
Senyum Paling Manis Hanya Untukku
🕳️
Karena Dewangga meminta waktu untuk berbicara dengan Lisa, akhirnya Ririsma tetap tinggal di dekat kolam renang untuk mengawasi. Dia tidak mau ambil risiko. Siapa tahu saja Dewangga bersekongkol dengan Lisa yang mungkin berencana kabur.
Sementara kedua saudara sepupu itu tengah bercengkerama di tempat parkir, dia duduk di bangku bawah tenda payung dekat kolam renang memperhatikan. Dengan begitu, Andreas dan Yudith bisa menikmati quality time tanpa ada yang mengganggu. Mereka sudah pergi entah ke mana.
Sebenarnya apa sih yang mereka bicarakan?
Mata Ririsma memicing saat melihat gestur Dewangga dan Lisa sepertinya sedang bersitegang. Mereka memang sedang berdebat. Lisa kesal karena Dewangga menolak membantunya.
"Ayolah, Kak. Bantu Lisa, ya?" Gadis itu merengek, wajahnya cemberut dan tatapan mengiba. "Mereka baru pacaran, sah-sah aja kan kalau aku berusaha mendapatkan hati Andreas. Apa pun adil dalam cinta."
"Nggak mau! Aku nggak akan pernah setuju sama caramu itu! berusaha sih sah-sah aja, tapi tetap nggak adil menurutku. Adil di kamu, tapi nggak buat mereka."
Dewangga tidak habis pikir kenapa Lisa begitu ngotot ingin merebut Andreas dari Yudith. Sampai-sampai terpikirkan rencana sangat kotor. Lisa memintanya untuk berpura-pura mengejar Yudith, merusak kesan baik gadis itu sehingga Andreas berubah membencinya, dengan begitu peluang Lisa untuk mendapatkan hati Andreas akan terbuka lebar.
Itu pemikiran Lisa. Konyol dan sangat sederhana. Kendatipun rencana berhasil, belum tentu Andreas mau menjadi pacar Lisa. Gila saja, pikir Dewangga. Mana tega dia merusak hubungan mereka. Di mata Dewangga, Yudith itu tampak sangat lugu, sederhana. Namun, saat menatap matanya, dia merasa seperti membentur dinding yang sangat sulit diruntuhkan, membuatnya sungkan sekaligus enggan berurusan dengan gadis pendiam itu.
Dia bahkan berpikir, pasti ada sesuatu yang sangat istimewa pada Yudith, sampai-sampai Andreas yang setampan itu bisa tergila-gila padanya. Dewangga bisa melihat dalamnya cinta Andreas dari setiap bahasa tubuh pemuda itu. Caranya menatap, caranya bersikap, caranya berbicara---semuanya mengisyaratkan bahasa cinta yang sangat tulus dan dalam. Dari situ dia bisa menduga kalau dalam hubungan mereka, Andreas'lah yang rasa cintanya lebih besar atau sebagai pihak yang selalu mengambil inisiatif.
"Pokoknya harus bantu! Lisa maksa, nih!"
Menatap terpaku pada Lisa yang terus merajuk dan membujuk, Dewangga jadi teringat bagaimana Lisa yang dulu. Lisa dulu adalah sosok yang selalu merasa dirinya penting. Merasa orang lain yang butuh dia, bukan sebaliknya. Tidak pernah merasa patah hati walaupun putus cinta berkali-kali, tidak pernah mengejar cowok karena baginya cowoklah yang seharusnya mengejar-ngejar dia.
Banyak cowok memujanya dan rela walau hanya dianggap teman asal bisa menjadi satu geng dengannya. Hal itu membuat Lisa besar kepala, merasa menjadi pemimpin, lalu tanpa sadar sudah salah pergaulan dan terjerumus ke dunia kelam.
Dulu, dia pun punya semboyan, hilang satu tumbuh seribu. Dan setahu Dewangga, Lisa selalu konsisten mempertahankan semboyannya itu. Namun sekarang, ke mana perginya yang seribu itu? Kenapa juga dia sibuk mengejar-ngejar yang satu? Dunianya sudah terbalik.
"Nggak!" Satu kata tegas dari Dewangga sukses membuat air mata Lisa jatuh.
"Kak Dewa, jahat! Nggak sayang sama Lisa! Lihat saja nanti, Lisa bakal bikin onar!"
"Memangnya kamu mau ngapain?" Dalam hati Dewangga merasa ciut juga, karena setahunya, Lisa tidak pernah main-main dengan ucapannya.
"Lisa nggak akan bilang. Pokoknya kalau, Kak Dewa nggak mau bantu, aku bakal bikin kacau." Lisa melipat tangan di dada, tekad kuat tersirat jelas di mata basahnya dan wajah yang mengeras.
Benar-benar mengkhawatirkan, pikir Dewangga. Menghindari tatapan Lisa, dia membuang pandangan ke tempat lain dan .... Ririsma. Pandangannya mendarat pada sosok Ririsma yang sedang duduk bersilang kaki sambil melipat tangan di dada. Pandangan gadis itu pun sepertinya tertuju pada Dewangga.
Bibir Dewangga perlahan melengkung. Gadis yang sangat menarik. Banyak orang menilai bahwa gadis dengan kepribadian terbuka dan frontal biasanya setia. Apakah Ririsma tipe gadis seperti itu? Sepertinya patut dibuktikan.
Setelah menarik napas panjang dan mengembuskan kasar, Dewangga menatap Lisa. "Aku pikir-pikir dulu dech," ujarnya kemudian.
"Seriusan?!" Lisa memekik kegirangan.
__ADS_1
Jawaban Dewangga baginya adalah kesanggupan yang terselubung. Dia yakin, pada akhirnya kakak sepupunya itu tidak akan menolaknya. Begitulah yang sering terjadi dulu dan sekarang pun harus tetap seperti itu.
Lisa tertawa kegirangan sambil memeluk Dewangga yang hanya terpaku sambil menatap Ririsma yang juga sedang menatapnya. Tatapan yang tidak bersahabat tentunya.
Sudah waktunya makan siang, Andreas dan Yudith pun beristirahat.
Duduk di tepi jalan setapak yang agak sepi pengunjung, Andreas membuka kotak makan yang berisi kue brownis buatannya sendiri. Kemarin dia sengaja membuatnya untuk bekal.
Dia mengambil sepotong menggunakan garpu kue lalu menyodorkannya pada Yudith. "Makan, Dith."
"Makasih." Gadis itu hendak mengambilnya, tetapi Andreas menariknya kembali. Yudith hanya bisa menatap bingung.
"Buka mulut, aaaa ...."
Tingkah Andreas kadang-kadang berlebihan, membuat Yudith jadi merasa seperti penderita disabilitas yang tidak bisa bantu diri. Gadis itu menghela napas bosan.
"Aku bisa sendiri, An."
"Mumpung nggak ada yang ganggu. Quality time terjamin aman, bolehlah aku manjain kamu." Pemuda itu menaik-turunkan kedua alisnya dan senyumnya sangat lebar, sampai-sampai hanya dengan melihat saja, pipi Yudith merasa pegal.
Sekilas Yudith cemberut lantas tiba-tiba saja dia merampas kotak kue dari tangan Andreas.
"Eeeeee, Dith ...."
Yudith mengambil garpu yang sudah disiapkan di dalam kotak lalu menusuk sepotong kue dan memberikannya pada Andreas.
Seumur-umur baru kali ini Yudith berinisiatif. Walaupun dengan begitu jantungnya dag dig dug tidak karuan dan tangan gemetar, dia tetap bergeming pada niatnya. Dia ingin sekali-kali membuat Andreas merasa dianggap benar-benar istimewa olehnya.
Andreas sudah terlalu baik padanya. Selalu berinisiatif dan tidak pernah menyerah ketika ditolak, tidak berkecil hati meski dia selalu memberinya muka datar atau malah tidak memberi muka sama sekali.
"Ambil." Karena Andreas hanya terpaku, sepertinya cukup terkejut, Yudith pun lebih mendekatkan kue itu padanya.
Perlahan senyum itu terbit, wajah Andreas pun semringah. Sambil mengerling jahil, dia meraih pergelangan tangan Yudith lalu menunduk untuk melahap kue itu. Setelahnya, dengan mulut penuh kue, Andreas tergelak riang karena berhasil memaksa Yudith menyuapinya.
Yudith yang tadinya terbengong, akhirnya tersenyum lebih lebar dari biasanya. Tawa riang Andreas membuat kalbunya terasa hangat. Sementara itu, senyum lebar Yudith membuat Andreas seketika itu juga berhenti tertawa. Dia menatap dengan mata berbinar dan perlahan menyentuh kedua pipi Yudith.
"Manis dan indah," ujarnya sambil menjewer pipi Yudith yang sedikit mengembung. "Ya, begini dong, Dith."
"An, sakit."
Andreas terkekeh ringan lantas merengkuh Yudith dalam pelukan. Karena tiba-tiba, Yudith tidak sempat menghindar dan akhirnya hanya bisa meronta-ronta kecil.
"An, lepas."
Andreas tahu, bagi Yudith yang cuek dan kaku, hal-hal semacam ini pasti cukup memalukan. Tidak ingin membuat gadis kesayangan merasa tidak nyaman, dia pun segera melepaskannya.
__ADS_1
"Sorry, Dith. Aku terlalu senang."
Refleks, Yudith sedikit bergeser. Menunduk malu-malu sambil menyelipkan rambut ke telinga. Seandainya kulit gadis itu putih, pasti saat ini wajahnya sudah berubah menjadi merah muda.
Karena salah tingkah akhirnya dia mencomot satu kue dan langsung memakannya sambil menatap jauh ke depan---ke arah pepohonan hutan.
Andreas gemas melihat tingka Yudith, perlahan dia mengelus rambutnya. "Lebih sering lagi tersenyum, tapi yang paling manis hanya boleh buat aku."
"Makan."
Tanpa melihat, Yudith memberikan kotak kue pada Andreas dan pemuda itu menerimanya sambil terkekeh ringan. Benar kata pepatah, sekeras-kerasnya batu kalau setiap hari ditetesi air suatu saat pasti berlubang juga. Begitulah Yudith. Kaku, datar, cuek, tetapi akhirnya bisa lebih sering tersenyum, dan meski malu-malu bisa mengekspresikan perasaannya.
Setelah puas berduaan, mereka pun turun, mendatangi Ririsma dan Lisa. Andreas tidak menyangka kalau ternyata Dewangga juga masih ada di sana, padahal tadi katanya ada janji dengan temannya.
Begitu melihat Andreas, pemuda dengan potongan rambut unik itu bergegas menyongsongnya. Menepuk bahunya dan berkata, "Aku mau bicara. Hanya berdua." Lalu menatap Yudith. "Pinjam bentar."
Tidak berkata apa pun, Yudith segera melepaskan tangannya dari Andreas lalu pergi bergabung dengan Ririsma.
"Mau ngomong apaan?" Andreas menatap Dewangga dengan dahi mengernyit.
"Sini ikut." Tanpa banyak kata, Dewangga menarik Andreas ke tempat parkir.
Lisa tidak bisa menahan senyum. Dia yakin, Dewangga pasti sedang menjalankan rencana untuk membantunya.
"Minta nomor telpon, dong."
Andreas tidak berpikir setelah hari ini akan bertemu atau berhubungan lagi dengan Dewangga. Jadi, saat pemuda itu meminta nomor telepon rasanya sedikit aneh. Buat apa?
"Untuk?"
"Yaelah. Ya pasti ada perlunya. Kita kan nggak tau ke depannya gimana. Mana tahu kita saling membutuhkan. Ya, nggak?"
Dipikir-pikir, sebenarnya tidak masalah juga saling bertukar nomor telepon. Akhirnya Andreas pun menyebutkan nomor teleponnya dan Dewangga pun memberikan nomornya.
"Oh iya, An. Ngomong-ngomong, Ririsma sudah punya pacar apa belom?"
Ah! Begitu rupanya. Mungkin Dewangga tertarik pada Ririsma. Begitulah pikir Andreas, pemuda itu tersenyum tipis lalu berkata, "Setauku sih, belum."
"Ah, oke. Lain kali aku hubungi. Makasih, ya. Aku cabut duluan."
"Nggak pamit sama Lisa."
"Nggak perlu."
"Ya udah ati-ati."
__ADS_1
"Sip."
Dewangga terkekeh ringan sambil menaiki sepeda motornnya. Setelah dia meluncur, Andreas pun bergegas kembali pada yang lain.