
Pukul delapan malam, duduk di tepi pembaringan, Dewangga yang baru selesai mandi beberapa menit yang lalu, tengah berbicara di sambungan telepon sambil mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil.
"Apa maksudnya?" Dewangga heran kenapa Ririsma tiba-tiba menelepon dan meminta dipertemukan dengan orang tuanya Lisa.
"Karena gue curiga sepupu lo itu ada sangkut pautnya sama kecelakaan Yudith."
Dewangga termenung sejenak. Bagaimana Ririsma bisa tahu? Dia membatin. "Kok bisa mikir gitu? Emang ada petunjuk yang mengarah ke Lisa?"
"Ada, tapi gue nggak punya bukti. Sekarang gue lagi nyusun rencana buat ngebuktiin. Gue butuh waktu---"
"Trus apa hubungannya sama orang tua Lisa? Kenapa nggak tanya langsung ke Yudith aja?"
"Makanya dengerin dulu woe! Orang belum selesai ngomong juga, sudah main potong aja! Tanya Yudith bakal percuma, nggak bakal ngomong dia!"
Dewangga menjauhkan ponsel dari telinga yang berdenging karena teriakan Ririsma. Ni cewek benar-benar ya. "Ya sudah jelasin."
Satu hal bisa Dewangga pastikan, ternyata Yudith benar-benar tidak mengatakan kejadian yang sebenarnya pada orang lain.
"Tu sepupu lo kayaknya dah ngerasa nggak nyaman, dia telpon ibunya minta pulang. Kalau sampai ibunya nurutin kemauan dia, bisa gagal rencana gue."
Suasana hening karena Dewangga tidak menanggapi. Pemuda itu termenung sambil menggigit-gigit bibir bawahnya.
"Woe, lo masih di situ, kan?"
"Masih." Dewangga terlihat santai, seulas senyum tipis tersungging.
"Trus kenapa nggak ngomong?"
"Kamu nggak bilang sudah selesai ngomong. Nanti aku ngomong kamu marah lagi."
"Hiiiih, bisa nggak sih serius? Gue serius nih!"
Dewangga terkekeh ringan. Berbicara dengan Ririsma, dia merasa seperti sedang mengobrol dengan istri tukang ngomel yang suka membesar-besarkan masalah. Dirinya harus bisa mengalah dan harus selalu bisa memaklumi.
"Kamu tenang aja. Setelah peristiwa dulu itu, om sama tante nggak bakal mudah terbujuk rayuan Lisa. Atau ... kamu ingin aku melakukan sesuatu?"
"Ya iyalah, makanya gue telpon lo. Gue pengen lo ketemuin gue sama orang tua Lisa. Gue mau ngomong sama mereka."
"Hah?" Dewangga terbengong sesaat. "Kamu mau ngomong apa? Ngomong kalau Lisa sudah mencelakai Yudith---"
"Iya."
"Tanpa bukti gitu?"
"Gue---"
"Ah, gini aja dech. Serahkan soal itu sama aku. Biar aku yang bicara sama mereka. Aku janji."
"Oke. Hari Minggu ketemu sudah harus ada hasilnya."
Lagi-lagi Dewangga terbengong. Kehabisan kata-kata rasanya berhadapan dengan gadis satu itu. Hari Minggu tinggal satu hari lagi, sementara dia sendiri masih sibuk dengan kegiatan kampus dan untuk bertemu orang tua Lisa tidak gampang.
__ADS_1
Mereka orang-orang sibuk yang cukup sulit ditemui. Buat janji pun belum tentu bisa langsung bertemu saat itu juga. Tidak jauh beda dengan orang tuanya sendiri. Tinggal di bawah satu atap, tetapi kapan terakhir saling menyapa dan makan di meja yang sama, dia sudah lupa.
Pemuda itu menghela napas sambil garuk-garuk tengkuk. Yah, demi niatnya ingin lebih dekat dengan Ririsma, dia terpaksa harus berusaha keras. "Oke, deal. Hari Minggu aku jemput."
"Oke kalau begitu. Bye."
Setelah Ririsma memutuskan hubungan, Dewangga bergegas menghubungi orang tua Lisa lewat ponselnya. Karena tidak diangkat, dia pun mencoba menghubungi nomor telepon rumah, tetapi yang mengangkat asisten rumah tangga. Suara perempuan dari seberang itu mengatakan kalau saat ini majikannya sedang ada di Surabaya, dan tidak tahu kapan kembali.
Begitu sambungan diputus Dewangga langsung menepuk dahi. "Mampus. Lagian kenapa sih Ririsma aneh-aneh?" Pemuda itu menyugar rambutnya dengan kasar. "Nyusahin aja."
Bilang nyusahin, tetapi setelahnya dia bergerak dengan cekatan mengemas beberapa baju dan barang lainnya ke dalam tas ransel, berganti pakaian bepergian, tidak lama kemudian bersama kuda besinya sudah meluncur ke luar perumahan elit Tidar.
Dia hendak pergi menginap di rumah orang tua Lisa untuk memudahkan bertemu dengan mereka. Lagi pula, dari daerah Ijen jauh lebih dekat kalau mau ke kampusnya. Dulu waktu masih SMA dia sering menginap di sana juga, atau malah bisa dibilang lebih banyak tinggal di sana daripada di rumahnya sendiri.
Sementara itu, Ririsma yang tadi menelepon dari pelataran asrama supaya tidak ada yang mendengar, sekarang sudah berada di dapur mengobrol dengan teman-temannya yang sedang mempersiapkan bahan makanan untuk besok pagi.
Yudith pamit tidur duluan. Jadi, Ririsma pikir saat ini sahabatnya itu pasti sudah terlelap. Dia tidak tahu saja kalau Lisa sedang marah-marah pada Yudith. Tadi, setelah ibadat penutup selesai Lisa masuk ke kamar dan mendapati kertas di atas kasurnya. Kertas yang sama seperti yang dia temukan tadi pagi. Tulisannya pun sama.
Masih dengan pemikiran yang sama pula, gadis itu meremas kertas tersebut lalu mendatangi Yudith dan langsung melemparkan gumpalan kertas ke wajah Yudith yang sedang berbaring.
"Sudah dech, nggak usah pakek trik murahan kayak gini," ujarnya dengan wajah memerah dan nada berapi-api.
Perlahan bangkit dari baring, setelah berhasil duduk Yudith mengambil gumpalan kertas itu lalu membaca tulisannya. "Kamu bilang ini trik murahan. Apa kamu pikir aku tidak cukup berkelas sampai harus melakukan yang kayak gini?" Yudith menatap tenang, cara bicaranya pun santai terkesan tak acuh seperti biasa.
"Memangnya siapa lagi, huh? Kamu pikir aku bodoh?"
"nggak bodoh, hanya nggak cukup pinter. Aku jadi pengen tau bagaimana reaksi orang tuamu jika mereka tau."
Yudith langsung meringis sambil memegangi kepala, membuat Lisa langsung tersadar---sadar kalau kondisi Yudith masih belum fit dan perbuatannya barusan bisa saja berakibat fatal.
Untuk sesaat, gadis itu menatap ngeri lalau bergegas pergi dari kamar Yudith sebelum ada yang melihatnya atau lebih parah lagi kalau kepergok Ririsma. Sepeninggal Lisa, Yudith menyudahi kepura-puraannya. Kepalanya memang terasa pusing, tetapi tidak parah. Gadis itu kembali melihat kertas yang ada di tangannya.
Dia mengenali tulisan siapa itu. Seulas senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. Dalam hati merasa bersyukur dan bangga memiliki sahabat seperti dia.
Bangkit dari duduk lalu menyimpan kertas itu ke dalam sebuah buku, dia berpikir. Seperti yang dikatakan Ririsma tadi pagi saat di kampus, seandainya Vero masih ada di sini pasti akan lebih asyik. Ya, bertiga mengerjai Lisa pasti jauh lebih asyik. Sekarang ini pun, tanpa saling berkompromi atau berunding, Yudith dan Ririsma sedang menjalankan rencana yang sama.
Ririsma sedang mencoba trik yang diperolehnya dari membaca novel misteri pemberian Andreas, sedangkan Yudith sedang meniru sebuah trik dari salah satu novel misteri yang pernah dibacanya. Meski sama-sama bersifat menyerang psikologis, tetapi caranya sedikit berbeda. Dengan rencana dalam kepalanya, Yudith melangkah perlahan ke luar kamar.
"Dith, mau ke mana?"
Di pintu ruang makan dia berpapasan dengan Ratna yang sepertinya hendak belajar. Sejak Lodi keluar dari yayasan untuk melanjutkan kuliah di luar, perangai Ratna berubah total.
"Mau ke kamar Suster Eva."
"Mau ditemani nggak?"
Yudith tersenyum tipis dan menggeleng. "Makasih, tapi nggak usah."
"Ya sudah, hati-hati."
Gadis manis berkulit eksotis itu mengangguk, lalu melangkah meninggalkan Ratna.
__ADS_1
Percakapan mereka tidak mungkin tidak didengar oleh Lisa yang sedang duduk di atas kasur, karena kamar gadis itu ada di balik dinding yang membatasi ruang makan. Wajahnya seketika menegang dan pucat.
Mau apa dia? Jangan-jangan mau mengadu.
Buru-buru dia turun dari tempat tidur dan dalam dua langkah sudah mencapai pintu. Lisa keluar dari kamar dan melihat Yudith berdiri di depan kamar Suster Eva. Baru saja dia hendak mendatangi, seseorang muncul dari pintu ruang makan dan memanggilnya.
"Lisa, dipanggil Suster Asti, di kapel."
Ah! Sialan! "Ada apa sih?" Wajah Lisa keruh dan tatapannya tidak bersahabat.
"Ya, mana aku tau. Cuma disuruh manggil ini. Buruan." Setelah membalas sinis, gadis itu langsung berlalu.
Sambil bersungut-sungut Lisa melangkah menuju kapel sambil sesekali menoleh ke belakang, ke arah Yudith yang masih berdiri di depan pintu kamar Suster Eva.
Setelah yakin Lisa masuk ke kapel, Yudith pun bergegas pergi, kembali ke kamar lewat jalan memutar. Dia tidak sungguh-sungguh ingin menemui suster kepala asrama. Apa yang dilakukannya hanyalah bagian dari trik. Namun, bagian bertemu Ratna dan Lisa dipanggil Suster Asti tidak termasuk dalam rencananya. Dia sendiri tidak menyangka akan mendapat kemudahan seperti itu.
Setelah itu, tidak sampai sepuluh menit kemudian Lisa sudah mendatangi Yudith di kamarnya sambil marah-marah. "Kamu bilang sama Suster Eva supaya jangan kasih aku hari bebas, kan? Ngaku kamu!"
"Hah?" Yudith menautkan alis. Kok bisa kebetulan begini ya? Gadis itu membatin.
Kali ini tanpa peduli dengan kondisi Yudith, Lisa dengan kasar mendorong gadis bertubuh mungil itu hingga jatuh terduduk di kasur, dan buku yang tadi baru diambilnya dari atas meja pun terjatuh ke lantai.
"Ish." Yudith meringis. Kepalanya langsung terasa seperti diaduk-aduk, dan saat matanya terpejam rasanya jadi seperti berputar.
"Apaan sih lo." Ririsma datang dan langsung menyeret Lisa ke luar. "Nggak puas-puas ya lo nyakitin Yudith."
"Aku nggak nyakitin dia. Dia noh yang sudah menghasut Suster Eva buat nggak kasih aku hari bebas!"
Sebelum Ririsma sempat membalas ucapan Lisa, suara lain sudah mendahuluinya.
"Siapa yang menghasut siapa, huh?"
Lisa serasa mati kutu. Dia tidak menyangka Suster Eva tiba-tiba muncul. Mulut gadis itu membuka menutup, tetapi tidak tahu mua ngomong apa.
"Dia nih, Sus. Nuduh Yudith sudah menghasut Suster Eva. Dia juga ngedorong Yudith kasar banget."
Suster Eva menatap Lisa lekat. "Nggak ada yang menghasut. Kamu nggak boleh hari bebas karena nggak ada yang bantu ngawasi kamu. Tadi sudah aku bilang, kan? Minta maaf sama Yudith. Setelah itu pergi ke kapel. Renungan pribadi dan introspeksi diri sampai jam setengah sepuluh."
"Tapi, Sus---"
"Tidak ada tapi-tapian atau mau hukuman larangan hari bebas ditambah?"
Tegas tanpa kompromi, itulah Suster Eva. Dia tidak banyak bicara, juga tidak terlalu ketat membatasi para mahasiswi itu dalam menggunakan ponsel, waktu luang, atau hari bebas karena percaya mereka sudah dewasa dan bisa memanage diri sendiri. Namun, sedikit saja terjadi pelanggaran, dia tidak akan segan-segan memberi sanksi.
Bersungut-sungut, dengan langkah menghentak-hentak Lisa berjalan menuju kapel di ujung lorong. Sekali lagi dia kalah telak dari Yudith. Tadi melihat Yudith mendatangi kamar Suster Eva dan tidak lama setelah dia masuk ke kapel menemui Suster Asti, tiba-tiba dipanggil menghadap suster kepala asrama itu. Jadi, tidak salah kalau di berpikir Yudith sudah bicara yang bukan-bukan sampai akhirnya Suster Eva melarangnya pergi menikmati hari bebas. Terlalu gegebah memang merugikan diri sendiri.
Sepeninggal gadis itu, Suster Eva menoleh pada Yudith. "Kamu nggak pa-pa kan, Dith?"
Yudith hanya menggeleng kecil. Setelah itu, Suster Eva yang sebenarnya tadi hanya kebetulan melintas segera melanjutkan perjalanannya menuju ke kamar salah seorang suster pendamping.
"Syukurin. Mampus lo." Sambil menatap ke arah kapel, Ririsma bergumam. Senyum puas tersungging di bibirnya.
__ADS_1