YUDITH

YUDITH
AWAL YANG TIDAK MENYENANGKAN


__ADS_3

Setelah mendapat surat tugas dari kepala sekolah, para siswa-siswi kelas dua pun mulai beramai-ramai pindah ke asrama di mana anak yang kasusnya harus ditangani tinggal.


Pukul delapan malam, Yudith sampai di Wisma Panti Awan, seorang petugas bernama Yuliana mengantar Yudith ke salah satu kamar. Begitu pintu dibuka, Irene yang tengah duduk di sudut tempat tidur sambil membaca buku sempat menaikan pandangan sejenak, kemudian acuh tak acuh kembali menekuni bukunya.


Petugas itu mengembuskan napas lelah sambil menggeleng samar. "Itu Irene. Ada satu anak lagi yang juga tidur di sini. Tidur di tempat tidur atas. Dia masih belajar di ruang belakang. Kamu rapikan barang-barangmu dulu saja."


"Baik, Bu Yuli." Petugas itu statusnya sudah pegawai tetap dan usianya sudah kisaran tiga puluh tahun. Jadi, pantas bila Yudith memanggilnya Bu.


"Irene, kenalan dulu sama Bu Yudith," ujar Bu Yuliana dengan suara lembut, tetapi Irene bergeming. Perempuan itu menatap Yudith, lalu berkata, "Yang sabar ya, Dek."


"Baik, Bu Yuli."


Bu Yuli tersenyum tipis. Selaku ibu asrama, jauh-jauh hari sebelum Yudith datang, dia sudah diberi tahu banyak hal tentang Yudith. Lagi pula, gara-gara kasus yang cukup menghebohkan di tahun ajaran lalu, pegawai yayasan yang mana yang tidak mengenal Yudith.


Perempuan itu tahu pasti tipe orang seperti apa yang sudah dipilih sendiri oleh kepala sekolah untuk melakukan pendekatan terhadap Irene. Dia hanya berharap hasil akan sesuai ekspetasi, dengan begitu tugasnya sebagai ibu asrama bisa lebih ringan.


"Irene, ayo belajar di luar gabung sama yang lain."


Lagi-lagi Irene bergeming. Dia terus menekuni bukunya. Bahkan sekarang tubuhnya sedikit menyandar miring membelakangi mereka. Melihat sikap Irena, tiba-tiba Yudith teringat pada diri sendiri. Bila sudah asyik membaca maka apa pun yang terjadi di sekitar tidak akan mudah untuk menarik perhatiannya.


Tidak ingin terjadi hal-hal tidak mengenakkan di hari pertama kedatangannya, Yudith pun berkata lirih, "Kalau masih bisa ditoleransi, biarkan saja, Bu."


Bu Yuliana menatap Yudith lekat dan berkata, "Oke. Kapan pun kamu boleh mulai. Kalau ada kesulitan atau butuh bantuan, bilang saja."


"Baik, Bu Yuli."


"Ya, sudah. Aku tinggal dulu."

__ADS_1


Yudith mengangguk dan sedikit menepi untuk memberi jalan pada Bu Yuliana. Sepeninggal perempuan itu tiba-tiba saja Irene menceletuk sinis, "Munafik."


Cukup terkejut, Yudith menoleh dan mendapati gadis itu masih berada dalam posisi yang sama. Dia jadi tidak yakin ucapannya barusan ditujukan untuk siapa. Untuk Bu Yuliana atau hanya salah satu kata yang ada di buku yang sedang dibacanya.


Setelah tertegun cukup lama, akhirnya Yudith tersadar dan buru-buru masuk untuk merapikan barang-barangnya. Sibuk dengan posisi membelakangi Irene, dia tidak tahu ketika gadis itu menoleh padanya dan menatap dengan mata menyipit yang dipenuhi aura permusuhan.


Waktu Yudith mengeluarkan beberapa bungkus roti dari tas dan meletakkan di atas meja, mata Irene beralih pada benda tersebut. Entah bagaimana, hanya dengan melihat cara dia menatap saja rasanya sudah tercerminkan segala macam rencana licik.


Begitu Yudith beranjak untuk memasukkan pakaian ke almari, Irene dengan cepat melompat turun untuk mengambil satu roti, lalu dengan cepat pula kembali ke atas tempat tidur. Sambil memposisikan diri seperti semula, dia menyembunyikan roti tersebut di bawah selimut.


Yudith bisa merasakan adanya pergerakan, tetapi ketika berbalik dan mendapati gadis itu masih ada di tempat tidur dengan posisi tidak berubah, dia jadi tidak yakin perasaannya barusan itu nyata. Akhirnya Yudith pun melanjutkan merapikan barang-barang yang cukup banyak. Didominasi oleh buku-buku paket yang dipinjamkan pihak sekolah untuk bahan referensi penanganan kasus.


Dia memasukan semua buku itu juga semua perlengkapan yang berkaitan tentang penanganan kasus ke dalam almari, untuk mencegah Irene yang beperan sebagai klien secara sengaja ataupun tidak sengaja membacanya.


Salah satu hal yang harus dilakukan Yudith dalam hal ini adalah menjaga kerahasiaan. Karena, jikalau Irene mengetahui bahwa dirinya sedang dijadikan objek, maka besar kemungkinan gadis itu akan melakukan penolakan secara sadar, semakin memberontak dan menganggap pendekatan yang dilakukan Yudith hanyalah demi nilai. Demi angka untuk lulus dari ujian praktik dan dian pasti akan dengan sengaja membuat Yudith gagal.


Untuk anak-anak seperti Irene, yang paling dibutuhkan adalah ketulusan. Sedikit saja mereka merasakan bahwa suatu kebaikan mengandung niat terselubung, akan sangat sulit untuk bisa mendapatkan kepercayaan mereka kembali.


Sambil berpikir, Yudith terus sibuk merapikan barang-barangnya di almari hingga tiba-tiba terdengar suara bergemeresak, seperti suara membuka plastik pembungkus. Yudith menoleh ke arah Irene dan tersentak, karena gadis itu sekarang dalam posisi duduk sedang menggigit roti yang bungkusnya baru saja dibuka.


Refleks Yudith menoleh pada roti-rotinya yang di atas meja dan benar saja sudah berkurang satu. Yudith tidak pelit. Dia akan dengan senang hati berbagi apa pun dengan orang lain, tetapi ketidakjujuran adalah salah satu hal yang tidak bisa ditoleransinya.


Namun, dia tidak bisa juga mengatakan sesuatu yang akan menyinggung perasaan Irene. Setelah menarik dan mengembuskan napas perlahan, Yudith menatap Irene dan berkata, "Kalau suka boleh ambil lagi. Lain kali kalau ingin apa pun bisa bilang dulu pasti dikasih."


Nada bicaranya lembut. Yudith secara umum memang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi atau berinteraksi, tetapi dalam hal-hal tertentu yang sangat membutuhkan kedua keahlian itu, dia cukup bisa melakukannya dengan baik. Apalagi bila berhadapan dengan anak-anak.


Namun dalam situasi sekarang ini, Yudith tidak tahu bahwa dirinya sedang digiring masuk perangkap oleh Irene yang dianggapnya, anak butuh perhatian yang harus diperlakukan dengan tulus. Irene hanya menatap dingin sambil terus mengunyah. Bahkan di bibirnya yang terus bergerak itu pun Yudith bisa merasakan senyuman sinis.

__ADS_1


Tiba-tiba ada yang datang, Yudith menoleh. Anak perempuan kisaran usia tujuh tahun berdiri di pintu menatap nanar Irene yang masih terus asyik makan.


Anak itu tiba-tiba berteriak, "Bu Laili, Kak Iren makan di kamar lagi!"


Seketika itu juga Yudith sadar, ingat bahwa dilarang makan di kamar adalah salah satu peraturan asrama yang tidak boleh dilanggar, terlebih untuk asrama panti yang isinya anak-anak.


Seorang perawat datang, Yudith mengenalinya sebagai orang yang waktu itu menyusul Irene di ayunan. Begitu melihat Irene, dia langsung melotot dan meledak marah, "Sudah berapa kali dibilang jangan makan di kamar! Sudah makan malam masih belum kenyang, kah? Kalau belum kenyang bilang pasti dikasih tapi makan di ruang makan bukan di sini."


Irene menurunkan roti yang sudah di mulut dan memeganginya di atas pangkuan, wajahnya seketika muram bahkan mata pun berkaca-kaca, saat menunduk beberapa titik cairan bening pun jatuh


"Enggak usah pura-pura sedih." Petugas bernama Laili itu berujar sinis. "Dapat roti dari siapa? Jangan bilang ngambil dari kantin lagi."


Irene menggeleng pelan sambil menunjuk ke atas meja. Semua mata langsung tertuju ke sana dan Yudith pun paham makna tatapan dingin dan senyum sinisnya. Irene sepertinya memang menganggap semua orang adalah musuh yang patut diwaspadai. Sebelum diserang dia menyerang duluan untuk menunjukkan kekuatannya, menunjukkan bahwa dirinya tidak mudah ditindas.


Pengalaman hidup macam apa yang sudah membuat gadis belia itu memiliki rasa perlindungan diri yang kuat? Sampai-sampai berkehendak kuat membentengi diri begitu rupa dengan cara yang licik. Baru umur dua belas tahun, tetapi sudah seperti itu. Cukup mencengangkan.


Yudith tidak seharusnya salah karena tidak ada niatan untuk melanggar peraturan, tetapi dengan penggiringan opini semacam ini dia pun tidak bisa menyangkal bila disalahkan. Namun, ternyata Bu Laili orangnya cukup bijak.


"Dek Yudith tau kan peraturannya? Lain kali lebih hati-hati karena yang terlihat lugu belum tentu seperti itu."


"Baik, Bu. Maaf."


Bu Laili hanya tersenyum, lalu menatap Irene dan memerintah, "Bawa selimut keluar, kebas di luar. Dan habiskan rotinya di luar."


Alih-alih patuh, Irene malah melempar roti itu ke tempat sampah yang terletak di dekat pintu, tetapi meleset dan jatuh di lantai. Setelah itu, dia berbaring dan menarik selimut hingga menutup kepala.


Bu Laili mengembuskan napas kasar, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Ketika hendak pergi dia menyempatkan diri untuk memberi Yudith sedikit nasihat, "Harus ekstra sabar, Dek. Mudah-mudahan bisa lebih sabar dari aku."

__ADS_1


Yudith tersenyum tipis nan canggung sambil mengangguk kecil. Setelah Bu Laili pergi, dia masih berdiri mematung di tempat sambil menatap Irene yang terbungkus selimut. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hari-hari yang akan di jalaninya setelah ini.


Dengan klien seperti Irene, sanggupkah dia memenuhi ekspetasi suster kepala sekolah dan guru pembimbingnya?


__ADS_2