
Bagi Lisa yang tumbuhnya sudah terkontaminasi oleh zat adiktif---pernah menjadi pecandu narkoba juga pernah rutin mengonsumsi obat penenang---tablet-tablet obat sakit kepala yang telah ditenggak tidak cukup efektif untuk memutus nyawanya secepat yang dia harapkan.
Toleransi tubuhnya terhadap obat-obatan cukup tinggi sehingga obat itu bereaksi lambat. Asal mendapat pertolongan secepat mungkin, dia akan baik-baik saja. Malam itu, Lisa menginap di UGD dan keesokan harinya, setelah dinyatakan tidak ada masalah signifikan, Lisa pun dipindahkan ke rumah sakit yayasan untuk dilakukan observasi lebih lanjut.
Suster Eva dan Suster Asti sempat menginterogasinya. Namun, Lisa tidak mau menjawab ataupun menjelaskan alasan kenapa dia sampai nekat ingin bunuh diri. Sambil terisak-isak gadis itu hanya memohon supaya orang tuanya jangan diberi tahu. Sebagai gantinya, Lisa meminta Dewangga yang dihubungi.
Pemuda itu muncul sekitar lima belas menit kemudian, setelah Suster Eva meneleponnya. Saat dia masuk ke kompleks yayasan, suasana masih sangat sepi karena baru pukul enam, yang terlihat hanya beberapa orang saja, di sana-sini sedang bersih-bersih.
Duduk termenung di samping brankar dengan kaki lurus membuatnya terlihat setengah merosot dari kursi. Mata yang biasanya memiliki aura tajam itu kini menatap sayu wajah sang sepupu yang tengah lelap.
Berkali-kali Dewangga menghela napas lelah serta dalam hati mengucap syukur, karena Lisa lebih memilih menghubunginya sehingga untuk sementara dirinya bisa merasa aman. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau orang tua Lisa yang diberi tahu terlebih dahulu. Bisa-bisa mereka bikin kegaduhan, dan dia pun pasti disalahkan karena sudah menyarankan supaya mereka tidak menghubungi Lisa untuk sementara waktu.
Dalam termenung, tanpa sadar ingatannya merambah ke masa lalu---hanya sekilas lantas lagi-lagi dia menghela napas panjang.
"Sa, sa. Kenapa sih nggak berubah juga?" Dia bergumam sambil mengusap wajah kasar. "Dulu potong nadi sekarang minum obat, terus nanti apa lagi?"
Pemuda itu menggeleng kecil sambil berdecak, merasa miris dan bodoh karena sudah melupakan fakta betapa rapuh hati Lisa, juga sangat sempit pikirannya. Dia jadi merinding ngeri. Untung saja adik sepupunya itu hanya nge-fly.
Oh iya!
Seperti teringat sesuatu, mendadak dia menegakkan diri lalu buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, tidak lama kemudian jemarinya sibuk mengetik pesan.
________
Hampir semalaman Yudith dan Ririsma duduk di ruang makan. Berbicara panjang lebar, saling jujur tentang rencana masing-masing, saling menguatkan, dan sepakat mengambil keputusan bahwa mereka tidak akan mengatakan apa-apa sebelum situasinya jelas.
Di opsi terakhir Ririsma setuju dengan sangat terpaksa. Walau bagaimanapun dia akan lebih setuju kalau perbuatan Lisa segera dilaporkan.
Namun, dia bisa memahami maksud Yudith. Tidak bermaksud lari dari tanggung jawab, tetapi Yudith yang terbiasa memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan mempertimbangkan berbagai hal dari segala aspek, merasa sebaiknya jangan gegabah mengakui bahwa mereka adalah penyebab Lisa sampai nekat seperti itu.
Karena, walaupun kemungkinan besar iya, tetapi tetap saja masih ada kemungkinan alasan lain. Mereka tidak tahu pasti apa yang terlintas di benak Lisa saat itu---hanya bisa menduga-duga. Bila mereka mengakui, maka mau tidak mau Yudith juga harus menjelaskan alasan kenapa dia melakukan hal itu. Kalau Yudith menceritakan yang sebenarnya, situasi Lisa bisa semakin sulit dan kemungkinan untuk dikeluarkan tetap ada. Yudith tidak mau itu terjadi.
Waktu Ririsma menceritakan tentang rencananya yang melibatkan Dewangga, Yudith malah menasihati. Menurut Yudith, dalam kondisi seperti kemarin-kemarin itu seharusnya Lisa malah butuh dukungan moril dari orang tuanya, bukan malah dijauhkan. Perasaan tertekan karena merasa diasingkan bisa membuat seseorang semakin kalut dan akhirnya nekat. Yudith memang ingin memberi Lisa pelajaran, tetapi sedikit pun tidak terpikirkan cara seperti itu. Sebenarnya dia malah ingin melakukan pendekatan secara baik-baik.
Ketika Ririsma bilang kalau dia melakukan itu untuk mencegah Lisa dibawa pulang, Yudith mengatakan kalau seharusnya Ririsma tidak perlu khawatir. Karena Yudith yakin, orang tua Lisa tidak akan segegabah itu. Rasanya tidak mungkin, begitu Lisa minta pulang lalu langsung dibawa pulang tanpa alasan yang jelas.
Intinya, semalam apa pun yang dikatakan Yudith walaupun disampaikan dengan halus dan bijak, cukup membuat Ririsma merasa terpojok, tetapi gadis berkacamata itu sendiri menyadari kalau dirinya memang patut disalahkan. Terlalu bersemangat dan gegabah jadi bertindak tanpa memikirkan akibatnya. Ririsma merasa, secara tidak langsung, dialah yang sudah mendorong Lisa untuk melakukan tindakan nekat itu.
Pagi ini, di tempat parkir bus yayasan, di mana para mahasiswi dan beberapa karyawan sedang menunggu sopir bus datang, secara alami mereka membentuk kelompok-kelompok kecil dan membicarakan peristiwa semalam. Membuat orang-orang yang tadinya tidak tahu pun menjadi tahu.
Yudith dan Ririsma berdiri menjauh dari yang lain supaya lebih leluasa membicarakan peristiwa semalam tanpa ada risiko didengar oleh mereka.
"Hah! Sekarang gue benar-benar marah sama itu rubah. Mampus ya mampus dech." Entah sudah berapa puluh kali, dari semalam sampai pagi ini Ririsma terus mengulang kalimat yang sama.
Rasa bersalah yang sempat menyelimuti hatinya langsung sirna setelah Yudith menceritakan kejadian yang sebenarnya. Yang ada sekarang dia malah geram setengah mati, hati dan mulut tidak henti-hentinya menghujat.
__ADS_1
"Lo juga benar-benar ...." Untuk sahabatnya, meskipun geram, tetapi tidak banyak kata terucap. Selalu begitu, dia seperti tidak mampu menyelesaikan ucapannya karena tidak menemukan kosa kata yang cocok untuk mengatai Yudith.
"Mending dilaporkan. Gue nggak peduli bakal kena sanksi yang penting tu anak dapat balasan yang setimpal! Dikeluarkan kalau perlu kayak Bu Cici!" Kalimat ini pun sudah berulang kali dia ucapkan dengan intonasi yang sama, berapi-api seperti orator yang sedang memberi semangat pada para pendemo.
Sempat menarik perhatian yang lain, tetapi mereka tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang keduanya bicarakan.
"Lo tu ya ...." Lagi-lagi dia tidak melanjutkan perkataannya, tidak tahu harus ngomong apa untuk Yudith. "Hah! Gue bilangin ke Andreas aja kali ya."
"Jangan membuatnya kepikiran." Dan hanya itu kata-kata yang Yudith ucapkan untuk menanggapi ocehan Ririsma.
"Lebih baik dia tau dari lo sendiri daripada dari orang lain."
"Memangnya selain kita, ada lagi yang tau?" Cara bicara Yudith yang santai dan tak acuh membuat Ririsma berdecih sebal.
Namun begitu, Ririsma tidak berkata apa-apa lagi. Ucapan Yudith seperti tanda titik baginya. Lagi pula, dia benar. Sekarang ini yang sedang ramai dibicarakan adalah Lisa yang mencoba bunuh diri, bukan Lisa yang sudah mendorong Yudith sampai jatuh dari tangga. Jadi, yang akan didengar Andreas dari mulut ke mulut pasti juga tentang berita hangat yang sedang beredar, sedangkan alasan kenapa Lisa sampai nekat melakukan itu tetap saja akan menjadi misteri.
Yudith benar-benar ingin menyimpan fakta yang sebenarnya, bila perlu sampai akhir jangan sampai ada yang tahu. Dia pun berharap agar semua permasalahan ini bisa selesai tanpa dirinya perlu mengungkapkan kebenarannya kepada para suster.
Sedang asyik menatap sebal Yudith, Ririsma dikagetkan oleh suara ponselnya, segera dia mengeluarkan benda itu dari saku blazer.
Aku sekarang ada di rumah sakit yayasan jagain Lisa. Kalau bisa, temui aku ya.
Astaga! Ririsma menepuk jidat. Semalam dia dan Yudith membicarakan pemuda itu, tetapi lupa untuk menginformasikan tentang Lisa.
"Kenapa?" Dahi Yudith mengernyit.
Dari wajah, pandangan Yudith turun ke ponsel Ririsma. Tanpa bertanya pun dia sudah bisa menyimpulkan kalau pesan yang barusan diterima Ririsma pasti dari Dewangga.
Kenapa Dewangga? Dalam situasi seperti ini kenapa bukan orang tuanya yang dihubungi? Apa mungkin orang tuanya juga sudah dihubungi, tetapi belum bisa datang?
"Yuk, Dith. Pak Muh sudah datang." Ririsma mencolek bahu Yudith saat seorang pria pendek berperut buncit muncul, dialah Pak Muhadi, sopir bus.
Sambil melangkah, Yudith tampak termenung karena banyak pertanyaan berputar dalam benaknya. Suara hentakan langkah tergesa dari arah belakang menarik perhatian gadis itu. Ketika menoleh Andreas'lah yang dia dapati, berlari-lari kecil mengejarnya.
"Kemarin lo bilang mau ikut bus yang satunya," ujar Ririsma begitu Andreas sudah bergabung.
Ikut bus yang satunya itu sebenarnya lebih enak soalnya dijemput, sedangkan kalau ikut bus yang biasa ditumpangi Yudith dan kawan-kawan ini, mereka yang harus datang ke tempat parkir.
"Pagi, Dith. Hai, Ris ...." Di sela napasnya yang ngos-ngosan, Andreas menyapa mereka terlebih dahulu sebelum akhirnya menanggapi ujaran Ririsma, "Mas Dewa tadi telepon, katanya sekarang ada di rumah sakit yayasan jagain Lisa. Memangnya Lisa sakit apaan sih?"
Andreas mengeluarkan sapu tangan dari saku celana lalu menggunakannya untuk mengelap keringat di wajah. Sapu tangan warna biru muda pemberian Yudith itu selalu dia bawa ke mana-mana.
Yudith tersenyum tipis saat Andreas memergokinya sedang memandangi sapu tangan itu. Sesaat keduanya saling menatap penuh arti sebelum akhirnya masuk dalam barisan untuk mengantre naik ke bus.
"Kita ke sana bareng. Dia barusan juga SMS aku." Dari arah depan Ririsma berbalik dan menimpali.
__ADS_1
"Oke. Tapi sebenarnya Lisa sakit apa?"
"Bukan sakit, tapi mau bunuh diri." Jawaban datang dari salah satu penumpang bus.
"Hah? Kok bisa?!"
"Nanti saja ceritanya," ujar Yudith lirih dan Andreas yang sebenarnya sangat penasaran terpaksa bungkam.
________
Sepulang dari rumah sakit yayasan, Suster Eva langsung menghubungi Orang tua Lisa. Kemarin malam karena panik, dia lupa menghubungi mereka, dan saat ingat sudah tengah malam.
Karena saat itu keadaan Lisa sudah dinyatakan baik-baik saja, dia pun tidak ingin mengganggu istirahat mereka. Tadi waktu Lisa memohon supaya orang tuanya jangan dihubungi, Suster Eva terpaksa mengiyakan hanya untuk membuat gadis itu tenang.
Namun, bagaimana mungkin dengan adanya kejadian seperti itu Suster Eva akan diam-diam saja. Sudah tentu tidak. Berkoordinasi dengan pihak keluarga hukumnya wajib supaya kalau ada apa-apa pihak yayasan tidak disalahkan.
"Ibu tidak perlu khawatir lagi, Lisa sudah tidak apa-apa. Mas Dewangga sedang menjaganya."
Dari seberang sana terdengar suara sesenggukan Nyonya Wijayanto. Suster Eva yakin, perempuan itu pasti sedang berusaha keras untuk menenangkan hatinya.
"Terima kasih, Suster. Dan saya mohon, maafkan putri saya, Sus."
"Nggak apa-apa, Bu. Kami yang seharusnya meminta maaf karena sudah lalai mengawasi Lisa."
"Saya mengerti, Suster. Saya tau betul bagaima putri saya."
"Baiklah kalau begitu, Bu Wijayanto. Ibu bisa datang menjenguk Lisa kapan saja."
"Sekali lagi terima kasih, Suster."
Setelah itu, Suster Eva segera memutus sambungan, karena dia pun harus bergegas kembali ke kompleks yayasan untuk melakukan tugasnya, yaitu mengajar di PLB.
Nyonya Wijayanto duduk termenung di tepi pembaringan sambil menggenggam gagang telepon erat-erat, di sebelahnya ada sang suami yang wajahnya terlihat letih.
"Sepertinya suster belum tau perbuatan Lisa," ujar pria itu dengan suara lirih terkesan malas.
"Sepertinya belum. Kalau sudah tau Suster Eva pasti bilang, tapi ini tadi cuma kasih kabar soal Lisa aja."
"Kita harus bicara sama Yudith atau siapa itu anak yang sudah didorong Lisa."
"Ibu juga ingin begitu. Gara-gara nurutin omongan dia, Lisa hampir saja celaka." Nyonya Wijayanto menyalahkan Yudith atas apa yang terjadi pada putrinya. Dia pikir, seandainya saja waktu itu Yudith tidak sok-sokan ingin memberi pelajaran pada Lisa, Lisa pasti tidak akan kepikiran untuk bunuh diri.
"Ibu jangan ngomong begitu. Kita nggak boleh telepon Lisa untuk sementara waktu itu kan ide si Dewa, bukan Yudith."
"Tetap aja, Yah. Kalau si Yudith itu nggak sok-sokan begitu, ini nggak bakal terjadi."
__ADS_1
Tuan Wijayanto yang sudah hafal tabiat istrinya, tidak mau terlalu menanggapi. Dalam hati dia meyakini, seandainya saja malam itu mereka tidak menghubungi Lisa, mungkin Lisa tidak akan kepikiran untuk nekat.
Tuan Wijayanto menduga tindakan Lisa itu justru didasari oleh keinginan kuat untuk menunjukkan sikap membenrotaknya. Karena putrinya itu tahu betul kalau sebenarnya hati sang ibu sangat lemah.