
Sebenarnya Yudith sudah tahu bahwa setelah Irene kedapatan sedang berada di atas tempat tidur Eva sambil menjulurkan tangan ke atas alamari, benda yang sebelumnya dia lihat ada di sana sudah tidak ada lagi.
Yudith yakin Irene pasti sudah menarik benda itu lebih ke dalam sehingga tidak lagi bisa dilihat. Dia sengaja pura-pura tidak peduli karena yakin bahwa Irene pasti akan lebih waspada. Yudith menyimpan semua prasangka di dalam hati, menunggu keesokan harinya untuk memeriksa saat Irene sedang di sekolah.
Pagi ini, seperti biasa Yudith dan Irene berangkat sekolah bersama. Namun, begitu pisah jalan karena Yudith sudah sampai, sedangkan Irene masih harus melanjutkan langkah menuju sekolahannya, Yudith langsung kembali ke asrama lewat jalan lain yang tidak terlihat dari halaman sekolah SD.
"Kok balik lagi, Dith?" tanya Bu Yuliana saat berpapasan di ruang tengah.
"Ada yang ketinggalan, Bu." Yudith menjawab sambil terus berjalan masuk ke kamar.
Karena penasaran, Bu Yuliana pun mengikutinya. Saat melihat Yudith naik ke tempat tidur Eva, Bu Yuliana cukup terkejut.
"Kamu ngapain naik ke situ?"
Yudith tidak menjawab, tetapi tindakannya kemudian membuat Bu Yuliana lebih kaget. "Lah, kok .... Memang mau ambil apa di atas almari?"
Tetap tidak menjawab, Yudith fokus meraba-raba di atas almari hingga akhirnya jemari menyentuh benda yang sedang dicari-cari. Dengan jantung berdebar-debar Yudith menarik benda yang ternyata berupa map transparan berisi selembar kertas berwarna hijau.
"Apa itu, Dith?"
Yudith masih mengabaikan Bu Yuliana dan menatap nanar kertas hijau di tangan sambil membaca isinya dengan saksama. Setelah itu, barulah dia menatap Bu Yuliana.
"Bu, ini, inikah sertifikat rumah Irene?"
"Huh?" Bu Yuliana menatap tidak percaya, lalu buru-buru mendekati Yudith dan mengambil kertas yang diulurkannya. Setelah membaca dengan teliti, mata Bu Yuliana pun melebar. "Ya, Tuhan. Bener ini sertifikat rumah orang tua Irene yang katanya hilang. Bagaimana bisa ada di atas almari kita?"
"Irene. Aku melihatnya ...." Yudith pun menceritakan asal mula dirinya mengetahui ada sesuatu yang disembunyikan Irene di atas almari.
__ADS_1
Setelahnya, Bu Yuliana mengajak Yudith pergi ke kantor sekolah. Di sana mereka harus menunggu sekitar setengah jam sebelum akhirnya suster kepala sekolah muncul.
Bila Bu Yuliana dan Yudith hanya melihat kertas sertifikat itu tanpa mengeluarkan dari map, suster kepala sekolah lain lagi. Dia mengeluarkannya dengan maksud supaya bisa dibaca lebih jelas. Namun, begitu kertas itu ditarik keluar, selembar kertas yang lain terjatuh ke atas meja.
Ketiganya terkejut. Untuk sesaat hanya terpaku dan suster kepala sekolah yang akhirnya memecah kesunyian. "Ini kok kayak surat." Dia mengambil kertas itu lalu membaca beberapa kalimat yang tertulis di sana.
Irene, Sayang. Sekarang kamu masih kecil dan belum mengerti apa-apa. Tapi Ibu tidak bisa menunggu sampai kamu dewasa untuk menceritakan yang sebenarnya. Ibu ingin kamu simpan baik-baik sertifikat rumah ini karena hanya ini yang bisa Ibu wariskan untukmu, Nak. Simpan baik-baik jangan sampai ayahmu tahu. Ayahmu sudah menghabiskan banyak uang untuk berjudi. Segalanya sudah dipertaruhkan di meja judi, tapi rumah ini adalah milik Ibu. Ayahmu sedang mencari sertifikat ini, apa pun yang terjadi jangan sampai ayahmu tahu, ya. Ibu ingin Irene yang kelak mewarisinya. Setelah Ibu pergi, bila Tante Andina datang dan ingin membawamu pergi, ikutlah dengannya. Tante Andina mempunyai yayasan panti asuhan, di sana kamu akan banyak teman.
Ibu sangat menyayangimu, Nak.
Suster kepala sekolah membaca surat itu dengan suara sehingga Yudith dan Bu Yuliana juga bisa mendengarnya. Begitu surat selesai dibaca, mata ketiganya pun berkaca-kaca.
"Bu Duwina, ibunya Irene, mempercayai saudara kembarnya. Kita harus bicara pada Bu Andina sendiri. Jangan sampai pihak lain tau soal sertifikat ini."
"Iya, saya setuju, Suster," ujar Bu Yuliana.
"Itu urusan nanti. Yang harus kita lakukan setelah bicara dengan Bu Andina adalah memberi pengertian pada Irene. Sekarang dia sudah cukup besar untuk bisa diajak berdiskusi. Soal sertifikat dan rumah, pada saatnya nanti dia pasti butuh orang dewasa untuk mengurusnya."
"Iya, Suster," ujar Yudith lirih.
Setelah itu, suster kepala sekolah pun menghubungi Bu Andina---orang yang selama ini mereka kenal dengan nama Duwina. Suster kepala sekolah pun berpesan supaya Bu Andina datang sendirian. Sekitar 45 menit kemudian, Bu Andina sudah duduk di sofa panjang kantor sekolah bersama dengan Bu Yuliana dan Yudith, berhadapan dengan suster kepala sekolah.
"Maaf, Suster." Sambil bicara, Bu Andina menoleh ke arah Bu Yuliana dan Yudith yang ada di kiri dan kanannya. "Saya kok jadi bingung. Mau datang jemput Irene dilarang, disuruh bulan depan, tapi sekarang malah disuruh datang. Sebenarnya ada apa, Suster?"
Suster kepala sekolah menatap Bu Andina tanpa berkedip, sampai-sampai yang ditatap salah tingkah---duduk tidak nyaman dan jemari pun saling meremat.
"Kami tidak bermaksud mencampuri urusan keluaraga klien, tapi kami berhak mendengar cerita yang sebenarnya tentang klien." Nada bicara suster kepala tenang dan tegas.
__ADS_1
"Ma-maksudnya, Sus?" Bu Andina menatap mereka bertiga bergantian, seperti sedang berharap ada yang mau berbaik hati menjelaskan. Namun, sudah pasti Bu Yuliana dan Yudith tidak akan melakukan itu.
Akhirnya suster kepala sekolah bersuara, "Baiklah, saya akan langsung pada permasalahannya supaya cepat selesai. Karena dalam hal ini ada anak yang butuh perhatian khusus ...."
Berhenti sejenak sambil menatap lekat Bu Andina, lalu suster kepala sekolah kembali berkata, "Kenapa Ibu berbohong kepada kami? Kenapa harus menyamar menjadi Bu Duwina, sedangkan Anda sebenarnya adalah Bu Andina kembarannya."
Wajah Bu Andina seketika itu menegang dan pucat. Bahkan peluh langsung bermunculan di dahi dan pilipisnya. Bibirnya bergerak-gerak, tetapi tidak ada kata terucap.
"Kanapa tidak jujur mengaku bahwa Anda adalah saudara kembar ibunya Irene? Kenapa berbohong? Apa tujuannya?"
"Akhirnya anak itu bicara juga," ujar Bu Andina lirih. Bahu perempuan itu lunglai pasrah seperti orang tersudut.
Tidak suka Irene seolah dicap tukang mengadu, Yudith tiba-tiba menceletuk, "Sampai sekarang Irene masih belum mau bicara, Bu."
"Oh, maaf, Suster."
Wajah Bu Andina syok, lalu tersenyum canggung karena baru sekali ini mendengar Yudith bicara dengan nada datar yang rasanya mengandung ketidakpuasan. Yudith hanya memasang wajah datar. Bukan maksud hati bersikap acuh tak acuh, tetapi memang sikap dasarnya dia seperti itu.
"Sekarang kami ingin Bu Andina sendiri mengakui dan menceritakan alasan kenapa harus menyamar menjadi Bu Duwina? Tentang Pak Muksin juga ...."
Bu Andina lagi-lagi syok saat nama ayahnya Irene disebut. "Ba-bagaimana Suster bisa tau?"
"Tidak penting bagaimana kami bisa tahu. Yang kami inginkan sekarang adalah kebenaran itu Anda sendiri yang mengatakannya. Tolong, demi kebaikan Irene, bekerjasamalah dengan kami, Bu Andina. Jangan ada yang ditutupi."
Semakin lama suara suster kepala sekolah semakin tegas dan penuh penekanan, membuat wajah Bu Andina tampak suram dan gugup.
Apa pun yang dia lakukan adalah demi kebaikan Irene seperti yang diinginkan Duwina. Namun, sepertinya cara yang dia tempuh salah karena banyak sekali kebodohan.
__ADS_1