YUDITH

YUDITH
IRENE HISTERIS


__ADS_3

Setelah melihat sendiri bagaimana kondisi tangan Irene, di Ruang tamu Wisma Awan yang pintunya ditutup dan dikunci, suster kepala sekolah meluapkan amarahnya.


"Anak itu dititipkan di sini supaya mendapat penanganan lebih baik! Pengasuhan yang baik, bukan malah disakiti seperti itu! Kalian ini pekerja sosial, pelayan masyarakat! Apa pantas berbuat begitu, hah?!"


Seandainya meja ruang tamu itu tidak berbahan kaca, pasti nasibnya sudah sama seperti meja kantor sekolah yang terbuat dari kayu jati asli. Digebrak tanpa ampun sambil mengoceh marah-marah. Perempuan berbadan tambun dengan suara menggelegar seperti guntur itu wajahnya merah padam dan basah oleh keringat. Deru napasnya seperti pelari maraton yang baru saja mencapai garis finish.


Ketiga perawat pengasuh yang duduk di hadapannya hanya menunduk. Bu Yuliana dan Yudith tampak lebih santai, sedangkan Bu Laili terlihat meremat jemari gelisah.


"Yuliana!" Sambil membentak, suster kepala sekolah memukul lengan sofa tunggal yang didudukinya.


Bu Yuliana mengangkat wajah dan spontan menceletuk, "Iya, Suster."


"Ini sudah keterlaluan! Pelanggaran berat! Kenapa enggak segera lapor? Jangan sok pintar mau menanganinya sendiri! Kalau sampai terjadi apa-apa sama anak itu gimana?"


"Maaf, Suster. Saya tau saya salah."


"Ya harus tau! Sendiri buat salah gimana enggak tau?! Kamu juga Laili!"


Bu Laili sampai terlonjak saking kagetnya, kemudian semakin dalam menunduk.


"Kamu besar di sini! Pernah jadi anak-anak yang dirawat! Pernah bandel juga, tapi apa pernah dipukul? Dulu aku sendiri yang ngasuh kamu, apa pernah aku mukul?"


"Tidak, Suster." Suara Bu Laili sangat lirih juga bergetar, dan tiba-tiba saja dia terisak.


"Enggak usah nangis! Makanya kalau mau bertindak itu mikir dulu! Aku tau kamu capek! Lagian kenapa enggak nunggu Yuliana pulang? Malah bertindak sendirian!"


Dilarang menangis, air mata Bu Laili malah semakin deras berjatuhan. Punggungnya berguncang-guncang dan suara isaknya sesekali diselingi cegukan.


"Sa-ya, ca-ca-pek ha-ti ...." Tersendat-sendat karena bicara saat terisak-isak, Bu Laili tampak sangat tersiksa seperti sedang dicekik. Yudith sampai merasa ikut sesak napas.


"Capek hati gimana?" Melihat keadaan Bu Laili yang menyedihkan, tidak lantas membuat suster kepala sekolah luluh, yang ada justru semakin meradang. "Enggak sanggup ngasuh anak-anak normal, huh?!"


Bu Yuliana tiba-tiba saja menatap Bu Laili tajam dengan gestur jijik dan berkata sarkas, "Bu Laili pengen ditugaskan di bagian gudang? Atau di bagian kantor? Atau di wisma anak-anak berkebutuhan khusus supaya tidak perlu lagi berurusan dengan anak-anak normal yang sering Bu Laili bilang bandel?"

__ADS_1


Merasakan ada tanda-tanda friksi yang tidak kasatmata di antara Bu Yuliana dan Bu Laili, barulah suster kepala sekolah menurunkan volume suaranya.


"Kalian berdua nanti malam sehabis makan naik ke lantai tiga Wisma Nirmala." Tempat yang disebutkan oleh suster kepala sekolah adalah tempat peristirahatan bagi para suster biarawati, tetapi lebih dikenal sebagai wisma tempat tinggal suster kepala sekolah yang sekaligus menjabat sebagai kepala yayasan, yaitu Suster Davince sendiri. Disuruh naik ke sana berarti diperintahkan untuk menghadap.


Sekarang Yudith mengerti, kenapa selalu ada atmosfir canggung di antara Bu Yuliana dan Bu Laili. Sepertinya kedua orang itu tidak akur, tetapi bisa menyimpan perkara hanya untuk diri mereka sendiri. Sampai-sampai yang sama-sama tinggal di Wisma Awan saja tidak bisa mengendus gelagatnya.


Setelah bicara dengan mereka, tiba-tiba suster kepala sekolah kembali menaikan suaranya ketika bicara pada Yudith, "Kamu juga, Yudith!"


"Iya, Suster ...." Saking terkejutnya, Yudith menceletuk begitu saja sambil menatap lurus suster kepala sekolah. Setelah menyadari situasinya, dia pun menurunkan pandangan dengan canggung.


"Kamu jangan lagi menutup-nutupi kalau ada kejadian apa pun. Apalagi kejadian yang membahayakan. Kalau tadi Vivi tidak laporan pada Yuliana, kamu pasti enggak akan bilang apa-apa, kan?"


"Maaf, Suster."


"Aku juga enggak akan tau apa-apa kalau Vivi enggak laporan!"


Sekarang terjawablah sudah siapa biang kerok yang sudah mengundang suster kepala sekolah untuk datang siang-siang begini.


Setelah marah-marah, suster kepala sekolah kemudian berbicara dengan normal, "Aku sudah nasehati Vivi supaya jangan suka bicara sembarangan. Kalian bisa pelan-pelan menasehati dan membimbing dia."


"Ya sudah, itu saja. Kalian berdua jangan lupa nanti malam."


Sebelum ada yang beranjak, Yudith segera berkata, "Suster Davince dan Bu Yuli, ada yang ingin aku tanyakan."


"Soal apa?" Suster kepala sekolah balik bertanya, suaranya serak sehabis marah-marah tadi. "Laili, boleh minta air minumnya?"


Yudith yakin, dibandingkan karena haus, suster kepala sekolah lebih cenderung ingin mengusir Bu Laili secara halus karena tadi dia tidak menyebut nama Bu Laili. Suster kepala sekolah paham kalau Bu Laili tidak perlu terlibat.


Setelah Bu Laili pergi, Yudith segera menyampaikan unek-uneknya, "Ini tentang ayah Irene. Apakah laki-laki yang ada di foto keluarga di kelengkapan administrasi itu ayah Irene?"


"Mungkin," jawab Bu Yuliana lugas, tetapi ada nada ragu. "Orangnya ikut datang ngantar juga. Dan kakaknya Irene memanggilnya ayah. Tapi Irene kelihatan lebih dekat sama ibunya. Waktu mereka mau pulang, Irene enggak mau salim sama ayahnya."


"Ada apa, Dith? Apa Irene sudah mau bicara dan mengatakan sesuatu?" Cara suster kepala sekolah bertanya seperti mencecar.

__ADS_1


Namun, Yudith tidak langsung menjawab karena Bu Laili datang membawakan minum untuk suster kepala sekolah. Setelah dia pergi baru Yudith kembali bicara, "Irene belum mau bicara, tapi aku menemukan foto keluarga yang diambil saat Irene masih lebih kecil. Laki-laki dalam foto itu tidak sama dengan yang di foto kelengkapan administrasi ...."


Yudith menceritakan semua dengan detail. Bahkan tentang dugaannya bahwa selama ini Irene seolah-olah sangat suka membaca, tetapi sebenarnya mungkin hanya sedang memandangi foto yang diselipkannya di dalam buku saja.


"Mungkin sikap Irene yang sekarang ada kaitannya dengan dua laki-laki berbeda yang ada di dalam dua foto itu." Yudith pun menyampaikan dugaannya.


Adapun tentang kedua laki-laki itu. Meskipun Yudith sudah bisa meraba, tetapi tidak berani asal bicara. Pihak keluarga tidak menceritakan yang sebenarnya pada waktu wawancara dan pendataan, pasti mereka memiliki alasan tersendiri.


Memikirkan hal itu, mau tidak mau Yudith jadi sedikit mengasihani diri sendiri. Dirinya yang sejak kisaran usia delapan tahun sudah tidak lagi pernah merasakan kasih sayang seorang ayah.


Dengan itu empatinya terhadap Irene semakin dalam. Hal yang tidak seharusnya terjadi bagi para pekerja sosial seperti dirinya, karena itu akan sangat mempengaruhi etos kerja. Simpati dan empati hanya boleh digunakan sewajarnya saja suapaya tidak bias.


Yudith dan kawan-kawan bukanlah calon-calon psikolog, mereka hanya dipersiapkan untuk menjadi pekerja sosial profesional. Bila ke depannya ada dari mereka yang ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, lebih mendalami bidang psikologi, dan mendapat gelar yang lebih bergengsi, setidaknya mereka sudah mendapatkan bekal.


"Akan kuhubungi orang tuanya. Kamu tunggu kabar saja. Kalau merasa ada peluang atau cara untuk bisa mengambil hatinya, tetap lakukan dengan perlahan. Kamu, usahakan untuk lebih banyak bicara dengannya. Buat dia merasa diperhatikan."


"Baik, Suster Davince."


"Aaa!!!"


Ketiganya terlonjak kaget karena suara jeritan itu dan tanpa dikomando serempak bergegas meninggalkan ruang tamu menuju kamar Yudith.


"Vivi, kebalikan!" Eva berusaha merampas foto dari tangan Vivi.


"Aaa! Aaa! Aaa!" Irene menangis menjerit-jerit di sudut sambil memukul-mukul dinding.


Sementara itu Vivi meledek, menjulurkan lidah sambil berlari-lari memutari ruangan. "Mau aku kasihkan Bu Yuliana. Wek wek wek ...."


Bu Yuliana yang sampai lebih dahulu langsung menghardik, "Ada apa ini?"


Vivi langsung berhenti dan berdiri kaku dengan wajah pucat. Yudith tidak hirau pada yang lain, langsung masuk dan menghampiri Irene yang masih menjerit-jerit mirip anak autis yang sedang tantrum. Dipeluknya gadis kecil itu untuk ditenangkan, tetapi masih saja tidak mau diam.


Melihat ada kesempatan, Eva langsung merampas foto keluarga Irene dari tangan Vivi dan mengembalikan pada si pemilik. "Ini ambil, Ir. Sudah jangan nangis lagi. Ambil, ambil."

__ADS_1


Irene mengambil foto itu, lalu kembali membenamkan wajah di dada Yudith dan lanjut tersedu-sedu. Jangankan Yudith, bahkan suster kepala sekolah pun matanya berkaca-kaca saat melihat Irene yang terlihat begitu hancur saat benda berharganya dirampas.


"Vivi, ikut ke ruang belajar." Suster kepala sekolah langsung balik badan setelah memberi instruksi. Si kecil Vivi mengikuti dengan takut-takut, menatap Bu Yuliana seperti minta perlindungan.


__ADS_2