Wear Apocalypse Book

Wear Apocalypse Book
35. Tahanan baru


__ADS_3

Jean mengetuk pintu kamar sewa setelah selesai mengurus kedua pria yang berusaha merampoknya. Liam kemudian membuka pintu setelah memastikan yang mengetuk pintu adalah Jean.


Mereka kemudian melihat kedua orang yang diseret oleh Jean, kedua orang itu tidak sadarkan diri akibat kemampuan petir milik Jean.


"Kakak kamu tadi mengatakan bahwa kamu mengurus tikus di luar, tetapi kenapa kamu malah membawa manusia?" Liam memperhatikan kedua tahanan Jean dengan teliti.


"Mereka berdua adalah manusia yang tadinya menyamar sebagai tikus." Jean tidak ingin menjelaskan artinya, dia benar-benar mengantuk dan ingin segera tertidur.


"..." Mereka akhirnya tahu siapa yang mengajari Liam.


"Kenapa kamu selalu membawa tahanan bersama kami? Sepertinya Raes dan Rolland tidak cukup." Olivia mengeluh, dengan tambahan orang maka dia akan kelelahan akibat memasak untuk banyak orang.


"Tenang saja, aku akan menyelesaikan mereka dengan cepat, setelah itu aku akan membuang mereka." Setelah menjawab pertanyaan Olivia, Jean segera berjalan merebahkan dirinya ke kasur dan tertidur nyenyak.


Raes dan Rolland ketakutan setelah mendengar ucapan Jean, apa maksudnya dengan menyelesaikan mereka? Apakah artinya membunuh mereka lalu diam-diam membuang mayat mereka?


"Kakak, b-bukan maksudku bos tolong jangan buang kami, kami akan berperilaku baik." Raes memohon pada Olivia.


"Kalian membuatku lelah, kalian tidak mengerti lelahnya aku menyiapkan masakan untuk kalian!" Olivia berpikir ini adalah waktu yang tepat untuk menyadarkan sekelompok idiot yang mengikuti mereka seperti parasit.


"A-aku akan membantu, jadi tolong jangan buang kami." Raes berlutut di depan Olivia lalu diikuti oleh kelima siswa SMA yang ikut merasa tersindir, hanya Rolland yang berdiri menatap Raes dan kelima siswa SMA dengan kebingungan.


"Apa yang kamu lakukan? Cepatlah berlutut!" Raes melototi Rolland yang memandangnya seperti orang bodoh. Rolland hanya bisa ikut berlutut dengan canggung.


"Oke, mulai sekarang kalian akan mengambil alih tugasku dan aku tidak ingin salah satu dari kalian pemalas." Olivia sangat puas dengan mereka, dengan begini dia tidak perlu repot-repot mengurus semua orang dengan tangannya.


Raes, Rolland, Nara dan Anthony diperintahkan untuk membersihkan rumah sewa mereka, sedangkan Wenda, Edwin dan Davin membantu Olivia di dapur.


"Kamu memotong bawang terlalu lebar, perkecil lagi!" Wenda hanya bisa menuruti perintah Olivia dan bekerja keras untuk memotong bawang dengan pisau.


"Edwin perhatikan setiap daun yang kamu cuci, masih ada beberapa sampah di daun!" Edwin juga ikut ditegur.


"Daun bawang ini ada sekitar ratusan, tidak mungkin aku bisa membersihkannya satu per satu." Edwin merasa tugas yang diberikan Olivia sangat tidak masuk akal.


"Apakah kamu ingin membantah? Kalau begitu kamu tidak ikut makan malam."


"Tidak, aku tidak membantah." Edwin hanya bisa menuruti permintaan Olivia.


Olivia kemudian melihat pekerjaan Davin yang sedang memotong daging, dia tidak menegur Davin karena Davin mengerjakannya dengan teliti. Wenda dan Edwin menatap Davin dengan iri.


"Perhatikan bawah kursi, masih terdapat debu dan sampah di bawah." Kini giliran kelompok Raes yang diperhatikan oleh Olivia.


"Nara bersihkan sudut jendela ini dengan teliti, lihatlah masih ada debu!" Nara dengan cepat membersihkan debu.


"Raes meja dan kursi ini masih miring, tidak bisakah kalian melihatnya?! Ini sangat menyakiti mataku."


Raes : "..."


Kenapa meja dan kursi yang hanya sedikit miring juga dipermasalahkan? Apakah dia perlu menggunakan penggaris untuk memastikan bahwa meja dan kursi tidak miring?


Jean terbangun akibat keributan yang Olivia buat, dia bahkan tidak sengaja mendengar Olivia mengomeli Rolland yang meninggalkan beberapa debu di meja.


"Apakah kedua orang itu belum sadar?" Jean memperhatikan dua orang tahanan barunya yang tampaknya tertidur, suara dengkuran kedua tahanan barunya bahkan terdengar keras.


"Belum, apakah perlu kita gunakan air untuk membangunkan mereka?"


Jean menyetujui saran Olivia, ia kemudian mengambil seember air lalu menuangkannya pada kedua tahanannya.


"Niel sudah kukatakan jangan bermain air saat aku tertidur!" Jeff mengigau.


"Jeff bangunlah!" Nielsen telah sadar terlebih dahulu, melihat sekelompok orang asing yang berdiri di depannya membuat Nielsen sedikit takut. Dia menggoyang tubuh Jeff dengan sikunya.


"Kamu sangat mengganggu." Jeff memprotes tetapi dia kemudian diam dan teringat bahwa dia dikalahkan oleh Jean.


Melihat kedua orang itu sudah sadar, Jean kemudian bertanya, "Aku akan bertanya sekarang, siapa yang memerintahkan kalian untuk merampokku?"


"Kami tidak akan memberitahu!" Nielsen menolak, dia telah berjanji pada Joseph bahwa dia tidak akan membongkar siapa yang memerintahkan mereka.

__ADS_1


"Menyerah saja, kami tidak akan membuka mulut sekali pun kalian menyiksa kami sampai mati!"


Nielsen bersiap menyerang kelompok Jean dengan kemampuan airnya, dia merasa kelompok Jean bodoh karena membasahi mereka dengan air, tetapi dia tidak mendapat reaksi sedikit pun dari air yang ada di lantai.


"Apa yang kalian lakukan??!" Nielsen panik ketika dia tidak bisa menggerakkan kemampuannya, begitu juga Jeff yang berusaha membuka paksa borgol.


"Kalian tidak akan bisa menggunakan kemampuan karena borgol yang kalian pakai adalah borgol khusus." Jean sebenarnya sangat sedih karena harus mengeluarkan 800 inti kristal putih hanya untuk dua borgol.


Jeff dan Nielsen lega karena kemampuan mereka tidak hilang sama sekali, mereka akan menjalankan hidup sengsara jika mereka terjatuh menjadi orang biasa tanpa kemampuan.


"Paranoid man dan rambut botak, kalian menggelitik mereka dengan ini." Jean mengeluarkan dua bulu ekor ayam.


"Namaku Edwin bukan paranoid man." Edwin datang mengambil bulu ekor ayam sambil memprotes, sedangkan Raes hanya mengambil bulu tanpa memprotes sama sekali, keberaniannya tidak sebesar keberanian Edwin.


"Kalian tidak akan berhasil." Nielsen mencemooh.


5 menit kemudian Nielsen dan Jeff tertawa geli dan ingin mencoba melawan, tetapi Jean tidak membiarkan mereka melawan sama sekali.


"Hentikan! Hentikan!" Nielsen dan Jeff tidak tahan.


"Hentikan! Kami menyerah!!" Nielsen benar-benar tidak tahan, matanya bahkan sudah berair karena terlalu banyak tertawa.


"Aku tanya sekali lagi, siapa yang memberi kalian perintah untuk merampokku?" Jean memberi kode pada Edwin dan Raes untuk berhenti menggelitik.


"Y-yang memberi kami perintah adalah Joseph, y-ya Joseph." Nielsen segera menjawab.


"Joseph??" Jean tidak mengenal siapa Joseph dan tidak tahu kapan dia menyinggung pria itu.


"Joseph yang menjaga pos pemeriksaan." Jeff memberitahu sebelum Jean bertanya pada mereka.


"Pantas saja. Apakah kalian sering merampok para pendatang??" Jean mendekatkan wajahnya dengan Jeff dan Nielsen.


"Y-ya, t-tapi kami tidak pernah membunuh." Jawab Jeff dengan gugup.


"Benarkah?" Jean tidak mempercayai mereka.


"Baiklah aku percaya, tetapi bukan berarti aku memaafkan perilaku kalian yang merampok para pendatang."


Jeff dan Nielsen meneguk air liur mereka sendiri, mereka benar-benar takut dengan Jean.


"Tapi ini juga kesempatan yang bagus. Apakah Joseph bisa mengakses informasi para pengungsi di basis?" Jean bermaksud untuk menggunakan tahanan ini untuk menemukan Abby dan keluarganya.


"T-tidak semuanya, beberapa pengurus basis dan pemimpin termasuk dalam arsip rahasia yang hanya bisa diakses oleh pemimpin basis." Jawab Jeff.


"Itu sudah cukup." Jean mengangguk puas.


"Aku ingin kalian mencari informasi soal keluarga Abby dan Raul beserta anaknya. Jika kalian berhasil menemukan mereka, aku akan melepaskan borgol yang ada di tangan kalian."


Jeff dan Nielsen saling memandang, mereka akhirnya setuju dengan kondisi yang diberikan oleh Jean.


Jean kemudian memindahkan posisi borgol hanya pada sebelah tangan Jeff dan Nielsen, sehingga mereka berdua terpaksa harus menyembunyikan sebelah tangan mereka dengan jaket.


"Joseph ini adalah hasil kita hari ini." Jeff meletakkan 20 inti kristal putih pada Joseph yang saat ini sedang beristirahat di pos pemeriksaan.


"Kenapa begitu sedikit?" Joseph mengeluh.


"Aku rasa kamu salah informasi, mereka sama sekali tidak menyimpan banyak inti kristal." Nielsen tidak menerima keluhan Joseph dan berakting seolah menyalahkan Joseph.


"Oke, aku salah. Kupikir mereka memiliki banyak inti kristal, ternyata mereka juga miskin." Joseph menatap inti kristal dengan tampilan jijik, dia sangat meremehkan orang-orang yang miskin.


"Lain kali aku akan memeriksa masa sewa mereka, siapa tahu mereka akan membohongi petugas atas keterlambatan biaya sewa." Lanjut Joseph.


"I-itu, Joseph bisakah kamu membantuku?" Nielsen berbicara dengan pelan.


"Ada apa?" Joseph memandang kedua orang itu dengan heran.


"Begini, aku baru teringat bahwa sepupuku juga berasal dari sini, bisakah kamu mencari mereka di arsip? Aku ingin bertemu mereka." Nielsen diam-diam berkeringat dingin, rencana mereka tidak bisa gagal.

__ADS_1


"Kamu sendiri tahu bahwa ini tidak gratis." Joseph tersenyum dengan makna tertentu.


"Ayolah Joseph, apakah kamu tidak menggratiskan untuk kami? Bukankah kami teman?" Jeff bernegosiasi.


"Tidak, dari awal kita hanyalah mitra bukan teman." Joseph menekankan kata mitra untuk memperjelas hubungan mereka.


"Kalau begitu kami tidak meminta keuntungan sama sekali."


"Apa kalian sedang membodohi ku? Rampasan kalian malam ini bahkan tidak sampai setengah dari target!" Joseph melototi Jeff dan Nielsen.


"Apakah ini sudah cukup?" Nielsen menyerahkan 15 inti kristal putih di meja.


Melihat Joseph yang hanya melihat tanpa menjawab membuat Nielsen menggertak giginya dengan kesal dan mengeluarkan 25 inti kristal putih lagi.


"Oke, ini cukup." Joseph tersenyum ramah sambil memasukkan semua inti kristal ke dalam kantong berbahan kain miliknya.


"Lalu kapan kami bisa mendapatkan informasi nya?" Tanya Nielsen dengan wajah khawatir.


"Apakah kalian ingin membuatku bekerja lembur malam ini?! Jika kamu mau, tambahkan inti kristal putih 3 kali lipat dari yang tadi kalian beri padaku!"


"Tidak, a-aku hanya bertanya." Nielsen tersenyum masam, inti kristal miliknya dan Jeff telah habis sepenuhnya.


"Besok siang." Joseph menjawab dengan singkat dengan nada tidak ramahnya.


Nielsen dan Jeff kembali ke rumah sewa Jean dengan takut, mereka berdua takut Jean akan menyiksa lagi.


"Bagaimana?" Jean berdiri menatap kedua tahanannya sambil melipatkan kedua lengannya.


"Joseph berkata bahwa kami bisa mendapatkan informasinya besok siang." Jeff memilih untuk mengalah setelah berdebat dengan Nielsen tentang siapa yang akan memberitahu masalah ini.


"Terlalu lama," Jeff dan Nielsen menegang, mereka siap untuk dihukum, "tetapi masih dapat diterima." Lanjut Jean. Mereka menghela nafas dengan lega.


"Kalau tidak ada yang lain, silakan kalian pergi dan ingat untuk membawa informasi itu besok siang."


Mereka berdua bersiap untuk kembali, tetapi aroma makanan tiba-tiba datang dari dalam rumah sewa milik Jean, mata mereka berdua berbinar dan menebak sesuatu dalam hati mereka, ini adalah aroma kari!


"I-itu bisakah kami-" Nielsen sedikit ragu-ragu untuk meminta makanan, lagipula status mereka adalah tahanan Jean.


"Ada apa?"


"Tidak jadi." Nielsen hanya bisa menelan permintaannya.


"Bos, aku ingin memberi mereka ini. Bisakah?" Raes tiba-tiba datang sambil membawa kotak bekal.


"Terserah." Jawab Jean, dia kemudian kembali ke dalam dan meninggalkan Raes beserta tahanannya yang berada di luar.


"Kalian ambillah ini." Raes menyerahkan kotak bekal itu pada Nielsen.


"I-ini adalah?" Nielsen dan Jeff terkejut, dia tidak menyangka Raes akan memberikan makanan pada mereka.


"Sebenarnya bos John tidak menyeramkan sama sekali, dia sebenarnya sangat perhatian, aku juga tahanan seperti kalian." Jelas Raes.


"Benarkah?" Nielsen tidak menduga bahwa Raes juga tahanan Jean.


Raes kemudian menjelaskan bagaimana dia bisa bertemu Jean dan bagaimana Jean memperlakukan dirinya.


Setelah mendengar cerita Raes, Jeff dan Nielsen mengubah pandangan mereka yang sebelumnya takut menjadi kagum.


"Terima kasih saudara, kami akan melayani bos John dengan baik." Jeff menepuk bahu Raes dengan rasa syukur.


"Tapi jika kalian memang ingin mengikuti kami, aku rasa itu akan sulit karena Olivia baru-baru ini mengeluh."


"Tidak apa, kami akan berusaha menunjukkan bahwa kami berguna bagi bos John."


Keduanya kemudian pergi dengan perasaan senang, dengan mengikuti Jean maka mereka tidak akan perlu memikirkan soal makanan.


Jean tidak tahu beberapa orang sedang memikirkan cara untuk menjilatinya hanya demi makanan.

__ADS_1


__ADS_2