Wear Apocalypse Book

Wear Apocalypse Book
Hujan pembawa virus


__ADS_3

Jean mengemudi mobil off-road miliknya dengan kecepatan penuh untuk mengejar matahari yang sebentar lagi akan terbenam, ditambah awan mendung yang seperti sedang mendesaknya untuk segera pulang.


'Tuan penyebaran virus secara besar-besaran akan dimulai ketika hujan turun.' Sistem tiba-tiba mengganggu konsentrasi Jean yang sedang mengemudi.


"Apa maksudmu? Jadi virus ini juga akan menyebar akibat hujan? Bukankah virus membutuhkan inang untuk bisa hidup?" Jean tidak percaya virus dapat ditularkan melalui hujan.


'Virus bisa menyerang bakteri jadi virus ini menyerang semua makhluk hidup bahkan bakteri yang terkandung dalam air hujan.' Jawab sistem.


"Jadi orang-orang terkena hujan akan rentan terhadap virus?"


"Ya bahkan hewan sekalipun akan menjadi hewan mutan." Jean semakin ingin bergegas pulang dan mengingatkan orang-orang di rumah untuk tidak keluar dari benteng.


Hujan telah turun dan membasahi kota J dan kota lainnya. Jean menyaksikan banyak orang yang saling memperebutkan makanan di jalanan tanpa tahu bahwa hujan akan membawa petaka pada diri mereka sendiri.


"Jean kenapa kamu begitu lama?" Merril bertanya ketika ia akhirnya melihat Jean yang telah tiba di depan rumah.


"Apakah itu darah? Dimana nona terluka?" Merril terkejut ketika melihat noda darah di baju putih milik Jean.


"Cucuku katakan dimana kamu terluka!" Nenek Jean juga ikut khawatir.


"Aku tidak apa-apa, ini hanya noda darah karena aku membunuh zombie dalam perjalanan." Jawab Jean, dia tidak berani mendekati mereka karena virus yang dapat membahayakan orang tanpa kemampuan.


"Keren! Tapi kemana bibi Linda apakah dia masih di dalam mobil?" Misael bertanya ketika ia melihat Jean hanya datang sendirian. Jean terlihat bingung ketika dihadapkan pertanyaan Misael.


"Jean apa yang terjadi? Dimana Linda? Ap-Apakah dia terbunuh?" Merril merasa takut ketika melihat ekspresi Jean yang terlihat pahit.


"Tidak, dia tidak mati terbunuh."


"Lalu kemana Linda pergi? Dan bagaimana dengan orang tuanya?"


"Dia dibawa pergi oleh kedua orang tuanya." Suasana hati Jean kembali buruk. "Aku akan pergi mandi terlebih dahulu." Jean langsung pergi ke kamarnya dengan wajah yang suram.


"Bibi Merril apakah kakak Jean kurang baik? Dia bahkan tidak menghargai kakak Jean yang telah menyewa rumah di sebelah." Liam bertanya dengan geram.


"Bukan seperti itu. Jika kamu disuruh memilih antara orang tua atau teman, mana yang akan kamu pilih?"


"Tentu saja teman. Aku tidak ingin meninggalkan Liam." Jawab Liam dengan nada pasti.


Merril : "..."


Merril lupa bahwa Liam sama sekali tidak tahu apa itu pengabdian terhadap orang tua.


"Bibi Merril ajarkan aku membuat kue! Aku tidak ingin kakak Jean merasa sedih lagi." Misael ikut merasakan sedih oleh sebab itu dia ingin menyenangkan Jean dengan kue buatan tangannya.


"Tapi membuat kue itu sulit. Apakah kamu yakin?" Merril bertanya sekali lagi.


"Tentu saja aku yakin. Aku telah menemukan tekad dan cita-citaku sekarang, jadi aku ingin menjadi koki!" Misael berkata dengan semangat.


"Misael jika kamu berhasil membuat kue yang enak jangan lupa membagikannya padaku dan Luna. Aku menantikan kue buatan tanganmu." Kata Liam yang telah berhasil memberi nama beruang pink miliknya.


"Baiklah. Bibi ayo kita segera pergi membuat kue, aku ingin membuat kejutan pada kakak Jean." Misael ingin langsung mempelajari cara membuat kue.


"Liam kenapa kamu tidak ikut Misael?" Nenek Jean bertanya.


"Tidak mau. Membuat kue itu merepotkan karena harus menghafal resep makanan. Aku hanya ingin menjadi penjaga kebun binatang! Nenek ceritakan lagi padaku tentang binatang." Liam tidak tertarik menjadi koki, dia lebih menyukai binatang yang menurutnya lucu.


Nenek Jean sama sekali tidak memaksakan Liam harus memiliki cita-cita yang bagus jadi dia dengan senang hati bercerita tentang binatang yang belum pernah Liam lihat.


Jean memeriksa sekeliling rumahnya dengan teleskop malam, ia melihat jumlah zombie telah meningkat dibandingkan sebelum hujan mengguyur.


"Tampaknya hujan tidak akan reda malam ini." Jean memperhatikan hujan yang tidak terlalu deras tapi masih tidak mau berhenti.


Jean berhenti memeriksa keadaan di luar dan memasuki ruang yang belum ia periksa dalam beberapa hari. Jean sudah menanam padi 3 hari sebelumnya dan padi telah mengeluarkan gabah yang masih berwarna hijau dan diperkirakan besok sudah matang.

__ADS_1


"Tuan tomat telah matang, apakah tuan ingin memanen tomat sekarang?"


"Benarkah?" Jean langsung berlari mencari sepetak tanah yang ia khususkan untuk menanam tomat. Jean langsung mengambil satu buah tomat dan mencicipinya. Tomat terasa renyah ketika Jean menggigitnya dan kesegaran buah tomat sangat begitu terasa.


"Apakah ini benar-benar tomat? Rasanya sangat enak." Jean tidak sadar telah menghabiskan dua tomat.


"Tentu saja. Bagaimana mungkin kualitasnya bisa dibandingkan dengan tomat buruk yang biasa kalian jual di pasar." Nada sistem terdengar sangat bangga.


"Yah itu bagus. Setidaknya kamu memiliki kelebihan." Sistem tidak puas dengan ulasan Jean yang sekali lagi.


"Tiba-tiba aku ingin makan apel dan semangka. Sistem berapa lama apel dan semangka perlu tumbuh?" Jean juga merupakan penggemar buah. Di kehidupan sebelumnya Jean hanya bisa memakan buah satu bulan sekali karena harus menghemat uang tapi sekarang berbeda, dia ingin memakan buah dan meminum jus setiap hari.


"Apel mungkin sekitar 3-4 hari, sedangkan semangka hanya memerlukan 2 hari saja." Jean kemudian menanam 10 apel dan 15 semangka, dia tidak takut bahwa semangka menjadi busuk jika ia lupa memanennya karena ia memiliki sistem yang mengingatnya dan juga ia memiliki penyimpanan sistem.


Jean juga memeriksa hewan ternaknya yang awal mulanya hanya 1 pasang tapi kini telah bertambah banyak.


"Anak ayam ini sangat lucu dan bulunya lembut, rasanya aku ingin mencukur bulunya dan menggunakannya untuk membuat bantal." Kata Jean sambil memegang anak ayam yang masih berbulu kuning.


"Tuan itu tidak mungkin. Apakah kamu tega membunuh anak ayam itu?" Seingat sistem wanita adalah manusia berhati lembut dan sangat menyukai hewan berbulu tapi Jean telah mematahkan persepsinya.


"Kita tunggu saja hingga dewasa lalu aku akan memotong lehermu." Anak ayam itu sepertinya merasakan aura membunuh dari Jean sehingga dia melarikan diri dari tangan Jean.


"Mengapa anak ayam itu tampak cerdas? Apakah ini perbuatan mu?" Jean bertanya dengan curiga.


"Tidak, itu mungkin hanya perasaan tuan saja." Jawab sistem yang berbohong pada Jean.


"Benarkah?"


"Tentu saja, tidak mungkin aku berbohong." Sistem meyakinkan Jean. Jean tidak lagi bertanya pada sistem dan keluar dari ruang setelah memeriksa semuanya.


Jean melanjutkan kegiatan santainya di kamar, berbaring sambil membaca novel yang menumpuk di kamarnya. Dia sengaja membeli ratusan buku novel agar tidak mudah merasa bosan di hari kiamat, ia juga tidak melupakan mendownload ratusan film.


Suara ketukan pintu mengganggu Jean yang sedang membaca.


"Bibi Merril ini sangat enak, aku tidak tahu bibi bisa membuatnya." Jean memuji.


"Ini bukan aku yang membuatnya nona."


"Lalu siapa?" Seingat Jean tidak ada satu pun orang di rumah yang bisa memasak selain Merril.


"Ini Misael yang membuatnya." Jean kemudian memperhatikan Misael yang telah keluar dari persembunyiannya.


"Benarkah ini buatan tanganmu?" Jean sedikit meragukan kemampuan Misael.


"Itu memang buatan tanganku kakak. Dulu saat aku masih tinggal di desa aku sering membantu membuat kue sebelum natal tiba, jadi aku tau sedikit." Misael tampak malu.


"Bagus, kembangkan bakat mu Misael! Kakak akan membayar mu dengan mainan atau apa pun yang kamu minta." Jean akhirnya menemukan koki pengganti.


....


Di sisi lain, Adam dan sekretarisnya terjebak di kantor perusahaannya.


"Tuan Adam apa yang harus kita lakukan?" Noel tampak panik, mereka telah terjebak dari siang hari. Hal tersebut bermula ketika salah satu karyawan terinfeksi dan karyawan itu mulai menggigit rekan kerjanya.


"Tenang Noel jangan panik." Adam sendiri sedang memikirkan cara agar bisa keluar dari gedung kantornya. Dia telah menghubungi keluarganya supaya tidak keluar rumah dan menunggu di ruang bawah tanah.


"Tidak adakah seseorang yang bisa menolong kita?" Noel secara tidak sadar terus menerus memperbaiki posisi kacamata miliknya akibat panik dan gugup.


"Biar aku cari." Adam menggulirkan layar ponsel miliknya hingga dia menemukan salah satu kontak sahabatnya yang mungkin dapat membantunya. Adam kemudian menekan kontak tersebut dan segera menghubungi nomor yang merupakan satu-satunya harapan agar bisa pergi.


"Adam apa yang ingin kau bicarakan?" Suara seorang pria terdengar setelah Adam menelfon beberapa kali.


"Aku butuh bantuan." Ucap Adam tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Apa yang sedang terjadi?" Lelaki itu bertanya, Adam kemudian menceritakan semua kondisi yang ia alami.


"Aku bisa menolong mu tapi aku sedang sibuk menangani masalah di ketentaraan karena infeksi telah menyebar sampai disini, Bisakah kalian menunggu?" Adam sendiri juga mendengarkan beberapa suara tembakan yang terdengar beberapa kali.


"Baiklah. Berapa lama?"


"Diperkirakan aku akan sampai dalam waktu 2 jam, dan satu hal lagi, jangan sampai menyentuh air hujan." Pihak lain langsung mematikan ponsel.


"Bagaimana tuan?" Noel bertanya dengan gugup.


"Kita tunggu sekitar 2 jam." Adam berkata dengan tenang.


"Itu terlalu lama." Noel telah beberapa kali berjalan secara bolak-balik.


"Sabarlah, aku juga merasa khawatir." Noel tidak percaya bosnya bisa setenang itu di saat mengalami kejadian seperti ini.


Setelah menunggu hampir 2 jam, suara tembakan terdengar dari luar.


"Tuan apakah itu datang untuk menyelamatkan kita?"


Seseorang menendang pintu kantor Adam dari luar.


"Bagaimana kawan? Apakah kamu merasa ketakutan?" Lelaki itu tersenyum sambil menginjak mayat zombie yang telah mati akibat tembakan di kepalanya.


"Lama tidak berjumpa Lane." Adam tersenyum.


"Apa apa'an sikap sopan seperti itu?" Lane langsung datang menepuk bahu Adam.


"Syukurnya aku telah mendengar mu pindah ke kota ini kemarin, jika tidak, aku mungkin tinggal menunggu mati membusuk disini." Adam bercanda.


"Dimana pistol mainan mu? Jangan katakan bahwa itu disita oleh kakekmu juga." Bawahan kapten Lane yang baru datang tercengang ketika melihat Brigjen mereka bisa bercanda.


"Aku tidak membawanya." Jawab Adam jujur, dia tidak terbiasa terlalu sering membawa pistol.


"Betapa cerobohnya."


"Ayo bawa aku pulang ke rumah." Di dalam lift Adam dan Lane terus saling bertanya tentang kabar keluarga, Noel dan bawahan Lane hanya terdiam dalam suasana canggung.


"Kapan ini akan berkahir? Jika ini terus berlangsung aku khawatir keluarga kami akan bangkrut." Adam bertanya sambil bercanda pada Lane.


"Aku khawatir kalian aku bangkrut sebelum vaksinnya ditemukan." Jawab Lane.


"Kenapa?"


"Sumber virus belum ditemukan sama sekali, aku takut negara akan jatuh jika tidak bisa menanganinya seperti negara lain. " Lane berkata dengan serius.


"Maksudmu masalah ini tidak akan selesai dalam waktu dekat?" Adam mengerutkan keningnya, sepertinya masalah ini sama sekali tidak sepele.


"Tenang saja, aku yakin keluarga brown akan bangkit bahkan dalam keadaan pernah menjadi pengemis sekalipun." Adam sedikit tidak senang dengan ucapan Lane.


"Aku bercanda. Sebenarnya militer ingin membuat penampungan sementara untuk orang yang tidak terinfeksi tapi kami membutuhkan tempat yang luas, Apakah kamu ingin bekerja sama?" Tanya Lane.


"Memangnya apa yang aku bisa bantu?" Adam sedikit tertarik dengan penawaran Lane.


"Aku ingin menyarankan hotelmu sebagai tempat penampungan, adapun alasannya itu dikarenakan pagar pembatas hotelmu sangat tinggi dan itu cocok untuk pertahanan." Kata Lane.


"Selain itu masyarakat akan mengangkat citra baikmu. Aku tidak meminta gratis dan sebagai gantinya militer akan mengkompensasi dengan persediaan makanan dan minuman untuk keluarga brown."


"Kita bahas nanti saja di rumahku." Adam dan yang lainnya bergegas turun ke parkiran bawah tanah. Bawahan Lane dengan cekatan menembak beberapa zombie yang muncul tepat di kepala.


"Jangan keluar dari mobil saat hujan kecuali terdesak." Lane sekali lagi memperingatkan Adam dan sekretarisnya.


Mobil adam dikawal dari depan dan belakang oleh mobil bawahan Lane. Noel mengerutkan keningnya ketika melihat konvoi Lane mengabaikan orang yang berteriak meminta tolong.

__ADS_1


"Mengapa mereka tidak menolong orang-orang di luar?" Tanya Noel. Adam hanya diam dan tidak menjawab


__ADS_2