Wear Apocalypse Book

Wear Apocalypse Book
31. Pria asing


__ADS_3

Setelah melewati banyak jalan memutar, mereka akhirnya segera sampai di tujuan Jean saat ini.


"Sepertinya aku melihat sesuatu terlempar di langit, apakah kalian melihatnya?" Edwin bertanya.


"Benarkah? Aku tidak melihatnya, bisa jadi itu ilusi. Memangnya saat ini siapa yang melemparkan bisa melemparkan sesuatu di langit?" Balas Nara.


"Tapi aku benar-benar melihatnya, lihatlah ke atas, aku melihatnya lagi!" Mereka berlima pun berusaha melihat ke langit melalui jendela samping mobil.


"Benda itu sepertinya mengarah ke sini." Kata Davin.


"Cepat hentikan mobilnya!!" Anthony melotot kaget, benda itu sepertinya akan jatuh di mobil mereka. Davin memberhentikan mobil tiba-tiba hingga tubuh mereka berlima terdorong ke arah depan.


"Sialan! Benda apa itu?!" Davin mengutuk marah. Mereka berlima kemudian keluar dari mobil untuk memeriksa benda apa yang terlempar.


Jean juga langsung menghentikan mobilnya setelah melihat seseorang yang tampaknya terlempar ke arah mereka.


"I-ini??" Kelima siswa SMA itu kaget dan merasa ngeri setelah melihat benda yang mereka perhatikan ternyata adalah seorang pria.


"Sepertinya pengguna kemampuan yang melakukannya." Ucap Jean setelah melihat pria itu sambil menopang dagunya.


"Apakah kita akan melanjutkan perjalanan?" Edwin bertanya dengan takut.


"Tentu saja, desa yang aku tuju ada di depan kita." Jean merasa dia harus pergi secara diam-diam untuk memeriksa desa tersebut.


"Ta-tapi itu terlalu berbahaya." Nara ingin menghentikan perjalanan mereka apalagi setelah melihat pria yang tampak telah mati di depan mereka.


"Jika kalian tidak ikut maka pergi saja, aku tidak pernah meminta kalian ikut." Jean tidak keberatan jika mereka pergi, justru itu lebih baik karena dia tidak perlu mengkhawatirkan orang luar. Mereka berlima terlihat ragu-ragu.


"Pria ini masih hidup hanya saja sedang sekarat, tulang rusuk dan tulang lengannya juga patah akibat melindungi bagian kepalanya, dia sangat beruntung karena melindungi kepalanya tetapi dia juga menyedihkan karena dia akan mati perlahan-lahan karena rasa sakit." Jean menjelaskan setelah melihat keadaan pria itu dengan teliti, tentunya dengan sistem yang diam-diam membantu.


Kelima siswa SMA itu ikut merasakan sakit yang tidak bisa dijelaskan ketika mendengar penjelasan Jean. Mereka tidak bisa membayangkan betapa sakitnya cedera yang pria ini alami.


"Lalu apakah kita akan menyelamatkan pria ini?" Tanya Wenda.


"Tentu saja tidak, mengapa aku merepotkan diri untuk menyelamatkan orang asing?" Jawab Jean.


"T-tapi pria ini sekarat." Nara merasa Jean terlalu kejam.


"Apakah kalian tidak melihat dengan jeli? Pria ini terlihat tidak baik, lihatlah tubuhnya dipenuhi oleh tatto dan wajahnya juga tidak enak dipandang." Jean merasa heran dengan siswa SMA ini, apakah mereka belum melihat dunia?? Tapi menurut Jean wajar saja, mereka masih naif.


"..." Mereka berlima baru menyadarinya setelah mendengar ucapan Jean, mereka sendiri heran kenapa mereka selalu terlihat bodoh di depan Jean, apakah dengan mendekati Jean, IQ mereka bisa menurun berapa poin?


"Lalu apakah kita akan meninggalkan pria ini di sini begitu saja?" Davin masih merasa mereka terlalu kejam jika meninggalkan pria ini begitu saja di jalan.


"Tidak, dia mungkin berguna nantinya." Jawab Jean. Jean kembali ke mobil dan membawa tali, lalu mengikat pria itu.


"Apakah kita akan melanjutkan perjalanan?" Edwin masih terlihat takut, apalagi melihat pria yang setengah mati akibat kemampuan seseorang yang tidak mereka tahu siapa.


Jean menatap Edwin dengan tatapan aneh. Wenda kemudian menginjak kaki Edwin untuk memperingatinya.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa menginjak kakiku!!" Edwin masih tidak menyadari peringatan Wenda.

__ADS_1


"Ayo kita lanjutkan perjalanannya." Mereka kemudian kembali ke mobil.


"Kenapa kita harus ikut? Tidak bisakah kalian lihat bagaimana pria terluka??" Edwin tidak terima melihat teman-temannya ikut pergi ke desa.


"Ed kamu benar-benar bodoh, tidak bisakah kamu melihatnya?" Wenda bersyukur dia lebih pintar dari Edwin.


"Apa?"


"Pria itu jahat dan menyinggung pengguna kemampuan di sana, jadi pengguna kemampuan itu di pihak kita, kamu mengerti sekarang?" Jelas Wenda.


"Kenapa kalian tidak memberitahu ku sebelumnya?" Edwin merasa malu, temannya bahkan tidak memberitahu.


"Bukannya kami tidak ingin memberitahu, hanya saja kamu terlalu bodoh." Jawab Anthony.


"K-kalian." Edwin merasa terhina, dia tidak lagi berminat untuk berbicara dengan teman-temannya.


"Kenapa John tidak membawa pria itu masuk ke dalam mobil? Apakah dia berbohong?" Davin memecah suasana canggung di dalam mobil.


"Benarkah?" Mereka kemudian menjulurkan kepala mereka ke luar jendela dan mereka masih melihat lelaki tersebut terbaring di tanah, hanya saja terikat dan talinya terhubung dengan rusa Liam. R-rusa??


Mereka terkejut, Jean bermaksud untuk menyeret pria asing itu bukannya membawa ke dalam mobil!! Jean tidak peduli dengan ekspresi mereka, dia kemudian melanjutkan perjalanan.


Anthony tidak berani mengikuti belakang mobil Jean, jadi dia memilih mendahului Jean agar tidak melihat bagaimana pria itu diseret.


Tiga menit kemudian, mereka akhirnya sampai di desa tujuan Jean. Desa sangat sepi bahkan zombie tidak terlihat di manapun. Jean menghentikan mobilnya di gerbang perbatasan desa.


"Kakak, apakah Finn dan Lexie masih di sini?" Liam tidak bisa untuk tidak khawatir ketika melihat desa yang terlihat sepi.


"Kita akan bertanya pada seseorang nanti."


'Sistem berikan aku obat untuk cedera ringan.' Jean ingin membuat pria tersebut sadar.


'Harganya 100 inti kristal putih.' Jawab sistem. Jean menahan napasnya lalu menyetujui pembelian, hatinya terlalu sakit melihat 100 inti kristal putih melayang begitu saja. Sebuah botol kaca dengan isi berwarna biru muda muncul di tangan Jean, dia kemudian menuangkan cairan tersebut secara paksa ke mulut pria tersebut.


"Jika kamu tidak bangun maka aku akan mencekik mu hingga mati." Pria itu sepertinya merasakan krisis entah dari mana setelah Jean mengancam, sehingga matanya terbuka dengan paksa.


"A-aku masih hidup??" Pria itu menjerit merasakan sakit yang luar biasa, dia ingin menggerakkan tubuhnya namun tidak bisa.


"Sudah sadar?" Wajah Jean tiba-tiba muncul di pandangan pria itu. Pria itu kemudian sadar bahwa dia dikelilingi oleh orang yang tidak ia kenal.


"Siapa kalian? Cepat sembuhkan aku!! Aku adalah Raes, salah satu anggota gangster Death Venom! Kalian harus menyelamatkan aku jika kalian tidak ingin menyinggung kelompok geng kami!!" Pria itu dengan cepat beradaptasi dan menakut-nakuti kelompok Jean, biasanya orang-orang langsung melarikan diri ataupun berlutut untuk memohon setelah mendengar nama geng mereka.


"Apakah kamu tidak melihat dengan jelas kondisimu saat ini?" Jean sama sekali tidak takut bahkan dia semakin merasa sia-sia karena telah membuang 100 inti kristal untuk pria ini.


"Kamu!-" Raes ingin memarahi Jean namun dihentikan oleh Davin. "Saudara biarkan aku saja yang berbicara dengannya."


"Oke." Jean tidak bertanya kenapa Davin tiba-tiba berinisiatif untuk membantunya, yang penting dia tidak perlu mengeluarkan tenaganya untuk menyiksa pria asing itu jika Davin berhasil membujuk.


"Saudara kamu seharusnya cepat menyerah, ikuti saja permintaan saudara John." Davin berusaha membujuk lelaki itu, dia sebenarnya bermaksud untuk membantu pria tersebut agar tidak disiksa oleh Jean.


"Apa maksudmu! Aku tidak akan-" Lelaki itu berteriak namun segera mulutnya ditutup oleh tangan Davin.

__ADS_1


"Ssttt! Apakah kamu bodoh?? Dengarkan! Aku bermaksud membantumu, kamu tidak tahu betapa tersiksanya kami karena saudara John." Bisik Davin.


"Apa yang dilakukan Davin? Apakah dia ingin menggantikan saudara John untuk menyiksa pria itu?" Nara bertanya-tanya.


"Kita lihat saja nanti." Anthony percaya bahwa Davin bukanlah orang yang berani menyiksa, tetapi dia kemudian mengubah pemikirannya karena dia melihat Davin menampar pria itu!


"Apakah kamu masih belum menyerah??" Raes menggelengkan kepalanya, Davin kemudian melanjutkan sesi tampar-menampar hingga tangannya mati rasa.


"Masih??" Davin menatap pria itu dengan dingin, dia awalnya ingin menyelamatkan pria itu tetapi pria itu sama sekali tidak mendengarkan ucapannya.


"Ak-aku" Sebelum Raes sempat menjawab, Davin menamparnya sekali lagi.


"Aku menyerah!! Sialan!!!" Raes menjawab terburu-buru, wajahnya saat ini telah memerah dah membengkak. Dia ingin menangis sangat keras, tetapi harga dirinya sebagai lelaki tidak membiarkannya menangis, betapa sialnya dia karena telah hampir dibunuh untuk kedua kalinya.


"Saudara John." Davin segera memanggil Jean.


"Sudah selesai?" Jean diam-diam memakai kembali topengnya setelah memakan keripik kentang yang sengaja ia simpan di penyimpanan sistem.


"Ya, dia telah menyerah." Jawab Davin.


Jean segera kembali dan terkejut ketika melihat bekas tamparan Davin, kondisi Raes saat ini benar-benar sangat menyedihkan.


"Aku akan mulai bertanya, kamu harus menjawab dengan jujur semua pertanyaan. Jika kamu ketahuan berbohong maka aku akan membunuhmu." Ucap Jean dengan datar. Raes segera mengangguk setuju, dia kembali memikirkan peringatan Davin.


Jean berhasil menginterogasi Raes. Dari jawaban Raes, dapat disimpulkan bahwa anggota Death Venom telah menguasai desa lebih dari dua minggu, mereka menahan para penduduk desa di lumbung padi yang terletak di tengah-tengah desa.


Death Venom juga membasmi zombie secara teratur dan sudah mempelajari kemampuan zombie yang dapat naik seiring berjalannya waktu, sehingga mereka segera membasmi zombie dan hewan mutan sekitar yang masih berada di level 1 hingga 2 dengan senjata yang mereka miliki agar tidak memiliki kesempatan untuk menaikkan level.


Adapun alasan kenapa pria itu terlempar, sesuai dengan dugaan Jean, Death Venom telah menyinggung pengguna kemampuan lain yang lebih kuat dari mereka sehingga mereka terlempar ke udara akibat kemampuan orang tersebut.


Pihak lain mungkin saat ini telah pergi ke lumbung padi yang terletak di tengah desa. Jean sama sekali tidak peduli soal pihak lain, dia hanya ingin menyelamatkan keluarga Abby lalu segera pergi kembali ke kota J.


"Ayo kita pergi." Jean ingin segera bertemu dengan Abby.


"Tunggu! Bagaimana denganku?? Apakah kalian akan meninggalkanku di sini begitu saja?" Raes merasa takut, kemungkinan dia akan mati dimakan zombie jika dia ditinggalkan begitu saja.


"Saudara bisakah kita membawanya juga? Dia terlihat menyedihkan." Nara memohon, dia tidak tega meninggalkan Raes.


"Tolong, kumohon, aku tidak ingin mati." Raes telah membuang harga dirinya dengan menangis keras.


"Saudara John.." Wenda juga tidak tega.


"Kalian-"Jean awalnya tidak bermaksud membawa seseorang yang tidak jelas karakternya tetapi mengingat 100 inti kristal putih membuat Jean memikirkan sesuatu.


" Oke aku setuju, tapi jika kamu berani melakukan sesuatu dibalik punggungku, aku tidak akan segan-segan mencincang tubuhmu." Ada nada peringatan serius di ucapan Jean.


"Y-ya aku tidak akan mengkhianati tuan." Raes langsung menyetujui kondisi Jean.


"Ini obatmu. Aku tidak memberinya secara gratis, jadi kamu menyicilnya." Jean membeli lagi obat penyembuh, namun warnanya lebih pekat dibandingkan dengan obat sebelumnya, karena obat itu adalah obat untuk luka sedang.


Raes sedikit ragu dengan obat yang diberikan Jean, dia sama sekali tidak pernah melihat obat seperti ini di apotek, tetapi dia memberanikan dirinya untuk meminum sekaligus obat tersebut.

__ADS_1


Sensasi dingin menyebar ke seluruh tubuhnya dan tulang-tulangnya perlahan-lahan mulai meregenerasi untuk menutupi retak akibat cedera sebelumnya, pipinya yang membengkak juga telah sembuh.


"I-ini." Raes membelalak kaget, dia terkejut dengan kecepatan penyembuhan akibat obat ini. Dia ingin bertanya soal obat ini, namun Jean sudah kembali ke dalam mobil dan meninggalkannya dengan sekelompok siswa SMA.


__ADS_2