
Bekerjasama dengan militer.
Adam telah sampai di rumah miliknya dengan selamat walaupun Noel berulang kali jengkel dengan sikap acuh Lane terhadap orang biasa yang meminta tolong.
"Adam apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Nyonya Brown.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan ibu? Apakah ada salah satu dari kalian yang terinfeksi?"
"Tidak ada tapi kakekmu sangat panik dan tidak sengaja memacu detak jantungnya." Jawab Nyonya Brown.
"Bibi apa kabar?" Lane tersenyum sopan.
"Lane? Kenapa kamu ada disini? Bukankah kamu sedang bertugas di kota N?" Nyonya Brown terkejut ketika melihat Lane yang sudah lama tidak terlihat.
"Aku pindah tugas ke sini minggu lalu jadi aku minta maaf karena tidak memberitahu keluarga Brown." Kata Lane.
"Lalu bagaimana kabar keluarga Potter?"
"Seperti biasa ayah sibuk di ketentaraan, ditambah kejadian seperti ini akan membuatnya sangat sibuk. Ibu mungkin sedang dalam penelitian." Keluarga Lane sangat terkenal di bidang militer bahkan kakek buyutnya termasuk dalam jajaran pahlawan yang telah melindungi negara berpuluh-puluh tahun yang lalu.
"Keluarga kalian sangat sibuk, aku bahkan belum bertemu dengan ibumu dalam 7 tahun ini." Nyonya Brown mengeluh pada Lane.
"Aku sendiri bertemu dengan ibu terakhir 3 tahun yang lalu, ibu sangat tergila-gila dengan penelitiannya." Kata Lane
"Ayo masuklah jangan berdiri di luar." Ajak Nyonya Brown. Lane dan bawahannya pun masuk ke dalam rumah Adam.
"Bocah busuk, apakah ini kamu?" Kakek Adam telah sadar dan duduk di kursi rodanya.
"Kemarilah aku ingin melihat wajah jelek mu."
"Pak tua apa kabar?" Lane berlutut di depan kakek adam.
"Aku baik-baik saja. Wajahmu semakin jelek setelah 5 tahun tidak kemari." Kakek Adam mengejek Lane.
"Pak tua penglihatan mu semakin memburuk." Lane membalas.
"Mana mungkin, mataku masih baik-baik saja bahkan hingga umurku yang ke 100 tahun nanti."
"Pak tua kamu masih sama seperti dulu, terlalu narsis." Lane tertawa dan duduk di sofa yang tidak jauh dari kakek Adam.
"Jadi bagaimana kerjasama kira berlanjut?" Tanya Adam.
"Kerjasama apa? Kenapa aku tidak tahu?" Kakek Adam tidak tahu mengapa militer bekerja sama dengan keluarga Brown.
"Pak tua kamu mungkin sudah tahu situasi di negara ini sedang memburuk, aku membutuhkan hotel untuk menampung rakyat biasa untuk mengungsi dan menyelamatkan mereka." Kata Lane dengan nada serius.
"Apakah tidak ada tempat lain? Bagaimana dengan kamp tentara?"
"Kamp tentara telah penuh dengan mayat hidup bahkan lebih ganas daripada mayat hidup yang ada di luar, kami kesulitan menanganinya." Apa yang Lane katakan memang benar adanya karena zombie yang ada di kamp tentara telah terlatih sebelum mereka menjadi zombie.
"Mengapa kamu mengatakan mereka adalah mayat hidup?" Kakek Adam semakin bingung.
"Baru-baru ini ibuku meneliti mereka dan membawanya ke laboratorium. Hasilnya adalah semua orang yang terinfeksi tidak memiliki detak jantung dan akal sehat, jadi ibuku mengatakan mereka adalah mayat hidup yang digerakkan oleh sel virus tersebut, selain itu mereka haus darah." Kakek Adam merenungkan ucapan Adam.
"Jika ini terjadi bukankah manusia akan punah?" Tanya Nyonya Brown.
"Mungkin iya atau mungkin tidak." Jawab Lane dengan tidak pasti.
"Lalu kenapa kamu melarang ku menyentuh air hujan? Apakah ada sesuatu?" Adam telah penasaran sedari tadi.
"Aku menyaksikan sendiri di kamp tentara hujan ini sepertinya membawa virus tersebut. Tentara yang terkena hujan jatuh sakit kemudian mereka mulai menyerang yang lainnya, oleh sebab itu aku melarang tentara yang lain keluar sampai hujan reda, tetapi sepertinya hujan tidak akan berhenti sampai besok."
"Kalian menginap saja disini malam ini." Kata Nyonya Brown. Bawahan Lane merasa senang setelah diperbolehkan menginap, lagipula mereka tidak tahu harus menginap kemana sementara waktu.
"Suruh saja mereka tidur di lantai, mereka bisa tidur dimana pun." Kata Lane, bawahan Lane kemudian tampak kecewa.
"Bagaimana mungkin aku bisa membiarkan tamu tidur di lantai. Tenang saja tempat tidur pasti cukup." Nyonya Brown mengabaikan ucapan Lane.
"Bocah kamu terlalu berdarah dingin." Kakek Adam menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa memanjakan mereka, jika tidak mereka akan lembek dan tidak dapat diandalkan, tapi hari ini aku akan membiarkan mereka tidur di kasur empuk." Bawahan Lane senang karena mereka akhirnya bisa tidur di kasur yang empuk.
"Lalu bagaimana dengan hotel? Kapan kalian akan memeriksanya?" Tanya Adam.
"Apakah kamu setuju?" Lane berbalik bertanya.
"Tentu aku setuju tapi aku ingin pemeriksaan ketat terhadap orang yang masuk supaya tidak terjadi penyebaran virus ke dalam hotel ku." Lane langsung menyetujui syarat yang diajukan Adam.
"Tapi sepertinya akan ada beberapa orang yang terinfeksi di dalam hotel. Jadi bagaimana kalian akan menanganinya?" Adam mengetuk meja dengan jarinya secara tidak sengaja, seolah sedang menunggu keputusan kliennya.
"Tenang saja. Aku dan bawahan ku akan melakukan pembersihan di hotel mu, mereka mungkin lebih mudah ditangani dibandingkan dengan mayat hidup yang ada di kamp tentara." Lane dan Adam menghabiskan malam itu untuk merencanakan basis penampungan.
...
Di sisi lain Jane tidak tahu bahwa Adam telah bekerjasama dengan malaikat mautnya. Dia sibuk mengawasi keadaan sekitar dari balkon.
"Beberapa orang mungkin tidak dapat tidur malam ini." Kata Jean.
2 hari telah berlalu dan hujan sepenuhnya telah reda tapi itu tidak membuat orang senang sama sekali. Kota J telah jatuh dalam keheningan yang aneh, suara teriakan minta tolong terus terdengar tapi tidak ada yang mau membantu.
"Apa menu sarapan kita hari ini?" Semenjak Misael memasak kue, Jean telah kembali ceria bahkan dia tidak terlalu sedih ketika kiamat tiba seolah itu tidak ada hubungannya dengan dia.
"Kakak Jean aku membuat pancake kali ini, silahkan mencobanya." Misael memberi Jean pancake yang ditumpuk beberapa bagian dan dilumuri madu asli.
"Ini terlihat lezat." Jane memotong pancake dengan pisau lalu mengambilnya dengan garpu. Manis madu asli membuat Jean tanpa sadar membuat Jean memejamkan matanya.
__ADS_1
'Oh.. Ini sangat enak, aku tidak tahu manis madu asli akan terasa seperti ini.' Jean belum pernah merasakan madu asli karena harganya terlalu mahal jadi dia hanya bisa membeli madu yang telah dicampur di kehidupan sebelumnya.
'Tolong perhatikan citra mu Tuan.' sistem mengingatkan Jean.
"Misael terus kembangkan bakat mu." Jean tidak memperdulikan sistem dan lanjut memakan pancake hingga tidak tersisa.
Liam tanpa sadar iri karena Jean terus menerus memuji Misael. Sedangkan kakek dan nenek Jean terlihat senang karena Jean lebih sering memperlihatkan emosinya.
'Tuan beberapa orang tampaknya sedang memanjat benteng.' Jean terkejut ketika mendengar pemberitahuan sistem.
'Apakah mereka bodoh?' setelah makan Jean langsung menuju balkon di lantai 3 dan melihat tembok menggunakan teleskop. Dia memperhatikan 5 orang pria yang berusaha memanjat benteng yang setinggi 4 meter.
"Evan percuma saja, kamu tidak akan mampu memanjatnya." Kata seorang lelaki yang menunggu dibawah. Mereka berencana merampok dan mengusir orang yang tinggal di dalam tembok besi.
"Jika kita tidak masuk, kita akan mati dimakan oleh mereka." Pria yang bernama Evan menolak untuk menyerah.
"Ayolah kita pergi, kita akan menarik perhatian mereka jika terus berada di sini." Seorang pria yang lainnya tampak cemas.
"Jika tidak mau menunggu tinggal pergi saja sana! Aku tidak membutuhkanmu dalam kelompokku." Evan memarahi pria itu.
"Baiklah aku akan pergi!" Pria itu berlari meninggalkan 4 orang yang masih berusaha mencari cara untuk memanjat. Keempat orang tersebut tampak marah.
"Lupakan saja, ayo kita cari cara untuk memanjat tembok ini. Jika kita berhasil makan kita menemukan tempat perlindungan bahkan makanan di dalam."
"Apakah mereka akan berhasil?" Jean telah mengawasi mereka.
"Tidak akan, tembok itu akan menolak orang yang berusaha masuk dari luar." Kata sistem.
"Aku ingin sekali mengerjai mereka." Tiba-tiba Jean memiliki ide untuk mengerjai mereka.
"Apakah petir ku bisa membunuh mereka?" Tanya Jean pada sistem.
"Aku sarankan tuan tidak menyambar mereka dengan petir, itu pasti akan membunuh mereka." Jean ingin membuat mereka jera dengan menyambar mereka dengan petir nya tapi ia juga bukan orang berdarah dingin.
"Kalau begitu aku tunggu saja apa yang terjadi selanjutnya." Jean memperhatikan mereka dan kini ia telah menunggu selama setengah jam tapi tak satupun dari mereka yang mampu memanjatnya.
"Sampai kapan aku menunggu?" Jean juga telah menguap beberapa kali.
"Evan lebih baik kita menyerah saja." Kata seorang pria yang telah terengah-engah.
"Ayo kita pergi saja." Evan juga telah menyerah dan memutuskan untuk pergi daripada membuang energi untuk memanjat tembok.
"Mereka sangat payah." Jean berkomentar ketika melihat mereka telah pergi.
"Aku akan tidur ingatkan aku jika jam makan siang telah tiba." Kata Jean lalu menutup matanya.
Liam telah melihat seekor tupai yang berjalan di atas tembok lalu menghilang ke luar, melihat ekornya yang memiliki bulu yang sangat tebal membuat Liam ingin mengambilnya lalu menyerahkan tupai tersebut pada Jean. Ia kemudian diam-diam keluar dari benteng untuk mencari tupai tersebut. Sistem juga telah memperhatikan Liam dan berusaha membangunkan Jean tapi Jean tidur sangat nyenyak.
"Tuan bangunlah! Liam sedang dalam bahaya!" Sistem ingin menendang Jean dari kasur jika ia memiliki tubuh. Tiba-tiba sistem memiliki ide untuk membangunkan Jean. Ia mengambil kue jahe yang baru saja selesai Misael masak secara diam-diam lalu meletakkannya di meja samping.
"Bau apa ini? Kue Jahe?" Jean langsung bangun ketika mencium aroma tersebut.
"Tuan Liam sedang dalam bahaya! Dia keluar secara diam-diam untuk menangkap tupai mutan" Kata sistem.
"Tuan saja yang tidur seperti babi." Sistem mencibir.
"Katakan dimana dia sekarang."
"Dia ada di taman rumah sebelah." Jean langsung bergegas keluar dan membawa katana miliknya.
"Jean kemana kamu pergi?" Jean tidak menjawab pertanyaan neneknya dan pergi terburu-buru.
"Tupai manis kemari lah aku membawa kacang untukmu." Liam menyodorkan kacang yang telah ia persiapkan dari rumah, ia tidak menyadari mata tupai tersebut semerah darah dan sibuk memperhatikan ekornya. Tupai tersebut ke arah Liam lalu menggigit jari telunjuknya.
"Liam!" Jean terlambat, tupai tersebut telah menggigit jari Liam.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu keluar dari benteng?!!" Jean tanpa sadar memarahi Liam akibat khawatir.
"A.. Aku hanya ingin mengambil tupai itu." Liam tidak menyangka Jean akan memarahi dia.
"Kenapa tidak memberitahu?" Sudah terlambat, Liam mungkin akan terinfeksi.
"Aku ingin memberi kejutan pada kakak." Liam menundukkan kepalanya dan tangannya terkepal erat.
'Tuan masih ada waktu sebelum terlambat, ada baiknya kamu bergegas mencari inti kristal.' Sistem mengingatkan Jean.
"Ayo kita pulang." Liam masih belum menunjukkan tanda terinfeksi tapi Jean tidak ingin bertaruh.
"Jean ada apa?" Nenek Jean melihat bahwa wajah Jean terlihat cemas.
"Nenek aku akan mencari inti kristal untuk menyelamatkan Liam, tolong urus Liam sementara jika dia mengalami demam tinggi." Jean langsung bergegas pergi dengan mengendarai mobil off-road miliknya.
Jean memilih pusat kota untuk didatangi karena merupakan tempat yang selalu ramai dan ada kemungkinan zombie banyak di tempat ini.
Jean turun dari mobil dan zombie secara langsung bergegas ke arahnya, Jean tanpa ampun menebas leher zombie dan ingin segera mengumpulkan inti kristal sebanyak-banyaknya.
'Tuan jangan paksakan dirimu, istirahatlah sebentar.' Melihat darah yang mengotori hampir ke seluruh tubuh Jean membuat sistem takut.
"Tidak, aku harus bergegas menyelamatkan Liam." Jean melanjutkan perburuannya.
"Kapten Lane sepertinya aku melihat seorang gadis cantik di arah timur." Kata salah satu bawahan Lane.
"Lalu?" Lane tampak tidak peduli, dia sedang dalam perjalanan menuju hotel Adam yang terletak di pusat kota.
"Aku melihatnya dikelilingi zombie sambil membunuh mereka. Apakah aku salah lihat?" Bawahan Lane tampak kebingungan.
"Benarkah? Lalu ayo kita rekrut dia dalam tim kita, kita membutuhkan banyak orang pemberani." Lane menghentikan mobilnya tiba-tiba sehingga membuat bawahannya bingung.
"Apakah Kapten Lane yakin?" Lane mencopot tanda pangkatnya agar terlihat seperti tentara biasa.
__ADS_1
"Kapten Lane apa yang kamu lakukan?" Bawahan Lane tercengang ketika melihatnya.
"Jangan panggil aku Kapten Lane panggil aku Potter mulai sekarang." Mengabaikan tatapan bingung bawahannya Lane melaju ke arah Jean yang sedang dikelilingi zombie level satu.
'Tuan, protagonis pria menuju ke arahmu." Jean tampak linglung ketika mendengar pemberitahuan sistem dan menoleh ke arah Lane.
Lane menembak zombie yang hampir membunuh Jane.
'Apakah dia kemari untuk membunuhku?' Jane terkejut ketika melihat Lane menembak zombie yang ada di depannya.
'Mungkin saja.' jawab sistem.
"Gadis jangan linglung, lihat zombie di depanmu." Lane membuat Jane tersadar dan segera menghabisi zombie di depannya, berkat bantuan Lane, zombie telah diselesaikan lebih awal.
"Terima kasih." Ucap Jane dengan tulus, dia pikir Lane datang untuk membunuhnya seperti yang dilakukan Lane dalam novel.
"Lalu bagaimana kamu akan berterima kasih padaku?" Kesan baik Jane terhadap Lane langsung runtuh ketika mendengar pertanyaan sombong Lane.
'C*bul memanglah tetap c*bul' pikir Jane.
"Aku bercanda, maukah kamu membantu kami? Aku melihat kamu memiliki keterampilan pedang yang lumayan. " Bawahan Lane sekali lagi dibuat tercengang ketika Lane bercanda dengan orang asing.
"Maaf aku tidak bisa, aku sedang terburu-buru." Jane langsung menolak lagipula dia harus menyelamatkan Liam dan mengumpulkan inti kristal sebanyak-banyaknya.
"Gadis tolong pertimbangkan. Kami saat ini ingin membersihkan mayat hidup yang berada di hotel Alston jadi kami membutuhkan bantuan mu." Jane mengangkat alisnya ketika ia mendengar nama hotel yang berada di bawah keluarga Brown.
"Baiklah tapi sebagai gantinya aku ingin kalian memberikan inti kristal yang berada dalam otak zombie." Jane menunjukkan inti kristal berwarna putih yang ada di kepala zombie, dia tidak takut membocorkan rahasia inti kristal.
"Baiklah kami setuju." Lane langsung setuju dan dia tidak bertanya mengapa Jane membutuhkan inti kristal.
Jane mengikuti konvoi militer dari belakang, dia telah berhasil mengumpulkan 20 inti kristal tapi Jane merasa itu belum cukup, dia tidak berani menebak berapa banyak kristal yang dibutuhkan oleh Liam.
Sesampainya di hotel Alston, Lane langsung membagi tim menjadi 2.
"Gadis siapa namamu? aku lupa bertanya." Lane bertanya.
"Namaku Jane Barker, panggil saja aku Jane." Jawab Jane.
"Keluarga Barker?" Lane ingat bahwa keluarga Barker adalah orang yang menguasai sebagian besar perekonomian di kota J, dia tidak menyangka gadis kecil ini adalah berasal dari keluarga Barker. Dia pernah melihat gadis ini di restoran di kota N, dia juga tidak pernah menduga akan bertemu dengannya lagi.
"Oke Jane, namaku Potter dan ini rekan ku Barnett, Arlen.. " Lane memperkenalkan bawahannya satu per satu.
'Sistem mengapa dia memalsukan namanya?' Jane merasa heran.
'Mungkin dia takut bahwa kau akan jatuh cinta padanya.' jawab sistem asal.
'Mana mungkin aku jatuh cinta pada pria c*bul ini?!' Jane tidak berencana menjadi pengganti protagonis perempuan.
"Jane kamu ikut aku." Jane mengikuti kelompok Lane yang mengendap ke arah restoran.
"Diperkirakan ada 15 mayat hidup di dalam restoran." Bawahan Lane telah menghitung zombie yang terletak di dalam restoran.
"Joe gunakan peredam." Perintah Lane. Joe kemudian berhasil menembak 9 zombie yang berkeliaran di restoran hotel.
"Kap.. Eh Potter sepertinya aku hanya bisa menembak 9 mayat hidup, sisanya kalian tangani." Joe hampir memanggil Lane dengan nama aslinya. Lane dan bawahan lainnya menggunakan pisau militer untuk membunuh mayat hidup yang tersisa, sedangkan Jane sibuk mengambil inti kristal.
"Apakah kamu tidak takut terinfeksi?" Joe memperhatikan Jane yang mengambil inti kristal dengan tangan kosong, hal tersebut membuat Joe dan bawahan Lane yang lainnya merasa mual.
"Maaf aku tidak memiliki sarung tangan." Jane menyadari ia telah ceroboh, lagipula belum ada satupun yang tahu tentang kemampuan.
"Pakai punyaku." Lane menyerahkan sarung tangan hitam miliknya.
"Terimakasih." Ucap Jane lalu memakai sarung tangan yang agak kebesaran di tangan mungil miliknya.
'Entah kenapa aku merasa seperti sedang melihat gadis kecil yang memakai pakaian pacarnya yang kebesaran.' Kata sistem.
'Jangan berbicara omong kosong. Aku tidak ingin menggantikan posisi Emma.' bantah Jane.
Lane menyusuri Hotel Alston dan membunuh zombie dengan lancar dan Jane tidak banyak membantu, dia hanya membantu jika mereka tidak mampu menangani zombie.
'Memang berkah bagiku, aku hanya perlu menonton dan mengambil inti kristal.' Jane memperkirakan inti kristal putih telah mencapai lebih dari 100. Jane memperhatikan jam yang telah menunjukkan jam makan siang, perutnya telah memprotes.
"Potter aku lapar. Apakah kita tidak akan beristirahat?"
"Oke mari kita beristirahat dalam waktu 5 menit." Mereka beristirahat di lorong hotel lantai ke dua puluh, Lane membagikan makanan militer ke bawahannya dan Jane.
'Apakah ini enak?' Jane melihat isi makanan kaleng yang terlihat tidak menggugah selera.
"Ada apa? Apakah ini pertama kalinya kamu melihat makanan militer?" Tanya Lane. Jane mengangguk.
"Jangan percaya rumor bahwa makanan militer tidak enak. Coba saja, aku yakin kamu akan ketagihan." Jane mencobanya dan tanpa sadar menghabiskannya.
"Bagaimana? Apakah enak?"
"Enak tapi makanannya dingin." Komentar Jane dengan jujur.
"Gadis yang jujur." Lane menyukai sikap Jane yang pemberani dan jujur.
"Bisakah aku meminta untuk pulang lebih awal?" Jane berencana pulang agar bisa menyelamatkan Liam.
Sebelum Lane menjawab suara teriakan dan tembakan terdengar dari lantai atas.
"Bersiaplah." Bawahan Lane langsung waspada.
'Tuan ada zombie level 2 atribut api di depan.' sistem mengingatkan.
"Mundur! Ada mayat aneh dengan kekuatan supranatural!" Bawahan Lane yang merupakan kelompok kedua datang dengan berlari tergesa-gesa.
"Dimana yang lain?" Lane tidak menyangka situasi akan kacau.
__ADS_1
"Mereka mati dibunuh oleh mayat hidup itu. Kapten Lane mari kita melarikan diri segera!" Bawahan Lane tampak putus asa.
"Joe tenangkan dia." Perintah Lane. Tidak mungkin bagi mereka untuk menyerah, karena ini merupakan satu-satunya tempat yang cocok sebagai penampungan sementara.