YUDITH

YUDITH
MENOLAK PULANG


__ADS_3

Setelah dinasihati, bahkan sedikit diberi ancaman oleh suster kepala sekolah, Vivi pun dipindahkan ke kamar Bu Yuliana untuk mencegah anak itu menjahili Irene lagi. Sebagai gantinya, Eva dipindahkan ke kamar Yudith supaya Irene merasa lebih aman. Dan Bu Laili pun dipindahkan ke wisma lain seperti yang diinginkan.


Setelah peristiwa itu terjadi perubahan cukup signifikan pada diri Irene. Meski belum mau bicara, tetapi dia menjadi jauh lebih penurut. Apa pun yang Yudith suruh pasti dipatuhi. Gadis itu sepertinya sudah mulai merasa nyaman dan aman karena baik Yudith, Bu Yuliana, bahkan suster pimpinan yayasan ternyata ada di pihaknya.


Lihat saja itu. Dia sedang belajar di ruang belajar bersama yang lain, sungguh pemandangan yang sangat langka. Yudith duduk di samping kirinya, sedang menjahit boneka beruang Irene yang robek. Di samping kanan ada Eva yang sedang tekun mengerjakan PR.


Selesai menjahit, Yudith menyimpan boneka itu di saku baju perawatnya, lalu mengambil map administrasi Irene dari almari kaca tempat semua perlengkapan administrasi anak-anak disimpan. Yudith sedikit menarik mundur kursinya supaya ada di belakang Irene, lalu duduk dan mulai menulis.


Ini sudah hari kelima Irene mau bergabung dengan teman-temannya, belajar di ruang belajar. Dia juga tidak keberatan boneka beruangnya dicuci dan dijahit. Walaupun masih belum mau bicara, tetapi caranya memandang orang lain sudah tidak sama seperti dulu. Bahkan terkadang dia juga mau membantu beres-beres asrama tanpa disuruh.


Kebiasaan duduk di sudut sambil memandangi foto yang disamarkan dalam buku masih rutin dilakukan ....


Yudith mencatat hasil pengamatan sepanjang hari itu cukup panjang dan detail. Tidak lupa menambahkan detail kecil yang tampak kurang penting, tetapi siapa tahu saja dikemudian hari akan berguna. Misalnya saja kebiasaan Irene bicara dalam tidur.


Ada beberapa kata atau kalimat yang terus berulang di setiap igauannya seperti: jangan, sakit, Irene enggak mau, Irene takut. Terkadang igauan-igauan tersebut disertai tangisan. Selesai mencatat, map administrasi Irene pun dikembalikan ke tempatnya dan dikunci.


"Dith, ikut aku ke kamar sebentar." Bu Yuliana hanya sampai di pintu, begitu selesai bicara langsung pergi lagi.


Yudith menghampiri Irene yang menatapnya lekat dengan sorot mata mengiba, seperti takut ditinggal. Dia menepuk lembut bahu gadis itu sambil berkata, "Bu Yudith pergi sebentar. Va, titip Irene, ya ...."


"Beres, Bu Yudith."


Meskipun sudah ada Eva, tetapi ketika Yudith melangkah pergi Irene terus menatapnya, seperti tidak rela. Setelah itu, dia hanya duduk diam tidak melakukan apa-apa. Eva berusaha membujuknya, tetapi tidak berhasil.


Di kamar Bu Yuliana, Yudith duduk di kursi dan Bu Yuliana sendiri duduk di tepi tempat tidur.


Tanpa basa-basi, Bu Yuliana segera menyampaikan informasi, "Suster Davince sudah menghubungi keluarga Irene dan menanyakan perihal foto itu. Tapi yang menerima telpon kakaknya karena ibunya sedang di luar kota untuk urusan bisnis."


Tipe pendengar yang baik, Yudith tidak lantas berbicara ketika Bu Yuliana sudah berhenti. Dia yakin masih ada yang perlu disampaikan. Jadi, ingin mendengarkan keseluruhan cerita terlebih dahulu sebelum menanggapi.


"Kamu tau apa yang dikatakan kakaknya?"


Kali ini Yudith merespons dengan gelengan dan bertanya, "Memangnya bilang apa, Bu?"


"Dia memperingatkan supaya kita jangan percaya pada omongan Irene karena katanya anak itu suka berhalusinasi dan membual yang tidak-tidak. Dia juga menegaskan bahwa Irene dititipkan di sini supaya dibimbing dengan baik dan kita pihak yayasan tidak punya hak ikut campur urusan keluarganya."


Penjelasan panjang lebar, tetapi justru membingungkan karena tidak ada jawaban untuk poin yang ditanyakan, membuat Yudith berpikir bahwa sepertinya ada yang salah.


"Tapi kita kan hanya ingin tau tentang kedua laki-laki itu. Lagi pula, kenapa dia pikir Irene bicara?"

__ADS_1


"Nah ini. Aku kok jadi mikir, jangan-jangan Irene itu sebelum dibawa ke sini enggak membisu gitu."


"Bisa jadi sih, Bu."


"Dan yang lebih aneh lagi, kakaknya si Irene memberi peringatan keras lebih ke ancaman ...."


"Huh?" Yudith mengernyitkan dahi. "Ancaman?"


"Iya. Katanya kalau pihak yayasan masih mempercayai ocehan Irene, juga masih ingin ikut campur dalam urusan keluarga mereka, Irene akan dipindahkan ke yayasan lain."


"Kok, begitu? Hanya bertanya malah disangka mau ikut campur." Yudith bergumam, bicara lebih pada diri sendiri


"Tapi Suster Davince bilang, nanti akan langsung menghubungi ibunya lewat ponsel. Kamu usahakan sebisa mungkin untuk memancing Irene bicara. Lagi pula tujuan tugasmu kan untuk membuat Irene menjadi anak yang mau bersosialisasi. Sekarang pun sudah menampakkan hasil. Soal kedua laki-laki itu sepertinya enggak penting-penting banget untuk diketahui."


Yudith tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat Bu Yuliana barusan. Dalam penanganan kasus, segala aspek dan faktor yang kemungkinan besar menjadi pencetus terjadinya masalah, sangat-sangatlah penting untuk digali lebih dalam supaya lebih mudah untuk menentukan alat-alat apa saja yang bisa digunakan. Maksudnya alat di sini adalah metode, langkah-langkah, dan cara penanganan.


Namun, pada akhirnya Yudith hanya menyimpan semua itu di dalam hati dan sedikit berbagi pada sahabat-sahabatnya keesokan harinya.


Berkumpul di tempat biasa, mereka bertukar pengalaman tentang tugas praktik penanganan kasus yang sedang mereka jalani. Selain Yudith, yang lain mendapat anak-anak autis dengan tingkat kesulitan dan polah tingkah yang berbeda. Di saat mereka merasa tugas Yudith lebih mudah, Yudith justru akan sangat bersyukur bila yang ditanganinya adalah anak autis.


"Sepertinya aku mundur saja."


"Loh, kok mundur?!"


"Gila lo, ya?!"


Andreas, Suster Vero, dan Ririsma berseru nyaris bersamaan, sedangkan Fitus sedikit lebih lambat.


"Kau tidak sayang ko? Sudah susah payah masa mau mundur begitu saja."


Setelah Fitus selesai bicara, tiba-tiba Andreas merasa ada yang tidak sejalan. Yudith yang dia kenal bukan tipe orang yang akan lari dari tanggung jawab.


"Dith, maksudnya mundur gimana sih? Menyerah karena merasa enggak sanggup atau ...."


Yudith menggeleng. "Bukan enggak sanggup. Aku tetap lanjutkan, tapi bukan sebagai tugas untuk dinilai."


"Ah, aku tau. Kau merasa tidak seharusnya si Irene itu dijadikan objek penanganan kasus. Iya, kan?"


Kali ini Yudith mengangguk. "Setiap melihat Irene, aku merasa sangat terbebani karena pendekatan yang aku lakukan sepertinya hanya karena tugas."

__ADS_1


"Dith." Suster Vero memanggil lirih. "Jangan merasa terbebani. Baik itu kamu lakukan hanya semata-mata karena tugas ataupun tidak, toh, apa pun hasilnya akan sama saja. Gagal ya gagal, berhasil ya berhasil. Lakukan sajalah, enggak usah mikir macam-macam. Ibarat menyelam sambil minum air atau main-main sambil mengarahkan."


"Nah, betul itu yang Suster Vero bilang. Kenapa pula kau harus kepikiran?"


"Dith, kata mundur atau menyerah itu sama sekali enggak cocok keluar dari mulut lo. Paham?" Setelah itu, Ririsma acuh tak acuh merebahkan kepala di atas meja.


"Lakukan saja. Apa pun tujuannya kalau dilakukan dengan niat hati yang tulus untuk membantu, nilai hanyalah bonus. Ya, enggak?" Andreas menaik-turunkan alis untuk menggoda Yudith.


"Kau pandai bicara juga ya ternyata," seloroh Fitus sambil mengangkat tangan.


Namun, sebelum tangan Fitus yang sudah terangkat dengan niat hendak memukul kepala Andreas sampai tujuan, mereka semua dikejutkan oleh suara jeritan histeris.


"Aaa! Aaa! Aaa!"


"Irene, tunggu! Jangan lari!"


Irene berlari sekencang-kencangnya sambil menangis dan menjerit. Sementara itu seorang perempuan mengejar sambil memanggil-manggil, bersamanya ada seorang laki-laki. Di belakang mereka, Bu Yuliana pun berlari mengejar.


"Dith, Irene," ujar Suster Vero.


Yudith bergegas bangkit, lalu melangkah ke tepi jalan. Begitu melihat Yudith, Irene langsung berlari ke arahnya. Gadis kecil itu menubruk Yudith, lalu bersembunyi di belakang punggung sambil memeluk pinggangnya erat-erat, masih sambil menangis menjerit.


Begitu para pengejar sampai di hadapan Yudith, serentak Suster Vero, Andreas, Ririsma dan Fitus menghampiri dan berdiri di samping kiri kanannya. Dengan begitu ada pagar yang melindungi Irene.


Perempuan dan laki-laki yang mengejar Irene terlihat sangat gusar, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Yudith mengenali perempuan itu adalah kakak Irene, tetapi laki-laki yang bersamanya dia tidak kenal.


Bu Yuliana menghampiri Yudith dan berkata, "Bawa Irene pulang dan tenangkan."


"Tidak bisa! Hari ini juga Irene mau kami bawa pulang!" Kakak Irene membentak, bahkan matanya juga melotot.


"Aaa! Aaa!" Irene menjerit sambil mengentak-entak kaki dan mengguncang tubuh Yudith. Sepertinya gadis itu ingin menyampaikan bahwa dia tidak ingin ikut dengan kakaknya.


"Tapi anaknya enggak mau. Malah jerit-jerit kayak gitu, apa enggak kasihan?" Bu Yuliana berbicara dengan nada memohon pengertian.


Namun, kakaknya Irene berkeras, "Dia adikku! Mau aku bawa ke mana ya terserah aku!"


Tiba-tiba Yudith menceletuk, "Tapi yang menandatangani surat penyerahan adalah Bu Duwina."


Seperti mendapat angin segar, Bu Yuliana langsung bersemangat. "Itu benar. Yang bisa membawa Irene keluar dari sini hanya Bu Duwina."

__ADS_1


Tepat setelah Bu Yuliana selesai bicara, terdengar pengumuman lewat pengeras suara,


Ditujukan kepada keluarga Irene. Mohon kembali ke kantor sekarang juga. Sekali lagi, bagi yang merasa keluarganya Irene, dimohon kembali ke kantor sekarang juga.


__ADS_2