat pergi. Terima kasih karena telah merawat Emma selama ini." Lane kemudian pergi bersama Emma.

__ADS_1


"Bos, apakah kamu tidak meminta Lane untuk memasukkan kita ke dalam basis penampungan?" Dale bertanya. Allan hanya menggelengkan kepalanya, dia sendiri tidak terlalu berharap Lane segera memaafkan William, mereka juga tidak bisa meninggalkan William yang merupakan teman seperjuangan mereka.


__ADS_2