Wear Apocalypse Book

Wear Apocalypse Book
32. Reuni yang tidak terduga


__ADS_3

Jean mengemudi ke arah lumbung padi yang terletak di tengah-tengah desa, dia mendengar suara teriakan marah yang tampaknya merupakan suara Nyonya Gill.


"Melihatmu kembali membuatku menebak sesuatu, keluarga Barker pasti sudah bangkrut saat ini." Jean mengerutkan keningnya, kenapa Nyonya Gill membahas dirinya?


"Kamu bisa menghina diriku, tapi kamu tidak berhak menghina nona Jean!" Jean langsung mengenali suara ini, ini adalah suara Linda! Dia tidak menyangka akan bertemu Linda sekali lagi di sini.


"Kakak, itu suara bibi Linda bukan?" Liam juga mengenali suara Linda.


"Siapa dia?" Olivia penasaran siapa Linda.


"Dia adalah koki kakak Jean sebelumnya." Jawab Liam.


"Kita akan masuk ke dalam." Kelima siswa SMA dan Raes mengikuti Jean.


"Siapa kalian??" Penduduk desa lain segera waspada dengan kedatangan tamu asing lainnya.


"Aku di sini mencari Abby dan keluarganya." Jean memperhatikan sekelilingnya dan tidak mendapati keluarga Abby di dalam ruangan ini.


"Siapa kalian? Kenapa kalian mencari Abby?" Mereka tidak mempercayai Jean, Jean terlihat misterius dan aneh dengan penyamarannya.


"Paman Juan, aku mencari bibi Abby untuk menyelamatkannya." Liam berdiri di depan Jean agar dikenali oleh penduduk desa.


"Liam?" Penduduk desa langsung mengenali Liam walaupun Liam saat ini telah banyak berubah, tubuhnya tidak lagi kurus dan terlihat rapuh seperti saat tinggal di kediaman Nyonya Gill.


"Kalian terlambat, Abby telah pergi dua minggu yang lalu saat geng Death Venom berusaha merebut tempat ini." Juan merasa lega, setidaknya kelompok Jean sama sekali tidak bermaksud jahat.


"Kemana mereka pergi? Apakah kalian tahu arahnya?" Tanya Jean.


"Aku tidak sengaja mendengar bahwa mereka berencana pergi ke kota J untuk bertemu dengan keluarga Barker, tetapi Raul tidak begitu optimis dengan kondisi keluarga Barker, jadi mereka memilih untuk pergi bergabung dengan basis penampungan." Juan tidak tahu yang berada di depannya saat ini adalah Jean Barker.


"Terima kasih paman."


"Kalau boleh aku tahu, apakah wanita yang berada di dalam adalah Linda?" Jean sebenarnya ingin masuk ke dalam tetapi dia takut dianggap tidak sopan oleh penduduk setempat.


"Ya, Nyonya Gill marah karena Linda membunuh geng Death Venom. Walaupun Death Venom kejam tetapi mereka mau menjaga kami dari serangan zombie di luar, sebenarnya mereka sangat baik hanya saja cara mereka salah." Juan tampaknya agak memihak Death Venom.


Raes yang berada di belakang Jean merasa terharu dengan ucapan Juan, tetapi dia juga mengakui bahwa pemimpin mereka terlalu tamak soal makanan dan hanya membagikan sedikit pada penduduk desa.


"Bagaimana kamu menjelaskan semua pada penduduk desa? Memangnya kamu mampu melindungi kami?!!" Teriakan Nyonya Gill terdengar sekali lagi.


"Maaf, suasana di sini sedikit kacau." Juan merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa. Bisakah aku masuk ke dalam?" Jean sama sekali tidak keberatan.


"Silakan." Juan kemudian mengantar kelompok Jean.


"Siapa mereka? Apakah mereka ingin membuat masalah lagi?" Nyonya Gill melotot ke arah kelompok Jean yang masuk.


"Mereka awalnya mencari Abby, tetapi mereka juga mengenali Linda." Jawab Juan.


"Oh- sepertinya aku melihat tikus yang sempat kabur dari rumahku." Nyonya Gill menatap tajam ke arah Liam yang berdiri di samping Jean.


"L-liam? Bagaimana kamu bisa ada di sini? Bagaimana kondisi nona Jean?" Linda terkejut melihat Liam yang berada di sini. Jean sangat terkejut, dia hampir tidak mengenali Linda, bagaimana bisa Linda berubah begitu banyak? Apakah dia melakukan facelift?


"Kakak Jean baik-baik saja." Jawab Liam.


"Paling-paling dia berbohong, jika tidak bagaimana mungkin Liam bisa berkeliaran kemari? Aku juga tidak melihat Jean Barker di kelompok mereka, mungkin dia sudah mati." Nyonya Gill mencibir. Jean benar-benar ingin membunuh Nyonya Gill, bagaimana bisa Nyonya Gill mengatakan dirinya sudah mati di hadapannya? Olivia terbatuk untuk menahan tawanya yang hampir keluar. Wajah Jean terlihat jelek dibalik topengnya.


"Tidak sopan mengutuk seseorang di depan sanak saudaranya." Jean langsung menegur nyonya Gill.


"Jadi kamu adalah anggota keluarga Barker?" Nyonya Gill sangat terkejut.


"Ya a-aku saudara tiri Jean Barker, John Barker." Jean terpaksa harus berbohong. Linda merasa aneh, sejak kapan Jean memiliki saudara tiri? Tetapi mengingat dirinya yang sudah lebih dari 1 bulan tidak berada di rumah Barker membuat Linda berpikir bahwa itu mungkin benar adanya.


"Linda kenapa kamu tidak kembali ke rumah? Dan di mana kedua orang tuamu?" Jean bertanya-tanya.


"A-aku hanya ingin menjaga warisan Tuan Barker di sini." Linda menjawab dengan malu, John mungkin telah mendengar tentang dirinya dari Jean.


"Jean pasti senang jika kamu kembali ke kota J." Jean merasa kecewa mendengar ucapan Linda, bukannya dia merasa masakan Misael tidak enak, tetapi masakan Linda memiliki ciri khas yang tidak bisa ditiru oleh orang lain.

__ADS_1


"Tuan John maaf karena telah membuat nona Jean kecewa, aku tidak bisa kembali ke kota J." Linda meminta maaf dengan tulus, dia benar-benar merasa tidak pantas untuk kembali ke kota J.


"Kamu harus mengganti rugi karena telah membunuh anggota geng Death Venom!" Nyonya Gill tiba-tiba memikirkan kejadian sebelumnya, jika dia bisa membodohi saudara Barker maka dia akan mendapatkan hal yang baik seperti sebelumnya.


"T-tidak! Sama sekali tidak perlu, setelah aku pikir-pikir kami memang terlalu serakah." Raes dengan cepat menghentikan Nyonya Gill, dia sangat takut dengan konsekuensi yang akan dia hadapi jika Nyonya Gill meminta kompensasi.


"Kamu anggota Death Venom?" Juan mengenali Raes.


"Itu tidak masuk akal! Mereka harus memberi kompensasi! Lihatlah dirimu, apa kamu tidak marah?" Nyonya Gill memperhatikan Raes yang mengenakan pakaian compang-camping.


"Sama sekali tidak perlu, kami mengaku salah." Raes ingin menangis, bagaimana mungkin dia berani meminta kompensasi di depan Jean?


"T-tapi," Nyonya Gill ingin memaksa Raes untuk meminta kompensasi.


"Nyonya Gill, aku akan menggantikan Death Venom untuk melindungi desa." Ucap Linda.


"Memangnya kamu bisa menjaga kami seperti Death Venom?!" Nyonya Gill tidak percaya kemampuan Linda untuk melindungi desa.


"Nyonya Gill, Linda benar-benar kuat, dia bahkan mengalahkan kami sekaligus." Raes sekali lagi membantu Linda. Nyonya Gill tidak tahu harus berbicara apa lagi, Raes telah membuat rencananya gagal.


"Linda aku ingin berbicara denganmu sebentar." Linda mengangguk setuju.


Jean kemudian membawa Linda ke tempat yang sepi lalu membuka penyamarannya di depan Linda.


"Nona Jean??" Linda sangat terkejut, dia tidak menyangka bahwa John sebenarnya adalah Jean!


"Ya ini aku, aku berencana-" Sebelum Jean melanjutkan ucapannya Linda tiba-tiba berlutut dan menangis.


"Apa yang terjadi?" Jean panik, dia tidak mengerti mengapa Linda menangis.


"Nona maafkan aku, aku orang yang tidak tahu berterima kasih." Linda membenturkan kepalanya ke tanah, dia sangat menyesali pilihannya.


"Tidak, kamu sama sekali tidak salah, aku memahami keraguanmu, Ayo bangun." Jean berusaha menarik Linda untuk bangun, namun Linda menolak dan terus berlutut.


"Jika kamu tidak bagun, aku akan marah." Jean terpaksa harus mengancam.


"Aku sama sekali tidak marah, berhenti menyalahkan dirimu." Jean menatap Linda dengan ekspresi pahit.


"Tapi-"


"Tidak ada kata tapi." Jean langsung memotong ucapan Linda.


"Lalu, apakah kamu ditinggalkan kedua orang tuamu?" Jean menebak.


"Y-ya." Linda menjawab dengan gugup dan malu.


"Lain kali kamu tidak harus menuruti ucapan orang tuamu, mereka bukanlah dewa, apa yang mereka ucapkan tidak selalu merupakan hal yang baik untukmu." Jean menasehati Linda. Linda hanya menunduk malu, dia tidak berani menatap Jean.


"Apakah kamu benar-benar tidak ingin kembali ke kota J?" Jean bertanya sekali lagi. Linda menggelengkan kepalanya.


"Jaga dirimu baik-baik, jika kamu merasa baikan, datanglah ke kota J, kami selalu menunggumu di sana." Jean kemudian memeluk Linda.


"Ya aku akan kembali jika rasa bersalahku sudah berkurang." Tangis Linda kembali pecah.


"Ayo kita pergi." Jean kembali ke dalam dengan Linda yang matanya sudah membengkak.


"Apa yang terjadi?" Davin bertanya dengan suara pelan pada teman-temannya.


"Apakah saudara John menyiksa wanita itu?" Nara juga merasa heran sekaligus takut.


Jean menatap ke arah siswa SMA, dia merasa mereka sedang membicarakan hal buruk tentangnya.


"Saudara John, ada apa?" Nara bertanya dengan canggung.


"Tidak ada." Jean tidak lagi menatap mereka.


"Benar-benar menakutkan, kita hampir ketahuan." Anthony mengeluh dan mereka semua setuju dengan apa yang dikatakan Anthony.


"Raes apakah kamu pandai mengemudi?" Tanya Jean.

__ADS_1


"Y-ya aku bisa." Raes tidak tahu kenapa Jean berinisiatif bertanya.


"Gantikan aku mengemudi."


"A-apa?" Raes mengira dia salah mendengar.


"Gantikan aku mengemudi, apakah kamu tuli?" Jean menatap Raes dengan malas, dia tidak tahu apakah Raes berguna untuknya. Haruskah dia menyesal sekarang?


Raes berkeringat dingin saat Jean menatapnya, tatapan Jean seperti tatapan iblis untuknya. Dia sudah mendengar dari siswa SMA itu, bahwa Jean sangat mengerikan dan keahlian pedangnya sangat bagus. Raes ingin meminta tolong pada kelompok siswa SMA, namun mereka tampaknya sengaja tidak melihat ke arahnya.


"Y-ya aku akan mengemudi." Raes tidak memiliki pilihan lain, dia hanya bisa berdoa agar Jean tidak memenggal kepalanya dengan pedang yang ada di punggung Jean.


Raes segera menggantikan Jean mengemudi, dia mengemudi dengan canggung seolah sedang dalam masa ujian mengemudi dengan pengawas yang menilai ketrampilan mengemudinya dari samping.


....


"Apakah kamu puas sekarang?" Jimmi merasa istrinya telah banyak berubah.


"Aku curiga bahwa kamu sebenarnya jatuh cinta dengan Linda." Shani menatap Jimmi dengan tatapan curiga.


"Kenapa kamu berbalik menyalahkan aku?! Tidakkah kamu malu karena telah meninggalkan Linda??" Menurut Jimmi, Shani semakin tidak masuk akal.


"K-kamu berselingkuh! Kamu bahkan lebih memilih untuk melindunginya daripada aku!" Kecemburuan muncul di hati Shani.


"Shani kamu mulai meragukan cintaku, aku selalu mencintaimu, jika tidak bagaimana mungkin aku berani meninggalkan Linda untukmu?" Jimmi sangat kecewa.


"Lalu kenapa kamu terus membahas wanita itu?!" Shani tidak mau mengalah.


Jimmi dan Shani terus berdebat sepanjang jalan, mereka bahkan tidak menyadari sesuatu diam-diam mengintai dan mengikuti jejak mereka.


Mobil Jimmi entah kenapa tiba-tiba berhenti, seolah sedang tersangkut sesuatu di bawahnya.


"Ada apa?" Tanya Shani.


"Kita mungkin tersangkut." Jawab Jimmi. tetapi Jimmi merasa aneh, jalanan yang mereka lewati tadi seingatnya tidak memiliki lubang maupun becek sama sekali.


"Aku akan memeriksanya, kamu tunggu di sini." Shani mengangguk.


Jimmi segera keluar dari mobil dan tidak melihat sesuatu yang bisa membuat mobilnya tersangkut.


"Aneh." Gumam Jimmi.


Shani merasa bosan menunggu di dalam mobil, dia kemudian mengambil sisir dan memilih untuk merapikan rambutnya selagi suaminya mengecek keadaan di luar. Shani kemudian terlihat pucat ketika melihat sesuatu yang ingin melahap suaminya melalui kaca belakang.


"Jimmi di belakang mu!!!" Shani segera menjulurkan kepala ke luar jendela lalu berteriak.


Jimmi menoleh ke belakang dan melihat seekor ular mutan raksasa membuka mulutnya dengan lebar tepat 2 meter di belakangnya! Jimmi dengan cepat menghindari mulut ular tersebut, detak jantungnya sangat cepat seolah jantungnya hampir terlepas dari tubuhnya.


"Shani segera menjauh dari sini!! Aku akan memancingnya menjauh dari mobil!" Shani dengan cepat berpindah ke kursi kemudi dan menjauhkan mobil dari tubuh ular mutan.


Jimmi berlari dengan sekuat tenaga untuk menghindari ular yang ingin melahapnya. Shani berkeringat dingin, dia tidak percaya bahwa mereka akan menghadapi bahaya setelah meninggalkan desa, andai saja Linda tidak bersikeras untuk menetap di desa itu, mungkin mereka dengan mudahnya membunuh ular tersebut.


"Shani cepat menjauh! Aku akan menyusul mu sebentar lagi!!" Jimmi mendesak Shani.


Shani entah kenapa tiba-tiba mendapat ide untuk meninggalkan suaminya, dia kemudian menepiskan ide tersebut tetapi mengingat bagaimana suaminya membela Linda membuat kebenciannya timbul.


Shani memandang Jimmi yang sedang bersusah payah menghindari ular, dia mulai meragukan suaminya, apakah suaminya benar-benar mencintainya? Jika suatu saat suaminya berkhianat, apakah dia akan sanggup menjalani hidupnya?


Shani membuat keputusan bahwa dia akan meninggalkan suaminya, hidupnya lebih berharga daripada cintanya, lagipula suaminya telah mengkhianati dirinya, dia tidak akan tertekan jika meninggalkan suaminya.


"Jimmi maafkan aku." Shani segera melaju ke arah berlawanan untuk meninggalkan suaminya.


Jimmi masih tidak sadar dengan kepergian istrinya, dia masih berusaha mencari ide untuk membunuh ular mutan tersebut.


"Shani?!" Jimmi baru menyadari bahwa dia hanya sendirian dan tidak lagi terdengar suara mobil. Jimmi terus memanggil nama Shani sambil menghindari ular mutan, namun dia tidak mendapati Shani di mana pun.


Jimmi berusaha berpikir positif bahwa istrinya tidak meninggalkannya dan istrinya saat ini juga sedang mengalami kesulitan di sana, jadi dia bergegas membunuh ular tersebut dengan Garu sisir yang terdapat di sawah.


Shani sendiri tidak beruntung setelah meninggalkan suaminya, dia terjebak oleh segerombolan Zombie yang menghadang jalannya dan akhirnya dia mati mengenaskan akibat dikepung zombie.

__ADS_1


__ADS_2