
Orang-orang di rumah Barker saat ini gelisah, waktu telah menunjukkan pukul 5 sore namun Jean belum kembali.
"Merril kenapa Jean begitu lama? Apakah terjadi sesuatu?" Nyonya Barker tampak khawatir.
"Nyonya aku juga tidak tahu, nona Jean sangat jarang pulang malam, bisa jadi nona Jean saat ini ditahan oleh Adam jadi berpikirlah positif agar tidak memicu penyakit jantung nyonya." Merril berusaha menenangkan Nyonya Barker.
"Apakah tidak bisa kita pergi saja ke basis penampungan?" Tuan Barker mengerti bahwa sesuatu memang terjadi, dia telah mendengar jeritan orang-orang di luar bahkan dia mendengar suara ledakan terus menerus di luar.
"Tuan ini berbahaya, tidak satupun dari kita adalah pengguna kemampuan yang selevel dengan nona Jean, tuan bersabarlah." Ujar Randalf.
Di sisi basis suasana belum kondusif, beberapa pengguna kemampuan terluka bahkan mati akibat perlawanan zombie. Jean saat ini berhadapan dengan zombie berkekuatan tanah, dia menghindari serangan zombie sekaligus menyerang.
"Cepat selesaikan sebelum petang!" Lane sekali lagi memberi perintah, saat malam hari mereka akan sangat dirugikan akibat kurangnya penglihatan.
Melihat Jean yang tampak lelah membuat Adam sedikit khawatir, dia kemudian membantu menyingkirkan zombie kemampuan tanah tersebut.
"Apakah kamu tidak apa-apa?" Adam bertanya.
"Aku tidak apa-apa, fokuslah dengan pertempuran mu." Jean tahu bahwa Adam sedang bertarung dengan satu-satunya zombie berlevel 5, jadi dia tidak ingin membuat Adam kehilangan fokusnya.
"Tidak apa-apa, aku akan segera selesai." Adam kembali melanjutkan pertarungannya dengan zombie berlevel 5 yang memiliki kemampuan air, kemampuan itu sangat berlawanan dengan kemampuan api Adam.
Adam menyerang titik vital zombie tersebut dengan seni bela dirinya sehingga zombie itu meraung marah dan mengeluarkan kemampuan khusus, yaitu kemampuan untuk menaikkan kemampuan satu level dari level aslinya. Zombie itu segera mengerahkan air setinggi 5 meter untuk menyapu Adam.
Saat air itu hampir mencapai Adam, Lane datang dan segera membekukan air tersebut. Jean merasa lega melihatnya, dia hampir berteriak dan bergegas menyelamatkan Adam.
"Cepat menyingkir! Aku hanya bisa menahannya sementara!" Teriak Lane. Selisih level kemampuan Lane dengan zombie itu cukup besar, Lane baru menyentuh level 3 saat ini.
Adam dan yang lainnya segera melarikan diri. Es milik Lane kemudian retak dan air langsung menyapu area sekitar sejauh 10 meter, tentara lainnya langsung bergidik ngeri melihat kemampuan zombie tersebut.
"Adam tidak bisakah kamu menyerangnya?" Lane bertanya sambil mengerutkan keningnya.
"Agak sulit, zombie itu mampu menahan serangan api milikku." Jawab Adam.
"Aku rasa kita harus bekerjasama. Aku akan membekukan kaki zombie itu, Jean kamu melumpuhkan zombie itu dengan petir dan Adam kamu akan menyerang saat zombie itu lengah." Lane langsung membuat rencana.
Lane, Jean dan Adam langsung melaksanakan serangan mereka. Lane membekukan kaki zombie itu hingga zombie tersebut tidak mampu bergerak sama sekali.
"Jean cepatlah!" Lane tampak menahan dengan kekuatan penuhnya sambil membekukan serangan air milik zombie tersebut. Jean langsung mengeluarkan empat petir dan menyambar kepala zombie, zombie itu meraung marah dan berusaha lepas dari es milik Lane. Jean tidak menyerah, dia terus menyambar zombie hingga akhirnya zombie itu berhenti mengerahkan kemampuannya akibat petir yang berhasil melemahkan otot zombie tersebut.
__ADS_1
"Adam!" Panggil Lane. Adam mengerahkan kemampuan apinya dan membakar tubuh zombie itu perlahan-lahan, segera zombie itu terbakar menjadi abu dan menyisakan inti kristal berwarna ungu.
Para tentara yang berada di sekitar langsung bersorak melihat Lane dan yang lainnya berhasil membunuh zombie berlevel 5, tanpa mereka sadari seekor zombie berhasil lolos dari penglihatan mereka dan memanjat pembatas basis.
Olivia sangat khawatir dengan keadaan Lane, dia memanjat pembatas basis dengan berani, tentara sangat sibuk dan tidak memperhatikan keberadaan Olivia. Emma melihat Olivia memanjat pembatas, dia kemudian mengikuti Olivia.
"Apa yang kamu lakukan?" Olivia menatap Emma dengan tidak senang, dia tidak tahu trik apa lagi yang akan dimainkan oleh Emma.
"Sekuat apapun usahamu, Lane tetap tidak akan memperhatikan dirimu." Kali ini Emma dengan berani memprovokasi Olivia setelah mengetahui bahwa Lane sangat membenci wanita ini.
"Kamu!!!" Olivia sangat marah, dia akhirnya melihat kepribadian asli Emma.
"Ahh!!" Emma tiba-tiba tampak ketakutan dan matanya terlihat terkejut dari arah belakang Olivia, Olivia kemudian mengikuti pandangan Emma dan mendapati seekor zombie yang sedang memanjat pembatas di belakangnya.
Lane dan yang lainnya langsung menoleh ke arah basis, mereka melihat Olivia dan Emma yang sedang berdiri di pembatas serta seekor zombie yang hampir berhasil memanjat pembatas.
Olivia tampak ketakutan dan segera mundur, tanpa sadar tangannya memegang lengan Emma dengan erat.
"Apa yang kamu lakukan?!! Lepaskan tanganku!!" Emma merasa sangat kesakitan dan ingin melepaskan genggaman Olivia.
Di pandangan Lane, Olivia tampak sengaja menahan Emma bersama dirinya, sehingga Lane sangat marah melihat kejadian tersebut.
"Sialan!!!" Lane sangat marah melihat Olivia yang meninggalkan Emma, dia bergegas menuju pembatas untuk menyelamatkan Emma. Jean juga tidak tinggal diam, dia berlari menuju basis.
Setelah berhasil melepaskan genggaman Olivia, Emma kembali lega namun dia teringat bahwa ada zombie yang memanjat pembatas, Emma kembali ketakutan melihat zombie tersebut telah berhasil memanjat dan berdiri di pembatas.
Zombie itu berlari ke arah Emma, Emma kembali berteriak ketakutan dan Lane berhasil membuat perisai es yang melindungi tubuh Emma dari cakaran zombie. Zombie tersebut sadar akan bahaya dan segera melompat dari pembatas untuk memasuki basis.
Para pengungsi telah kabur dari area sekitar, namun beberapa orang yang tidak beruntung berhasil dimakan oleh zombie yang berkeliaran. Jean mengejar zombie itu dan langsung membunuh zombie yang sedang memakan pengungsi yang kurang beruntung.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Lane menghampiri Emma. Melihat Emma yang tidak menjawab membuat Lane khawatir, dia kemudian melihat bekas luka di tangan Emma akibat kuku Olivia yang tajam. Lane menggendong Emma yang masih menangis ketakutan dan memasuki ruang medis, dia takut Emma terluka.
Jean mencari keberadaan Olivia dan menemukan Olivia yang saat ini terlihat terbaring kesakitan akibat jatuh dari pembatas yang setinggi 5 meter.
"Joe, tolong bantu aku menggendong Olivia!" Jean meminta bantuan Joe. Olivia kemudian dilarikan ke ruang medis untuk perawatan dan kebetulan Olivia berbaring di samping ranjang Emma.
Lane kembali ke ruang medis setelah berhasil mengendalikan kondisi basis. Dia kemudian melihat seseorang yang tidak ingin dia temui sama sekali.
"Aku pikir aku sudah memperingatkan mu untuk berhenti mengganggu Emma tetapi kamu masih sama seperti dulu, selalu menyakiti orang lain!!!" Lane sangat marah.
__ADS_1
"Aku tidak bermaksud begitu." Olivia berusaha menjelaskan, suaranya sangat lemah akibat terjatuh dan menahan rasa sakit.
"Aku tidak butuh penjelasan mu! Kamu benar-benar tidak menghargai kesabaran ku, tahukah kamu bahwa aku selalu bermimpi untuk mencekik lehermu seperti ini?!" Lane menatap Olivia dengan dingin lalu mencekik leher Olivia, Olivia berjuang untuk melepaskan tangan Lane dari lehernya.
Emma berpura-pura tertidur dan secara alami mendengar percakapan Olivia dan Lane, kali ini dia merasa sangat senang karena telah berhasil mengambil hati Lane.
"Lane lepaskan Olivia!!" Jean sangat terkejut melihat Lane mencekik leher Olivia, dia tidak menyangka kebencian Lane begitu besar.
Melihat Lane yang tidak mau mendengar membuat Jean marah, Jean kemudian menarik tangan Lane dari leher Olivia lalu memukuli wajah Lane dan tidak bermaksud untuk menahan kekuatannya.
"Sadarlah Lane!! Apakah kamu ingin membunuh wanita yang tidak memiliki perlawanan sama sekali!!" Jean memarahi Lane.
"Jangan biarkan aku melihatnya lagi! Lain kali aku akan membunuhnya!!" Lane tidak merasa bersalah sama sekali, dia kemudian keluar dari ruangan yang membuatnya pengap.
Setelah Lane pergi, Olivia menangis sejadinya. Dia tidak berharap bahwa Lane memiliki niat untuk membunuhnya, dia seharusnya mendengarkan nasihat Jean dan mengabaikan Lane.
"Tenanglah, jangan biarkan matamu menangisi pria buta seperti Lane." Jean berusaha menghibur Olivia.
"Bantu aku mengemasi barang milikku John, aku akan pindah malam ini." Olivia sudah membuat keputusan, jika Jean tidak menyelamatkan dirinya hari ini, dia mungkin benar-benar akan dibunuh oleh Lane.
"Kemana kamu akan pindah?" Hati Jean ikut merasakan sakit yang dialami oleh Olivia.
"Ak-aku tidak tahu, jika beruntung mungkin aku akan mendapatkan tumpangan ke basis di kota lain." Jawab Olivia dengan linglung, dia sendiri tidak memiliki tujuan.
"Apakah kamu yakin?" Jean tidak tahan melihat Olivia yang berjalan menuju nasib tragisnya.
"Ya aku yakin, aku tidak bisa lagi tinggal di sini." Keputusan Olivia sudah bulat.
"Aku sebenarnya punya ide tetapi aku tidak tahu kamu mau atau tidak."
"Apa itu?" Olivia penasaran dengan ide yang Jean maksud. Jean langsung menjelaskan idenya untuk membawa Olivia ke rumahnya, setelah kenal dengan Olivia, Jean merasa Olivia tidak seburuk dengan apa yang dijelaskan oleh novel.
"Apakah tidak apa?" Wajah Olivia memerah, dia merasa perlakuan Jean sangat istimewa untuknya, dia tidak tahu mengapa Jean memperlakukannya dengan baik.
"Tentu tapi aku punya syarat." Jean tidak menyadari kelainan Olivia.
"Apa itu?" Olivia berpikir apakah Jean akan memaksanya untuk menjadi kekasih?
"Kamu akan tahu nanti." Jean tidak bermaksud menyebutkan rahasianya di depan protagonis wanita yang sedang berpura-pura tertidur.
__ADS_1