YUDITH

YUDITH
BERUBAHLAH


__ADS_3

Lisa itu memang manja, suka seenaknya, arogan, tidak peka, minim rasa simpati maupun empati. Namun, berani mencelakai orang lain sampai separah itu rasanya sulit dipercaya. Walaupun bisa diibaratkan mati rasa terhadap orang lain atau sekitar, Tuan dan Nyonya Wijayanto tetap tidak yakin Lisa berani melakukan tindakan yang menjurus ke ranah kriminal.


"Nggak mungkin! Dia memang bandel, tapi nggak jahat!" Akhirnya Nyonya Wijayanto bisa menguasai diri. Perempuan itu menatap tajam, seolah ingin memperingatkan, jangan berani-beraninya memfitnah Lisa.


"Kamu jangan mengada-ada, Ngga," sambung Tuan Wijayanto. Pria itu pun menatap lekat, seolah ingin membaca pikiran Dewangga. Setelah beberapa saat dia kembali berkata, "Kamu tau dari mana, huh?"


"Iya, tau dari mana sih kamu?" Dari cara bicaranya yang lugas dan ketus, sepertinya Nyonya Wijayanto benar-benar menganggap Dewangga telah mengada-ada.


Perempuan itu seolah menutup mata pada kisah masa lalu putrinya yang cukup kelam. Selain kecanduan obat-obatan terlarang juga suka merundung teman-teman yang dianggap lemah. Ya, walaupun bukan perundungan verbal, tetap saja bisa dikatakan si Lisa dari semula memang sudah memiliki tabiat tidak baik.


Tidak langsung menjawab, Dewangga terlebih dahulu mengambil ponselnya dari saku celana, mengutak-atik sebentar sebelum diserahkan ke om dan tantenya.


"Itu, Lisa sendiri yang bilang," ujarnya santai sambil duduk selonjoran, tubuh condong ke belakang seperti sedang menyandar, bertumpu pada kedua tangan.


Setelah membaca pesan Lisa, Tuan dan Nyonya Wijayanto saling menatap. Keduanya membisu sesaat karena bukti yang ditunjukkan Dewangga sudah jelas tidak bisa disanggah lagi.


Setelah menelan ludah untuk membasahi kerongkongan, Tuan Wijayanto bertanya, "Ancaman? Ancaman apa maksudnya? Kesepakatan apa yang sudah kalian buat, huh?" Tatapannya semakin intens dan tajam mengintimidasi Dewangga.


"Dia meminta aku membantunya untuk mendapatkan Andreas dengan cara licik, padahal Andreas sudah punya pacar. Ya jelas aku tolak, lah. Dia marah dan mengancam akan membuat onar. Siapa sangka dia setega itu." Dewangga bicara dengan gaya santai, tetapi dalam setiap kata yang diucapkan terasa penuh penekanan.


"Andreas dan Lisa nggak pacaran?" Tatapan Nyonya Wijayanto menerawang ke depan. Dia masih ingat saat Lisa berbicara tentang Andreas di telepon, selalu sangat antusias dan riang.


Saat bertemu di toko buku waktu itu pun ... ah, Nyonya Wijayanto rasanya sulit percaya putrinya yang populer, bisa diibaratkan bisa memilih laki-laki yang mana pun tanpa takut risiko ditolak, sekarang malah mengakui pacar orang sebagai pacarnya.


"Nggak," tegas Dewangga. "Andreas sudah punya pacar yang dia suka sejak SMA, namanya Yudith. Dan Yudith itu yang didorong sama Lisa."


"Astaga!" Tuan Wijayanto menepuk dahi lalu mengusap wajah, tidak habis pikir kenapa putrinya bisa berbuat seperti itu.


"Terus, anak itu gimana keadaannya? Apa Lisa dihukum? Bagaimana keadaannya sekarang? Tante mau ketemu sama dia."


"Aku juga." Tuan Wijayanto menimpali ucapan sang istri.


"Yudith sempat dirawat di rumah sakit karena gegar otak ringan, tapi sekarang sudah pulang, sedangkan Lisa nggak diapa-apain. Soalnya Yudith nggak bilang sama siapa-siapa kalau dia jatuh karena didorong."


"Hah?" Nyonya Wijayanto terheran-heran sampai wajahnya terlihat seperti orang bodoh. Pikirnya, Yudith itu terlalu baik atau bodoh atau mungkin terkena amnesia? Perbuatan Lisa seharusnya tidak bisa didiamkan begitu saja. "Kok bisa nggak lapor? Dia nggak amnesia, kan?"


"Nggaklah, Tan. Yudith bilang, dia punya rencana. Om dan Tante nggak usah khawatir, Yudith itu baik banget, kok."


"Om ingin ketemu sama anak itu."


"Tante juga. Tante ingin minta maaf juga mau bicara sama dia."


Dewangga tidak langsung menanggapi. Pemuda itu termenung dan sosok Ririsma langsung memenuhi pikirannya. Demi kelancaran rencana yang sedang dijalankan, Ririsma hanya ingin memastikan bahwa om dan tante Dewangga tidak akan membawa Lisa pulang.


Ririsma melakukan rencananya dengan diam-diam. Kalau sampai ada pertemuan antara orang tua Lisa dan Yudith, bisa-bisa akan banyak yang tahu dan menimbulkan banyak pertanyaan serta persepsi.


Demi keamanan dan kerahasiaan tetap terjaga, akhirnya Dewangga berkata, "Sebaiknya jangan dulu, Om, Tan. Aku justru menyarankan untuk sementara waktu, kira-kira dua mingguan, lah. Om sama Tante jangan berkomunikasi dulu sama Lisa."


"Lhoh! Mana bisa begitu, Ngga!" Mata Tuan Wijayanto melebar sesaat, kemudian bersamaan dahinya mengernyit mata pun menyipit. "Dia itu butuh dinasehati---"

__ADS_1


"Om nggak usah khawatir."


Tatapan tajam mengandung wibawa menghentikan Tuan Wijayanto yang hendak menyela perkataan Dewangga. Pemuda yang ada di hadapannya itu sekarang sudah dewasa, aura yang dipancarkannya terkadang sangat kuat dan bisa membuat orang merasa segan.


"Yudith tidak melaporkan bukan berarti dia membiarkan Lisa terbebas dari tanggung jawab begitu saja ...."


"Maksudnya?"


Dari omnya, pandangan Dewangga bergulir ke si tante. Dia terdiam, berpikir bagaimana sebaiknya menyampaikan sesuatu yang sebenarnya hanya karangan belaka. Karena dia tidak pernah tahu apa yang sebenarnya sedang Yudith rencanakan. Dia sengaja tidak menyebut Ririsma karena malas menjelaskan kalau om dan tantenya bertanya siapa itu Ririsma.


"Yudith ingin memberi Lisa kesempatan memperbaiki diri. Soalnya kalau dia melapor, bisa-bisa tidak ada ampun lagi buat Lisa. Om sama Tante tau kan kalau perbuatan Lisa itu sangat jahat."


Setelah sempat memosisikan diri sebagai Yudith dan mencoba menebak isi kepala gadis pendiam itu, akhirnya Dewangga nekat mengutarakan pemikiran yang hanya berdasarkan asumsi.


Lagi-lagi Tuan dan Nyonya Wijayanto saling bertukar pandang. Keduanya sedang memikirkan hal yang sama. Perbuatan Lisa sangat jahat dan karena hal itu bisa-bisa putri mereka dikeluarkan. Memalukan, mau ditaruh di mana muka mereka nanti. Punya anak satu saja tidak bisa mendidik dengan baik.


Dewangga terus meyakinkan om dan tantenya dengan berbagai macam kata yang membuat keraguan mereka sedikit demi sedikit memudar. Kata-kata yang hanya berasal dari dugaan dan asumsi, tetapi karena kelihaian lidahnya jadi terdengar begitu nyata dan masuk akal. Akhirnya dia pun berhasil.


Malamnya, seperti yang sudah-sudah, setiap malam Minggu adalah hari bebas untuk para penghuni asrama.


Suara ingar-bingar yang berasal dari aula di lantai satu tidak menarik minat Lisa sama sekali. Selagi teman-temannya asyik bersenang-senang dia malah terlihat gusar dan gelisah.


Di malam Minggu begini, sudah menjadi jadwal rutin para penghuni asrama putri untuk bersenang-senang, menyanyi dan menari bersama untuk menghibur diri.


Bagi Lisa, saat-saat seperti itu justru kesempatan untuk menyendiri, melakukan hal-hal yang bersifat privasi. Misalnya saja, bercengkerama lewat telepon dengan kedua orang tuanya. Namun, sudah hampir pukul sembilan kedua orang tuanya belum juga menelepon. Dihubungi berkali-kali tidak bisa---nomor telepon kedua orang tuanya tidak aktif. Dihubungi lewat telepon rumah pun tidak diangkat.


"Uhgf, sialan. Kenapa sih nggak bisa dihubungi muluk?" Gadis itu membanting ponselnya di kasur lalu mengacak rambut kasar. Tidak habis pikir, semua akses untuk berkomunikasi dengan orang tuanya seperti sengaja diblok, padahal malam Minggu itu jadwal tetap mereka mengobrol. Biasanya juga mereka yang menghubungi duluan.


"Ah, resek semua. Brisik."


Menyambar ponselnya kasar lantas dengan bersungut-sungut dia keluar dari kamar. Pergi menuju ujung lorong, kemudian duduk lesehan tidak jauh dari pintu kapel. Tidak akan ada yang mengusiknya di sini, bahkan para suster pun sekarang sedang ada di aula.


Wajahnya keruh luar biasa. Menatap ponsel intens dan tajam seolah benda itu adalah sumber masalah yang sesungguhnya. Perlahan rasa cemas mulai menggerayangi jiwanya, bahkan takut pun mulai ikut menyelinap. Dia tidak ingin Yudith memenangkan pertaruhan, tetapi situasi justru sangat tidak bersahabat dengannya.


Sekarang dia tahu, surat-surat ancaman itu bukan Yudith yang mengirim, membuktikan bahwa ada orang lain yang mengetahui perbuatannya dan sekarang sedang berusaha menekannya.


Apakah Ririsma?


Saat pertanyaan itu terlintas, jawaban pun langsung muncul. Tidak mungkin gadis berkacamata itu. Karena saat turun setelah mencelakai Yudith, dia jelas melihat Ririsma dan Andreas ada di lantai satu.


Lalu siapa? Siapa? Siapa?


"Uurrgh! Brengsek!" Gadis itu menggeram sambil mengepalkan tangannya lalu meremas erat-erat.


Sesaat kemudian tubuhnya menjengit saat iba-tiba ponselnya berdering. Tulisan Ibu muncul di layar yang sedang berkelap-kelip. Wajahnya langsung semringah dan buru-buru membuka sambungan.


"Bu---"


"Dengarkan ibu."

__ADS_1


Mendengar suara sang ibu bernada tegas cenderung dingin, seketika itu juga perasaan Lisa menjadi tidak enak.


"Ibu kenapa sih? Ditelponin dari tadi nggak bisa-bisa juga." Bicaranya manja dan sekarang bibirnya manyun.


"Ibu marah. Sangat marah!"


"Bu, sabar. Pelan-pelan ngomongnya." Tuan Wijayanto berbisik untuk menenangkan sang istri.


Perasaan Lisa semakin tidak enak. Ini pasti sudah terjadi apa-apa atau jangan-jangan  .... Ah, tidak. Lisa tidak berani memikirkannya---memikirkan kalau kemungkinan orang tuanya sudah mengetahui perbuatannya. Memang tahu dari siapa coba? Terlalu fokus pada Yudith, sepertinya dia sampai lupa pada Dewangga. Lisa lupa kalau sudah membocorkan perbuatannya pada si kakak sepupu.


"Ish, Ibu kenapa sih marah-marah?! Nggak jelas."


"Ngak jelas kamu bilang?"


"Kok, Ayah sih? Mana ibu?" Sudah terbiasa bermanja pada ibunya. Jadi, saat suara sang ayah yang terdengar, rasa hati kurang sreg, nada suara Lisa pun jadi sengak.


"Ibumu lagi nangis, nggak bisa ngomong. Prihatin sama kelakuan kamu."


Wajah Lisa yang sudah putih sekarang semakin pasi karena bibir sewarna buah peach itu kini memucat. Jantung pun mendadak berdegup kencang. Jangan-jangan, jangan-jangan, jangan-jangan. Batinnya terus mengulang kata yang sama.


"Ma-maksudnya?" Suara gadis itu pun bergetar. Ludah yang ditelan paksa terasa bagai kelereng menggelinding di kerongkongan.


"Ayah sama Ibu nggak nyangka kamu akan tega berbuat seperti itu. Sekarang kamu harus mempertanggungjawabkannya."


Mulut Lisa membuka menutup, tetapi tidak ada kata yang terucap. Dugaannya benar. Bagaimana mungkin? Bagaimana orang tuanya bisa tahu?


"Selesaikan dengan berani. Jangan jadi pengecut. Ayah tahu putri ayah pasti bisa bertanggung jawab."


"Ibu mohon, Sa." Dengan suara serak dan terisak-isak, Nyonya Wijayanto ikut bicara. "Akui perbuatanmu, Nak. Minta maaf sama Yudith."


Nama Yudith disebut, jantung Lisa serasa berhenti berdetak saat itu juga. Dan secara naluriah, ingatannya tertuju pada Dewangga. Ya, sekarang dia ingat, selain Yudith dan orang misterius yang mengiriminya surat ancaman, masih ada satu orang lagi yang mengetahui perbuatannya, Dewangga.


"Pasti Kak Dewa yang bilang! Ayah sama Ibu nggak usah percaya---"


"Cukup! Mulai sekarang jangan hubungi ayah atau ibu dulu! Selesaikan masalahmu dan jangan berlarut-larut atau ayah sama ibu sendiri yang datang ke yayasan untuk menyelesaikan!" Nyonya Wijayanto meninggikan suaranya.


"Buk! Lisa---"


"Berubah, Sa, berubah. Kamu anak kami satu-satunya. Tolong, Nak. Kami tidak menuntut kamu jadi sempurna. Cukup jadilah anak yang baik. Itu saja, Sayang." Kali ini Nyonya Wijayanto berbicara dengan lembut.


"Baik!" Wajah Lisa kini merah padam. "Ini berarti kalian berpihak pada gadis kampung itu! Baik, oke! Nggak usah telpon lagi dan jangan harap aku akan mengaku dan minta maaf! Anggap aja Lisa udah nggak ada!"


Setelah puas berteriak-teriak sampai napas ngos-ngosan, Lisa langsung melemparkan ponselnya ke dinding. Prak! Hancur, sampai baterai pun terpental jauh.


Dengan kasar dia menekuk kaki lalu menunduk, dahinya bertumpu pada lutut dan setelahnya punggung yang sedikit melengkung itu berguncang-guncang. Suara isak pun terdengar menyesakkan. Gadis itu sepertinya tidak ingin menangis, tetapi tangisnya tidak bisa dibendung.


Nyonya Wijayanto pun menangis tersedu-sedu di pelukan suaminya. Sebagai seorang ibu tentu saja dia tidak akan tega membiarkan putrinya dalam kesulitan. Namun, terus melindungi pun tidak baik, apalagi kesulitan itu Lisa sendiri yang menciptakannya.


Lisa harus diberi pelajaran yang lebih keras lagi. Tega tidak tega, Nyonya Wijayanto harus tega. Dia sudah memutuskan, akan memberikan kesempatan pada Yudith untuk menjalankan rencananya, tetapi hanya dalam batas waktu dua minggu, seperti yang dikatakan Dewangga.

__ADS_1


Setelah waktu yang ditetapkan berlalu dan masalah belum terselesaikan, dia sendiri akan datang ke yayasan untuk menyelesaikannya.


__ADS_2